
Ketika Eden tengah menunggu makanan datang bersama Azurea dan Albina, Eden memperhatikan sekitar, mencoba mendapatkan informasi yang berguna dari pembicaraan yang orang-orang lakukan.
"Kudengar para Anggota Asosiasi Misi kembali menuju ke Gunung Kematian!"
"Benarkah lalu apa yang terjadi?"
"Kata orang-orang yang pergi dari sana, menemukan bahwa di sana terdapat sesosok Monster aneh yang akan menyerang siapapun, hal itu membuat orang-orang Anggota Asosiasi kesulitan untuk mendaki Gunung Kematian!"
"Hei itu berita lama sekali!"
"Lalu berita apa yang terbaru!"
"Di katakan terdapat sosok wanita cantik yang berada di dekat Gunung Kematian, siapapun yang bertemu dengannya pasti akan kehilangan mata mereka!"
"Hei jangan bercanda! Tidak mungkin ada hal seperti itu!"
"Dia benar!"
"Tidak, yang dia katakan itu benar, Tuaoski pernah bertemu dengannya, buktinya saja dirinya kehilangan mata kirinya bukan?"
"Apa! Jadi hal itu benar!"
"Sialan! Sebenarnya apa sih yang ada di balik Gunung Kematian, sampai terdapat banyak sekali kematian yang ada di sana!"
"Hei hei kau lupa atau bagaimana?"
"Itu karena seorang Manusia yang bernama Dogtrai yang pernah mencapai tempat para Malaikat! Yang mana melakukan hal intim dengan Ratu para Malaikat itu! Karena itulah mengapa Gunung Kematian selalu dipenuhi orang-orang yang terbunuh dengan berbagai cara."
"Dogtrai? Siapa itu?"
"Kau tidak tahu!"
"Hei kau lupa dia baru setahun di sini!"
"Ah! Kau benar! Dogtrai sebelumnya seorang pria yang berprofesi sebagai seorang Dokter, dirinya mampu menyembuhkan banyak sekali pasien, tapi suatu ketika ada seorang wanita cantik yang memiliki penyakit aneh."
"Dogtrai kemudian mencoba segala cara untuk menyembuhkan wanita itu, seiring waktu keduanya menjadi lebih dekat hingga akhirnya menikah satu sama lain!"
"Benarkah, lalu?"
"Tapi makin lama keadaan wanita cantik yang menjadi istri Dogtrai kian memburuk, pada akhirnya hal itu membuat Dogtrai putus asa, dirinya tidak mau istrinya meninggal dunia hingga suatu ketika dirinya mendengar di Gunung itu yang sekarang di sebut sebagai Gunung Kematian, dikatakan terdapat berbagai macam tanaman herbal yang dapat menyembuhkan berbagai macam jenis penyakit yang ada."
"Ya! Aku juga sering mencari tanaman herbal dan banyak menemukannya di sana!"
"Ssshhh! Apakah kau mau aku cerita atau tidak?"
"Maaf..."
"Dogtrai yang mendengar rumor itu meminta izin kepada istrinya untuk pergi ke gunung, supaya dapat menemukan tanaman herbal yang dapat menyembuhkan penyakit yang di derita istrinya, tapi berhari-hari, berminggu-minggu, hingga berbulan-bulan Dogtrai tetap tidak dapat menemukannya."
"Lalu?"
"Dirinya hampir menjadi gila! Hingga dirinya tanpa sengaja melihat sesosok makhluk yang mirip seperti manusia terbang di langit! Dirinya kemudian pergi mengikuti makhluk itu."
"Mengetahui dirinya diikuti, membuat makhluk itu mendekati Dogtrai! Lalu Dogtrai menjelaskan maksudnya, dirinya bertanya apakah dirinya bisa meminta bantuan untuk menemukan obat untuk menyembuhkan istrinya."
"Benarkah dia bertemu Malaikat?"
"Ya! Beberapa orang juga sesekali akan menemukan Malaikat yang terbang di langit!"
"Begitukah, lalu apa selanjutnya?"
"Malaikat itu mengatakan kepada Dogtrai, bahwa dirinya tidak dapat membantu mencarinya, tapi Dogtrai dapat pergi mencarinya sendiri, di mana Dogtrai di ajak oleh Malaikat ke tempat para Malaikat."
"Di sana Dogtrai mencari berbagai tanaman yang dapat menyembuhkan penyakit istrinya, hingga akhirnya Ratu dari para Malaikat mengetahui tentang Dogtrai, di mana sang Ratu menyuruh anak buahnya mengundang Dogtrai..."
__ADS_1
"Kemudian?"
"Dogtrai lalu menyetujuinya, berpikir bahwa sang Ratu mungkin memiliki cara untuk menyembuhkan penyakit istrinya, setelah berbicara dengan sang Ratu, keduanya menjadi lebih dekat satu sama lain..."
"Jangan bilang!"
"Ya hingga keduanya memiliki perasaan satu sama lain, dan berakhir melakukan hubungan intim..."
"Dogtrai! Dia dasar pria baji*ngan! Istrinya tengah sakit parah dan dirinya malah melakukan hal seperti itu dengan wanita lain!"
"Dogtrai tentu saja masih memiliki hati nurani, dirinya meminta maaf kepada sang Ratu, dan berniat kembali ke sini karena tidak dapat menemukan cara untuk menyembuhkan istrinya, sang Ratu lalu memberikan cara untuk menyembuhkan istri Dogtrai..."
"Benarkah itu!"
"Sayangnya ketika Dogtrai sampai ke sini, istrinya telah meninggal dunia karena mencoba mencari suaminya yang pergi ke gunung, hal itu membuat Dogtrai menjadi sangat sedih hingga menjadi putus asa, dirinya menceritakan semua yang terjadi keada penduduk setempat..."
"..."
"Saat itu tidak ada yang percaya kepadanya, dirinya kemudian memutuskan pergi dari sini, dan memilih tinggal di gunung, hingga akhirnya karena terlalu lama sendiri hal itu membuatnya menjadi gila, yang kemudian dirinya mengakhiri hidupnya sendiri di gunung itu, begitulah ceritanya kenapa di sebut sebagai Gunung Kematian."
"Juga dari yang rumor yang beredar monster itu jelmaan Jiwa Dogtrai yang yang menjadi gila, karena semasa hidupnya dirinya tidak dapat menjaga hatinya, dari istrinya sendiri, jadi setiap orang yang dirinya bunuh maka hati orang tersebut akan dirinya ambil, sedangkan untuk wanita itu jelmaan dari Jiwa Uto istri dari Dogtrai, yang akan mengambil mata setiap orang yang dirinya temui, supaya orang tersebut tidak berpaling hati karena melihat hal yang jauh lebih indah."
"Wow... Sialan itu cerita yang menakjubkan!"
"Haha! Itu benar bukan!"
Eden yang mendengar pembicaraan mereka berakhir, kemudian fokus ke makanan yang baru saja datang.
Seperti yang mereka katakan, Dogtrai memang melakukan hal itu, karena itulah mengapa dirinya tahu cara keluar dari Laut Hitam dan berbagai hal lainnya, di mana dirinya menuliskan hal itu di buku catatan miliknya, yang terdapat di dalam gua tempat dirinya tinggal.
Eden tentu saja pernah bertarung dengan Dogtrai di kehidupan sebelumnya, wanita aneh yang katanya jelmaan jiwa dari Uto istri dari Dogtrai juga pernah Eden hadapi, bahkan Eden membunuh keduanya, supaya keduanya tenang di alam lain.
Setelah selesai makan, Eden pergi bersama Azurea dan Albina ke kamar mereka.
"Ayo kita tidur, Albina kau tidur di bawah mengerti?" Eden segera menyuruh Azurea naik ke ranjang tempat tidur.
Melihat Azurea yang gelisah, membuat Eden bingung, dirinya segera bertanya kepada Azurea.
"Ada apa?"
"Apakah anda akhirnya akan mengikat tubuh saya, lalu memainkan tubuh saya sesuka anda?" Azurea bertanya dengan nada penuh harap, Eden yang mendengarnya tercengang, dirinya lupa bahwa Azurea seorang wanita M, yang suka diperlakukan kasar, apa lagi dalam hubungan intim.
"Jangan terburu-buru pembacanya masih dikit, tunggu pembacanya lebih banyak baru akan aku lakukan..."
"Maksud anda?"
"Tidak apa-apa, tidur saja aku lelah..." Eden tidak memberikan jawaban dan memilih untuk beristirahat, yang membuat Azurea sedikit kecewa.
...
Sekarang Eden, Azurea, dan Albina menuju ke lantai bawah, di mana ketiganya memutuskan untuk sarapan pagi.
Setelah makan, ketiganya memutuskan pergi dari sana, sebelum itu Eden mengembalikan kunci kamar penginapan, lalu pergi menuju ke arah Gunung Kematian.
"Azurea, kembali ke dalam Ukiran Tanda, Albina kembalilah ke dalam ruang Makhluk Kontrak, aku akan bertarung dan aku tidak mau ada kalian yang membuatku kesulitan..."
"Baiklah..."
"Awwooo..."
Melihat keduanya menghilang, Eden kemudian berjalan menuju ke tempat Dogtrai seharusnya berada, setelah berjalan selama beberapa saat Eden akhirnya menemukan sarang Dogtrai.
Eden tidak perlu masuk lebih dalam, sebab Dogtrai yang berjalan keluar dari sarangnya.
Di dalam hutan yang gelap dan misterius, aura pertempuran antara Eden dan monster aneh yang adalah Dogtrai berlangsung dengan intensitas yang mulai meningkat tajam.
__ADS_1
Eden berdiri di tengah-tengah hutan, di kedua tangannya api menyala dengan intensitas yang begitu besar.
Eden memfokuskan energinya, mempersiapkan diri untuk pertarungan yang akan datang.
Di depan Eden, terlihat Dogtrai berlari dengan sangat cepat, monster aneh berwujud humanoid yang menggambarkan kombinasi reptil dan kadal, tubuhnya tegap dan kuat, terlihat bersisik dengan ekor yang panjang.
Wajahnya yang mirip kadal dipenuhi dengan nafsu membunuh untuk menghancurkan Eden, cakar tajam di kedua lengannya menunjukkan kekuatannya.
Pada saat pertempuran dimulai, Eden bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, di mana Eden meluncur dan berputar di sekeliling Dogtrai, membakar udara di sekitar dengan kedua tangannya yang mana mengeluarkan api.
Perisai transparan muncul di sekitar tubuh Eden, memberikan perlindungan tambahan, yang meski tidak banyak berguna setidaknya dapat memberikan sedikit tambahan keselamatan bagi Eden, namun Dogtrai dengan reflek yang sangat cepat, mampu menghindari semua serangan api yang dilancarkan oleh Eden.
Monster itu meluncur maju dengan kecepatan yang membuat mata sulit mengikutinya, Dogtrai memanfaatkan tubuhnya yang kuat dan cakar yang tajam untuk menyerang Eden.
Sayangnya kekuatan api yang berasal dari tinju Eden, mampu membakar kulit Dogtrai, setiap kali Dogtrai bergerak mendekati Eden.
Suasana semakin tegang saat Eden dengan cerdik menggunakan kemampuannya untuk berpindah tempat, dia berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan sangat cepatnya.
Beberapa kali, Eden muncul secara tiba-tiba di belakang Dogtrai, menghantamnya dengan tinju serangan api yang dimilikinya.
Tapi Dogtrai tidak menyerah begitu saja, dalam beberapa kesempatan, dia mampu menangkis serangan-serangan tersebut, dengan gerakannya yang lincah dan mampu menghindari serangan yang bisa membahayakan nyawanya.
Dogtrai melawan dengan gerakan kasar, lalu Dogtrai mengeluarkan semburan api dari mulutnya yang mengenai area di sekitarnya.
Secara perlahan namun pasti Eden mulai mengambil alih kendali pertempuran, di mana Eden memanfaatkan pergerakannya yang cepat, dan menggunakan kelincahan yang dia miliki untuk membuat Dogtrai kesulitan.
Dogtrai mulai terdesak, berusaha bertahan dalam keadaan yang semakin sulit, Eden segera memanfaatkan hal tersebut untuk terus melancarkan serangan, di mana Eden memaksimalkan kekuatan api yang dimilikinya di tangan kanannya, lalu Eden menggunakan tangan kanannya untuk memukul perut Dogtrai, hingga membuat Dogtrai terhempas menabrak beberapa pohon.
Ketika Dogtrai yang terluka mencoba berdiri, Eden mendapatkan kesempatan, dirinya segera membuat tangan kirinya terbakar oleh api yang jauh lebih besar, dalam satu gerakan yang terakhir, Eden melancarkan serangan menuju ke arah Dogtrai, serangan itu menghantam tubuh Dogtrai menciptakan ledakan besar, menghancurkan tubuh Dogtrai hingga menjadi debu.
Matahari terik menyinari tubuh Eden, ketika Eden berpikir sudah berakhir, tiba-tiba Eden di serang, tapi Eden segera menghindari hal itu, ketika Eden melihat orang yang menyerangnya, Eden terkejut, karena yang menyerangnya adalah Uto.
Dengan menggertakkan giginya, tatapan Eden menjadi tajam, dirinya mengangkat tangannya, menyulut api yang kembali menyala, dalam sekejap Eden menghilang dari tempatnya dan muncul di sebelah Uto dengan kecepatan kilat.
Uto dengan paras cantiknya yang menawan namun aneh, menatap Eden dengan sorot mata tanpa tanda kehidupan, dalam sekejap tanaman liar mulai tumbuh dari tubuh Uto, ranting-ranting bercabang membentuk lapisan pelindung yang kuat di sekitar dirinya.
Eden mengayunkan tangannya menuju ke arah Uto, sayangnya ketika Eden semakin mendekat, tumbuhan yang melindungi Uto merespons dengan cepat, di mana ranting-ranting bergerak dengan cepat melindungi seluruh tubuh Uto, seketika Uto tersenyum puas aneh seolah-olah mengejek Eden, Uto kemudian menggunakan akar dari tanah untuk menyerang Eden, tapi Eden melompat menjauh.
Pertempuran semakin memanas saat Eden menggunakan kemampuannya untuk menghindari semua serangan Uto, Eden kemudian menciptakan perisai transparan, namun itu seketika hancur, dan serangan tanaman segera mendekat menyerang dari segala arah.
Semakin lama pertarungan berlangsung, semakin dirinya menjadi lebih lelah hal itu dirasakan dengan jelas oleh Eden.
Ketika kelelahan mulai terlihat gerakan Eden menjadi lebih lambat, Uto melihat kesempatan ini dan dengan cepat menumbuhkan lebih banyak akar-akar dari tanah, dia memanfaatkanya untuk menyerang Eden, Akar-akar itu tiba-tiba melingkar di sekitar kaki Eden yang mana saat itu Eden tengah lengah, menjebak Eden untuk berhenti bergerak.
Eden mencoba melepaskan diri, tapi akar-akar itu menjadi lebih kuat, mengikat kaki Eden.
Dalam momen yang menegangkan tersebut, akar yang tajam seketika menembus perut Eden, rasa sakit yang tajam menghampiri, dan darah mulai mengalir deras dari lukanya.
Eden menahan rasa sakit tersebut, tapi kekuatan Eden mulai memudar, tubuhnya menjadi gemetar dan napasnya terengah-engah, dia mencoba untuk tetap berdiri tegak, namun kakinya terasa menjadi lebih lemah.
"Azurea... Pinjamkan kekuatanmu..." Eden menarik nafas dalam-dalam.
Cahaya yang terang benderang memancar dari luka-luka Eden, luka di perut Eden menutup dan darah berhenti mengalir, meninggalkan tubuh Eden dalam keadaan yang segar kembali.
Dalam sekejap udara di sekitar Eden terasa aneh, sebelum akhirnya air berkumpul di sekitar Eden.
Eden menyerang Uto dengan serangan air yang mematikan, air itu meluncur ke arah Uto dengan kecepatan yang mengejutkan, menghantam Uto dengan kekuatan besar, tetesan air berubah menjadi jarum-jarum yang tajam, menembus pelindung tumbuhan Uto.
Pertempuran semakin memanas ketika Uto mencoba melawan serangan-serangan air yang dilancarkan oleh Eden, dia menggunakan kecepatan dan reflek supernya, untuk menghindari beberapa serangan, sementara tumbuhan liar di sekitarnya berusaha untuk terus melindunginya, sayangnya Eden berhasil memojokkan Uto dan memaksanya untuk bertahan dalam serangan yang terus-menerus.
Keduanya semakin kelelahan saat pertempuran berlangsung lebih lama, Eden tetap mempertahankan serangan air yang kuat, sedangkan Uto berusaha mengendalikan tumbuhan di sekitarnya untuk melawan dan bertahan, tubuh mereka tergores dan tertusuk, menghasilkan luka dan darah yang mengalir, satu sama lain.
Melihat Uto mulai lengah, Eden segera memanfaatkan momen tersebut, dalam sekejap dirinya mengumpulkan kekuatan di tangannya, sebelum bergegas ke arah Uto dengan kekuatan yang tak terkendali.
Tubuh Uto yang terkena serangan dari Eden mulai terguncang hebat, tanaman yang berada di sekitarnya mulai hancur berkeping-keping, lalu Uto tiba-tiba saja meledak menjadi daging berdarah.
__ADS_1
Eden yang telah menghabiskan sisa-sisa energinya, merosot ke tanah dalam kelelahan, nafasnya terengah-engah dan tubuhnya dipenuhi dengan luka-luka.