
Eden yang baru saja menyaksikan semua kenangan tersebut menjadi membisu, dirinya tidak mengharapkan akan mendapatkan ingatan milik Azurea.
"Apakah kamu tidak mau sendirian?" Gumam Eden yang seketika membuat tubuh Azurea bergetar, dirinya tidak mengharapkan kata itu keluar dari mulut Eden.
"Bagaimana...?" Azurea langsung berbicara dengan Eden melalui Ukiran Tanda, bukan dari dalam benak Eden seperti sebelumnya.
"... Aku tidak berharap akan melihatnya..." Meski Eden sudah mengetahui hal itu dari kehidupan sebelumnya, sebab Azurea mengatakannya sendiri, Eden tidak berharap akan melihatnya secara langsung melalui kenangan dari Azurea.
"Ya, aku takut sendirian, aku tidak mau hidup seorang diri, tapi... Aku rela hidup seorang diri demi anakku...!"
Eden yang mendengarnya tersenyum, dirinya tidak berharap Azurea akan mengatakannya, karenanya Eden akan mengatakan yang seharusnya dirinya katakan.
"Selama aku masih hidup! Maka kau tidak akan sendirian!" Seketika Azurea membuka kedua matanya lebar-lebar, dirinya kemudian tersenyum lebar sebelum akhirnya berbicara.
"Terimakasih..."
Eden kemudian menatap ke arah Krecein yang mana telah tiada, perut Krecein telah berlubang akibat serangan Eden sebelumnya, lubang tersebut cukup besar, darah Krecein tidak terlihat begitu jelas, karena Krecein memiliki darah yang bening layaknya air biasa.
Meski demikian darah Krecein memiliki cukup banyak manfaat, karenanya Eden segera mengendalikan darah Krecein, sebelum menyimpannya ke dalam Penyimpanan.
Eden juga menyimpan tubuh Krecein, karena akan ada beberapa hal yang bisa dirinya manfaatkan dari tubuh Krecein.
"Ha- Apakah kau baik-baik saja?!" Melihat sosok Nivian yang terlihat khawatir dengan luka memar di tubuhnya membuat Eden mengangkat kedua alisnya, dirinya menggelengkan kepalanya sebelum tersenyum dan menjawab pertanyaan tersebut.
"Aku baik-baik, sekarang sudah selesai... Ayo kita kembali...!"
...
Beberapa hari telah berlalu semenjak kejadian sebelumnya, sekarang semua orang telah kembali dari tempat penampungan evakuasi, tidak ada kerusakan yang terjadi kepada Kerajaan Mare, karenanya tidak ada yang perlu diperbaiki, kecuali rakyat Kerajaan Mare yang perlu ditenangkan sedikit.
Hari ini semua orang di Kerajaan Mare berkumpul di depan istana, mengapa? Itu karena Nivian berniat mengumumkan tentang hal yang terjadi kepada seluruh orang di Kerajaan Mare tentang Eden.
"Selamat Datang semuanya! Hari ini kita semua berkumpul di sini untuk merayakan keberhasilan kita dalam mengatasi Bencana yang benar-benar mengerikan! Yaitu Monster Krecein!" Nivian bersuara dengan keras di depan semua rakyatnya.
"Keberhasilan ini tidak mungkin terjadi! Tanpa bantuan dari seorang teman dari dunia luar! Dialah yang paling banyak berkontribusi dan mengalahkan Krecein!" Mendengar pernyataan Nivian membuat semua mata menjadi sangat serius.
__ADS_1
Kemudian Eden berjalan mendekati Nivian, melihat sosok Eden membuat banyak orang yang terkejut, sebagian dari mereka telah melihat Eden, karena Eden telah pergi ke seluruh tempat di Kerajaan untuk membeli barang-barang, oleh sebab itu mereka terkejut dengan Eden yang ternyata orang mengalahkan Krecein.
"Eden Abil! Dengan ini aku Nivian Oceana Dless! Ratu dari Kerajaan Mare pemimpin dari Ras Bluesea! Menyatakan Terimakasih yang sebesar-besarnya! Karena itu aku menyatakan Eden mulai saat ini akan menjadi Teman dari Kerajaan Mare! Sekaligus akan menjadi bagian dari Kerajaan Mare! Eden Abil! Apakah kau menerimanya!" Eden tersenyum menyaksikan semua warga yang terlihat cerah, tanpa satupun emosi negatif.
"Ya! Saya Eden Abil! Menerimanya dan menjadi Teman Kerajaan Mare!"
"Wow!"
"Friit!"
"Yeaaaah!"
"Hidup Kerajaan Mare! Hidup Yang Mulia Ratu! Hidup Eden Abil!"
"Hidup Kerajaan Mare! Hidup Yang Mulia Ratu! Hidup Eden Abil!"
"Hidup Kerajaan Mare! Hidup Yang Mulia Ratu! Hidup Eden Abil!"
'Berhasil... Kerajaan Mare dengan ini tidak akan seperti di kehidupanku sebelumnya, mereka bahagia, tidak ada emosi lain, syukurlah... Aku... berhasil...' Tersenyum lebar Eden memikirkan kesuraman, yang dimiliki oleh warga Kerajaan Mare di kehidupan sebelumnya tapi kali ini hal itu tidak ada, sebab Krecein tidak berhasil menembus dinding, serta tidak ada warga yang tiada, karenanya tidak ada yang memiliki emosi negatif akibat sedih karena teman, keluarga dan orang yang mereka cintai terbunuh.
...
Setelah selesai makan, Eden menatap Pris sejenak sebelum menoleh ke arah Nivian, kedua ibu-anak itu saling memandang karena bingung dengan tatapan Eden.
"Nivian, aku akan menggunakan salah satu permintaanku sekarang..."
"Hem? tentu apa itu?"
"Berikan aku..."
"Aku tidak bisa membiarkanmu mengambil Koki Kerajaan!"
"..."
Eden benar-benar tercengang dengan ledakan yang dilakukan oleh Nivian, bahkan Pris terkejut dengan tindakan ibunya.
__ADS_1
"Bukan, aku meminta Coin Protler..."
"Coin Protler? Apa itu?" Pris bertanya dengan wajah bingung, dirinya belum pernah mendengar benda seperti itu sebelumnya.
"Coin Protler, adalah Coin yang digunakan oleh Para Dewa-dewi sebagai mata uang, Kerajaan Mare memang memilikinya tapi hanya satu Coin, apakah kau yakin dengan ini?" Nivian bertanya dengan wajah bingung.
"Ya, aku akan pergi ke suatu tempat, dan aku membutuhkan Coin Protler." Eden menganggukkan kepalanya.
"Apakah kau yakin tidak mau menggunakannya ke hal lain?" Pris bertanya dengan rasa ingin tahu, dirinya sangat tidak memahami Eden, karena Eden sangat membingungkan, terkadang Eden akan terlihat konyol, lalu dirinya akan terlihat begitu misterius dan sulit dimengerti, karenanya Pris tidak memahami Eden.
Eden aslinya memang orang yang konyol, dirinya bertingkah misterius itu karena menurutnya terlihat keren, tidak! Eden memang terkadang bersikap serius, bukan karena dirinya ingin terlihat keren tentunya.
"Baik, ini dia..." Eden melihat itu tersenyum lebar, Coin Protler memang mata uang para Dewa-dewi, karenanya benda itu sangat mahal, oleh sebab itu Eden tidak mau menghabiskan uang hanya untuk beberapa koin berwarna putih berkilauan saja, meski Eden membutuhkannya dirinya tidak mau menghabiskan uang untuk hal yang bisa didapatkan di beberapa tempat.
"Lalu... Ke mana kau akan pergi?" Pris bertanya dengan mata yang terlihat ingin tahu.
"Aku perlu menggunakan Jalur Ombak untuk pergi ke Laut Hitam."
"Apa!"
"Kenapa?"
"Kau bertanya kenapa? Apakah kau tidak tahu apa itu Jalur Ombak?"
"Tentu saja, aku tahu, itu sebuah jalur yang digunakan untuk menuju ke Laut Hitam, bukan hanya Batu Gembok Laut saja yang bisa digunakan untuk pergi ke Laut Hitam, tapi Jalur Ombak juga bisa meski hal itu cukup berbahaya karena kesalahan sedikit saja maka kematian menghampiri."
Eden dengan begitu tenang menjelaskan semuanya, hal itu membuat Nivian mengangkat kedua alisnya, dirinya tidak menyangka Eden akan mengetahuinya dengan begitu baik.
"Lalu kenapa kau masih ingin pergi ke Jalur Ombak?" Nivian bertanya dengan mengerutkan keningnya.
"Aku tidak mau menggunakan Batu Gembok Laut hanya untuk pergi Laut Hitam, bagaimanapun juga aku sudah sering melewati Jalur Ombak." Eden mengangkat kedua bahunya dengan santai.
Tidak salah, Eden memang sering menggunakan Jalur Ombak untuk pergi ke Laut Hitam di kehidupan sebelumnya.
Karenanya dapat dikatakan Eden sangat mengenali Jalur Ombak, sudah seperti temannya sendiri.
__ADS_1