Kembalinya Sang Kapten Kapal Terhebat

Kembalinya Sang Kapten Kapal Terhebat
46. Rumah Baru


__ADS_3

Eden sekarang berada di depan sebuah rumah besar, di mana merupakan bangunan dua lantai yang terdiri dari tiga kamar.


Melihat ke seluruh rumah satu-persatu dengan sangat serius, Eden akhirnya menganggukkan kepalanya, dirinya menatap ke arah pria penawar jasa.


"Aku menyukainya, berapa harganya." Eden segera menyetujui rumah barunya tersebut, kemudian dirinya bertanya berapa harganya, karena dirinya ingin segera tinggal di sana.


"Pilihan yang sangat bagus Tuan! Rumah ini hanya sepuluh juta Uang Kertas Kerajaan Kematian Hitam Tuan!"


"Tentu..." Eden segera mengeluarkan setumpuk uang, melihat uang tersebut, membuat mata pria itu terlihat dipenuhi kebahagiaan.


"Benar, siapa namamu?"


"Sulcif Tuan!"


"Baiklah, Sulcif aku butuh bantuanmu sekali lagi..."


"Beritahukan kepadaku di kota ini, siapa wanita tercantik di rumah bordil."


Mendengar pertanyaan aneh dan benar-benar unik dari Eden, membuat Sulcif seketika terdiam membeku, dirinya tidak tahu harus mengatakan apa.


"Uum... Saya tidak tahu Tuan, saya belum pernah mencoba ke sana, sebab saya sangat mencintai istri saya." Eden yang mendengar itu menatap Sulcif dengan seringai lebar.


"Kau tidak perlu berbohong seperti itu, bagaimanapun juga katakan saja siapa."


"Hehe... Saya benar-benar tidak pernah ke sana, tapi dari rumor yang saya dengar, itu adalah dua orang wanita cantik, yang satu seorang wanita dengan tempramen yang pendiam, sedangkan yang satunya seorang wanita dengan penampilan layaknya rubah, karena uangmu akan habis jika berada di dekatnya..."


"Lalu siapa nama kedua wanita itu?"


"Yakina dan Uomi, keduanya wanita yang sebelumnya saya sebutkan."


"Begitu, baiklah ini! Anggap saja tips dariku."


"Terimakasih banyak Tuan!"


Melihat sosok Sulcif yang berjalan pergi menjauh, Eden akhirnya berjalan menuju ke tempat kapalnya berada, sesampainya di sana Eden segera menyuruh Azurea dan Albina turun dari Kapal, kemudian dalam sekejap kapal Eden menghilang, hal itu seketika membuat keributan, karena orang-orang menjadi sangat terkejut dengan kapal yang menghilang secara tiba-tiba.


Eden tidak peduli dengan keributan tersebut, dirinya kemudian mengajak Azurea dan Albina menuju ke rumah baru, melihat hari sudah sore, Eden segera menyuruh Azurea memilih kamarnya di lantai bawah, sementara Eden di lantai atas, kemudian Eden segera menyiapkan makanan untuk semua orang, yaitu dirinya sendiri, Azurea dan Albina.


Setelah ketiganya selesai makan, kemudian mereka memutuskan untuk tidur, sementara itu perlombaan berjalan dengan sangat lancar, tapi karena waktunya sudah mulai malam, perlombaan dihentikan untuk hari itu, dan akan dilanjutkan lagi keesokan harinya.


Voul dan teman-temannya belum sempat bertanding, bahkan Latina juga tidak sempat bertanding.


Voul di bawa oleh para guru untuk pergi ke penginapan yang sudah disediakan, sementara itu Klon Eden yang telah melihat pertandingan sebelumnya merasa murid-murid dari Sekolah-sekolah yang ada sudah cukup baik, dirinya yakin ketika monster-monster yang jauh lebih kuat muncul, maka anak-anak itu sudah cukup mampu untuk mengalahkan mereka.


...


Eden yang terbangun keesokan harinya di kamarnya, melihat ke sekitar dengan wajah mengantuk, dirinya kemudian pergi turun ke bawah, setelah itu Eden membersihkan diri, kemudian Azurea keluar dari kamarnya, di mana Albina juga datang ke arah Eden.


Lalu mereka bertiga makan bersama, dengan Eden yang membeli makan dari Sistem Kapten Kapal miliknya.


Ketiganya makan dengan lahap, setelah selesai Eden menatap ke arah Azurea.


"Aku akan pergi ke suatu tempat, terserah kamu mau ke mana, tetap tinggal di tempat ini, atau pergi jalan-jalan ke tempat lain, terserah dirimu."

__ADS_1


"Tentu, tapi Tuan apa yang anda inginkan di tempat ini?"


"Kamu tahu bukan, aku akan mengikuti sayembara dari Sang Raja, untuk naik ke Kerajaan Langit dengan menggunakan Gunung Kematian, supaya aku dapat mengambil beberapa hal yang dapat menyembuhkan penyakit yang di derita oleh keluarga Sang Raja."


"Uhm... Tuan, apakah kamu yakin akan tinggal di sini, dan menahan Hesna dan pasukan monster? Bukankah lebih baik pergi dari sini?"


"Aku perlu pergi melalui Jalan Dimensi, untuk itu aku memerlukan Hesna yang dapat bertahan dari kekacauan yang merupakan hukum dari Jalan Dimensi."


"Mengapa anda ingin menggunakan Jalan Dimensi, lalu bagaimana caranya anda dapat menggunakan Hesna untuk melalui Jalan Dimensi?"


"Aku akan masuk ke dalam mulutnya, lalu aku akan membuatnya memasuki Jalan Dimensi, tapi sebelum itu aku perlu melatih para Bajak Laut Terkutuk itu, menjadi lebih kuat supaya tidak menyusahkanku nantinya."


"Ke mana kita akan pergi?"


"Suatu tempat, di mana Ras paling pintar berada, Bulan."


Azurea tercengang dengan jawaban Eden, dirinya tentu tahu tentang mereka, ada sebuah Ras yang tinggal di Bulan, tapi tidak ada cara untuk keluar dari Bumi saat ini, karenanya Eden berniat menggunakan Hesna menuju ke Bulan.


Alasan Eden perlu menemui Ras yang ada di bulan tersebut, karena dirinya perlu mengambil sebuah Jam, yap Jam tangan, di mana jam tangan Ter mampu membuat penggunanya melihat ke sekitar menjadi lebih lambat.


Eden memerlukannya, karena benda itu dirinya gunakan saat bertarung dengan Aequor, oleh sebab itu Eden perlu memiliki Jam tangan itu kembali.


"Tapi apakah Hesna akan menuruti anda? Bukankah anda sebelumnya mengatakan dirinya sangat kuat? Bahkan setiap yang terjerat oleh tentakelnya tidak akan bisa lepas?"


"Benar, karenanya aku tidak perlu mengendalikan Hesna, biarkan saja Hesna kembali ke tempatnya, Hesna memang berasal dari Neraka, tapi Ras Angelwhite akan menangkap Hesna dan menempatkannya di penjara yang tidak mungkin ditembus, yaitu Penjara buatan dari orang-orang cerdas dari Ras Bulan."


"Begitu..."


Melihat sosok Eden yang berjalan menjauh, membuat Azurea menatap ke arah Albina dengan wajah bingung.


...


Saat ini di sebuah tempat yang cukup ramai dengan wanita dan pria, di dalam ruangan yang teduh dan penuh dengan kehangatan, dua sosok wanita cantik duduk dengan elegan di kursi berbingkai kayu yang indah.


Mereka dikelilingi oleh sentuhan indah dekorasi yang memancarkan keanggunan dan ketenangan.


Wanita pertama, yang memiliki rambut putih yang mengalir panjang melewati bahu mencapai bagian punggungnya, suasana terlihat menenangkan dengan tatapan matanya yang begitu tenang.


Wajahnya yang anggun dipenuhi dengan cahaya kecerdasan yang terpancar dari dalam dirinya, dia memegang cangkir teh yang berwarna putih, dengan jari-jarinya yang halus dan anggun melingkari pegangan cangkir itu.


Dalam setiap tegukan yang diambilnya, bibirnya yang berwarna merah muda jambu tersenyum kecil menikmati rasanya teh tersebut, dan sinar matahari yang masuk melalui jendela menghiasi wajahnya dengan cahaya yang lembut dan penuh ketenangan.


Sementara itu di sebelahnya, terdapat wanita lainnya yang memiliki rambut merah yang keriting lembut di sekitar bahunya, dengan panjang rambut yang juga mencapai bagian punggungnya.


Senyum lebar terpancar di wajahnya yang begitu mempesona, mengisyaratkan kegembiraan dan keceriaan yang bersemayam dalam hatinya.


Mata merahnya yang cerah memancarkan kehangatan dan kebaikan saat ia memandang ke arah teh di cangkirnya, dia menggenggam cangkir itu dengan kelembutan, di mana dirinya dapat merasakan kenikmatan dari hangatnya teh tersebut.


Warna merah pada rambutnya menyatu dengan estetika ruangan yang dipenuhi dengan tanaman hijau dan bunga-bunga segar, menciptakan harmoni alam yang mempesona, keduanya bagaikan es dan api, sementara es menggambarkan wanita berambut putih, sedangkan api menggambarkan wanita berambut merah.


Keheningan di dalam ruangan hanya dipecahkan oleh suara lembut, ketika dua wanita itu saling bertukar pandang, dan dalam sikap tatap-menatap di antara mata mereka, terpancar kehangatan dan kedamaian yang mendalam.


Mereka sangat menikmati momen kebersamaan ini, saat merasakan kehadiran satu sama lain, keselarasan yang tercipta dalam kedamaian suasana tersebut, membuat keduanya merasakan kenyamanan yang tidak bisa dikatakan.

__ADS_1


Di ruangan itu, di antara kecantikan mereka yang menakjubkan dan ketenangan yang mereka rasakan, terjalin hubungan yang tak terucapkan, di mana keduanya telah bersama untuk waktu yang begitu lama.


Momen ini adalah waktu yang indah bagi mereka untuk menenangkan pikiran, serta mampu menghilangkan kelelahan, dan menemukan kedamaian di tengah kesibukan dunia yang berputar begitu cepat di luar sana, yang mereka jalani.


Eden saat ini baru saja akan memasuki sebuah bangunan, yang penuh dengan kehidupan dan keceriaan.


Suasana di dalamnya ramai, tetapi tetap terjaga keanggunan dan ketertiban, bangunan ini tampak seperti sebuah lounge eksklusif di kota besar.


Ketika Eden melangkah masuk, suasana langsung menghentak dengan dentingan musik yang lembut.


Lampu sorot yang lembut memancarkan cahaya kemerahan, menciptakan suasana hangat yang mengundang seseorang untuk datang.


Di sekitar Eden terlihat pria dan wanita dengan penampilan yang berbeda-beda berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, saling berinteraksi dengan santai.


Beberapa pria berpakaian layaknya seorang pria bijak, dengan kain bersih dan penuh kebijaksanaan, sementara para wanita berpenampilan menarik dengan menunjukkan penampilan indah mereka untuk menarik perhatian para pria yang datang.


Namun, sorotan utama berada pada para wanita-wanita cantik yang mempesona dengan penampilan luar biasa menggoda, di mana mereka terlihat sangat menarik yang berada di lantai atas, mereka mengenakan gaun malam yang anggun dan glamor, menambahkan pesona dan keanggunan pada suasana, yang jauh berbeda dengan para wanita di lantai bawah.


Ada beberapa pria yang naik ke lantai atas untuk yang berbincang dengan wanita-wanita yang menarik bagi mereka, sementara yang lain tengah menikmati minuman dan makanan ringan yang disajikan dengan indah, di meja-meja yang tertata rapi, dengan para wanita cantik di lantai bawah melayani para pria itu.


Meskipun suasana terlihat ramai, suasana di dalam bangunan ini tetap terjaga dengan baik.


Suara tawa yang riang dan bisikan percakapan yang ceria dapat terdengar di seluruh ruangan, tetapi tidak mengganggu kenyamanan.


Para wanita cantik tengah bermain alat musik tradisional yang bermain di pojok ruangan, menambahkan kesan nyaman dan menarik.


Di sekitar, dekorasi yang klasik dan mewah seperti lampu-lampu kristal yang menggantung dari langit-langit berwarna merah, dengan furnitur berlapis kulit menambahkan nuansa kemewahan pada suasana.


Sentuhan bunga segar berwarna merah muda, yang terletak di setiap sudut ruangan memberikan aroma yang menyegarkan.


Secara keseluruhan, suasana ramai di dalam bangunan ini memancarkan aura glamor dan keindahan, pria dan wanita berinteraksi dengan leluasa, menciptakan suasana yang hidup namun tetap mempertahankan nuansa yang elegan dan menawan.


Eden yang melihat ke sekitar mengangkat kedua alisnya, dirinya kemudian di datangi oleh seorang wanita cantik, wanita cantik tersebut yang melihat penampilan Eden terlihat tersenyum tipis.


"Halo Tuan, apakah anda bersedia ditemani oleh saya ini..."


Wanita cantik tersebut dengan sopan bertanya kepada Eden, mendengar pertanyaan dari wanita itu membuat alis Eden terangkat, dirinya menatap wanita itu dan tersenyum lebar.


Di kehidupan Eden sebelumnya, Eden melepaskan keperjakaannya dengan seorang wanita dari distrik merah, di Kapal milik pemerintah.


Hal itu sangat berkesan jelas di benak Eden, karenanya dia tidak peduli dengan siapa dirinya akan melepaskan keperjakaannya di kehidupan kali ini, tapi melihat wanita di depannya, Eden yakin dirinya tidak akan melakukannya dengan wanita tersebut, kenapa? Karena wanita di depan Eden sudah terlalu sering berhubungan dengan pria, oleh sebab itu dirinya pasti hanya akan mencoba untuk menguras habis uang Eden.


Karena itulah mengapa Eden tidak akan melakukannya dengan wanita di depannya tersebut, Eden kemudian menolak dengan sopan, sebelum berjalan menuju ke arah tangga, melihat itu wanita sebelumnya langsung mengerti bahwa Eden cukup mampu untuk bermain dengan wanita kelas atas, yang mana membuat wanita itu sedikit kecewa.


Melihat sosok Eden yang naik ke lantai dua, membuat para wanita di lantai dua berdiri dengan cara menggoda, melihat itu Eden hanya tersenyum tenang melihat kecantikan mempesona dari para wanita tersebut, tapi dirinya tetap berjalan meninggalkan para wanita itu hingga menuju ke tangga yang mengarah ke lantai tiga, melihat itu semua mata orang dari lantai satu dan lantai dua, pria maupun wanita tertuju ke arah Eden, mereka tidak menyangka akan ada seseorang yang akan naik ke lantai tiga.


Sebab Rumah Bordil, tempat di mana seseorang dapat melepaskan hawa nafsu mereka, terdapat lima lantai, lantai satu terdiri dari orang-orang biasa yang datang untuk melepaskan nafsu untuk kesenangan semata dengan para wanita melayani mereka, sementara di lantai dua terdapat wanita cantik mempesona yang benar-benar kecantikan yang jauh lebih baik.


Sedangkan di lantai tiga, hanya terdapat sepuluh wanita yang benar-benar cantik dan tidak mungkin pria biasa, mampu membayar untuk dapat bersama mereka, kecuali orang itu seorang bos dengan penghasilan bulanan yang tinggi.


Sementara itu untuk lantai empat sendiri, hanya terdapat dua wanita, yang benar-benar kecantikan yang bagaikan turun dari langit, sementara itu untuk lantai lima hanya terdapat seorang wanita cantik yang bagaikan seorang Dewi kecantikan dan pesona, karena kecantikan yang dimilikinya sangat tidak manusiawi, sebab terlalu indah, tidak ada pria yang mampu membayar untuk wanita itu yang mana juga pemilik dari Rumah Bordil itu sendiri.


Hanya orang seperti walikota atau pemilik Kamar Dagang Pulau Laut, pemilik Asosiasi Pengusaha, serta Raja Kerajaan Kematian Hitam saja yang mampu membayar untuk dapat melakukannya dengan pemilik Rumah Bordil.

__ADS_1


__ADS_2