
Eden sekarang berada di depan meja resepsionis, menunggu kartu identitas keanggotaan miliknya, yang merupakan tanda pengenalnya sebagai anggota Asosiasi Misi.
Kemudian Ulci menghampiri Eden, dengan menyerahkan sebuah kartu yang merupakan tanda pengenal Eden, setelah mengambilnya, Eden berniat untuk segera pergi dari sana, tapi seorang pria segera datang di depan Eden.
"Tunggu!" Pria itu adalah Howl yang sebelumnya datang menolong Gowdo.
"Apa maksudmu dengan mengatakan kami hanyalah Katak di dalam Sumur!" Howl terlihat marah, wajahnya menunjukkan ekspresi tidak senang, melihat itu Eden segera mengerti.
"Apakah kau ini Tuan Muda dari novel China? Atau kau ini Tuan Muda Manja yang selalu berpikir kau ini Kuat? Atau kau ini npc yang berpikir seorang Protagonis utama dalam cerita aksi? Jangan bodoh! Minggir dari jalanku!" Eden membentak dengan wajah kesal, dirinya tidak mau terlibat dengan masalah kecil.
Seperti cerita novel yang terlihat Klise, karena para pembaca bisa-bisa pergi dari membaca novel ini, ahem kembali ke jalan cerita.
Eden melihat Howl tetap tidak mau pindah, yang membuat Eden menjadi sangat kesal.
"Howl kenapa kau seperti ini, jangan halangi Eden..." Gowdo juga ikut campur, karena dirinya tidak mau Howl mendapatkan masalah.
"Tidak! Aku tidak akan pergi! Dia dengan begitu sombongnya mengatakan bahwa aku hanyalah katak di dalam sumur! Dia tidak tahu seberapa keras aku berlatih! Berapa kali aku hampir mati! Dia menghina semua perjuangan yang telah aku lakukan! Aku tidak bisa memaafkannya!" Howl menolak permintaan Gowdo.
"Kau ternyata hanya bocah bodoh, haah... ini akan menjadi sangat menyebalkan..." Eden menatap dengan wajah tidak senang.
"... Baiklah kalau begitu bagaimana dengan begini, kita akan bertarung, aku akan menahan serta menghindari lima seranganmu, jika aku tidak terluka sedikitpun dari ke lima serangan yang telah kau lancarkan, maka itu sudah jelas bahwa kau lemah." Eden segera membuat hal ini menjadi lebih mudah.
Mendengarnya membuat semua orang terkejut, tapi ekspresi Howl bukannya senang malah terlihat menjadi lebih kesal.
"Kau!"
"Apa? Apakah kau terlalu takut? Baiklah aku akan membiarkanmu memberikan sepuluh serangan, dan aku tidak akan melawan apapun kecuali bertahan dan menghindar dari setiap serangan yang kau lancarkan." Eden segera menambahkan api untuk membuat amarah Howl meledak.
Yang mana membuat ekspresi Howl menjadi lebih tidak senang, meski begitu Howl segera menyetujuinya, keduanya kemudian kembali ke halaman latihan.
Melihat Eden tidak mengambil senjata, membuat Howl menjadi sangat tidak senang.
"Kau tidak akan mengambil senjatamu?" Howl bertanya dengan nada marah.
"Yah kau hanya bocah bodoh, aku tidak perlu menggunakan senjata apapun." Eden dengan wajah datar kembali mengejek Howl.
"Baiklah, mulailah serang aku..."
Howl segera berlari dengan begitu cepat, tapi bagi Eden itu masih sangat lambat, kemudian Howl mengayunkan pedangnya ke arah leher Eden, tapi tepat sebelum pedang itu mengenai leher Eden, tiba-tiba saja Eden menggerakkan sedikit lehernya, yang mana menghindari serangan yang dilancarkan oleh Howl.
Melihat itu membuat Howl menjadi lebih kesal, dirinya segera mengayunkan kembali pedangnya, untuk menebas pundak kanan Eden, tapi Eden kembali berhasil menghindari serangan itu dengan begitu mudahnya.
Lalu Eden melompat mundur, Howl segera mendekati Eden, lalu dirinya menggunakan pedangnya untuk menusuk perut Eden, tapi Eden menghindarinya dengan memutar tubuhnya, hal itu membuat Howl segera melancarkan serangan, yaitu memberikan tebasan ke arah Eden, sayangnya Eden kembali menghindari hal itu.
Eden telah berhasil menghindari keempat serangan Howl, yang membuat Howl menjadi sangat kesal, dirinya segera melancarkan serangan, kali ini setiap serangan yang Howl lancarkan dengan begitu mudahnya dihindari oleh Eden.
Bahkan beberapa kali Eden tidak perlu menghindari serangan, sebab serangan itu memang tidak akan mengenainya, yang membuat Howl menjadi sangat marah.
Ketika serangan ke sembilan Howl dilancarkan, Eden menggeser ke kiri bawah menghindari serangan pedang tersebut yang mengarah ke kanan, yang mana membuat Howl itu adalah kesempatan, dirinya segera melancarkan serangan ke arah Eden yang tidak dapat menghindar.
Tapi siapa sangka, Eden akan menghindari serangan itu dengan berputar ke belakang, yang pada saat itu juga membuat Howl terdiam.
"Nah sudah jelas bukan, kau itu lemah, sangat lemah, terlalu lemah, sampai-sampai aku merasa membuang waktu yang sia-sia untuk menghadapimu, kau belum pernah keluar dari Laut Hitam, kau belum pernah bertemu dengan seseorang yang membunuh begitu banyak orang, kau belum pernah merasakan rasa sakit yang menyayat jiwa, kau belum pernah melihat orang yang paling putus asa!" Eden berbicara dengan suara keras, setiap kata yang Eden keluar terdengar menjadi lebih keras.
Aura di sekitar Eden menjadi tidak menyenangkan, hawa membunuh yang begitu besar seketika merembes keluar, membuat semua orang yang berada di Halaman Latihan seketika berlutut, aura Eden seketika meluap.
__ADS_1
Semua emosi yang Eden tahan akhirnya keluar, semua orang yang jauh lebih lemah pingsan akibat aura dan niat membunuh yang Eden keluarkan, gedung Asosiasi Misi terlihat bergetar.
Tubuh Howl terlihat sudah tengkurap, di mana Howl berjuang supaya tidak pingsan, tapi dirinya tidak dapat bertahan lebih lama lagi, dengan kemauan dan tekad yang terkumpul di dalam dirinya, Howl akhirnya berteriak sekuat yang dirinya bisa.
"Aku tahu aku lemah! Tapi aku telah berjuang! Aku telah berlatih selama sepuluh tahun! Aku telah berulang kali hampir mati! Semua ini aku lakukan supaya aku dapat keluar dari Laut Hitam! Aku ingin pergi ke dunia luar untuk mencari tahu tentang Ibuku! Aku ingin menemui! Aku ingin tahu siapa dia! Karena itu aku tidak peduli bahkan jika kau jauh lebih kuat dibandingkan diriku! Aku tidak akan membiarkanmu mengejek tekad yang aku miliki!"
Tepat setelah Howl mengatakan hal itu, aura yang Eden pancarkan seketika menghilang lenyap begitu saja, melihat itu membuat Howl terkejut, dirinya kemudian mencoba untuk melihat Eden.
"Kau ingin pergi ke dunia luar? Kau ingin keluar dari Laut Hitam? Untuk menemui Ibu?" Eden bertanya dengan wajah bingung, meski di kehidupan sebelumnya Eden telah beberapa puluh tahun tinggal di Laut Hitam.
Eden tidak pernah melihat sosok Howl, oleh karena itu Eden memiliki beberapa tebakan terhadap Howl.
Pertama Howl telah mati, kedua dia telah berhasil keluar dari Laut Hitam, ketiga Howl tidak pernah bertemu dengan Eden karena beberapa alasan, keempat Howl yang terjebak di Kerajaan Langit.
Karena dari informasi yang pernah Eden temukan di kehidupan sebelumnya, ada beberapa orang yang mencapai Kerajaan Langit dan terjebak di sana, karena dipenjara oleh orang-orang dari Ras Angelwhite.
Oleh karena itu Eden tidak pernah bertemu dengan Howl, karenanya ketika mendengar keinginan Howl, Eden tersadar bahwa Howl seharusnya akan menjadi cukup kuat di masa depan, tapi Eden belum pernah bertemu dengan Howl sekalipun.
Hal itu membuat Eden bingung tentang keberadaan Howl, setelah beberapa saat berpikir, Eden kemudian menjadi tidak peduli lalu dirinya pergi dari sana.
"Kau akan menjadi kuat jika kau bisa melepaskan kebodohanmu, juga kau harus berhenti berpikir bahwa kau sangat kuat, karena ideologi seperti itu yang membuatmu menjadi sosok yang lemah, orang kuat tidak berpikir dirinya kuat, tapi orang lemah selalu berpikir bahwa dirinyalah yang terkuat." Eden segera pergi dari sana tanpa memalingkan wajahnya.
Howl yang mendengar itu akhirnya tidak sadarkan diri, Eden kemudian kembali ke rumahnya, lalu Eden menghabiskan harinya membaca buku di rumah, dengan Azurea yang bermain-main dengan Albina.
...
Keesokan harinya Eden membawa Azurea keluar bersama Albina, sebelum pergi Eden menempatkan beberapa hal di rumahnya, supaya tetap bersih dan terjaga dari orang asing.
Eden pertama-tama datang ke Kamar Dagang Pulau Laut, sesampainya di sana Eden segera menemukan Layden.
"Hai Tuan Eden, seperti yang anda inginkan, kami sudah menyiapkan semuanya, ayo ikuti saya..." Layden segera mengajak Eden dan Azurea beserta Albina masuk ke kantor Layden.
"Apakah karena butuh proses menemukan lima cincin ini, makanya proses pengambilan Bubuk Hitam Berkelap-kelip menjadi lama?" Eden segera bertanya.
"Ehm... Ya, kami butuh beberapa waktu menemukan lima cincin penyimpanan, untuk menyimpan semua Bubuk Hitam Berkelap-kelip yang anda inginkan." Layden menganggukkan kepalanya dengan wajah malu.
"Berapa harga dari kelima cincin ini?"
"Ah! Tidak perlu Tuan Eden! Kami memberikannya secara gratis! Bagaimanapun pembelian anda sangat banyak, beberapa cincin ini tidak seberapa..." Layden segera menolak Eden.
"Benarkah?"
"Ya!"
"Baiklah, ketika aku kembali aku pasti akan membeli lebih banyak barang." Eden tersenyum sebelum mengambil kelima cincin lalu memasukkannya ke dalam penyimpanannya.
"Terimakasih kalau begitu..." Layden tersenyum bahagia mendengar ucapan Eden.
"Jika saya boleh tahu, ke mana sebenarnya tujuan anda Tuan?" Layden bertanya dengan rasa ingin tahu yang dalam mengenai tujuan dari Eden, karena dirinya tidak yakin harus ke mana dengan memiliki begitu banyak Bubuk Hitam Berkelap-kelip.
"Kota Pantai." Eden menjawab secara lugas, yang membuat Layden terperangah, dirinya tidak yakin mengapa Eden mau ke Kota Pantai dengan begitu banyak Bubuk Hitam Berkelap-kelip.
"Kalau begitu, aku pergi dulu." Eden lalu pergi dari sana.
Eden, Azurea dan Albina pergi menuju pintu luar Kota Pelabuhan, tapi Eden terkejut bertemu beberapa orang yang tidak dirinya sukai.
__ADS_1
"Kenapa kau berada di sini?" Eden langsung bertanya dengan nada tidak senang kepada Howl dan tiga wanita di dekatnya, mendengar pertanyaan Eden, Howl terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab.
"Aku... Bisakah saya ikut dengan anda?" Howl bertanya dengan sopan kepada Eden, yang membuat Eden tercengang bahkan ketiga wanita yang bersama Howl juga ikut terkejut.
"Tidak!"
"... Kenapa?"
"Kau menyusahkan..."
"... Aku mohon Tuan!" Howl seketika bersujud, dirinya bersujud di depan kaki Eden, melihat itu Eden seketika membuka mulutnya lebar-lebar, dirinya tidak mengharapkan perubahan tiba-tiba yang terjadi kepada Howl.
"Aku mau menjadi lebih kuat! Lebih kuat hingga aku dapat keluar dari Laut Hitam!" Howl menyatakan keinginannya dengan suara keras dan lantang kepada Eden, mendengarnya membuat Eden terdiam.
"Angkat kepalamu! Seorang pria tidak bersujud kepada siapapun kecuali ibu dan ayahnya!" Eden segera berteriak menyuruh Howl untuk berdiri, mendengar perintah Eden Howl segera mengangkat kepalanya.
"Aku tidak akan membiarkanmu ikut denganku, tapi jika kau ingin menjadi lebih kuat, maka tunggu saja aku di sini, di Kota Pelabuhan ini, jika kau bertambah kuat ketika aku pergi, maka aku akan melatihmu."
"Benarkah? Tuan?"
"Ya."
"Terimakasih Tuan!"
"Jangan langsung senang seperti itu! Aku belum mengatakan akan melatihmu, jika kau menjadi lebih kuat selama aku pergi tentunya, tapi jika tidak maka aku tidak akan melatihmu, kau mengerti?" Eden bertanya dengan menatap Howl dengan tatapan mengintimidasi.
"Maaf, saya mengerti Tuan!"
"Bagus!"
Eden lalu pergi bersama Azurea dan Albina, melihat sosok Howl yang berada cukup jauh, Azurea akhirnya memutuskan untuk berbicara.
"Tuan, kau akan memiliki Murid?" Azurea bertanya dengan rasa ingin tahu.
"Tidak aku hanya mengajarkan kepadanya untuk menjadi kuat, bukan menjadikannya muridku, dia terlalu lemah untuk menjadi muridku." Eden segera menggelengkan kepalanya.
Di kehidupan sebelumnya, Eden memang memiliki beberapa murid, di antara mereka kebanyakan murid Eden memiliki tekad yang sangat kuat, sosok seperti Howl tidak akan Eden terima, karena memiliki mental tempe, yang mana sedikit diinjak-injak harga dirinya pasti akan meledek, sosok seperti itu tidak Eden sukai.
Eden, Azurea, dan Albina berjalan melalui jalanan yang panjang menuju ke Kota Pantai, perjalanan itu memakan waktu satu hari.
Hingga akhirnya Eden, Azurea, dan Albina akhirnya sampai di Kota Pantai, kota itu sangat luas dengan pasir pantai putih yang menutupi tanah, melihat dirinya berhasil sampai Eden segera mengajak Azurea dan Albina mencari sebuah penginapan.
Setelah mencari selama beberapa puluh menit, Eden, Azurea dan Albina akhirnya menemukan sebuah penginapan, yang mana ketika mereka bertiga masuk ke dalamnya, mereka melihat di lantai bawah banyak orang yang tengah berkumpul di beberapa tempat berbicara satu sama lain, sambil makan ataupun minum sesuatu.
Eden segera mendatangi meja resepsionis, melihat sosok Eden, wanita berbadan gemuk segera menyambut kedatangan Eden.
"Selamat datang di Penginapan Slle! Apakah ada yang bisa aku bantu? Apakah mau menginap? Makan? atau ada hal lainnya?" Wanita itu bertanya kepada Eden dengan begitu cepat, yang membuat Albina memiringkan kepalanya, sementara Azurea tidak peduli dan hanya melihat-lihat ke sekitar.
"Aku mau menginap selama sehari, aku mau makanan untuk tiga orang, untuk makan malam hari ini, serta sarapan untuk besok, berapa harganya?" Eden segera memberitahukan keinginannya, mendengar permintaan Eden membuat wanita itu segera menjawab.
"Untuk menginap selama sehari lima puluh Uang Kertas saja!"
"Ini" Eden segera menyerahkan uang tersebut kepada wanita itu, lalu wanita itu mengambil sebuah kunci lalu menyerahkannya kepada Eden.
"Ini kunci kamarmu, kamarmu berada di lantai dua nomor 29, apakah kau makan di sini atau di kamar?"
__ADS_1
Mengambil kunci dari wanita itu, Eden lalu segera menjawabnya.
"Aku ingin makan di sini saja." Eden bersama Azurea dan Albina segera pergi ke kursi dan meja kosong, lalu duduk di sana, ketiganya menunggu makanan yang akan dibawakan.