
Eden yang sampai di lantai tiga melihat ke sekitarnya, di mana terdapat sepuluh kamar yang berbeda-beda, tapi Eden tidak peduli, sebelum akhirnya menemukan tangga yang menuju ke lantai selanjutnya.
Kemudian Eden naik ke lantai empat, sesampainya di lantai empat, Eden menemukan bahwa di lantai kali ini hanya terdapat dua pintu, Eden kemudian menggunakan kemampuannya untuk merasakan di sekitarnya, sebelum akhirnya membuka pintu yang di dalamnya ada orang dicarinya.
Pintu kemudian terbuka, di mana memperlihatkan dua sosok wanita yang begitu cantik, kecantikan mereka sangat menakjubkan sampai-sampai artis cantik di dunia bagaikan wanita biasa.
"Halo Tuan..."
Wanita berambut merah langsung menyapa, tapi ketika dia melihat sosok Eden, dirinya seketika membeku.
Sebab dirinya belum pernah melihat sosok Eden, oleh sebab itu dia tidak tahu apakah Eden mampu membayar salah satu dari mereka.
"Berapa uang untuk kalian berdua?" Eden segera langsung to the points, di mana dirinya langsung menanyakan harga mereka berdua, hal itu membuat membuat mata wanita berambut merah bersinar.
"250 Juta Tuan."
Wanita berambut merah menjawab tanpa malu-malu, sementara itu wanita berambut putih mengkerutkan wajahnya, dia tahu bahwa itu terlalu banyak, mengetahui maksud temannya, wanita berambut merah hanya mengedipkan matanya, melihat itu wanita berambut putih hanya dapat menghela nafas panjang dalam hati.
"Tentu..." Eden segera mengeluar uang dari dalam penyimpanannya, melihat tumpukan-tumpukan uang yang muncul secara tiba-tiba, membuat kedua wanita tersebut terdiam, keduanya saling memandang, sebelum akhirnya wanita berambut merah melangkah maju dan memegang uang tersebut setelah mengkonfirmasi bahwa itu semua uang asli, membuat wanita berambut merah menjadi lebih terkejut.
"Apa yang harus saya lakukan Tuan? Haruskah saya mengandung anak anda? Saya dapat melakukannya, untuk itu saya saya bahkan dapat menjaganya hingga dia besar, bagaimana?"
Wanita berambut putih seketika tercengang dengan temannya yang berbicara secara tiba-tiba, hal itu juga membuat Eden tercengang.
Meski Eden mengetahui sifat dari wanita berambut merah, tetap saja Eden tidak pernah membayangkan, bahwa wanita itu akan langsung mengajukan diri untuk mengandung anaknya.
"Ya, kandunglah anakku, apakah kau menerimanya?" Eden segera berjalan mendekati wanita berambut merah, sebelum akhirnya menyentuh dagu wanita itu dengan lembut, lalu mendekatkan wajahnya ke dekat wajah dari wanita berambut merah.
"Aku menerimanya..."
Tanpa pikir panjang wanita berambut merah segera menerima permintaan Eden, mendengar jawaban temannya, membuat wanita berambut putih tercengang.
"Uomi!"
"... Jadi Tuan yang baik, kapan anda ingin memulainya..." Wanita berambut merah tidak peduli dengan temannya yang berteriak, dirinya lebih fokus dengan uang yang berada di hadapannya, yang membuat wanita berambut putih menghela nafas dalam hati.
Eden menatap keduanya sejenak, lalu dirinya menjawab wanita berambut merah yang bernama Uomi.
"Ayo kita lakukan sekarang..." Eden tersenyum sebelum akhirnya menutup pintu.
...
Suasana itu suram, di tengah kota yang hancur, puing-puing bangunan yang berserakan di sana-sini.
Seorang pria berjalan dengan tubuh yang di penuh luka, setiap langkah yang diambil terlihat goyah, tubuhnya penuh dengan luka-luka yang terbuka dan berdarah, wajahnya dipenuhi kelelahan dan keputusasaan, pemandangan sekitar menggambarkan kerusakan yang begitu parah, dengan bangunan-bangunan yang runtuh dan jalan-jalan yang berlubang, darah dan tubuh yang tergeletak di sekitar.
Setelah beberapa saat berjalan, pria itu akhirnya berhenti di tempat yang cukup jauh di pinggiran kota, tepat di hadapannya tergeletak dua tubuh wanita yang terluka parah, wanita pertama berambut merah, tubuhnya dipenuhi luka dan bagian perutnya terlihat robek, sedangkan wanita kedua berambut putih, juga mengalami luka parah dengan lubang besar di perutnya.
Pria itu mendekati mereka dengan langkah tergesa-gesa, hatinya penuh kekhawatiran.
"Kap-ten..." Wanita berambut putih berbicara dengan suara lirih, pria tersebut segera mengalihkan pandangannya ke arah wanita berambut putih, dirinya bergegas tiba di dekat wanita berambut putih.
"Fuyuki..." Pria itu berkata dengan suara lirih, kekhawatiran tampak jelas di wajahnya.
Fuyuki dengan suara lemah, memanggil pria itu, matanya penuh dengan rasa sakit, pria itu segera membalas panggilan Fuyuki.
"Kapten... Maafkan kami... Kami tidak berhasil menahannya..." Ucap Fuyuki terputus-putus karena kesakitan yang dialaminya.
__ADS_1
"Tidak, tidak apa-apa... Bertahanlah para Dokter akan segera datang..." Pria itu mencoba memotivasi Fuyuki untuk tetap bertahan.
"Kapten... Aku tidak akan selamat..."
"Apa yang kau katakan! Kau pasti akan selamat!"
"Kapten... Aku tahu bahwa bukan hanya aku... Yang tidur denganmu, tapi juga Natsuki... Aku telah berbicara dengan Natsuki.... Kheuk..." Fuyuki seketika batuk, di mana keluar darah dari mulutnya.
Pria itu memegang tangan Fuyu dengan erat, mencoba menahan emosinya.
"Fuyuki, berhenti berbicara sekarang, kondisimu akan semakin buruk jika kau terus berbicara."
"Kapten... Tidak apa-apa... Aku akan menyusul Natsuki... Kami berdua berjanji untuk menikah denganmu... Tapi sepertiannya janji itu tidak akan pernah terwujud..." Fuyuki mengucapkan kata-kata itu dengan sedih, wajahnya dipenuhi rasa sakit yang dalam.
"..." Pria itu terdiam, dirinya hanya mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh Fuyuki, tangannya menggenggam erat tangan kanan Fuyuki.
"Kapten... Maafkan kami... Terimakasih... Aku dan Natsuki mencintaimu..." Tangan Fuyuki kemudian menjadi lebih lemas, sebelum akhirnya Fuyuki benar-benar tiada.
"Waaaaaaahhhhh!" Tangisan pria pecah di tengah kota yang hancur, di mana suaranya bergema di kota yang hancur, di tutupi oleh suara hujan deras yang turun.
Di kota yang hancur serta suara tangisan yang menyedihkan menambah kesuraman, langit yang bergemuruh, dan suara hujan yang mengiringi tangisannya, membuat pria itu merasakan kesedihan yang dalam.
Hatinya hancur, karena kehilangan dua orang yang sangat dicintainya, kegelapan serta kerusakan di sekitar, mencerminkan keadaan batinnya yang hancur dan rusak.
Dalam suasana yang memprihatinkan itu, pria itu tetap memeluk tubuh Fuyuki yang sudah tak bernyawa, dirinya tidak ingin melepaskan kehangatan yang tersisa, dengan mata yang penuh dengan air mata, dia berdoa berharap itu semua hanya mimpi.
Tapi tidak peduli berapa lama dirinya berharap, hal itu adalah hal yang nyata, dua orang yang dia cintai telah tiada, hatinya menjadi lebih sakit, saat hujan terus turun menemani kesedihan yang dimilikinya.
...
Eden terbangun dengan wajah yang dipenuhi keringat, dirinya terlihat memiliki nafas yang terengah-engah, tubuhnya bahas oleh keringat dingin.
Eden menatap keduanya, dirinya masih dapat mengingat jelas mimpi yang dialaminya, itu adalah ingatannya dari kehidupan sebelumnya, di mana Yakina dan Uomi, atau yang di masa depan akan dipanggil dengan nama Fuyuki dan Natsuki meninggal.
Eden benar-benar tidak berharap akan mengingat kembali kenangan buruk tersebut, ya Yakina dan Uomi akan menjadi bagian dari Kru Eden, di masa depan keduanya akan dikenal sebagai Kaisar Ratu Es dan Kaisar Ratu Api.
Tapi karena suatu hal yang mengerikan keduanya meninggal, Eden memang mengingat tentang mereka berdua, tapi dirinya sudah mencoba untuk melupakan ingatan mengerikan tersebut.
"Ada apa?" Yakina yang merasakan gerakan Eden terbangun, melihat itu membuat Eden melirik ke arah Yakina, merasakan kesedihan yang berada di wajah Eden, membuat Yakina entah mengapa merasa aneh, dirinya merasa ingin menenangkan Eden.
Pada akhirnya Yakina menenangkan Eden, dengan membuat Eden melakukan hal-hal yang hanya dilakukan oleh orang dewasa, sekarang Yakina berada di atas tubuh Eden.
"Jadi... Kenapa kau sedih?" Yakina bertanya kepada Eden, sambil menatap tepat di mata Eden.
"... Aku memimpikan hal buruk, di mana aku melihat dua orang yang aku kenal meninggal, hal itu membuatku... Tidak nyaman..." Mendengar jawaban Eden membuat Yakina menatapnya dengan wajah bingung.
"Siapakah itu jika aku boleh tahu?"
"... Mereka dua orang yang sangat cantik..."
"!"
"Dua? Kau benar-benar pria breng*sek!" Yakina segera berdiri, dirinya kemudian pergi dari sana.
Melihat itu Eden tercengang, pada saat itu juga Eden langsung mengerti maksud Yakina, di mana bahwa Yakina berpikir dirinya mungkin jatuh cinta pada dua wanita dan melihat keduanya tiada, yang mana hal itu membuat Yakina kesal, Eden mengerti sifat Yakina.
Di kehidupan sebelumnya, Yakina pernah mengatakan bahwa dirinya hanya ingin memiliki suami yang hanya memikirkan dirinya, tanpa melirik wanita lain, mungkin karena itu Yakina menjadi marah.
__ADS_1
"Wanita benar-benar sulit dipahami... Pantas saja Albert Einstein mengatakan bahwa wanita adalah hal yang sulit dipelajari..."
"Tunggu benarkah Einstein mengatakan itu? Terserah..." Eden mengangkat bahunya sebelum akhirnya memperhatikan pandangan seseorang, yaitu Uomi yang melirik dirinya dari tadi.
"Kau melakukannya dengan Yakina sangat liar... Lalu apakah kau bisa melakukannya denganku juga, sepertinya aku belum mengandung anakmu..." Uomi tersenyum lebar sambil mengusap batang milik Eden.
"... Tentu, ayo akan aku buat dirimu merasa nyaman..." Eden tersenyum sebelum akhirnya melakukan hal-hal dewasa berama Uomi.
Di kehidupan sebelumnya, Eden tidak datang melakukan hubungan intim dengan Yakina dan Uomi saat pertama kali bertemu, karena saat itu Eden tidak bertemu dengan Yakina dan Uomi di rumah bordil ketika keduanya masih bekerja di sana, melainkan ketika keduanya sudah pergi dari rumah bordil karena serangan yang dilakukan oleh Hesna.
Yang kemudian Eden bertemu dengan keduanya, ketika keduanya membantu orang-orang yang terluka, setelah itu Eden akhirnya mengajak keduanya untuk bergabung dengan Kru-nya.
Tidak seperti sekarang ini, di mana Eden yang mendatangi mereka berdua, oleh karena itu Yakina masih belum memiliki perasaan kepada Eden, makanya Yakina tidak senang ketika Eden membicarakan dua wanita berbeda, pada saat yang bersamaan mengobrol dengannya, hal itu membuat Yakina kesal, yang tidak dirinya ketahui bahwa yang dibicarakan oleh Eden adalah Uomi dan dirinya sendiri.
...
Eden saat ini tengah makan malam, setelah seharian penuh bermain-main dengan Yakina dan Uomi, sekarang Eden masih berada di rumah bordil, di mana Eden tengah makan di kamar Yakina, bersama dengan Uomi dan Yakina.
"Ngomong-ngomong Eden, dari mana asalmu sebenarnya? Kau sangat kaya?" Uomi bertanya kepada Eden, meski terlihat tidak sopan bertanya kepada seseorang yang baru menerima jasa pijat mantap miliknya, tapi Uomi tidak peduli akan hal itu, dirinya sangat penasaran dengan asal Eden.
"Ketika kau sudah mengandung anakku, baru aku akan memberitahukannya kepadamu..." Eden menjawab sambil tersenyum.
"... Hehe... tentu-tentu, aku akan mengandung anakmu..." Uomi menjawab sambil tersenyum juga.
Melihat keduanya membuat Yakina cemberut, dirinya tidak suka sama pria yang membahas wanita lain ketika pria itu sudah memiliki wanita dengannya, tapi hal itu beda ceritanya jika wanita itu adalah Uomi.
Kenapa Yakina berpikir seperti itu? Nah bisa dikatakan Yakina memiliki sifat seorang Tsundere, oleh karena itu Yakina bertingkah seperti itu.
"Ah! Apakah kalian berdua selalu tinggal di Rumah Bordil?" Meski Eden sudah tahu jawabannya, dirinya tetap memutuskan untuk bertanya, karena akan aneh jika dirinya sudah mengetahui hal itu, oleh sebab itu Eden memutuskan untuk bertanya kepada keduanya.
"Ya, kami telah tinggal di sini untuk waktu yang lama..." Yakina menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Eden.
"Lalu berapa harga untuk mendapatkan pelayanan Pemimpin Rumah Bordil?" Eden bertanya sambil tersenyum, hal itu seketika membuat suasana menjadi hening.
Uomi membuka mulutnya lebar-lebar, sementara Yakina menatap Edne dengan tatapan tidak percaya.
"Kau! Kau bahkan ingin melakukannya dengan Ibu pemimpin?" Uomi tercengang dengan yang dikatakan oleh Eden.
"Ya... Katanya Pemilik Rumah Bordil memiliki kecantikan bagaikan Dewi Kecantikan dan Pesona, aku ingin melihatnya secara langsung..." Eden menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaan Uomi.
"Tapi... Hal itu tidak mungkin, Ibu Pemimpin sangat mahal, seratus kali lebih mahal dibandingkan kami berdua!" Uomi segera menjelaskan.
"Begitu... Terimakasih untuk informasinya, ini untukmu..." Eden segera mengeluarkan sebuah cincin permata berwarna merah yang terlihat begitu indah.
"Ini!" Uomi dan Yakina berseru terkejut, karena keduanya juga seorang Petarung, oleh sebab itu keduanya dapat merasakan energi Jiwa dari cincin yang diberikan oleh Eden.
"Nah ini untukmu Yakina." Eden segera mengeluarkan satu lagi yang berwarna biru keputihan.
Melihat Eden yang begitu mudahnya mengeluarkan suatu Barang magis, yang terdapat Energi Jiwanya, membuat Uomi menarik kata-katanya, karena dirinya tahu benda yang diberikan oleh Eden sangat mahal, jika di gabungkan kedua cincin tersebut harganya akan menjadi dua ratus lebih banyak dari uang yang diberikan oleh Eden, dengan kata lain Eden sangat kaya, oleh karena itu Eden terlihat tidak peduli dengan uang yang diperlukan untuk Pemilik Rumah Bordil.
"Hehe... Calon ayah dari anak-anakku sangat kaya... Aku tarik kembali perkataanku sebelumnya, kau sangat mampu untuk bersama dengan Ibu Pemimpin..." Uomi berbicara sejenak sebelum langsung menyambar cincin miliknya.
Melihat tingkah temannya, membuat mulut Yakina berkedut-kedut, kemudian Yakina juga mengambil cincin miliknya.
"Kalian sangat cocok mengenakan cincin itu, sangat layak untuk menjadi seorang pengantin wanita." Eden tersenyum sambil memberitahukan pendapatnya, hal itu entah bagaimana membuat Yakina memerah malu.
Sementara Uomi hanya tersenyum sebelum akhirnya membalas Eden.
__ADS_1
"Hehe tentu, aku dan Yakina siap menjadi pengantinmu..." Uomi segera mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Siapa yang mau bodoh!" Yakina segera membantah jawaban Uomi, melihat keduanya membuat Eden tersenyum lebar, hatinya terasa hangat melihat pemandangan yang membahagiakan tersebut.