Kembalinya Sang Kapten Kapal Terhebat

Kembalinya Sang Kapten Kapal Terhebat
66. Lokasi Pemberontak


__ADS_3

"Bagaimana dengan yang lainnya?" Salah seorang dari mereka memulai percakapan.


"Semuanya telah siap, hanya perlu menunggu kebangkitan Yang Agung." Orang lain menjawab pertanyaan tersebut.


"Bagus, sekarang semuanya telah selesai, kita hanya perlu melancarkan rencana yang telah ditetapkan."


"Apakah kau yakin para orang-orang bodoh itu akan bisa kita hancur?"


"Tentu saja-" Sebelum salah dari mereka sempat mengatakan sesuatu, hal aneh terjadi, Energi Jiwa yang sebelumnya sangat tipis di udara, tiba-tiba saja kembali normal, hal itu membuat mata ke sepuluh orang tersebut terbuka lebar.


"Apa yang terjadi? Bukankah wanita bodoh itu masih mencoba menyelamatkan putrinya?"


"Mungkinkah dia telah selesai!"


"Tidak mungkin! Karena hal itu membutuhkan waktu yang lama bukan?"


"Mungkin ada cara lain, karenanya hal tersebut berhenti."


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang..."


"Tetap sesuai rencana, meski Penyerapan Kadar Energi Jiwa telah berhenti, kita tetap bisa menunggu Yang Agung terbangun, dengan itu kita mampu menguasai seluruh Kerajaan Langit!"


"Demi Yang Agung!"


"Demi Yang Agung!"


"Demi Yang Agung!"


"Demi Yang Agung!"


Tiba-tiba saja suasana di ruangan gelap itu berubah drastis, sepuluh orang yang misterius tersebut secara ajaib memunculkan sepasang sayap masing-masing.


Sayap-sayap tersebut memiliki warna hitam pekat yang kontras dengan gelapnya ruangan, sayap-sayap itu besar dan mengesankan, mengisi ruangan dengan aura magis yang dapat menggetarkan jiwa.


Sepasang sayap hitam pekat itu tampak misterius dan kuat, sepenuhnya mengubah aura yang dipancarkan dari tubuh para individu tersebut, terlihat bahwa mereka memiliki kendali penuh atas sayap-sayap tersebut, seolah-olah mereka telah menyembunyikan kekuatan luar biasa selama ini, dan kini kekuatan itu terungkap dalam wujud sayap hitam yang mengagumkan.

__ADS_1


Masing-masing sayap terlihat elegan, menggambarkan sisi kegelapan dan keanggunan yang menyatu dalam satu entitas, setiap gerakan sayap mengeluarkan aura mistis yang memancar dari tubuh mereka, menyatukan mereka dalam keajaiban gelap yang belum pernah terlihat sebelumnya.


Para individu terlihat begitu fanatik yang terpancar dari aura yang keluar dari diri mereka, namun di balik fanatisme yang terpancar tersebut, masih terdapat aura ketakutan yang masih terpancar di dalam benak masingmasing dari mereka, namun tetap mereka rahasiakan dari masing-masing rekan mereka.


Sinar obor di dinding menyala lebih terang seiring dengan munculnya sayap-sayap itu, menyoroti indahnya penampilan misterius yang keluar dari diri mereka, ruangan gelap itu seakan-akan menjadi panggung ajaib yang mempertunjukkan kekuatan magis yang mereka miliki.


Sementara itu, tetesan hujan dari atap yang bocor berkilauan saat melewati sinar cahaya yang lebih terang, menciptakan aura berkilauan yang menghiasi seluruh ruangan, suasana terlihat semakin intens menciptakan kebingungan dan sensasi misterius yang tak tergambarkan dengan kata-kata.


Para individu itu saling memandang, tak ada kata yang diucapkan, tapi kehadiran sayap-sayap hitam yang mengagumkan tersebut berbicara lebih keras dari kata-kata, yang menandakan bahwa mereka bukanlah Ras Angelwhite.


...


...


...


Sementara itu Eden saat ini tengah berada di dalam ruangan yang merupakan ruang singgasana, setelah dirinya selesai sarapan sebelumnya dengan Miriana dan sang Putri.


"Eden Abil! Aku mengucapkan terimakasih banyak yang sebesar-besarnya karena telah membantu menyembuhkan Putriku, sebagai gantinya aku akan menyetujui apapun permintaanmu." Mendengar perkataan Miriana, Eden tersenyum lebar.


"Aku ingin Permata Hijau." Eden langsung menyatakan, hal ini membuat Miriana menatap Eden dengan wajah bingung.


"Kenapa kau menginginkannya?" Miriana benar-benar tidak mengerti dengan pilihan Eden.


Hal itu membuat Eden mengerutkan keningnya, dirinya berpikir Miriana mungkin menolak hal tersebut, yang membuat Eden sedikit ragu, namun dirinya tetap memutuskan itu sebagai pilihannya.


"Tentu kau dapat memilikinya." Miriana yang melihat Eden terdiam berpikir mungkin ada hal yang tidak mau Eden katakan, karena itu dia menerimanya bagaimanapun juga, meski Permata Hijau sangat langka dan terbatas, tapi dirinya bisa memberikan satu kepada Eden.


Tiba-tiba saja pintu terbuka, yang memperlihatkan seorang Kesatria Penjaga.


"Ada apa sampai kau datang tanpa ijin?" Miriana bertanya dengan nada dingin, yang membuat Kesatria Penjaga itu menjadi ketakutan, tapi dirinya segera menjawab supaya kemarahan Miriana tidak bertambah.


"Yang Mulia Ratu! Kami menemukan jejak para Pemberontak, dengan menggunakan Energi Jiwa kami, hal itu membuat kami dapat melacak jejak mereka, kami mengetahui bahwa mereka berada di sebuah Pulau bernama Pulau Tepung Emas." Kesatria Penjaga dengan begitu cepat menjelaskan semua hal yang terjadi.


Mendengar pemberitahuan dari anak buahnya, membuat Miriana menjadi sangat terkejut, dirinya segera menjadi sangat serius, Eden yang melihat keseriusan yang dimiliki oleh Miriana menjadi bingung, dirinya tidak pernah mengira beberapa orang pemberontak akan membuat Miriana menjadi sangat serius.

__ADS_1


"Eden... Apakah kau bisa membantu sekali lagi, bisakah kau memusnahkan para pemberontak itu membantu para Kesatria Penjaga?" Miriana segera mengalihkan perhatiannya ke arah Eden.


Melihat itu membuat Eden terkejut, tapi dirinya berpikir sejenak sebelum tersenyum lebar.


"Tentu dengan syarat lain tentunya." Eden menjawab sambil tersenyum.


"Apa itu?" Miriana berhenti sejenak sebelum mengangguk-anggukkan kepalanya, dirinya kemudian bertanya.


"Berapa banyak orang yang ada di Penjara Istana Kerajaan Langit?" Eden bertanya kepada Miriana.


"Hem, ada tujuh orang... Sebagian besar terdiri dari orang-orang yang telah melakukan pembantaian besar." Miriana menjawab dengan wajah bingung.


"Aku ingin mereka lepas, sebagai ganti bantuanku." Eden menjawab sambil tersenyum.


"... Mengapa kau ingin mereka lepas?"


"Aku ingin menjadikan mereka anak buahku, sudah aku bilang bukan, aku dari Laut Hitam, aku seorang Kapten Kapal, tapi saat ini anggota kru milikku hanya satu atau dua lebih tepatnya." Eden menjawab sambil memikirkan Azurea dan Albina.


"Baik aku menerimanya." Miriana menganggukkan kepalanya.


"Bagus."


"Segera kumpulkan pasukan untuk menyerbu lokasi para pemberontak! Kita akan membuat mereka mengetahui siapa yang memiliki kuasa di Kerajaan ini!" Miriana segera memberikan perintah.


Kesatria Penjaga segera menganggukkan kepalanya, sebelum pergi dari sana, memberikan kabar untuk mengumpulkan pasukan.


Eden juga segera bersiap-siap, di mana dirinya segera melengkapi diri dengan berbagai barang-barang miliknya.


Melihat item-item milik Eden, membuat Miriana terkejut, dirinya tidak menyangka Eden akan memiliki perlengkapan yang bagus-bagus.


Setelah itu beberapa jam kemudian, pasukan telah di kumpulkan, Eden pergi bersama pasukan Kesatria Penjaga menuju ke Pulau Tepung Emas, sementara para Kesatria Penjaga terbang menuju ke sana, sedangkan Eden menggunakan kapalnya untuk pergi ke sana.


Pasukan Kerajaan terlihat begitu gagah dengan keberanian yang membara, dapat dilihat secara sekilas bahwa mereka adalah para pria pemberani yang telah melalui banyak hal, sayap-sayap yang mereka miliki terlihat indah seolah-olah menyatu dengan awan putih, yang membuat kesan seolah-olah mereka adalah bagian dari awan itu sendiri.


Eden yang menyaksikan itu melalui kapalnya terdiam, dirinya benar-benar tidak menyangka para pasukan tersebut akan pamer sebelum berperang, sebenarnya mereka tidak pamer, hanya saja pikiran Eden yang memang agak di luar nalar, membuatnya berpikir bahwa mereka tengah pamer kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2