Kembalinya Sang Kapten Kapal Terhebat

Kembalinya Sang Kapten Kapal Terhebat
49. Mantan Dewi


__ADS_3

Eden sekarang tengah menuju ke lantai paling atas, di mana tepat di sana Pemilik Rumah Bordil berada.


Begitu sampai di sana, Eden menemukan area luar ruangan begitu megah dengan dekorasi yang menarik dan unik, membuat keindahan luar ruangan terlihat jelas, Eden segera mengalihkan pandangannya ke arah sebuah pintu, di mana Eden kemudian mengetuk pintu tiga kali, sebelum akhirnya masuk ke dalam.


"Apakah aku sudah menyuruhmu masuk?" Terdengar suara seorang wanita yang begitu indah namun memiliki nada mematikan, aura di sekitar seketika berubah menjadi mencekam, Eden kemudian melihat ke asal suara itu, di mana terlihat seolah wanita cantik dengan rambut hitam panjang yang bagaikan langit malam.


Mata yang berwarna putih abu-abu, di mana terlihat seolah-olah bulan yang terlihat terang benderang.


Tubuh yang begitu mempesona, di mana dapat memikat hati setiap laki-laki yang ada, apa lagi kakinya begitu indah dan mantap.


Kulit yang seputih susu, di mana begitu mulus dan bersih, seolah-olah belum cukup, wajahnya bahkan begitu cantik dan indah, seolah-olah diukir oleh seniman dengan kemampuan yang luar biasa.


"Sudah melihatnya?" Mendengar nada suara dingin tersebut, membuat Eden kembali ke kenyataan, hal itu diperhatikan dengan sangat jelas oleh wanita tersebut.


"Jadi ada apa kau ke sini?"


"... Namaku Eden, Eden Abil, aku datang ke sini untuk melihat seorang Dewi Malam Hari yang juga Dewi Kecantikan dan Keindahan, Queen Black." Eden tersenyum sambil menutup pintu.


Seketika suasana menjadi hening, sebuah cahaya transparan muncul, sebelum akhirnya mengelilingi seluruh ruangan.


"Siapa kau!" Wanita itu yang bernama Queen bertanya dengan ekspresi dingin.


"Tenanglah... Aku hanya pria biasa yang numpang lewat..." Eden tersenyum sebelum akhirnya duduk di dekat sebuah meja kecil.


"..." Queen dengan wajah kesal menatap sosok Eden yang terlihat begitu tenang, hal itu membuatnya sangat-sangat kesal, serta dirinya menjadi sangat waspada setiap gerak-gerik yang Eden lakukan.


"Aku akan membantumu, untuk mengambil kembali Gelang Tromfik yang ada di Kerajaan Langit, sebagai gantinya berikan aku Yakina dan Uomi." Eden tersenyum dan menatap ke arah Queen.


"Bagaimana kau tahu! Siapa kau sebenarnya!" Queen benar-benar kesal dengan Eden yang mengetahui begitu banyak tentang dirinya.


"Kau tidak perlu tahu, saat ini aku memberimu pilihan... Atau kau memilih untuk tetap di sini? Di Laut Hitam?" Mendengar nada mengejek Eden, membuat Queen menjadi terdiam.


Keheningan yang dalam terjadi, terlihat wanita itu hanya diam terpaku menatap lantai, sebelum akhirnya melirik ke arah Eden yang masih duduk dengan begitu tenangnya.


"Baik, bantu aku ambilkan Gelang Tromfik dari Kerajaan Langit, sebagai gantinya aku akan membiarkan Yakina dan Uomi untuk ikut bersamamu." Queen akhirnya memutuskan untuk menerima kesepakatan yang Eden berikan.


"Bagus!" Eden tersenyum mendengar jawaban dari Queen.


"Kalau begitu aku akan pergi... Ah! Berhati-hatilah kepada White Storm... Bagaimanapun juga dirinya sangat menyebalkan, itu hanya nasehat, tapi terserah kepadamu!" Eden kemudian melihat cahaya transparan, yang sebelumnya mengelilingi ruangan akhirnya menghilang, lalu Eden pergi menuju ke arah tangga di mana Eden pergi turun ke lantai bawah.


Melihat sosok Eden yang telah menghilang, membuat Queen menggertakkan giginya, Queen tidak pernah berharap akan ada orang yang mengenalinya, apa lagi orang itu tahu hal yang dirinya inginkan, yaitu Gelang Tromfik.


...


Eden yang keluar dari Rumah Bordil tersenyum lebar, wanita yang Eden sebelumnya temui memang benar seorang Dewi, Yap Queen Black memang seorang Dewi layaknya Azurea, atau lebih tepatnya mantan Dewi.


Sebab kemampuan yang dimilikinya telah menghilang karena di ambil oleh Dewa dan Dewi lain, hal itu terjadi sebab Queen telah melakukan suatu dosa yang paling besar, yaitu menciptakan Setengah Dewa atau Demi-God.


Menciptakan Setengah Dewa bukan hal yang mudah, tapi juga bukan hal yang mustahil, karena hanya perlu Dewa atau Dewi memberikan beberapa kekuatan yang mereka miliki ke makhluk lain, begitulah caranya Setengah Dewa terlahir.


Tapi bagi para Dewa atau Dewi membagikan kekuatan yang mereka miliki ke makhluk lain, di mana membuat makhluk itu berevolusi dan menjadi Setengah Dewa adalah hal yang tabu dan dianggap dosa paling besar.

__ADS_1


Ukiran Tanda beda dengan menjadi Setengah Dewa, sementara Ukiran Tanda membuat seseorang meminjam kekuatan Dewa atau Dewi, menjadi Setengah Dewa maka itu kekuatan yang permanen, dan bukanlah peminjaman kekuatan sementara.


Oleh karena itu para Dewa dan Dewi lain mengambil kekuatan Dewi dari Queen, di mana mereka menyegel kekuatannya di sebuah Gelang, Yap Gelang yang di maksud adalah Gelang Tromfik.


Gelang itu kemudian di simpan di Keranjang Langit, di mana para Angelwhite berada, oleh karena itu Eden mendatangi Queen untuk membuat sebuah kesepakatan, Eden mengetahui bahwa Queen adalah mantan seorang Dewi itu berkat pemberitahuan Azurea di kehidupan sebelumnya, yang merasakan hubungan samar dari Queen.


Di kehidupan sebelumnya Eden tidak menjadikan Queen sebagai anak buahnya, karena Queen memutuskan untuk pergi seorang diri, oleh karena itu Eden tidak terlalu mengenal Queen.


Alasan Eden mengetahui Gelang Tromfik dan masa lalu dari Queen, itu karena Eden telah sampai ke Kerajaan Langit, di mana dirinya memaksa maksudnya meminta secara baik-baik kepada para Angelwhite, untuk memberitahukannya tentang Gelang Tromfik yang di jaga begitu ketat oleh mereka.


Oleh sebab itu Eden memiliki tujuan kuat untuk sampai ke Kerajaan Langit, tapi saat ini Eden perlu menunggu bahan-bahan yang dirinya pesan, setelah mendapatkan bahan-bahan tersebut, Eden baru akan pergi ke Kota Pantai, di mana letak dari Gunung Kematian berada.


Tentu dari Kota Pelabuhan juga langsung bisa ke Gunung Kematian, tapi terlalu banyak halangan seperti monster, jalan yang terjal, banyak tanaman beracun yang mematikan, dan segala hal merepotkan lainnya, karena itu Eden lebih memilih untuk pergi ke Kota Pantai.


Di Pulau Kematian, atau lebih tepatnya di Kerajaan Kematian Hitam terdapat tiga Kota, yang mana ada Kota Pelabuhan, Kota Pantai, dan yang terakhir Kota Hutan.


Kota Hutan adalah letak dari Istana Kerajaan Kematian Hitam berada, di sana pula pula akhir Eden, karena dirinya perlu menyelamatkan keluarga dari sang Raja.


Eden sekarang tengah berjalan di pasar yang terlihat begitu ramai, di malam malam hari tengah menunjukkan jam sembilan malam, Eden kemudian sampai di rumahnya, setelah seharian penuh berada di luar, begitu masuk ke dalam rumah, Eden terkejut menemukan rumah itu sangat sunyi, kemudian Eden mencari Azurea dan Albina, tapi keduanya tidak dapat ditemukan di manapun, yang membuat Eden menjadi gelisah.


Kemudian Eden pergi keluar dari rumah, tapi dirinya seketika berhenti, karena mencium bau terbakar, Eden segera pergi ke asal bau tersebut, betapa terkejutnya Eden saat menemukan Azurea dan Albina yang tengah makan ikan bakar, di mana terdapat beberapa wanita di dekat Azurea.


Melihat itu membuat Eden tercengang, tidak Eden sangka baru ditinggal seharian, Azurea sudah memiliki beberapa teman, dan tengah makan ikan bakar bersama teman-teman barunya.


"Hem... Tuan! Kau sudah kembali! Ayo kita makan ikan bakar bersama!" Mendengar suara Azurea, membuat Eden terdiam, sebelum akhirnya menghela nafas dan berjalan mendekat.


Eden kemudian mendekati mereka, sesampai di sana Eden akhirnya dapat melihat dengan jelas, tiga wanita yang duduk di dekat Azurea, di mana Eden melihat seorang wanita berambut hitam pendek, wanita berbadan besar dengan rambut biru panjang, wanita dewasa berumur empat puluhan berambut cokelat.


"Hei Salam kenal, kau pasti yang dikatakan oleh Azurea sebagai Tuannya, salam kenal aku tetangga yang berada di sebelah rumahmu, namaku Gelia." Wanita berambut hitam pendek menyapa Eden.


"Namaku Pakla yang tinggal di seberang rumahmu, salam kenal!" Wanita berbadan besar juga menyapa Eden.


"Hai..."


"Senang bertemu denganmu, namaku Arine, maafkan atas kedatangan kami, sebelumnya kami ingin menyapa tetangga baru kami, tapi karena Pakla baru saja berhasil mendapatkan banyak ikan kali ini, dirinya memutuskan untuk melakukan Pesta makan Bakar Ikan, karenanya kami memutuskan untuk melakukannya di tempat ini, sebelumnya Azurea telah menyetujuinya, maafkan kami untuk gangguan ini..." Wanita dewasa tersebut menjelaskan dengan begitu cakap dan begitu mudah dimengerti.


Eden yang mendengarnya, menganggukkan kepalanya dirinya kemudian paham dengan semua yang terjadi, kemudian Eden melihat ke tumpukan tulang ikan yang telah dimakan oleh Albina, melihat dirinya tengah di tatap oleh Eden, membuat Albina menundukkan kepalanya malu-malu.


Eden kemudian menghela nafas panjang, sebelum akhirnya duduk di dekat Azurea, lalu Eden kemudian berbicara.


"Tidak masalah, ngomong-ngomong namaku Eden Abil, aku pemilik baru rumah ini, salam kenal semuanya." Eden kemudian memutuskan untuk bercakap-cakap dengan para tetangganya.


"Salam kenal juga Eden, ngomong-ngomong Eden bagaimana kau bisa sampai ke sini? Azurea tidak mau membicarakan hal itu?" Gelia dengan wajah penasaran bertanya kepada Eden.


"Aku melalui Jalur Ombak."


"Apa!" Pakla seketika berteriak keras.


"Hem?" Eden yang melihat itu, menjadi bingung.


"Apa itu Jalur Ombak...?" Seketika Eden terdiam, dirinya menatap Pakla dengan wajah bingung, tadinya Eden berpikir mungkin Pakla juga tidak mempercayainya, tapi siapa yang akan menyangka bahwa sebenarnya Pakla bertanya mengenai apa itu Jalur Ombak.

__ADS_1


"Haah... Kau tidak tahu? Bukankah kau ini seorang Penangkap Ikan?" Gelia bertanya dengan wajah bingung kepada Pakla.


"Eh... Hehe aku tidak pernah mencoba mengingat hal-hal yang tidak penting..."


"... Itu hal penting!" Gelia seketika memegangi dahinya.


"Benarkah itu!" Pakla bertanya dengan wajah terkejut.


"Ya Pakla, yang dikatakan oleh Gelia itu benar, Jalur Ombak itu penting, benarkah itu Eden, kau datang kemari melalui Jalur Ombak?" Arine bertanya kepada Eden dengan wajah ingin tahu.


"Ya, aku datang ke sini melalui Jalur Ombak, apakah kau tidak percaya?" Eden bertanya dengan rasa ingin tahu.


"Tidak, aku mempercayaimu, karena bagaimanapun juga tidak mungkin ada orang biasa yang dapat membeli rumah ini, bagaimanapun juga rumah ini cukup mahal, karena kau mampu membelinya, jadi tentu saja kau mungkin untuk dapat selamat meski melalui Jalur Ombak." Arine menjawab pertanyaan Eden dengan begitu tenang.


Mendengar semua itu dari Arine, membuat Eden menatap Arine dengan tersenyum, kemudian Eden dan lainnya makan ikan bakar bersama, hingga akhirnya jam sebelas malam-pun tiba, yang lainnya memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing, Eden juga masuk ke dalam rumah bersama Azurea dan Albina.


Kemudian mereka bertiga tertidur dengan nyenyak, sementara itu di suatu tempat yang gelap, di mana terletak di salah satu tempat yang paling tersembunyi, seorang pria duduk dengan mendengarkan seorang wanita berbicara melaporkan semua hal yang terjadi selama belakangan ini.


"Tunggu, kau bilang apa tadi?"


"Ada seorang pria yang pergi menuju ke lantai tiga dari Rumah Bordil, tapi sepertinya dia naik ke lantai empat, sebab semua lantai tiga telah ditempati oleh orang-orang." Wanita itu menjawab dengan begitu tenang.


"Siapa pria itu?"


"Dari laporan orang-orang yang menyaksikan pria itu, terlihat ciri-cirinya sama dengan orang yang telah melakukan pembelian besar-besaran di Kamar Dagang Pulau Laut, di mana pria itu membeli Bubuk Hitam Berkelap-kelip, yang mana juga orang yang mengatakan dirinya sampai ke Laut Hitam melalui Jalur Ombak."


"Menarik... Siapa sebenarnya pria itu... Apakah dia Dewa yang menyamar?"


"Kami tidak tahu Tuan, tidak ada cara bagi kami untuk memeriksa kebenaran tentang pria itu, lalu apa yang harus kita lakukan kepadanya?"


"Hem... Untuk saat ini biarkan saja... Aku menjadi semakin penasaran dengan pria itu yang datang ke Laut Hitam..."


...


Sementara itu Pemilik dari Kamar Dagang Pulau Laut, saat ini tengah membaca beberapa dokumen yang merupakan laporan dari kantor cabang Kamar Dagang Pulau Laut dari dua Kota lainnya, yaitu Kota Pelabuhan dan Kota Pantai.


Pria tua tersebut seketika tertarik dengan laporan dari Kamar Dagang Pulau Laut dari cabang Kota Pelabuhan, di mana tertulis dalam laporan terdapat seorang pria yang telah melakukan pembelian besar-besaran, di mana pria itu telah membeli semua Bubuk Hitam Berkelap-kelip yang dimiliki oleh Cabang Kamar Dagang Pulau Laut Kota Pelabuhan.


Membaca hal itu membuat pria tua tersebut terkejut, dirinya menjadi penasaran akan hal yang terjadi selanjutnya, oleh karena itu dirinya segera meletakkan laporan itu kembali, sebelum melanjutkan membaca laporan lainnya.


Sementara itu orang yang dimaksud, masih tertidur pulas tanpa memikirkan dunia luar, di Negara Dunia Bawah 01, Kompetisi telah selesai untuk hari itu, dan akan dilanjutkan kembali besok.


Sebelumnya yang bertanding pada hari ini, tidak semenarik pertarungan yang terjadi antara Sekolah Elemental 09 dan Sekolah Penjaga 231, di hari sebelumnya telah dilakukan.


Di mana hal itu cukup mengecewakan beberapa penonton, tapi mereka tetap bersemangat dengan pertandingan yang tengah berlangsung.


Pertandingan hari itu masih perlombaan Pertama, sementara Perlombaan kedua, ketiga, keempat, dan kelima masih akan cukup lama, oleh karena itu semangat dari para penonton masih sangat banyak.


...


Eden saat ini baru saja bangun dari tidurnya, dirinya kemudian membersihkan diri sebelum akhirnya makan bersama Azurea dan Albina, lalu Eden pergi menuju ke Kamar Dagang Pulau Laut.

__ADS_1


Karena Eden perlu mengecek apakah barang pesanannya sudah selesai disiapkan atau belum, jika belum Eden terpaksa menunggu lagi, hingga barang tersebut selesai disiapkan.


Barang itu sangat Eden perlukan, karenanya Eden rela menunggu selama beberapa saat untuk barang tersebut.


__ADS_2