
Seminggu berlalu. Baik Edgar maupun Aninda, mereka sama sama sibuk dengan dunia mereka masing masing. Namun, meski begitu, Edgar selalu datang saat Aninda live PK Internasional. Sesibuk appun Edgar tidak pernah bisa melewatkan saat Aninda live. Karena baginya, Aninda sudah menjadi prioritas kedua setelah putrinya.
Sedangkan Aninda, dalam seminggu ini benar benar kehilangan waktu istirahatnya. Dia selalu mendapat tantangan dari tiktok maupun para fans. Aninda sih melakukan semua itu dengan senang. Hanya saja, namanya manusia pasti akan capek juga kalau bekerja terus menerus tanpa ada istirahatnya.
Itulah yang dialami Aninda saat ini. Dia benar benar lelah, hingga jatuh sakit. Beruntungnya semua tantangan sudah diselesaikan Aninda dengan baik dan dia menjadi pemenang.
"Guys, malam ini aku nggak live ya. Aku mau istirahat. Mungkin besok pagi live lagi."
Dia merekam suaranya, lalu menjadikannya instastory. Agar didengar oleh semua Fans yang juga selalu mengecek Instagramnya.
"Dek, makan dulu. Mama masak sambal cumi sama sayur kangkung kesukaan adek!" Seru Ayuni dari luar kamar Aninda.
"Iya, Ma. Tunggu bentar..." Sahut Aninda yang sedang memijat pelan kepalanya yang terasa sangat pusing.
Meski sedang sakit, Aninda tidak pernah memberitahu pada Mamanya. Dia tidak ingin mamanya khawatir dan menjadi repot karenanya. Jadi, setiap kali sakit atau demam, Aninda hanya mengurung diri di kamar dan memberi alasan dirinya sedang melakukan live dan tidak boleh diganggu. Beruntungnya, Ayuni selalu percaya pada putri bungsunya itu.
__ADS_1
Setelah merasa agak mendingan, Aninda pun melangkah menuju meja makan untuk makan malam bersama mamanya.
"Mata kamu kok merah gitu, dek?" Tanya Ayuni khawatir dan hendak mendekati Aninda.
"Ah nggak apa apa kok, Ma. Biasa, kan pekerjaan adek memang harus menatap layar HP setiap saat. Jadi, merah deh matanya." Jawabnya sambil agak menjauhkan wajahnya dari jangkauan tangan mama.
"O gitu, ya. Tapi, benaran nggak apa apa?" Ulang Ayuni bertanya.
"Iya Mama sayang. Adek nggak apa apa kok." Aninda tersenyum dan menaik turunkan alisnya untuk menyakinkan Mamanya kalau dirinya baik baik saja. Padahal, kepalanya terasa pusing, matanya perih karena kurang tidur dan suhu tubuhnya sangat panas.
Aninda mengangguk yakin sambil tersenyum. Lalu dia memasukkan sambal cumi dan sayur kangkung kedalam piring yang sudah diisikan nasi oleh Mamanya.
"Dek, sebenarnya mama khawatir, karena kata mas Tio, adek sering dihujat sama orang orang." Tuturnya yang juga sudah siap untuk menyantap makan malamnya.
Mata Aninda melotot kearah piring nasi miliknya. Tangannya menggenggam erat sendok yang tadi digunakan untuk menyendok sambal cumi kesukaannya. 'Mas Tio! kenapa malah menceritakan tentang itu sama Mama sih.' Pekik Aninda dalam hati. Dia benar benar geram pada pamannya itu.
__ADS_1
"Elah Ma, yang menghujat cuma satu dua orang saja. Tapi yang suka sama Aninda ada jutaan. Jadi, nggak masalah." Kilahnya.
"Sebenarnya Mama kepingin adek berhenti menghasilkan uang dari bekerja seperti itu. Biar Mama saja yang mecari uang. Lagian, Warung nasi uduk Mama juga sudah sangat laris kok. Dan mama rasa uangnya cukup untuk kita berdua." Saran Ayuni dengan hati hati, takut menyinggung perasaan putri kecilnya itu.
"Ma, adek melakukan semua ini karena memang adek suka. Ini hobi adek Ma. Dan uang yang adek hasilkan, itu semua adalah bonus." Aninda mencoba menjelaskan agar Mamanya bisa memahami dirinya.
"Lagian adek juga belum menyelesaikan bangunan kontrakan adek, Ma. Mama kan tahu itu impian adek sejak dulu. Punya kontrakan dan kos kosan sendiri." Sambungnya.
"Mama minta maaf ya, dek. Mama malah terlihat seakan tidak mendukung hobi adek." Mengelus punggung tangan Aninda.
"Mama tidak perlu minta maaf. Adek selalu bahagia melakukan semua pekerjaan ini. Dan seperti yang adek janjikan. Kita akhirnya memiliki rumah yang nyaman dan juga adek sudah punya mobil sehingga saat belanja kepasar, mama tidak lagi kerepotan membawa barang belanjaan." Celotehnya dengan membuat hal hal lucu diwajahnya sehingga Ayuni tertawa. Dan Aninda pun tertawa bersama Mamanya.
Suasana seperti inilah yang ingin selalu Aninda jaga untuk Mamanya. Senyuman itu yang ingin selalu Aninda lihat diwajah mama. Bukan kesedihan yang beberapa tahun lalu selalu tampak. Karena kepergiaan Ayahnya, lalu kedua kakanya juga harus ikut suami mereka, sehingga mama hanya tinggal bersamanya.
Tapi, Kini Mama tidak lagi kesepian. Semenjak Aninda menjadi Tiktoker terkenal, Mamanya jadi punya banyak pelanggan di warung nasi uduknya. Sehingga mama sibuk dan tidak punya waktu untuk bersedih lagi. Terlebih, saat bersama Aninda yang selalu menghiburnya dengan tingkah konyolnya itu.
__ADS_1