
Kini mereka sudah di Bandara. Mereka akan segera terbang ke Shanghai dalam waktu kurang dari sepuluh menit lagi. Sebelum naik pesawat, Edgar dan Aninda terus bergandengan tangan. Edgar bahkan sesekali memeluk Aninda yang terlihat sedih, karena akan segera berpisah dengan sahabatnya itu.
"Aninda, Ok?" Tanya Edgar menatap wajah sedihnya.
"No. Aninda not ok." Jawab Aninda jujur.
"Ikut Ed, ya!" Ajaknya.
"No. Nggak mau ikut. Maunya Ed tetap tinggal disini." Rengeknya.
Aninda mengatakan hal itu diikuti dengan bahasa isyarat, agar Ed mengerti apa yang diucapkannya.
"Ed hanya pergi sebentar. Nanti akan segera kembali lagi. Ok." Ucap Ed yang juga ikut menggunakan bahasa isyarat.
"Ok. Tapi jangan lama lama." Rengek Aninda yang membuat Ed semakin gemas.
"Ok." Ucap Edgar.
Sementara itu, Tio sudah menangis. Dia merasa iba saat harus berpisah dengan orang orang baik itu. Karena meski bagaimanapun, baru kali ini Tio merasakan punya sahabat asing yang benar benar baik, perhatian dan juga sangat mengerti dirinya. Bagi Tio, mereka bukan hanya sekedar sahabat, tapi mereka adalah keluarga.
"Tio, dont cry." Ucap Efran yang langsung memeluk Tio.
Selama di Indonesia, Efran tidak bisa bermanja pada kakaknya. Jadi, Tio lah yang menjadi tempatnya bermanja. Dan Tio juga memanjakannya sama seperti saat dia manja pada kakaknya.
"Thank you for loving me. I will miss you my brother." Efran mengatakan itu sambil menangis dalam pelukan Tio.
"Hey bro. Thank you. See you next time, bro." Ucap Ale yang juga ikut memeluk Tio.
"I will miss you all." Ujar Tio.
"Bro. You very kind. Thank you. I will mis you." James juga ikut memeluk Tio.
Tapi, James hanya memeluk sebentar, karena dia harus merekam moment perpisahan itu. Terutama moment Aninda dan Edgar.
__ADS_1
"Wag kang umiyak."
(Jangan menangis) Edgar menghapus air mata Aninda menggunakan tangannya.
Aninda mencoba untuk tidak menangis. Dan saat dia sudah melepaskan diri dari pelukan Edgar, barulah Ale dan Efran menghampirinya.
"Mahal kita, Aninda." Ucap Ale pada Aninda.
Dia mengelus puncak kepala Aninda. Perlakuannya pada Aninda seperti seorang kakak pada adiknya.
"Ang pangit mo kapag umiiyak ka."
(Kamu jelek saat menangis) Ucap Ale mencoba menggoda Aninda.
"No. I am beauty." Protes Aninda yang mengerti ucapan Ale.
"Aninda, pangit." Ledeknya mulai menjaili Aninda.
"No. You pangit." Balas Aninda.
Raut wajah Aninda yang tadinya sedih berubah jadi kesal. Dan karena Ale terus mengejeknya, akhinya dia nangis lagi.
"Ed… Ale say Aninda pangit!" Dia mengadu pada Edgar.
"No. Ale pangit. Aninda beauty." Bujuknya.
Merasa dibela oleh Edgar, Aninda pun menjulurkan lidahnya untuk membalas ejekan Ale.
"Ale pangi. Aninda beauty." Puji Efran.
"Efran handsome." Puji Aninda juga.
Lalu keduanya berpelukan. Saat berpelukan itulah Efran meneteskan air mata. Entah mengapa, dia merasa sedih harus berpisah dengan Aninda yang bisa memanjakannya padahal usia Aninda tiga tahun lebih muda darinya.
__ADS_1
"Mahal kita, Aninda." Ucap Efran.
"Mahal kita, Efran. See you next time." Aninda mengelus lembut punggung Efran.
"Jangan tinggalkan Ed dan Liezel. Cintai mereka, karena mereka sangat mencintai Aninda." Bisik Efran di telinga Aninda.
Mendengar Efran mengatakan itu dengan bahasa Indonesia yang fasih, membuat Aninda terharu. Efran benar benar cerdas, diam diam menghanyutkan. Dia bisa mengingat kalimat panjang itu dengan baik.
Dan setelah berpamitan, mereka pun langsung pergi untuk pengecekan pospor mereka dan segera menuju pesawat.
"Bye Aninda, pangi." Ale melambaikan tangan kearah Aninda.
"Bye bye, Ale pangi." Balasnya.
"Bye Aninda, bye Tio." Ucap Edgar yang juga melambaikan tangan pada mereka.
Aninda melambaikan tangan sambil menahan air matanya yang tidak tahan ingin tumpah. Untungnya, dengan sigap Tio merangkulnya, menepuk pelan punggungnya, sehingga membuat Aninda merasa lebih tenang dan bisa mengontrol perasaan sedihnya saat melepas kepergian Edgar dan teman temannya.
"Edgar benar benar pria yang bertanggung jawab. Omongannya bisa dipegang, dek. Jadi, kini tinggal ketegasan dari adek saja lagi. Ed pernah bilang sama mas, dia bersedia mempelajari Islam dan akan menjadi muslim, jika adek sendiri yang memintanya. Dia bilang akan melakukan apapun, selama itu bisa membuat adek merasa bahagia dan mau hidup bersamanya." Tutur Tio pada Aninda.
"Adek tidak tahu harus bagaimana, mas. Sebenarnya, adek terus memikirkan perkataan haters. Karena tidak semua nyinyiran mereka salah. Dan sebenarnya kesalahan mereka karena menyampaikan itu dengan cara seperti menjelekkan dan menginjak injak nama baik keluarga kita. Tapi, apa yang mereka katakan benar. Coba mas lihat, adek selalu berusaha menjaga aurat adek dengan memakai pakaian syar'i. Tapi, adek masih belum bisa mengontrol cara bergaul dengan teman lelaki yang bukan muhrim adek." Ungkap Aninda.
Hanya menghela napas yang bisa Tio lakukan. Dia pun juga merasakan apa yang Aninda rasakan. Harusnya sebagai paman, Tio melindungi marwah keponakannya. Tapi, yang dia lakukan malah sebaliknya, Tio tidak bisa tegas dalam menjaga Aninda menurut ajaran Islam. Karena dia sendiri juga masih berantakan soal hal itu.
'Maafkan, mas mu ini, dek. Mas juga tidak tahu harus berbuat bagaimana.' Ucapnya dalam hati.
"Pulang yok. Mereka juga sudah tidak terlihat lagi." Ajak Tio.
"Ayok, mas. Adek juga capek. Maunya saat ini berbaring dan istirahat santai sambil nonton drakor." Ujarnya yang mulai senyum kembali.
"Kajaaa…" Tio bersemangat mengajak Aninda pulang.
"Kaja… uri cibbe kalle."
__ADS_1
(Ayo kita pulang kerumah.)
Ucap Aninda dengan bahas Koreanya yang seadanya. Dia menggunakan kata kata yang sering didengarnya saat menonton drakor.