
Setelah live berakhir, Edgar pergi menemui kenalannya untuk membuat projek baru bersama dan setelah itu Edgar langsung pulang. Malam itu Edgar sama sekali tidak bisa tidur. Dia masih teringat wajah Aninda, senyum Aninda dan semua tingkah konyol Aninda.
"Ed, lagi apa!" Seru Reyna menghampiri Edgar diruang siarannya.
Wajah Edgar yang tadi bersemu merah dan bibirnya yang selalu tersenyum, langsung berubah saat Reyna datang.
"Reyna. Ada apa?" Tanya Edgar agak gugup.
Bukannya menjawab, Reyna malah menatap Edgar sambil tersenyum senyum. Lalu dia memperlihatkan layar ponselnya pada Edgar. "Aku menemukannya." Bisik Reyna.
Mata Edgar tidak berkedip saat menatap layar HP Reyna yang memperlihatkan foto Aninda. "Menemukan apa?" Mata Edgar akhirnya berkedip dan beralih menatap Reyna.
"Aninda, gadis kecil yang lucu. Ed menyukainya, kan?" Reyna langsung menebak.
Edgar hanya tersenyum. Kali ini dia tidak bisa menyembunyikan perasaan itu bahkan dari Reyna dan mungkin teman teman tim yang lain
"Ed benar, dia memang gadis yang sangat lucu. Ah, lebih tepanya gadis yang konyol." Ulang Reyna. Lalu dia duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu.
"Apa semua orang tahu Ed menyukainya?" Tanya Edgar sambil menunduk malu.
"Tentu. Kita semua juga sudah mengikuti akun Aninda." Jelas Reyna. "Dan kami semua menyukainya, Ed." Sambung Reyna.
Edgar tersenyum senang. "Apa boleh Ed mencintainya bukan hanya sekedar menyukai?" Ia bertanya.
Tatap matanya mengatakan ketulusan perasaan cinta yang ada di hatinya untuk Aninda. Reyna bisa melihat ketulusan itu.
"Mama dan Papa mengatakan mereka sangat ingin memanggil Aninda dengan sebutan menantu." Ucapan Reyna ini membuat Edgar terperangah tidak percaya.
"Mama, Papa juga tahu tentang Aninda?" Dia tidak yakin hal itu sudah sampai diketahui kedua orangtuanya.
Reyna mengangguk. "Untuk mencintai Aninda dan menjadikan Aninda menantu di keluarga kita, tentunya Ed harus berkorban banyak hal. Karena, Aninda berbada. Tapi, kita semua akan mendukung Ed apapun yang Ed ingin lakukan, selama itu bisa membuat Ed bahagia." Jelas Reyna.
"Aku akan mencoba sebisaku, Reyna. Meski pada akhirnya mungkin tidak sesuai keinginanku, aku akan tetap mencintai Aninda dan memberikannya semua yang aku punya jika itu diperlukan." Dia mengatakan semua itu dengan penuh ketulusan dan kesungguhan.
Disaat Edgar sedang mengutarakan semua isi hatinya untuk Aninda, Anindanya malah masih asyik live dan berinteraksi dengan penonton.
"Guys, kalian jangan macam macam deh. Nanti yang hujat malah kesenangan dapat bahan hujatan gratis." Ucap Aninda dengan sedikit tertawa. Aninda tersenyum senyum membaca semua komentar yang seperti room chat itu.
#Dek, mbak ngebayangin Edgar datang ke Jakarta khusus untuk ketemu sama adek. Huuhuuu, sweet banget nggak tu.#
__ADS_1
#Bikin hashtags untuk Aninda sama Edgar yuk!#
#Hayukkk, mau dong ikut meramaikan.#
#Hashtags yang bagus apa ya?#
#EdgarAninda aja.#
#Terlalu biasa, ada yang punya saran lain nggak?#
"Khalayan kalian itu guys… guys, kejauhan." Ujar Aninda yang saat ini masih terus menyimak komentar komentar para penggemarnya itu.
"Hashtags apaan. Jangan coba coba bikin. Malu gue guys. Dia siapa, gue siapa. Edan kalian guys!" Celotehnya, kemudian dia mereguk segelas air putih, karena merasa sangat kehausan.
#EdAn. Keren tuh kak Aninda.#
#Wah iya. Edgar, Aninda disingkat jadi EdAn.#
Bbuurrrgg…
"Uuhhukkk… uuhhukk." Tiba tiba air yang diminum Aninda muncrat semua dan dia pun tersedak saat membaca komentar tersebut.
Pembicaraan ini hanya dimengerti oleh Fans Aninda saja. Sementara penonton yang baru bergabung dan baru mengikuti Aninda, malah bertanya tanya tentang apa yang sedang dibicarakan Aninda tentang hashtags hashtags tersebut.
...🍁🍁🍁...
Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang Tio Sadewa, kecuali saat sedang malas malasan berbaring manja di tempat tidurnya.
"Aaahhh, sangat nyaman. Akhirnya aku bisa tidur di kasurku sendiri." Ucapnya merasa senang.
Selama beberapa Hari ini Tio ikut sahabatnya ke Surabaya. Mereka mengerjakan banyak pekerjaan disana. Maksudnya, mereka membuat banyak konten saat berada disana. Dan Tio baru tiba dirumah tadi sore.
"Aninda apa kabar ya? Aku nggak nonton live Pk dia sama Edgar si cowok Filipina itu." Celotehnya.
Tio meraih Hp miliknya, lalu membuka apk tiktok dan masuk ke beranda tiktok Aninda. Rupanya Aninda belum mengupload apapun disana.
Akhirnya dia menelpon keponakannya itu.
"Assalamualaikum, dek." Ucapnya begitu panggilan tersambung.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, mas. Dimana sekarang?" Tanya Aninda.
"Mas dirumah. Udah lama nggak pulang, kangen mas sama kasur empuk ini." Tuturnya.
"Kapan sampai rumah?"
"Tadi sore."
"Kenapa kagak ngasih kabar. Mama khawatir dari tadi mas Tio kagak ada kabar!" Celoteh Anida merasa agak kesal karena Tio tidak memberi kabar tentang kepulangannya.
"Yo maaf, dek. Tadi mas langsung tidur pas nyampe rumah. Mas nggak sempat meriksa hp juga." Menjelaskan.
"Ya sudah kagak apa apa, dah. Terus kapan kemari?" Tanya Aninda.
"Besok. Mas mau menikmati dulu suana rumah yang lama ditinggal."
"Mhhmm." Jawab Aninda.
Kening Tio mengkerut mendengar jawaban Aninda yang hanya sahutan singkat seperti itu.
"Kenapa, dek? Kok lesu amat?"
"Kagak ape ape. Aku lagu kecapek an aja, mas." Jawabnya malas.
"Yakin nggak mau cerita?" Rayu Tio agar Aninda menceritakan sesuatu padanya.
"Benaran. Udah yak, aku lagi ngevlog ini."
"Ngevlog dimana? Sama siapa?" Tanya Tio penasaran.
"Dijalan. Aku lagi jalan mau ke Indomarket. Mau beli jajanan serba coklat. Dikasih uang sama fans 100rb disuruh jajan serba cokelat." Jelasnya.
Tio tersenyum. Aninda sangat mudah dipancing untuk cerita masalahnya. Tapi, ini hanya berlaku pada Tio ya. Sementara pada orang lain, Aninda sangat berbeda. Dia sangat tegas dan tidak mudah goyah.
"Ya udah, semangat ya dedek cantik." Ucap Tio sebelum mengakhiri pembicaraan mereka.
"Iya. Mas jangan lupa makan. Assalamualaikum!" Ucap Aninda yang lansgung mengakhiri pembicaraan mereka.
"Waalaikumsalam." Jawab Tio.
__ADS_1
"Dimatikan benaran. Padahal tadinya masih mau nanya soal si cowok Filipina. Ya sudahlah, tanya nanti aja pas ketemu." Ujarnya agak kecewa.