
Dua bulan kemudian.
Kegiatan keseharian Aninda tidak banyak berubah. Masih seperti biasa yang selalu disibukkan dengan membuat video konten dan juga ngevlog. Semuanya berjalan dengan baik. Keuangan Aninda juga mulai membaik.
Bangunan investasi Aninda juga sudah selesai. Dua minggu lalu, tiga rumah kontrak susun sudah ditempati oleh tiga kepala keluarga. Sedangkan kamar kos sudah hampir penuh. Rata rata yang menempati kos kosan adalah anak kuliahan.
Beberapa hari yang lalu, Aninda juga sudah meminta tukang bangunan untuk merenovasi warung nasi uduk mama. Hanya lebih di perluas saja, agar bisa menampung banyak pelanggan, sehingga mereka tidak perlu antrian panjang.
"Harusnya, uangmu itu ditabung, dek." Ucap Ayuni.
"Ma, anggap aja adek naroh saham investasi di warung mama. Kan kalau pelanggan bertambah banyak, mama dapat untung yang makin banyak, adek juga ikut dapat imbasnya. Uang jajan akan bertambah. Betul kagak?" Ucapnya.
Ayuni hanya menggelengkan kepalanya heran dengan cara berpikir anak bungsunya itu yang bukan seperti anak bungsu. Aninda lebih seperti anak sulung di matanya. Memang sejak dulu, Aninda yang selalu perhatian dan juga sangat mengerti keadaan kedua orangtuanya. Terlebih setelah suaminya meninggal. Aninda menjadi lebih pemberani dan dewasa dengan segala kerja kerasnya untuk tetap membuatnya merasakan hidup yang nyaman.
Sebenarnya, Aninda juga sangat sering meminta Ayuni berhenti menjual nasi uduk. Tapi, Ayuni tidak pernah mau. Dia akan tetap berjualan dan mencari nafkah untuk anaknya sebagaimana yang selalu dilakukan oleh orangtua lainnya.
"Ma, adek mau ke mall sama mas Tio. Mama ikut, ya." Ajaknya.
"Mama mau nyiapin bumbu buat jualan besok. Adek pergi saja berdua sama mas Tio." Ujarnya yang mulai mengupas bawang.
"Ya udah kalau gitu. Tapi mama mau dibelikan apa?"
"Belikan minyak goreng aja. Minyak goreng mama masih sisa dikit."
"Mama ah ada ada aja! Mintak beliin minyak goreng di mall." Rutuk Aninda.
"Lah memangnya kenapa? Apa di mall kagak ada minyak goreng?" Tanya Ayuni yang sengaja ingin membuat putrinya itu merasa kesal.
"Orang tu ya ma, kalau ke mall biasanya shoping baju, tas, sepatu, sandal perhiasan dan berbagai aksesoris lainnya. Lah mama, mintak belikan minyak goreng! Aneh atuh mama." Celotehnya kesal.
Ayuni tersenyum senyum senang melihat anaknya yang benaran kesal. Menurutnya, Aninda sangat menggemaskan saat sedang menggerutuk kesal seperti itu.
"Ya mau gimana lagi. Mama butuhnya minyak goreng. Kagak mungkin kan, mama goreng ayam sama sambelnya pake tas, sepatu, dan aksesoris itu. Iya kan?" Jawabnya.
"Serah mama deh. Senangnya pagi pagi membuat adek kesal. Terbawa emosi. Hilang kan, tuh jadinya kecantikan adek." Rutunya.
Meski merasa kesal pada mamanya. Aninda tetap mengambil tangan mama dan mencium punggung tangan wanita hebat itu.
"Adek berangkat dulu. Assalamualaikum." Pamitnya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam… hati hati ya dek. Bilagin mas Tio jangan ngebut ngebut bawa mobilnya." Teriaknya mengiringi kepergian Aninda.
"Inshaa Allah, Mama." Sahut Aninda yang sudah melangkah keluar dari rumah.
Supir Gojek sudah menunggu Aninda di depan. Dia pun langsung berangkat dengan pak gojek menuju rumah Tio yang berjarak sekitar dua puluh menit perjalanan menggunakan kendaraan.
...🍁🍁🍁...
Aninda dan Tio sudah tiba di Mall. Mereka membuat konten dulu sebelum mulai berbelanja.
Saat sedang asik membuat konten, beberapa fans mendekati mereka.
"Kak Aninda… aku fans banget sama kak Aninda." Ucapnya dengan mata berbinar binar menatap wajah Aninda yang tersenyum senang padanya.
"Halo, nama kamu siapa?" Tanya Aninda mengulurkan tangannya.
"Rita, kak." Menyambut uluran tangan Aninda.
Melihat Rita yang hampir menangis haru karena bisa bertemu langsung dengannya. Membuat Aninda pun ikut terharu. Dia akhirnya memberi pelukan pada Rita.
"Aku nggak nyangka bisa ketemu langsung sama kak Aninda." Rengeknya dalam pelukan Aninda.
"Iya kak. Aku Novi. Aku ngefans banget sama bang Tio." Ucapnya malu malu.
Tio yang tadinya hanya diam sambil senyum senyum melihat momen keharuan Aninda dan fansnya pun malah terperangah kaget.
"Hai Novi. Benaran ini kamu ngefans sama aku?" Tanya Tio.
Novi mengangguk, kemudian langsung memeluk Tio. Awalnya Tio kaget dan tidak berani untuk membalas pelukan Novi. Tapi, pada akhirnya dia pun memeluk Novi yang menangis haru.
"Kok malah pada nangis sih." Ujar Aninda yang akhirnya melepas pelukannya dengan Rita.
Begitu juga dengan Tio. Dia melepas pelukannya dengan Novi dan menyapa satu lagi teman Novi dan Rita yang sejak tadi hanya menatap senang pada kedua temannya yang bahagia karena bertemu dengan idola mereka.
"Kalian udah lama?" Tanya Aninda ramah.
"Baru sampai kak." Jawab mereka.
"Kak Aninda sama bang Tio sudah mau pulang ya?" Tanya Rita.
__ADS_1
"Belum. Kita juga baru sampai." Jawab Tio.
"Boleh foto bareng nggak?" Tanya Novi pada Aninda dan Tio.
"Boleh dong." Jawab Aninda dan Tio berbarengan.
Merekapun mengambil beberapa pose lucu saat berfoto bersama. Setelah usai sesi foto foto, Aninda dan Tio izin untuk melanjutkan perjalanan mereka mengitari Mall.
"Sebenarnya mau beli apa sih, mas?" Tanya Aninda yang heran melihat Tio tidak juga kunjung membeli sesuatu setelah berkeliling hampir setengah jam.
"Mas mau beliin hadiah ulang tahun buat Gea." Ujarnya.
"O walah, mas Tio cari hadiah buat calon istri toh." Goda Aninda.
"Calon istri kuplakmu. Gea itu anak angkatku. Baru juga berusia dua tahun." Rutuknya.
"Anak angkat? Mas Tio ngambil anak siapa?" Tanya Aninda penasaran.
"Heh, selama ini adek sibuk aja uwu uwuan sama si Edgar sampai nggak tahu mas mengadopsi kucing. Namanya Gea." Jelasnya.
Aninda tertawa. Dia tertawa sambil mukul mukul punggung Tio. "Mas Tio, angkat kucing jadi anak?" Ucapnya masih terus tetawa.
"Emangnya kenapa?" Ujarnya agak sewot.
Tio akhirnya menemukan toko pernak pernik khusus untuk hewan peliharaan.
"Kagak apa apa sih. Lucu aja, nama kucingnya Gea. Adek kira pacar mas Tio. Ternyata hanya seekor kucing." Gumamnya.
"Si Gea bukan kucing sembarangan dek. Dia sangat lincah dan menggemaskan. Pup sama pis aja langsung ke kamar mandi. Gea kucing yang sangat cinta kebersihan." Jelasnya membanggakan kucing kesayangannya.
Aninda mangguk mangguk sambil tersenyum. 'Malang kali nasib mas ku ini ya Allah. Udah duda, belum laku, prustasi sampe menganggap kucing sebagai anaknya.' Ucap Aninda dalam hati sambil menahan tawa.
"Keliling di mall hampir setengah jam hanya untuk membelikan si Gea hadiah ulang tahun. Menyensarakan sekali." Ujar Aninda yang membuatnya mendapat jentikan di jidatnya.
"Udah mas bilang, Gea itu spesial. Nggak seperti kamu yang sukanya jail dan nggak hormat sama yang lebih tua." Rutuk Tio agak kesal.
"Benar loh, adek belum pernah hormat sama mas Tio. Jadi kepada komandan Tio, hormat… grak." Anindapun memberi penghormatan pda Tio di tengah tengah keramain.
"Adek ngapain lagi coba. Malu maluin aja." Ucap Tio.
__ADS_1
Dia menarik paksa Aninda keluar dari toko aksesoris hewan itu. Rasanya malu saat semua orang menatap kearah mereka. Sehingga Tio memutuskan mengajak Aninda pergi makan. Karena, biasanya saat Aninda sudah mulai jail, itu tandanya dia lapar dan harus dikasih makan.