
Edgar tiba di Shanghai. James dan Efran sudah kembali ke Filipin. Hanya tinggal dirinya dan Ale saja yang menetap sebentar di Shanghai. Itu karena Edgar akan bekerja disana.
Selama di Shanghai, tidak pernah sekalipun Edgar lupa mengabari Aninda. Dia juga tidak pernah absen mengirimkan video saat saat dia sedang bekerja ataupun sedang istirahat. Semua dilakukannya, agar Aninda bisa mengetahui apa saja yang dilakukannya selama bekerja di Shanghai.
Sementara, di Indonesia. Berita tentang kisah Edgar dan Aninda bertebaran di mana mana. Begitu banyak orang orang yang menyukai hubungan keduanya. Namun, diantara banyaknya orang yang suka, tetap ada beberapa orang yang tidak suka pada Aninda dan Edgar. Mereka bahkan membuat buat cerita untuk menjelek jelekkan Aninda.
Bahkan ada akun yang mengatas namakan mantan istri Edgar. Menggunakan akun palsu itu, seorang hates mencoba menghina Aninda. Tapi, Aninda tidak peduli sama sekali, karena dia tahu itu akun palsu. Dan juga, Edgar selalu ada untuk melindunginya.
Edgar memang terlihat jauh dari Aninda secara jarak. Tapi, secara hati, mereka bahkan tidak berjarak. Edgar juga sering melakukan Klarifikasi dalam setiap talkshownya di Sahanghai. Dia hanya terus menegaskan, bahwa Aninda adalah satu satunya wanita yang dicintainya sebagai kekasih. Edgar juga menegaskan, dia akan berjuang agar bisa hidup bersama Aninda. Edgar juga mengaku, bahwa dia perlahan lahan mulai mempelajari islam.
"Meski aku tidak tahu bagaimana akhir dari kisahku dan Aninda, aku akan tetap memperjuangkannya. Aku akan tetap menjaganya, menyayanginya dan berjuang untuk mendapatkan cintanya. Karena dialah satu satunya yang aku inginkan dalam hidupku." Ungkap Edgar dalam sebuah wawancara majalah.
__ADS_1
Mendengar pengakuan Edgar, membuat fans EdAn semakin menggila. Mereka bahkan menyindir haters dengan video pengakuan itu. Agar semua haters itu berhenti menjelekkan Aninda.
Apa yang dilakukan Edgar untuk melindungi Aninda, perlahan bertambah meluluhkan hati Aninda. Tapi, tetap saja, untuk menerima ajakan Edgar berpacaran, sungguh sangat berat bagi Aninda.
"Kenapa nggak pacaran aja dulu, dek. Toh Edgar juga lelaki yang sopan. Dia tidak menyentuh adek lebih dari yang adek izinkan. Toh, kalau kalian pacaran, haters juga pasti akan bertambah panas." Tio menyarankan.
"Adek memang bukan wanita baik baik. Karena adek belum bisa menyesuaikan antara cara berpakaian dan cara bergaul adek, mas. Tapi, untuk pacaran, adek rasa sangat tidak ingin adek lakukan." Tegasnya.
"Kesannya adek memang sok alim. Gak mau pacaran, tapi pelukan dan pegangan tangan dengan lawan jenis. Tapi, alasan adek nggak mau pacaran, karena adek ingat pesan guru ngaji adek dulu. Dia bilang, kalau kita sebagai anak pacaran sebelum menikah, maka orangtua kita yang sudah meninggal akan mendapat siksaan didalam kuburnya. Nah, adek takut Ayah kesakitan disana, kalau adek berpacaran." Ungkapnya.
Entah mengapa, kali ini dia menjadi kesal pada Aninda yang masih bertahan tidak mau pacaran, padahal yang dia lakukan bersama Edgar juga sudah seperti orang pacaran, bahkan lebih.
__ADS_1
Dan mendengar perkataan Tio membuat hatinya terenyuh sakit. Apa yang dikatakan Tio sungguh benar. Namun, apa boleh buat. Sepertinya saat ini Aninda tidak bisa mengendalikan hatinya yang semakin dalam mencintai Edgar.
"Adek bingung, mas. Adek nggak tahu harus ngapain." Teriaknya yang sudah menangisi ketidak mampuannya mengendalikan diri.
"Hanya ada dua pilihan dek. Pertama, jika kamu memang benar benar ingin mempertahankan tidak ingin pacaran, maka kamu harus berhenti melakukan sentuhan sentuhan apapun dengan Edgar. Jika kamu menjelaskan hal itu, mas yakin dia akan paham dan mencoba menerimanya. Tapi, resikonya, perlahan Edgar mungkin akan menjauh dari adek." Tuturnya.
"Pilihan ke dua. Dari pada kepalang tanggung, adek sudah bermesraan juga dengan Edgar, ya sudah sekalian aja pacaran. Minta Edgar pindah agama dan kalian menikah. Resikonya, ya, jika Edgar tidak bisa pindah agama, maka adek yang pindah. Jika adek tidak mau pindah, maka hubungan kalian juga akan berakhir." Lanjutnya.
"Tanyakan pada diri adek. Apa yang adek inginkan. Mas akan selalu mendukung semua keputusan adek, kecuali satu. Mas sangat bermohon, jangan sekali kali adek terpikir untuk pindah keyakinan. Itu saja pesan dari mas."
Tio menepuk pelan bahu Aninda. Lalu, dia pergi dari ruangan siaran Aninda. Sedangkan Aninda terdiam mematung memikirkan perkataan Tio barusan.
__ADS_1
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan. Aku sangat mencintai Edgar. Aku takut kehilangan dia. Apa yang harus aku lakukan, ya Allah. Berilah petunjukmu." Ucapnya bicara sendiri.
Air mata sudah menetes di pipinya. Awalnya hanya setetes demi setetes. Beberapa detik kemudian, air mata itu mengalir deras, disertai dengan isakan dan jeritan hatinya yang terasa sakit dan ragu akan keputusan yang ingin dia ambil.