
Setelah menyelesaikan rangkaian acara akad nikah, foto bersama dan juga acara lainnya, Tio dan Aninda akhirnya bisa menghampiri tamu yang datang dari jauh itu.
"Hai, bro. I miss you all." Ucap Tio.
Dia menghampiri sahabat sahabatnya itu. Dia juga memperkenalkan istrinya. Dan setelah berbincang sebentar, Tio dan Riana pamit untuk istirhat, begitu juga dengan Aninda.
Dan kini Aninda kembali kekamarnya. Dia menyapa Reyna, menanyakan apakah Reyna suka makanan yang diberikan pelayan hotel. Lalu, Aninda izin untuk melaksanakn sholat isa.
Usai Aninda Sholat, Reyna pun mengajaknya berbincang.
"Aninda, aku benar benar minta maaf. Aku sudah mengatakan banyak perkataan jahat padamu. Aku minta maaf." Ucapnya menyesal.
Aninda tersenyum.
"Kenapa kamu tersenyum? Apakah itu artinya kamu belum bisa memaafkan aku?" Tanya Reyna ragu.
"Aku sudah memaafkan kamu bahkan saat hari itu juga. Jadi tidak perlu meminta maaf." Jawab Aninda
"Kenapa kamu sudah memaafkan aku saat itu?"
__ADS_1
"Karena aku tahu, kamu pasti salah paham?"
"Lalu, mengapa kamu tidak mencoba menjelaskan padaku?"
"Yeah, karena biasanya saat seseorang sedang marah, mereka tidak akan mudah mendengarkan penjelasan dari siapapun. Dan kalau pun aku menjelaskan, hanya akan terdengar seperti sedang mecari cari pembelaan diri." Jawab Aninda.
Jawaban itu semakin membuat Reyna merasa bersalah.
"Sorry." Ucapnya lagi.
"Ok." Aninda tersenyum.
Sementara itu, di kamar yang lain. Edgar sedaag digoda oleh James, Ale dan Efran. Mereka terus terusan meminta Edgar untuk menghampiri Aninda dan mengajaknya bicara.
"Ayolah Ed, bicara sebentar saja. Hanya sekedar menyapa."
"Sudahlah. Aku datang karena kalian yang memaksa. Lagi pula aku datang untuk memberi selamat pda Tio." Ucapnya.
Mereka akhirnya diam setelah mendapat jawaban tegas dari Edgar. Hingga akhirnya merekapun merebahkan diri di kasur dan bermain dengan handphone mereka.
__ADS_1
Sedangkan Edgar, dia kini melaksanakan sholat Isa. Meski tubuhnya terasa sangat lelah tanpa alasan, dia tetap melaksanakan sholat.
Usai sholat, Edgar masih betah duduk bersimpuh di atas sajadahnya. Bayangan wajah Aninda mampir dalam ingatannya.
Saat pertama melihat Aninda melangkah menghampiri mereka tadi siang, Edgar merasa seakan dunia berhenti berputar, jantungnya seakan berhenti berdetak. Dia merasa sangat malu tanpa alasan saat melihat Aninda.
'Haruskah aku bicara padanya, meski hanya beberapa detik saja?' Bisiknya dalam hati.
Edgar terus berpikir dan bicara sendiri di atas sajadahnya. Hingga tidak sadar, jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Dan matanya masih tidak merasa mengantuk, dan akhirnya Edgar memutuskan untuk keluar dari kamar.
Dia memasuki lift dan menuju lobi. Kakinya membawanya melangkah menuju taman di samping hotel.
"Ya Allah, sungguh indah bintang dan bulan menghiasi langit malam ini." Ucapnya sambil menatap langit.
"Katanya saat malam cerah seperti ini, di tengah malam begini Malikat-Mu turun ke bumi. Dan aku akan berdoa." Edgar berucap, lalu memejamkan matanya.
'Ya Allah, dengan sholawat atas Rasulullah, hamba mohon berilah petunjukmu.' Ucapnya dalam hati.
Edgar bersholawat, lalu mengucapkan keinginannya. 'Jika Aninda jodohku, izinkan aku untuk menghalalkannya segera, sebelum aku kembali lagi ke Negaraku. Tapi, jika kami tidak berjodoh, maka biarkanlah semuanya seperti ini. Jangan sampai ada komunikasi apapun terjadi antara kami sampai aku kembali ke Negaraku. Aamiin.' Ucapnya dalam hati.
__ADS_1