Ketika Aninda Jatuh Cinta

Ketika Aninda Jatuh Cinta
Episode 7


__ADS_3

Quezon, Januari 2018.


Edgar dan teman temannya berhasil. Bahkan dalam hitungan empat bulan, Subscriber Edgar meningkat pesat. Sebentar lagi dia akan mendapatkan 1 juta subscriber. Usaha Edgar dan teman teman benar benar mebuahkan hasil yang sangat bagus. Mereka juga sudah mendapatkan gaji mereka setelah mengembalikan modal awal mereka.


Ditahun baru ini, Edgar dan timnya berlibur. Mereka berlibur ke Cebu. Edgar membawa kedua adiknya dan juga putri kecilnya. Mereka menghabiskan waktu bersama, bersenang senang dan tentunya juga sambil bekerja.


"Papa, Aku mau itu." Liezel menarik tangan Papanya untuk membelikan ice cream.


"Tuan putri mau itu?" Tanya Edgar sambil membawa sikecil kedalam gendongannya. Gadis kecil itu mengangguk kegirangan.


Edgar membelikan apa saja yang diinginkan Liezel. Dia sangat memanjakan Liezel, tapi juga terkadang keras padanya. Tujuannya, agar kelak dia tumbuh menjadi anak yang kuat dan tidak manja.


Saat ini mereka hendak menuju Cebu Ocean Park. James dan Jason sedang mengambil tiket masuk taman untuk mereka.


"Ice cream vanillanya satu." Pinta Edgar pada penjual ice cream itu. Dan hal itu membuat Liezel tersenyum senang dalam gendongan Papanya.


Beberapa detik kemudian, Ice Cream diberikan pada Liezel dan Edgar segera membayarnya. Lalu, mereka kembali melangkah mengikuti teman teman yang sudah jauh di depan sana.


"Edgar!" Panggil seseorang dari belakang.


Edgar menoleh dan terkejut dengan apa yang dilihatnya. Hal itu membuat si kecil ikut melirik kearah tatapan papanya.


"Ale! You… Alejandro, Right?" Mengulurkan tangan pada Ale yang langsung disambut dengan dua tangan oleh Ale.

__ADS_1


"Man, How are you?" Ale sangat bahagia bisa kembali bertemu dengan sahabat kecilnya.


Mereka bersahabat sejak SD sampai SMP. Hingga terpisah karena Ale pindah ke Manila bersama kedua orangtuanya. Dan setelah sekian lama, mereka akhirnya berjumpa kembali.


"Siapa gadis kecil ini?" Mencubit lembut pipi Liezel.


"Putriku. Namanya Liezel." Mengelap cream yang menempel dibibirnya mungilnya.


"Putrimu?" Tidak percaya, sahabat kecilnya itu sudah memiliki seorang anak.


Edgar mengangguk, lalu mencium pipi Liezel. "Dia anugerah terindah dalam hidupku." Ucapnya bangga.


Ale tersenyum. Dia tahu, mata Edgar mengatakan banyak kesedihan. Dia kenal betul sahabatnya itu, memang sejak dulu, selalu menyembunyikan banyak hal, terlebih jika itu adalah sesuatu yang menyedihkan.


"Halo Liezel. Aku Ale, panggil saja paman Ale." Mengajak Liezel berkenalan.


Mengetahui itu membuat Ale tersenyum gemas. Lalu mengulurkan tangannya semakin dekat pada si kecil menggemaskan itu. Dan dengan perlahan gadis kecil menyambut uluran tangannya.


"Aku Liezel. Paman Ale teman papa?" Ia bertanya, sementara mulutnya penuh dengan ice cream.


"Iya. Paman teman papa sejak dulu." Jawab Ale tersenyum gemas.


Lalu, tiba tiba Liezel meminta Ale menggendongnya. Edgar merasa heran dengan putrinya yang langsung mau digendong oleh Ale. Sementara, Ale tersenyum gemas dan sangat senang karena Liezel minta digendong.

__ADS_1


Merekapun akhirnya berjalan jalan, menikmati pemandangan indah kota Cebu sebelum memasuki kawasan Ocean Park. Banyak hal yang ingin Ale tanyakan pada sahabatnya itu, tapi takut membuatnya tidak nyaman. Sehingga Ale hanya menanyakan hal hal yang dianggapnya tidak terlau privasi.


"Kamu kerja apa sekarang?" Tanya Edgar.


"Tidak ada. Aku hanya menikmati liburku dan menghabiskan uang orangtuaku. Karena itu yang mereka inginkan dariku." Jawab Ale jujur.


Edgar tersenyum, lalu menyapu sisa ice cream di bibir Liezel. "Mau bekerja denganku?" Tanya Edgar.


"Bekerja sebagai actor komedi? Boleh, aku suka." Jawabnya santai. Dia memang suka jail pada orang orang disekitarnya. Bahkan dia sangat senang berlaku iseng dan jail pada Edgar. Tapi, sekarang tidak mungkin, karena mereka baru bertemu dan Edgar pun sedang bersama putrinya.


"Menjadi manajerku. Aku butuh seseorang yang bisa selalu ada untuk membantuku." Ia mengatakan dengan serius.


Sesaat Ale terdiam. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Ingin menolak, tapi juga ingin menerima tawaran itu. Bukan karena uang. Dia memiliki banyak uang dari kedua orangtuanya yang kaya raya. Justru tujuannya, karena dia ingin selalu bersama sahabatnya itu. Dia ingin merubah tampilan sahabatnya itu, dan membantunya move on dari masa lalu.


"Paman tidak mau menjadi teman papa?" Celoteh Liezel saat Ale tidak kunjung menjawab tawaran papanya.


"Paman akan menerima tawaran Papa Liezel, jika kamu setuju gadis kecil." Mencubit pelan puncak hidung Liezel.


"Tentu boleh. Papa akan selalu tersenyum saat bersama teman temannya. Aku suka melihat papa tersenyum dan tertawa." Ucap gadis kecil itu dengan polos.


"Baiklah kalau begitu. Paman akan menjadi teman sekaligus manager papa yang akan selalu menemani papa kemanapun dan dimanapun. Ok." Dia bicara pada Liezel.


"Ok. Aku suka. Papa juga suka, kan?" Menatap Papanya.

__ADS_1


"Tentu sayang. Papa sangat suka." Mencubit pelan pipi putrinya.


Edgar tersenyum. Dimata Liezel, papanya sangat bahagia saat tersenyum. Tapi, dimata Ale, Edgar sangat terluka dan senyum itu sangat terlihat jelas hanya senyum palsu.


__ADS_2