
Hari ini Edgar berangkat ke Indonesia. Dia ditemani James, Ale dan Efran. Sedangkan Reyna dan Jason ikut mengantar mereka ke bandara. Sementara itu, Aninda dan Tio juga sudah mempersiapkan banyak barang bawaan mereka untuk berangkat ke Bandung.
"Jadi rencananya, gue sama mas Tio langsung jemput Edgar ke Bandara. Nah setelah itu, kita langsung go ke Bandung. Sengaja sih ke Bandung naik mobil, supaya bisa menikmati perjalanan dengan nyaman." Tutur Aninda memberitahukan pada fans yang sudah mendengar berita bahwa Edgar akan ke Indonesia.
"Kita nggak ngerental mobil kok guys. Kita ke Bandung, membawa mobil mas Tio. Supirnya aja yang kita rental. Dan kita merental supir yang udah ahli berkendaraan jauh ya, guys. Jadi, kalian tidak usah khawatir. Insya Allah, perjalanan kali ini akan aman dan nyaman. Aamiin." Ucapanya.
Ba'da zuhur, Aninda dan Tio berangkat menuju bandara. Mereka akan menyambut kedatangan Edgar dan rombongannya tiba di Indonesia. Dan diperkirakan mereka akan tiba di bandara sekitar pukul dua siang ini.
"Gimana rasanya mau ketemu langsung sama Edgar, dek?" Tanya Tio.
Dia menanyakan pertanyaan yang diajukan fans nya untuk Aninda. Karena saat ini Tio sedang siaran live di tiktoknya.
"Susah diomongin mas. Tapi, yang jelas adek deg degan bangat ini." Jawab Aninda jujur.
Dia tidak tahu Tio sedang siaran live, makanya dia jawab dengan jujur pertanyaan dari pamannya itu.
"Cie cie…" Tio mulai menggoda Aninda.
"Mas jangan gitu, ahk. Adek malu tau." Rengeknya manja.
"Ini pertemuan pertama adek dengan seorang sahabat yang berasal dari Negara asing, jadi wajarlah adek merasakan banyak perasaan yang susah dijelaskan. Iya, kan?" Tanya Tio.
"Iya, mas. Jadi, rasanya itu seperti sedang naik trampolin gitu." Ujar Aninda.
Pipinya bersemu merah saat ini. Dia bahkan mulai membayangkan bagaimana nanti saat pertama kali melihat Edgar secara langsung.
"Mas adek mau nanya. Tapi dengarin dulu sampai adek selesai ngomong."
Aninda ingin mengungkapkan perasaan yang bergejolak didadanya. Perasaan yang membuat hati dan otaknya bertengkar. Mereka sedang berjuang untuk meyakinkan Aninda atas apa yang harus Aninda lakukan saat menghabiskan waktu bersama dengan Edgar.
"Pertanyaan apa? Mas akan dengarin sampai adek selesai ngomong." Ucapnya serius.
Lalu, sambil berbisik Tio berpamitan pada penggemarnya untuk mengakhiri siaran livenya.
"Adek kan berjilbab ya mas. Sedangkan Edgar orang asing dan non muslim. Mas juga tahu, kalau budaya mereka saat bertemu dengan teman atau sahabat itu pasti akan ada pelukan, dan pegangan tangan. Iya, kan?"
__ADS_1
Aninda menatap pada Tio, seakan menginginkan persetujuan dari Tio tentang apa yang barusan di ucapkannya. Dan benar saja, Tio mengangguk setuju.
"Jadi, kalau seandainya Edgar melakukan itu sama adek, gimana dong?" Dia merasa bingung dan dilema.
"Kalau adek tolak, kesannya seperti adek tidak menghargai perjuangannya jauh jauh datang kesini. Tapi, kalau adek mau dipeluk dan pegangan tangan sama Edgar, sudah pasti adek akan di hujat habis habisan sama haters." Tuturnya.
"Mereka pasti akan bilang gini… Kamu tu berjilbab, tapi kok kelakuan kamu seperti itu dan bla bla bla…" Sambungnya.
"Kalau menurut mas adek harus bagaimana?"
Tatapan Aninda penuh dengan binar binar yang susah dijelaskan.
"Kalau menurut mas, ya adek harus melakukan apapun yang adek ingin lakukan, seperti menghabiskan waktu kebersamaan kalian dengan membuat banyak momen menyenangkan yang tidak akan terlupakan." Jawab Tio.
"Tidak usah memikirkan tentang tanggapan orang orang tentang kalian. Selama kalian tidak melewati batas, maka bersenang senanglah. Toh, mas juga akan selalu mengawasi adek selama masa kebersamaan kalian. Iya, kan?" Sambung Tio sambil tersenyum pada Aninda.
"Mas benar. Aku akan melakukan semua yang ingin aku lakukan. Aku akan membuat banyak momen yang membahagiakan bersama Edgar. Ya, aku yakin bisa mengatasi hujatan itu nantinya. Karena aku siap menanggung semua resikonya." Dia bertekad kali ini.
"Mas yakin, Edgar akan menjaga adek dengan baik. Dia akan menjadi yang paling mengerti tentang adek, seperti contoh apa yang boleh dan tidak boleh adek lakukan. Mas yakin itu. Karena Edgar adalah seorang lelaki yang seperti itu. Dia sangat berpikiran terbuka dan penuh tanggung jawab." Ujar Tio penuh keyakinan.
...🚀🚀🚀...
Setelah beberapa jam terbang, akhirnya Edgar dan teman temannya tiba di bandara Internasional Soekarno-Hatta. Senyum mengembang lebar diwajah Edgar. Betapa dia tidak sabar untuk segera bertemu dengan pujaan hatinya itu.
"Ed, kenapa kita tidak melihat Aninda? Bukankah harusnya dia sudah menunggu kita?" Tanya Ale dan James yang juga tidak sabar ingin melihat Aninda segera.
Edgar celingukan melihat lihat Aninda yang mungkin sudah datang. Tapi, matanya masih tetap belum bisa menemukan gadis kecilnya itu.
"Bukankah itu Aninda?" Tunjuk Efran kearah seorang gadis yang berjalan berdampingan dengan seorang pria.
Edgar, Ale dan James pun menatap kearah yang ditunjuk Efran.
"Iya benar, itu Aninda dan Tio." Ujar Ale yang sudah sangat mengenali Tio.
Lalu, mereka melambaikan tangan pada Aninda dan Tio yang juga melambaikan tangan pada mereka.
__ADS_1
"Mas, aku makin deg degan. Rasanya lemas seluruh tubuhku." Bisik Aninda pada Tio.
"Santai saja dek. Palingan juga saat dipeluk Edgar, lemasnya hilang seketika." Goda Tio untuk membuat Aninda relax.
Bukannya relax, Aninda malah semakin deg degan. Bahkan wajahnya terlihat pucat, dengan seluruh tangannya terasa sangat dingin dan rasanya seakan membeku.
Sementara itu, Edgar melangkah semakin mendekat pada Aninda. James, terus merekam Edgar dan Aninda yang semakin dekat.
"Mas, adek harus gimana?" Ucap Aninda sambil terus melangkah.
"Semangat dek." Ucap Tio sambil merekam detik detik Aninda dan Tio benaran saling berjumpa secara nyata.
"Hai Aninda." Sapa Edgar saat jarak mereka sudah sangat dekat.
Lalu Edgar langsung menarik tangan Aninda untuk semakin mendekat padanya dan masuk dalam pelukannya. Aninda terkejut saat itu, tapi dia pun akhirnya membalas pelukan hangat Edgar.
"Cie cie…" Ucap Tio yang gemas melihat pertemuan keduanya.
"Wuaahhh… hhahhaa… haahahaa..."
Suara gelak tawa Ale, Efran dan James yang juga merasa gemas menyaksikan momen pertemuan kedua insan yang mereka yakini saling mencintai itu.
Setelah puas memeluk Aninda, Edgar pun memberi kecupan di puncak kepala Aninda yang tertutup jilbabnya.
"Wwoohhooo…"
Ale, Efran, Jame dan Tio menggila menyaksikan keromantisan yang mereka lihat secara langsung didepan mata mereka.
Pipi Aninda bersemu merah saat merasakan ciuman tulus dari Edgar barusan. Dan kemudian, mereka saling berpegangan tangan dengan eratnya.
Sementara itu, Tio mendapat pelukan dari teman teman asingnya yang sudah seperti saudara itu. Lalu, setelah itu mereka pun akhirnya memeluk Aninda dan Edgar bersamaan. Mereka benar benar bahagia, karena akhirnya mereka bertemu setelah menjalin persahabatan selama hampir delapan bulan di dunia maya.
BANTU BERI AUTHOR SEMANGAT. 😄😍
JANGAN LUPA LIKE, KOMENT DAN FAVORITE
__ADS_1