Ketika Aninda Jatuh Cinta

Ketika Aninda Jatuh Cinta
Episode 41


__ADS_3

Hanya satu minggu Aninda berada di Filipina. Dia menghabiskan waktu bersama dengan Liezel, Edgar dan juga keluarga besar Jared. Kebahagian dirasakan oleh Aninda, meski dia merasa semua itu seperti mimpi.


Dua bulan sudah berlalu. Aninda dan Edgar sudah tidak pernah bertemu lagi. Mereka hanya berkomunikasi melalui sosial media sesekali saja. Keduanya sibuk dengan pekerjaan dan real life mereka masing masing. Meski begitu, keduanya tidak bisa membohongi hati mereka, bahwa mereka saling merindukan satu sama lain.


"Ed akan ke Indonesia minggu depan." Ucap Edgar melalui pembicaraan video call.


"Tidak perlu, Ed." Jawab Aninda ragu.


"Kenapa?" Tanya Edgar heran.


"Aninda rasa, kita cukup sebagai teman saja."


Ucapan Aninda membuat Edgar terdiam, matanya berkedip gemetar.


"Apa maksudmu, Aninda?" Tanya Edgar ragu.


"Aku tidak bisa meneruskan hubungan kita lagi." Jawab Aninda tegas. Namun, dibalik suara lantang dan tegasnya dia menyimpan luka dalam hatinya.

__ADS_1


"Kenapa? Apa Ed membuat kesalahan?" Tanya Edgar yang sama sekali tidak tahu penyebab Aninda bicara seperti itu.


"Tidak. Ed tidak membuat kesalahan apapun. Hanya saja, untuk apa kita terus bersama, sementara kita sudah tahu akhir dari hubungan ini."


Air mata Aninda akhirnya jatuh. Dia tidak bisa menahannya lagi.


"Aku takut Ed. Aku takut semakin lama hubungan kita, maka aku akan menjadi gila. Aku bukan wanita seteguh yang orang orang pikirkan. Aku bukan wanita yang sangat taat pada aturan Tuhanku." Jelasnya sambil terisak.


Edgar hanya diam mendengarkan semua isi hati Aninda yang sedang diungkapkannya. Dan sebenarnya pun Edgar sudah mulai mengerti apa yang dimaksud Aninda.


Aninda menghapus air matanya, lalu dia menatap wajah sendu Edgar yang sejak tadi tidak pernah beralih dari menatap wajahnya.


"Maafkan Aninda, Ed. Aninda hanya takut... takut kalah dari persaingan hati dan pikiran Aninda."


"Ed mengerti. Tidak usah meminta maaf dan jangan takut. Ed tidak akan menahan Aninda jika Aninda ingin pergi." Ucapnya sangat tenang.


"Aninda tidak perlu takut lagi. Jalani kehidupan Aninda seperti dulu, sebelum Ed hadir. Cintailah lelaki yang tepat. Jaga kesehatan Aninda. Dan jika Aninda bersedia, maukah Aninda tetap menjadi teman baik Edgar?" Ucapnya.

__ADS_1


Tangis Aninda semakin menjadi. Dia merasa sangat terluka dengan keputusannya, kini luka itu terasa perih saat Edgar menyiramnya dengan ucapan lembut yang membuat Aninda seakan ingin berlari mengejar Edgar, lalu memeluknya dan mengatakan, 'Bawa aku pergi bersamamu Edgar.'


"Jangan menangis, Aninda. Semua bukan salah kita. Tidak ada yang salah dalam hubungan kita. Hanya saja, takdir yang membuat kita harus berhenti dan mengalah. Ed, mohon. Jangan menangis. Bagaimana mungkin Ed bisa melepas Aninda dalam keadaan menangis begitu."


Edgar mengatakan itu dengan air mata yang juga ikut tumpah dari pelupuk matanya.


"Maafkan Aninda, Ed."


"Ya, Ed memaafkan Aninda. So, please stop. Dont cry. I love you so much Aninda. Please, jangan menangis."


Bagaimana air mata bisa berhenti menetes, saat Edgar mengatakan betapa dia mencintai Aninda.


"I love you Ed. Tapi, aku tidak bisa ikut dalam kehidupan Ed. Tuhan kita berbeda." Isak Aninda semakin menjadi.


Edgar menatap Aninda sangat lekat melalui layar handphonenya. Tangannya bahkan bertindak seakan dia menepuk lembut bahu Aninda untuk menenangkannya.


'Andai aku punya keberanian, aku akan memelukmu, membawamu dan menjadikanmu istriku Aninda. Tapi, aku hanya lelaki pengecut yang bahkan hanya bisa membuat kamu menangis. Jangan pernah memaafkan aku Aninda. Dan asal kamu tahu, hatiku sama hancurnya denganmu.'

__ADS_1


__ADS_2