Ketika Aninda Jatuh Cinta

Ketika Aninda Jatuh Cinta
Episode 47


__ADS_3

Aninda dan Reyna tertidur pulas usai berbagi cerita setelah sekian lama tidak pernah lagi bertemu. Dan Aninda terbangun tiba tiba. Dilihatnya jam di layar Handphonenya.


"Jam 11.32." Gumamnya.


Aninda pun langsung bangun dan mengambil air wudu. Dia melaksanakan sholat malam dua rakaat, dilanjutkan sholat istikharoh dua rakaat.


Aninda mengaji untuk sesaat, lalu entah mengapa hatinya terasa sangat pengap berada di kamar itu. Akhirnya dia pun memutuskan untuk keluar dan menuju taman di samping hotel.


Tengah malam begini, taman itu tidak terlihat menakutkan. Masih ada beberapa orang disana dan sepertinya mereka pasangan yang menghabiskan waktu bersama.


Taman itu tampak indah bahkan di tengah malam begini. Lampunya pun tetap menyala indah, ditambah dengan sinar bulan dan bintang di atas sana. Semuanya sungguh tampak indah.


Aninda duduk di salah satu bangku taman yang agak jauh dari beberapa pasangan lainnya yang juga masih ada di taman. Aninda menatap langit sambil memuji keangungan Penciptanya. Dan perlahan dia memejamkan matanya, merasakan dinginnya angin malam yang mampu membuat hatinya terasa lega.


Dan tiba tiba dia mendengar langkah kaki mendeka kearahnya. Aninda membuka matanya, menoleh kearah langkah kaki seorang pria yang mengenakan sarung, memakai kemeja abu abu dan juga peci terpasang rapi di kepalanya.


Aninda tidak bisa melihat jelas siapa pria itu, karena pria itu mendongak menatap langit.


Aninda hendak beranjak dari tempat duduknya karena merasa tidak nyaman saat ada orang lain mendekat kearahnya.

__ADS_1


"Ya Allah, sungguh indah bintang dan bulan menghiasi langit malam ini." Ucapn pria itu sambil menatap langit.


Niat Aninda untuk beranjak terhenti seketika saat Aninda mendengar pria itu bergumam dengan menggunakan bahasa Filipina. Dan yang lebih membuatnya terperangah, pria itu mengucapkan nama Allah dengan sangat jelas.


"Katanya saat malam cerah seperti ini, dan tengah malam begini Malaikat-Mu turun ke bumi. Dan aku akan berdoa." Pria itu berucap lagi, lalu memejamkan matanya.


Aninda menoleh saat pria itu kembali bergumam dengan bahasa Filipina yang sangat baik seakan dia memang berasal dari Filipna. Aninda mencoba menatap pria itu dan kemudian dia melihat pria itu sangat mirip dengan Edgar.


'Tidak mungkin, dia kan? Kenapa juga aku membayangkan wajahnya.' Pikirnya sambil menggeleng geleng dan berulang kali menatap kearah pria yang dianggapnya mirip dengan Edgar itu.


Aninda menatap lagi pria itu dengan sangat hati hati. Dia melihat mulai dari sandal yang digunakan, sarung, kemeja, dan peci. Tubuh tinggi, dagunya, wajah dan semuanya memang mirip Edgar. Dan itu sungguh membuat Aninda semakin penasaran.


'Ya Allah, dengan sholawat atas Rasulullah, hamba mohon berilah petunjukmu.' Ucap pria itu dalam hatinya.


'Jika Aninda jodohku, izinkan aku untuk menghalalkannya segera, sebelum aku kembali lagi ke Negaraku. Tapi, jika kami tidak berjodoh, maka biarkanlah semuanya seperti ini. Jangan sampai ada komunikasi apapun terjadi antara kami sampai aku kembali ke Negaraku. Aamiin.' Ucap pria itu lagi dalam hatinya.


"Edgar?" Panggil Aninda ragu.


Suara Aninda membuat Edgar sontak menoleh kearah sampingnya. Dimana saat itu wanita yang disebutnya dalam doanya berdiri disana menatap heran padanya.

__ADS_1


"Sorry. Aku kira kamu seseorang yang aku kenal." Ucap Aninda.


Dia hendak berbalik arah, setelah merasa pria itu bukan Edgar.


"Aninda? Apakah itu kamu?" Tanya Edgar saat Aninda sudah membelakanginya.


Aninda terdiam. 'Suara itu benar benar suara Edgar. Tapi, kenapa dia berpakain seperti itu? Atau aku yang sedang berhalusinasi?' Gumamnya bicara dalam hati.


"Aninda!" Panggil Edgar lagi.


Perlahan Aninda berbalik arah dan menatap lagi pada pria yang berdiri didepannya. Tatapan Aninda tampak jelas seperti orang yang bingung.


"Aninda. Ini aku Edgar." Ucap Edgar ragu ragu.


"Aaoah, ya. Tapi, kenapa kamu…" Aninda menunjuk pakaian yang Edgar kenakan.


Edgar tersenyum. "Aku muslim sekarang." Jelasnya.


Aninda tersenyum getir. 'Muslim? Sejak kapan dia jadi muslim? Reyna bahkan tidak mengatakan bahwa Edgar sudah menjadi seorang muslim.' Bisik Aninda dalam hati.

__ADS_1


"Oh, tolong jangan salah paham. Saya muslim sejak setahun yang lalu." Jelasnya.


'Ooh, rupanya sudah lama. Selamat datang Ed. Semoga Allah selalu menuntun langkahmu. Aamiin.' Doanya dalam hati.


__ADS_2