Ketika Aninda Jatuh Cinta

Ketika Aninda Jatuh Cinta
Episode 15


__ADS_3

Satu hari kemudian.


Saat saat yang mendebarkan itu terjadi. Saat ini kamera sudah menyala. Aninda menyapa penggemarnya. Dia merasa agak kurang baik. Tapi dia mencoba untuk tetap tersenyum.


"Kalau gue kalah malam ini, gimaaa yak?" Ucapnya yang sudah merasa sedih duluan.


"Gue mau cerita dulu sebelum kompetisi dimulai, yak." Ucapnya.


Sebentar dia menarik napas dalam. "Sebenarnya gue lagi kesal banget, nggak enak bangat rasanya dihati. Kalian kalau diposisi gue gimana kira kira, guys?" Tanya Aninda pada penonton.


"Jadi begini guys. Gue benaran kagak tau apa apa. Gue sama sekali nggak pernah menggoda orang yang kagak gue kenal. Jadi, kalian jangan asal ngomong kalau belum tahu yang sebenarnya. Gue benaran kagak tahu siapa itu richman. Kalian malah nuduh gue godain dia, sengaja dekatin karena dia tajirlah apalah, makanya gue dibantu setiap kali PK Internasional. Kok bisa bisanya menuduh seperti itu." Ungkap Aninda merasa amat kesal.


"Gue jelasin yak. Dengerin, pasang telinga betul betul." Menggertakkan gigi karena merasa geram.


"Gue kagak tau siapa richman itu. Gue aja kaget dan merasa aneh, karena dia tiba tiba nyawer mulu saat gue PK Internasional. Dan sampai sekarang pun, gue kagak tau dia siapa? Apa alasan dia selalu nyawer pun gue kagak tahu. Sampai sini paham! Ya harus paham lah. Kalau kagak paham juga, mending elu sekolah lagi dah, SD apa TK gitu. Geram gue, benaran deh. Astaghfirullah." Celotehan itu diakhirnya dengan istighfar.


3…


2…


1…


Aninda dan Edgar tersambung. Saat pertama saling melihat, Edgar terdiam bahkan tanpa mengedipkan mata. Sedangkan Aninda melongo melihat wajah Edgar yang benar benar tampan, menurutnya.


"Halo mas bro." Sapa Aninda dengan melambaikan tangan.


Dengan ragu Edgar yang tadi terdiam tanpa berkedip itu membalas lambaian tangan Aninda. Lalu matanya kembali fokus pada layar komputernya. Edgar melakukan siaran live PK melalui komputer bukan layar HP. Jadi dia bisa melihat gambar Aninda jauh lebih besar dari sekedar di layar HP.


"Hallo Aninda. I am from Filipina." Edgar memulai percakapan.

__ADS_1


"Yeah, halo Edgar. I am from Indonesia." Jawab Aninda agak santuy seperti biasa.


"Guys, dia ngomong pake bahasa Inggris, gue mah cuma bisanya yes no doang." Curhat Aninda pada penonton.


"Start ok." Edgar bertanya pada Aninda.


"Ok. Ok!" Aninda setuju.


Pertandingan mereka dimulai. Dan karena baru mulai, Anindapun mengajak Edgar untuk berbincang sebentar.


"Edgar, you from Filipina?" Tanya Aninda.


"Yes, I am from Filipina. What wrong?" Tanya Edgar penasaran.


"Mmhh, mmm, aduh gue mau ngomong apa yak. Guys bantu gue. Kagak tau mau ngomong apa?" Dia bingung sendiri.


"Edgar. You know Richman?"Tanya Aninda pada akhirnya.


"You know right?"Aninda menatap dengan tatapan mematikan.


Melihat tatapan Aninda yang tajam dan mematikan itu, bukan membuat Edgar takut, malah membuatnya tersenyum manis. Kemudian, dia mengalihkan pandangannya dan fokus pada pertandingan. Sedangkan Aninda yang merasa tidak dihiraukan akhirnya memutuskan untuk bernyanyi.


"Guys, terimakasih. Kalian baik banget dah." Ucap Aninda pada teman teman yang mengirimkan hadiah untuknya.


"Wuaahhh, abang Razi. Lame tak jumpe..." Sapa Aninda saat Razi datang memberikan angsa.


"Terimakasih teman teman. Bantu tap tap layar aja yak." Menyarankan.


Sementara itu Edgar terus berbicara pada penggemarnya dengan bahasa yang sangat asing ditelinga Aninda. Edgar sebenarnya sangat ingin menatap wajah Aninda. Tapi, entah kenapa dia sangat gugup malam ini, sehingga dia pura pura fokus pada pertandingan dan terlihat sangat ambisi untuk menang.

__ADS_1


"Wag kayong magmadali guys. Gusto kong makita ang mukha niya." (Jangan terburu buru guys. Aku masih ingin melihat wajahnya.) Ucap Edgar pada para penggemarnya yang rata rata sudah tahu, kalau dirinya mengagumi Aninda.


"Dapat ba akong sumuko sa oras na ito?" (Haruskah aku menyerah saat ini?) Ucapnya mulai khawatir.


Bukan khawatir akan kalah dari Aninda. Tapi dia khawatir dan merasa tidak tega untuk melihat Aninda kalah.


"Kung gagawin ko iyon, lahat ay magagalit sa akin." (Jika saya melakukan itu, semua orang akan marah kepada saya.) Edgar dilema.


Sedangkan Aninda malah berjoget joget sampai berdiri diatas kursinya. Dia berusaha menghilangakan rasa sedih karena sebentar lagi dia akan kalah. Namun, sebelum itu terjadi, tiba tiba seseorang mengirimkan singa untuknya.


"Wuaahahh, terkejut saya guys. Siapa itu yang mengirimkan Lion?" Ucapnya kaget.


Aninda langgung melompat dari kursinya. Dia memeriksa siapa yang mengirimkan singa untuknya.


"Reyna. Oh Reyna Thankyou. Terimakasih." Ucap Aninda senang.


Dia tersenyum senang, mendapatkan saweran berupa singa. Meski dia tahu akan tetap kalah. Tapi setidaknya ada yang mengirimkan singa untuknya malam ini.


Dan Edgar, tersenyum simpul mengetahui Reyna mengirimkan singa untuk Aninda. Sejak tadi, dia memang berharap agar ada seseorang yang akan menggantikannya untuk mengirim singa pada Aninda kali ini.


"Salamat. Makakasama ko pa ang babaeng ito." (Terimakasih. Aku masih bisa bersama wanita ini.) Dia mengucapkan terimakasih pada Reyna, karena menambahkan point Aninda. Sehingga pertandingan masih berlanjut. Dan dia masih bisa bersama Aninda sebentar lagi.


"Edgar. You win..." Panggil Aninda dengan agak berteriak.


Edgar menatap dan tersenyum sebentar pada Aninda, lalu dia memberikan jempol pada Aninda.


"Salamat Indonesia, salamat Aninda. Salamat guys, nanalo tayo." (Kami menang) Edgar mengucapkan terimakasih pada Indonesia, Aninda dan teman temannya.


Dari sekian banyak kemenangan yang Edgar dapatkan saat live Pk Internasional. Kemenangan malan ini adalah kemenangan yang membuatnya merasa seperti pecundang. Bagaimana mungkin dia bisa bahagia karena membuat gadia yang dicintainya kalah. Tapi, meski begitu dia tetap tersenyum senang, karena bisa melihat dan mendengar suara Aninda secara langsung.

__ADS_1


"Aninda, nice to meet you." Ucapnya senang.


"Hah, Ok. Nice to meet you too." Jawabnya sambil tersenyum ramah.


__ADS_2