Ketika Aninda Jatuh Cinta

Ketika Aninda Jatuh Cinta
Episode 18


__ADS_3

Empat hari kemudian.


Aninda sedang di kawasan Depok. Dia ditemani Mama dan juga Tio. Hari ini Aninda mengunjungi sebuah kontrakan dan kos kosan miliknya yang saat ini masih dalam proses pembangunan.


"Mas, aku mulai ngevlog ya!" Meminta izin Tio dulu.


"OK. Nanti tak pegangkan kameranya." Sahut Tio yang sedang live Tiktok untuk menyapa penggemarnya.


"Mas lagi live yak?" Tanya Aninda sambil mengatur kamera di Hpnya.


"Iya. Bentar lagi juga udahan." Jawab Tio. "Guys, udah dulu ya. Aku mau melakukan pekerjaan tambahan dulu, nih. Bye bye semua. Jangan lupa nanti malam aku live lagi." Pamitnya pada para fans.


"Nah ini kameranya." Aninda menyerahkan ponselnya yang sudah terpasang di tongsis miliknya.


"Ok. Adek siap siap. Mas mulai ngerekam. Action." Teriak Tio bergaya seperti seorang sutradara.


"Assalamualaikum, teman teman. Welcome to my youtube channel." Sapa Aninda dengan ceria.


"Sekarang kita lagi berada di kawasan Depok. Aku disini bersama Mama dan mas Tio juga. Kita mau ngecek keadaan kontrakan rumah susun dan juga kos kosan aku." Aninda mulai berjalan memasuki perkarangan kontrakan rumah susun miliknya.


"Perkarangannya luas. Nanti disini, rencanakan akan ditanam berbagai macam bunga. Supaya udaranya sejuk, gitu." Jelasnya sambil menyusuri teras teras rumah susun itu.


"Jadi, bangunan ini terdiri dari dua lantai saja, teman teman. Ini lantai pertama, khusus untuk kontrakan rumah susun." Aninda meminta Tio untuk zoom dan berkeliling memperlihatkan keadaan rumah susun di lantai bawah itu.


"Kontrakan ini ada lima pintu." Dia pun berjalan mendekati pintu.


Sedangkan Tio memberi isyarat, agar Aninda memperlihatkan keadaan di dalamnya.


"Yuk kita lihat seperti apa didalamnya." Membuka satu pintu yang mana rumah tersebut satu satunya yang siap untuk di tempati.


"Taraaaa… ketika pintu dibuka, langsung terlihat ruang tamu. Ini juga langsung disediakan lemari kecil tempat TV, tapi Tv nya beli sendiri ya." Aninda tertawa saat mengatakan hal itu.


"Kita lihat kamar yuk." Sambungnya yang mendekati pintu kamar.

__ADS_1


"Disini ada dua kamar, ukurannya cukup luas juga. Nah, dalam kamar sudah dilengkapi dengan kasur yang empuk, bantal dan guling. Dan ada lemari juga." Jelasnya dengan semangat.


"Aku sengaja mempersiapkan semua ini, agar memudahkan saat ada yang menginap, tapi belum punya perlengkapan, gitu guys. Ini sih saran dari kakakku juga, katanya dia pernah ngontrak rumah dengan bayaran yang mahal tapi, nggak ada pasilitas apapun, hanya rumah kosong. Sementara kakakku waktu itu belum bawa barang barangnya, hanya baju saja." Tutur Aninda yang kini sudah keluar dari kamar.


Dia pun menuju dapur. "Dapurnya lumayan luas juga guys. Dan sudah ada kompornya juga loh. Tapi, gas nya isi ulang sendiri ya. Hahahha." Aninda kembali tertawa.


Kini dia menuju kamar mandi yang terletak disudut ruang dapur.


"Nah ini kamar mandi, yuk kita intip." Mulai membuka pintu.


"Bersih ya guys. Ya iyalah, namanya juga kamar mandi baru, belum pernah digunakan." Sambungnya.


Aninda tidak banyak bicara saat memperlihatkan kamar mandi. Hanya Tio yang mengarahkan kamera kesetiap sudut ruang kamar mandi. Lalu, Aninda dan Tio pun mulai melanjutkan langkah mereka menuju lantai atas. Dan Mamanya sudah lebih dulu sampai disana.


"Wah, pemandangan diatas sini sangat indah ya, mas!" Seru Aninda pada Tio yang masih setia merekam.


"Jadi teman teman, diatas sini khusus kamar kos kosan semua. Setiap kamar sudah ada kasurnya juga ya. Terus ini adalah dapur umun. Dan hanya ada satu kompor saja disini. Karena biasanya yang tinggal di kos kosan, lebih senang membeli makanan dari pada memasak makanan. Betul nggak? Kalau salah jangan dihujat yak." Dia menjelaskan dengan sangat teliti.


"Alhamdulillah, dengan bantuan mama, kakak kakakku dan juga aku tentunya. Bangunan rumah susun ini sudah hampir selesai. Aku senang banget, benaran. Jadi, setidaknya, meski mungkin nggak seberapa bagi kalian, namun bagiku ini adalah investasi masa depan. Karena kehidupan kedepannya kita belum tahu bagimana, kan?" Aninda pun kembali menuju lantai bawah. Menurutnya sudah cukup room tournya hari ini.


"Ternyata saat kita benar benar fokus dan terus bekerja keras, maka apa yang kita inginkan atau impikan, Inshaa Allah akan terwujud. Kuncinya fokus dan kerja keras, jangan lupa juga berdoa, ibadahnya tingkatkan juga. Setelah itu, pasti kita bisa menikmati hasilnya." Ujarnya sedikit berbagi tips bagaimana dia meraih kesuksesan seperti saat ini.


"Udah dulu ya guys. Jangan lupa subscribe, like dan komen juga ya. Bye bye teman teman." Aninda melambaikan tangan ke kamera.


Kemudian Tio mematikan kamera, dan rekaman pun telah selesai.


"Mas, canggung banget rasanya. Aneh gitu ya, beda saat lagi live di tiktok." Mengatakan perasaannya saat ini.


"Namanya juga pertama dek. Nanti kalau sudah terbiasa, adek akan kembali menjadi Aninda yang bobroknya minta ampun." Sahut Tio sambil memeriksa hasil rekaman yang diambilnya.


Pertamakalinya Aninda ngevlog untuk membuat channel youtube baru. Selama ini Aninda tidak punya akun youtube. Tapi, setelah disarankan oleh banyak fans untuk membuat channel youtube, Aninda pun langsung membuatnya. Sayangnya, setelah akun dibuat hampir tiga bulanan, baru kali ini Aninda merekam kegiatannya untuk dimasukkan ke channel youtubenya yang masih belum ada satu video pun tersimpan.


Dan hari ini Aninda tidak hanya ngevlog untuk channel youtube. Dia dia membuat beberapa video untuk conten Tiktoknya. Tentu saja masih dengan kameramen yang sama. Tapi, mereka gantian. Terkadang Aninda membantu merekam Tio saat membuat video konten.

__ADS_1


"Kalian sudah selesai belum Mama mau pulang. Sudah capek." Teriak Ayuni dari jarak yang lumayaan jauh dengan Tio dan Aninda.


"Iya ma, bentar." Sahut Aninda yang sednag fokus merekam Tio.


"Gimana bagus nggak dek hasilnya?" Mendekati Aninda yang sedang memeriksa hasil rekamannya.


"Bagus, mas. Iya kan?" Menoleh pada Tio.


"Bagus dek. Rupanya adek sangat berbakat jadi kang kamera." Ujarnya memuji keponakannya itu.


"Oh tentu. Aninda gitu loh." Mengedip ngedipkan matanya saat merasa bangga karena dipuji.


"Kalau Edgar tahu, dia pasti tambah kepincut sama kamu loh dek." Goda Tio.


"Apaan sih, mas. Ngapain bahas orang asing segala." Ujarnya jutek.


Lalu, Aninda melangkah mendekati mama yang sejak tadi duduk anteng memandangi kelakuannya saat sedang bergurau dengan Tio.


"Mama, ayo kita pulang." Menggandeng tangan Mamaya.


"Tuguin aku, woy." Teriak Tio sambil berlari mengejar langkah Aninda yang semakin cepat.


"Mbak tungguin aku." Teriaknya masih berlari berusaha mengejar langkah Aninda dan Ayuni.


"Weeekkkk..." Aninda menjulurkan lidahnya kearah Tio. Dia sengaja mengejek Tio yang tertinggal jauh dari mereka.


"Awas ya kamu dek. Jangan sampai kamu mas tangkap."


Kejar kejaranpun berlanjut. Aninda berlari semakin kencang, Tio pun mengejarnya dengan lari yang kencang. Sementara, Ayuni hanya melangkah mengikuti mereka.


"Awas jatuh dek..." Teriak Ayuni memperingatkan pada Tio dan Aninda agar berhati hati.


"Mereka sudah dewasa tapi masih seperti anak anak." Ujarnya sambil menggeleng gelengkan kepala merasa heran dengan dua manusia itu.

__ADS_1


__ADS_2