
Setelah makan malam, Aninda mengajak Edgar melihat ruangan tempat siarannya. Kemudian, dia mengajak Edgar dan teman temannya untuk menuju lantai atap. Yang disana ada tempat khusus untuk Aninda menghabiskan waktunya saat sedang bersantai. Di sana juga ada kamar yang cukup luas dan dilengkapi dengan kasur. Nah tempat itu akan menjadi tempat tidur Edgar, Efran, Ale dan James selama menginap.
Selama Edgar berada di rumah Aninda, mereka bisa mengobrol lebih santai dan juga lebih mendalam tentang hubungan mereka. Seperti saat ini, Aninda dan Edgar duduk santai menikmati pemandangan kota Jakarta melalui atap rumah Aninda. Dan mereka tidak hanya berdua, Efran, Ale, James, dan Tio juga ada di sana. Hanya saja, malam ini mereka memang tidak merekam apapun dan juga tidak mengganggu pasangan itu. Mereka juga mengerti, bahwa pasnagan itu ingin bicara serius tentang kelanjutan hubungan mereka.
"Aninda, sebenarnya Liezel sangat ingin bertemu denganmu." Ungkap Edgar.
Sepanjang perbincangan itu dibantu oleh mbak google sebagai penerjemah dalam komunikasi antara Aninda dan Edgar.
"Aku juga ingin menemuinya, Ed." Jawab Aninda yang asik menonton video video Liezel di ipad milik Edgar.
"Apa kamu bersedia menemani Liezel?" Menatap serius kedua bola mata Aninda.
Merasa ditatap seperti itu, membuat Aninda berhenti menatap wajah Liezel di layar ipad. Dia kini menatap wajah Edgar.
"Jika Liezel bisa menerimaku dan mau berteman dengan ku, maka aku akan sangat bersedia menemaninya." Jawab Aninda penuh kejujuran.
Mendengar jawaban itu, membuat Edgar tersenyum lega.
"Kalau begitu, kapan kamu akan ikut ke Filipina?" Tanya Edgar.
"Aku harus mempersiapkan banyak hal sebelum berangkat ke sana, Ed."
"Persiapan seperti apa? Kamu tidak perlu mempersiapkan apapun. Karena aku yang akan menyiapkan semuanya."
Aninda tersenyum. Perlahan dia meraih tangan Edgar, lalu digenggamnya erat.
__ADS_1
"Ed bisa mempersiapkan semuanya, aku tahu. Tapi, ini tentang beberapa hal seperti, makanan, minuman dan hal lainnya juga, Ed. Agamaku mempunyai aturan yang tegas tentang hal hal tersebut." Ucap Aninda tegas.
"Aku tahu. Aku sudah mempelajari tentang itu melalui temanku yang kebetulan punya keluarga Islam."
Perkataan Edgar sungguh seketika membuat hati Aninda terenyuh haru. Bahkan matanya tiba tiba berair. Dia tidak menyangka, Edgar diam diam mempelajari tentang Islam demi dirinya.
"Aku sudah memberitahukan pada semua keluargaku dan juga Rich People tim. Mereka semua sudah mempersiapkan semua kebutuhan yang bisa kamu gunakan dan juga makan yang boleh kamu makan selama berada di Filipina. Dan, di kotaku juga banyak tempat makanan yang disajikan oleh orang Islam, juga ada tempat ibadah orang orang Islam." Edgar menjelaskan dengan sangat hati hati.
Air mata itu akhirnya benar benar menetes dari pelupuk mata Aninda. Dia benar benar terharu. Baru kali ini dia merasakan dihormati dan dipahami oleh seorang yang bahkan sangat jauh berbeda darinya.
"Hey, kenapa menangis." Edgar menyapu air mata di pipi Aninda menggunakan dua jari jempolnya. Lalu dia memeluk tubuh Aninda dan membiarkan Aninda menangis dalam pelukannya.
Tio, Ale dan Efran juga ikut terharu mendengar dan menyaksikan pasangan itu.
"Percayalah, aku benar benar sangat mencintaimu, Aninda. Aku tidak akan melepaskanmu, kecuali kamu sendiri yang memintaku untuk melepasmu. Dan, sebaiknya saat kamu ingin memintaku pergi, cukup hanya karena satu alasan. Alasan itu karena Tuhan kita yang berbeda. Aku akan melepasmu hanya dengan satu alasan itu. Tapi, jika alasannya karena orang lain, maka aku tidak akan melepaskanmu. Ingat itu." Edgar menjelaskan dan menegaskan.
Setelah perbincangan itu selesai, tibalah saatnya Aninda harus kembali ke kamarnya. Sebelum tidur dia melaksanakan dua rakaat hajat, barulah setelah itu Aninda memejamkan matanya untuk tidur dan istirahat.
Sedangkan Edgar masih duduk di tempat tadi. Dia menatap foti Aninda yang dijadikan wallpaper layar handphonenya. Tiba tiba saja, hatinya terasa sakit, karena memikirkan perpisahannya dengan Aninda besok. Rasanya sangat berat harus meninggalkan Aninda. Harusnya dia membawa Aninda ikut bersamanya kemanapun dia pergi.
"Ed, kenapa belum tidur?" Efran menghampiri kakaknya.
"Belum ngantuk. Kamu sediri kenapa belum tidur?" Tanya Edgar.
Efran duduk di sebelah kakaknya. Lalu dia menyenderkan kepala di bahu kakaknya itu.
__ADS_1
"Akhirnya, aku bisa bermanja lagi." Ucapnya.
Mendengar itu Edgar tersenyum dan mengelus lembut kepala adik kesayangannya.
"Apa kamu menyukai Aninda?" Tanya Edgar.
"Tentu. Aku sangat menyukainya. Aku ingin dia ikut bersama kita dan menjadi bagian dari keluarga kita." Ungkap Efran.
"Jika pada akhirnya Aninda tidak bisa menjadi bagian dari keluarga kita, bagaimana?" Tanya Edgar penasaran ingin mendengar jawaban dari adiknya.
Sebelum menjawab, Efran menghela napas panjang. "Apa Ed bersedia melepas Aninda begitu saja?" Menatap dalam mata Edgar.
Sesaat Edgar membiarkan adiknya menatap matanya. Lalu, barulah dia menggeleng.
"Ed sangat mencintai Aninda?" Tanya Efran kemudian.
"Mmh, bahkan Ed merasa tidak akan sanggup untuk menerima kenyataan jika suatu saat harus berakhir dengan Aninda." Jawabnya jujur.
"Ada satu cara agar Ed bisa bersama Aninda selamanya." Ucap Efran serius.
"Ed tahu. Dengan menjadi Islam juga, kan?" Tanya Edgar.
Efran mengangguk. "Mama, Papa dan semua orang akan mendukung apapun keputusan Ed. Jadi, tidak usah khawatir Ed akan kehilangan kami demi ingin bersama Aninda. Karena, kami semua juga sangat ingin Ed bersama Aninda selamanya." Tutur Efran.
"Tapi, masalahnya ada pada hati Ed yang berat untuk benar benar menjadi Islam. Selama ini Ed mempelajari Islam hanya demi Aninda. Sementara untuk menjadi Islam itu perlu ketulusan dan kesediaan hati yang sungguh sungguh. Ed tidak ingin bermain main dengan suatu kepercayaan akan Tuhan." Jawab Edgar.
__ADS_1
Mendengar jawaban itu, sungguh membuat Efran dapat merasakan bagaimana beratnya perasaan yang saat ini dirasakan kakaknya itu. Dan saat ini yang bisa dia lakukan hanyalah memeluk tubuh kakak tercintanya.