
"Apa kamu juga tidak bisa tidur?" Tanya Edgar memberanikan diri memulai percakapan.
Kini mereka duduk di bangku taman, dan hampir lima menit berlalu, barulah Edgar memberanikan diri untuk mulai bicara.
"Tidak juga. Hanya saja, tadi saya tidur lebih awal dan terbangun tengah malam begini. Yah, akhirnya ngantuknya usai dan berakhirlah disini." Jawab Aninda.
Edgar mengangguk paham. 'Ternyata Aninda masih seperti dulu.' Ucapnya dalam hati.
Kebiasaan Aninda saat tidur awal dan akan bangun tengah malam, lalu kemudian tidak bisa tidur lagi ternyata masih terus berlanjut hingga saat ini.
"Ed, sendiri? Kenapa belum tidur?" Tanya Aninda ragu.
Saat menyebutkan kata 'Ed' jelas sekali terdengar ragu.
"Entahlah. Mungkin karena terpikirkan gadisku yang ditinggalkan sendiri." Jawabnya asal.
"Gadis? Kekasihmu?" Tanya Aninda tanpa menoleh pada Edgar.
"Liezel." Jawab Edgar sambil tersenyum menatap langit.
Aninda mengangguk paham. Rupanya dia salah paham tentang penyebutan gadis yang disebutkan Edgar.
"Liezel pasti sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik."
"Ya, cantik dan sangat penurut." Tutur Edgar membanggakan putri kecilnya.
Susana kembali hening. Aninda terlihat sangat bingung dan tidak tahu harus membicarakan apa dengan Edgar. Begitu juga sebaliknya, Edgar malah terlihat sangat berhati hati saat memutuskan topik pembicaraan. Dia khawatir menyinggung perasaan Aninda atau malah membuat Aninda merasa tidak nyaman.
"Apa sebaiknya kita kembali saja?" Tanya Aninda.
"Hah?" Edgar merasa pertanyaan Aninda membuatnya bisa mengartikan beberapa makna.
"Ee, maksud saya… kita kembali ke kamar." Jelas Aninda yang mulai menyadari ucapannya barusan.
__ADS_1
Edgar mengangguk. 'Apakah ini jawaban dari doaku? Haruskah aku memberanikan diri untuk melamarnya?' Gumamnya dalam hati.
"Ada apa, Ed? Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan?" Tanya Aninda.
'Benarkah ini kesempatanku? Bismillah saja. Apapun nanti jawaban Aninda semoga itulah jawaban dari doaku.'
Edgar menatap wajah Aninda yang tampak heran melihat dirinya yang tiba tiba terlihat ingin bicara tapi malah ragu.
"Ed, kamu kenapa? Apa kamu tidak enak badan?" Tanya Aninda khawatir.
"Tidak. Aku baik baik saja. Tapi, boleh aku bicara sesuatu yang mungkin akan membuat Aninda tidak nyaman?" Tanya Edgar kemudian.
"Boleh. Katakan saja."
Edgar mengatur napasnya dan mulai bicara.
"Apakah Aninda sudah punya kekasih?"
Mata Aninda menatap tanpa berkedip saat mendengar pertanyaan Edgar.
"Tidak. Saya tidak sedang dalam hubungan serius dengan siapapun." Jawab Aninda pada akhirnya.
Senyum terlihat diwajah Edgar. Betapa leganya mendengar Aninda masih sendiri.
"Tapi saya sudah menikah." Lanjut Aninda bercanda.
Raut wajah lega berubah sendu seketika mendengar pengakuan Aninda yang ternyata sudah menikah.
"Maafkan saya. Selamat atas pernikahan Aninda. Semoga Aninda dan suami bahagia untuk waktu yang lama." Ucap Edgar mencoba tersenyum.
"Cizs… Apa mungkin perempuan yang sudah menikah duduk sendirian di taman tengah malam seperti ini?" Ucap Aninda kesal mendengar Edgar percaya bahwa dirinya sudah menikah.
"Hah? Apa maksud Aninda?" Tanya Edgar ragu.
__ADS_1
"Saya belum menikah. Saya hanya bercanda." Tegas Aninda dengan raut wajah kesalnya.
"Benarkah?"
Aninda mengangguk semangat. Edgarpun akhirnya merasa lega dan kembali tersenyum.
"Mmh, kalau begitu… maukah Aninda menikah dengan Edgar?"
Aninda mematung mendengar pertanyaan Edgar. Dia benar benar tidak menyangka Edgar akan langsung melamarnya malam itu juga, padahal mereka baru bertemu lagi setelah tiiga tahun lebih tidak bertemu dan tidak berbagi kabar.
"Aninda Yunita, maukah kamu menjadi istriku?" Ulang Edgar.
Kini Edgar berlutut dihadapan Aninda. Dia hanya berlutut dan menatap wajah Aninda yang tidak menunjukkan ekspresi apapun. Wajah itu tampak datar dan tidak ada pergerakan sedikitpun dari Aninda.
"Aninda tidak perlu menjawab sekarang. Aku akan menunggu sampai Aninda yakin untuk memberi jawaban. Dan apapun jawaban Aninda nantinya, Ed akan menerima tanpa protes." Lanjutnya.
"Ya." Ucap Aninda yang mulai mengedipkan matanya.
"Hah? Ya… apa…" Edgar ragu untuk mengartikan jawaban Ya dari Aninda.
"Ya, Aninda mau menjadi istri Edgar dan menjadi Momy untuk Liezel." Jawab Aninda tegas tanpa ragu.
Kini giliran Edgar mematung mendengar jawaban Aninda. Dia merasa seperti mimpi saat mendengar Aninda langsung menerima lamarannya tanpa ragu.
"Benarkah?"
Aninda mengangguk dan tersenyum malu malu. Pipinya tampak merah merona menahan gejolak rindu, malu dan berbagai macam perasaan bercampur aduk.
"Yes. Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah." Teriaknya.
Edgar mengatakan itu menatap langit dan tersenyum bahagia. Teriakan Edgar membuat beberapa pasang mata menatap kearahnya sehingga membuat Aninda merasa bertambah malu.
"Ed, berthentilah berteriak. Orang orang menatap kita." Bisik Aninda.
__ADS_1
"Kami akan menikah." Teriaknya pada orang orang yang tidak mengerti Edgar mengatakan apa.