
Dua tahun berlalu.
Edgar sudah lebih baik. Dia menjadi lelaki sukses. Dia membangun perusahaan jasa miliknya sendiri. Dan dia sudah menjadi Papa yang baik untuk Liezel seperti dulu lagi.
Usia Liezel sat ini sudah sepuluh tahun. Dan Liezel sudah menjadi putri yang sangat pintar dalam menjaga perasan Papanya. Liezel juga sudah tidak pernah berkomentar apapun tentang wanita yang digosipkan dekat dengan Papanya.
Tok…tok…
Liezel mengetuk pintu kamar Papanya. Karena tidak ada jawaban, dia pun membuka pintu itu sendiri.
Senyuman manis terlihat dibibirnya. Perlahan dia melangkah mendekati Papanya yang sedang bersujud di atas sajadah.
"Allaahu akbar." Ucap Edgar yang bangkit dari sujudnya.
Perlahan Liezel ikut duduk di samping Edgar. Dia duduk mengikuti duduk Edgar yang sedang tahiyat akhir. Liezel juga memposisikan tangannya sama persis seperti posisi tangan Papanya.
"Assalamualaikum Warohmatullah." Memalingkan wajahnya ke kanan.
Liezel pun mengikuti. Dan saat Edgar mengucap salam kekiri, dia melihat putri kecilnya juga ikut salam dan mengahadap ke kiri. Lalu, Edgar mengusapkan tangannya kewajah dan diikuti juga oleh Liezel.
Senyum bahagia mengembang di wajah Edgar. Lalu, dia mengulurkan tangan kanannya pada Liezel. Dan tanpa ragu Liezel meraih tagan itu dan menciumnya.
"Dari mana putri Papa tahu tentang hal ini?" Tanya Edgar heran.
"Apa Papa lupa bahwa sekarang Liezel sekolah di sekolah agama?" Tanya Liezel mengingatkan.
Edgar mengangguk. "Liezel mau belajar sholat seperti Papa?" Tanya Edgar penasaran.
"Iya. Dan, minggu depan Liezel di suruh membawa perlengkapan sholat. Tapi, perlengkapan sholat itu apa?" Tanya gadis kecil itu.
Edgar tersenyum. Dia pun akhirnya menunjukkan gambar wanita islam yang sedang sholat.
"Saat sholat, bagi wanita harus memakai pakaian seperti ini." Edgar menjelaskan.
Liezel mengangguk paham.
__ADS_1
"Tidak apa jika anak Papa tidak mau melakukan hal seperti ini sekarang. Papa akan memberitahukan pada guru."
Edgar mencoba memberi pemahaman pada gadis kecilnya itu. Dia tidak ingin Liezel merasa terpaksa dan tertekan karena harus mengikutinya yang sudah menjadi mu'alaf hampir satu tahun terakhir.
"Liezel suka kok, Pa. Liezel mau." Ucapnya semangat.
"Tapi, memakai semua itu akan terasa sangat panas." Jelas Edgar.
"Tidak kok. Liezel bahkan dulu sudah pernah mencoba memakai penutup kepala seperti Momy Aninda." Ucapnya semangat tanpa menyadari dirinya akhirnya membahas Anida dan masih memanggilnya dengan sebutan Momy.
"Ups... keceplosan." Liezel menutup mulutnya saat menyadari dirinya menyebutkan Aninda.
Edgar hanya tersenyum. 'Ternyata bukan hanya Papa yang belum bisa melupakan Aninda. Liezel pun juga sama.' Bisiknya dalam hati.
Usai sholat Isa, Edgar mengajak Liezel bermain di pasar malam. Seperti janjinya, dia akan naik biang lala bersam Liezel di akhir pekan. Dan kini saatnya menepati janji.
Ale, Reyna dan Efran juga ikut bersama mereka.
"Yeuy naik biang lala. Aku suka." Teriak Liezel kegirangan.
Setelah biang lala mulai berputar, Liezel pun mulai membahas sesuatu yang serius bersama Papanya.
"Kenapa Papa akhirnya memilih Islam? Apa karena Papa akan menikahi Momy Aninda?" Tanya Liezel.
Pertanyaan itu sangat mengejutkan Edgar. Bukan karena pertanyaan itu terlalu sensitif, tapi karena pertanyaan sesensitif itu ditanyakan oleh seorang gadis yang baru berusia sepuluh tahun.
"Apa pertanyaan itu menyinggung Papa?" Tanya Liezel merasa tidak enak saat melihat ekspresi diwajah Papanya.
"Tidak. Papa akan menjawabnya." Ucap Edgar.
Perlahan dia menggenggam kedua tangan gadis kecilnya. Matanya berbinar menatap wajah imut itu.
"Awalnya Papa bermimpi, Papa kehilangan Liezel. Saat itu dalam mimpi Papa, api yang sangat besar mengeliling Liezel yang menangis ketakutan. Papa tidak bisa menyelamatkan Liezel saat itu. Dan mimpi itu terasa sangat nyata. Papa bahkan bermimpi hampir setiap malam selama tiga bulan."
Edgar mulai menceritakan pada Putrinya dengan sangat hati hati, agar putrinya tidak salah paham dengan apa yang akan diceritakannya.
__ADS_1
"Papa ingin tidak memperdulikan mimpi itu, selama Liezel baik baik saja. Tapi, suatu hari papa termenung. Saat itu baru selesai syuting. Dan tiba tiba api membakar semua lokasi syuting, dan peralatan syuting. Semuanya terbakar. Papa panik dan mencoba menelpon pemadam kebakaran, tapi, yang datang malah beberapa orang berpakaian serba putih. Mereka meniup api itu berbarengan dan seketika api itu padam." Tuturnya.
"Apa itu juga mimpi?" Tanya Liezel penasaran.
Edgar mengangguk. "Mimpi yang terasa sangat nyata. Saat bangun, Papa benaran ada di lokasi syuting. Semua orang berkumpul mengelilingi Papa yang ternyata jatuh pingsan. Dan saat itulah seorang lelaki tua yang beragama Islam memberikan papa segelas air putih. Anehnya, air putih itu terasa sangat manis. Manisnya bukan karena gula, tapi manisnya karena sesuatu yang lain." Edgar mencoba mengingat.
"Lalu?" Liezel penasaran.
"Lalu, Papa merasa lebih baik setelah meminum air itu. Dan Papa pulang mengendarai mobil, dan mobil Papa mogok begitu saja. Saat Papa keluar dari mobil, lelaki tua yang tadi memberikan Papa minum pun datang lagi menghampiri Papa. Dia meminta Papa memejamkan mata dan Papa melihat dua jalan bercabang. Lelaki itu meminta papa memilih, arah kanan atau kiri."
"Dan Papa memilih jalan yang Kiri?" Tanya Liezel.
"Iya. Kok Liezel bisa tahu?"
"Hanya menebak." Tersenyum.
"Iya, Papa memilih jalan ke kiri dan melewatinya. Rupanya di ujung jalan itu adalah sungai yang sangat jernih. Nama sungainya sungai Nil."
"Bukankah itu sungai terpanjang di dunia?"
"Binggo. Anak Papa pintar."
"Tentunya. Lalu?" Masih penasaran.
"Lalu, dia meminta Papa mandi di sungai itu. Setelah itu Papa terbangun. Dan itu juga hanya mimpi. Saat bangun, Papa mendengar suara azan. Hati Papa bergetar hebat, Papa merasa sangat ketakutan sampai menggigil. Lalu, papa mendengar suara aneh yang menuntun Papa untuk berwudu."
"Apa Papa langsung bisa berwudu saat itu?"
"Tidak. Papa kebingungan dan terus menangis. Sampai akhirnya malam itu Papa mendatangi masjid terdekat dan menceritakan mimpi Papa pada Imam masjid tersebut. Lalu dia menuntun Papa untuk mengucapkan Syahadat. Setelah itu, hati Papa terasa tenang dan Papa merasa sangat bahagia. Sekian. Cukup. Itu akhir ceritanya." Ucapnya.
"Mmh, tidak ada kemungkinan Papa dan Momy akan bersama?" Liezel bertanya dengan raut wajah kecewa.
"Tidak bisakah Papa mencari pengganti Momy yang lain saja?" Tanya Edgar penasaran.
"Never. No." Menegaskan sambil memalingkan wajah dari Papanya.
__ADS_1
Lagi lagi Edgar hanya bisa tersenyum melihat putri kecilnya. 'Papa sangat bahagia memiliki kamu, nak. Saat ini hanya berdua saja sudah cukup bagi Papa. Dan jika memang Aninda tertulis sebagai jodoh lauhul mahfudz untuk Papa, maka dia akan Papa dapatkan. Tapi, jika bukan dia, pasti Momy yang lain yang akan menemani kita.' Ucapnya dalam hati.