
Tiga tahun kemudian.
Aninda sudah menjadi seorang owner dari sebuah toko online. Belum genap setahun dia berbisnis ini dan sudah mendapatkan omset yang sudah hampir puluhan juta per bulannya. Aninda juga masih tetap seorang tiktoker. Tiktoker yang merambat menjadi owner toko online di tiktok itu sendiri.
Dan Aninda, kini hidup bahagia, bersama ibu dan juga Tio.
"Dek, semuanya sudah siap, kan?" Tanya Tio.
"Sudah dong." Jawab Aninda senang.
Ditatapnya Tio lekat lekat. Lelaki yang selalu ada untuknya disituasi sesulit apapun itu, kini akan segera menjadi milik wanita lain. Ya, Tio akan menikah lima hari lagi. Dia menikah dengan seorang Tiktoker cantik dan muslimah. Mereka saling mengenal dua bulan lalu dan langsung memutuskan untuk menikah.
"Kenapa menatap seperti itu?" Tanya Tio heran.
Perlahan Aninda melangkah mendekat, lalu dia memeluk tubuh lelaki yang sudah seperti, Ayah, kakak, adik, pacar baginya itu.
"Kenapa tiba tiba memeluk, Mas?" Tio terkejut.
__ADS_1
"Terimakasih sudah menjaga adek dengan baik. Bagi adek, mas adalah sosok Ayah." Ucap Aninda sambil menangis.
Mendengar itu membuat Tio mengelus lembut punggung keponkannya itu.
"Jangan menangis, dong. Nanti mas juga ikut sedih."
Aninda melepaskan pelukannya. Lalu dia menatap wajah Tio dengan wajahnya yang masih sendu karena menangis.
"Kali ini jangan bercerai lagi." Ucapnya.
"Jadilah suami yang baik, dan segeralah memiliki anak yang banyak." Lanjut Aninda.
"Wah, sekarang Aninda sudah menjadi semakin dewasa. Lihat, dia memberikan wejangan untuk pamannya yang akan menikah." Ucap Tio yang semain tergelitik mendengar ucapan Aninda untuknya.
Aninda tersenyum melihat ekspresi Tio. Lalu dia kembali memeluk pamannya dengan erat.
"Semoga ponakan tercantik paman ini, segera bertemu jodohnya dan menikah di tahun ini juga. Aamiin." Ucap Tio menggoda sekaligus mendoakan Aninda.
__ADS_1
Tidak sekalipun lagi Aninda mencintai. Dia hanya menjadi wanita pekerja keras. Bukan, tidak ada lelaki yang mendekatinya, tapi, memang semua itikad baik para lelaki itu ditolak oleh Aninda dengan alasan masih betah sendiri dan hanya ingin fokus pada pekerjaan.
"Apa adek masih memikirkan Edgar?" Tanya Ibu beberapa hari yang lalu saat Tio mengabarkan akan segera menikah.
"Ibu ngomong apa, sih. Adek tidak sedang memikirkan siapapun, buk. Adek sudah sangat bahagia, bersama ibu dan juga kita tidak perlu khawatir soal keuangan. Semuanya sangat melegakan. Alhamdulillah, adek bahagia saat ini."
Aninda mencoba menyakinkan Ayuni bahwa dirinya sangat bahagia saat ini. Dan itu membuat Ayuni percaya dan merasa lega.
Tidak mudah bagi Aninda saat harus mengendalikan hatinya dan mencoba melupakan Edgar. Dia bahkan pernah pingsan sagking sakitnya menahan perasaan rindunya pada Edgar. Tapi, tidak ada yang tahu. Saat itu, Ayuni dan Tio mengira Aninda kelelahan bekerja saja.
'Aku tidak memintamu dalam doaku. Aku tidak menunjukkan pada siapapun betapa sakitnya hatiku menahan kerinduan padamu. Dan terkadang aku malu, aku mencintai makhluk melebihi cintaku pada Robb ku.'
'Ya Allah, yang maha pemilik hati. Aku bermohon, cukup cintakan aku pada-Mu dan Rasull-Mu. Aku hanya insan yang sangat lemah, bantulah aku melupakannya ya Allah.'
Hanya itu rangkaian doa yang selalu Aninda ucapkan setiap sepertiga malamnya di tahun pertama setelah berpisah dengan Edgar. Kemudian, ditahun kedua dan ketiga, Aninda sudah lebih baik dan selalu mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah dalam hidupnya.
"Alhamdulillah, Wasyukurillah, Waalaillahaillah, Allahu akbar." Ucap Aninda sembari menarik napas lega.
__ADS_1