
Reyna menceritakan keadaan Edgar dan Liezel sejak Aninda memutuskan hubungan komunikasi dengannya. Tidak ada satu ceritapun terlewatkan oleh Reyna, kecuali tentang Edgar yang sudah menjadi Muslim. Dia menceritakan semuanya, karena berharap Aninda masih memiliki sedikit rasa untuk berbaikan dengan Edgar. Terlebih saat ini kakaknya itu memang sudah menjadi muslim. Dan Reyna rasa itu juga akan menjadi takdir jodoh mereka.
Reyna tidak pernah tahu, bahwa ternyata cerita tentang Edgar pada Aninda membuat hati Aninda luluh dan juga berdoa meminta ditetapkan hatinya untuk memilih Edgar jika memang mereka ditakdirkan berjodoh.
Dan ternyata doa Aninda, doa Edgar dan harapan Reyna benar benar menjadi kenyataan. Edgar melamar Aninda malam itu juga, dan Aninda menerima lamara itu saat itu juga.
"Bukan pertemuan yang membuat kita berjodoh. Tapi, karena kita berjodohlah akhirnya kita kembali bertemu." Ucap Aninda.
Aninda mengatakan itu dalam bahasa Indonesia dan Edgar tidak mengerti.
"Apa Aninda menyesal menerima lamaran, Ed?" Tanya Edgar.
"Mahal kita, Edgar Jared." Ucap Aninda.
"Aku cinta kamu, Anindaku." Balas Edgar menggunakan bahasa Indonesia yang dia pelajari sejak lama.
"Apa hanya itu bahasa Indonesia yang Ed ketahui?" Tanya Aninda sedikit kesal.
"No. Ada banyak kok." Ucapnya.
"Apa?"
"Mmh… Aninda sudah makan?"
__ADS_1
"Hanya itu?
"Hhaa… Aninda sedih? Bahagia? Tidur sudah Aninda?" Ucapnya mencoba mengingat beberapa kata yang dihafalnya.
"Itu hanya kata yang Aninda ajarkan dulu. Ed tidak mencintai Aninda." Ucapnya sedih.
Aninda tidak benar benar sedih. Dia hanya ingin menggoda Edgar saja.
"Aninda, Ed benar benar mencintai Aninda. Ed tidak berbohong." Mencoba meyakinkan Aninda.
Melihat wajah takut dan khawatir Edgar, membuat Aninda tersenyum senang.
"Aninda hanya bercanda?" Tanya Edgar curiga.
"Aninda tahu, Ed tidak akan pernah bisa marah pada Aninda. Jadi, sebelum Ed cium Aninda… lebih baik kita kembali ke kamar sekarang." Ucap Edgar menahan perasaan geram dan gemas ingin mencium dan mencubit pipi Aninda.
"Berani mencium Aninda, berarti kita putus." Ucap Aninda sambil berlari menuju kamarnya.
Edgar mengikutinya dan menatap langkah Aninda dengan penuh kebahagiaan.
Malam itu Aninda dan Edgar akhirnya bisa tidur nyenyak. Mereka bangun saat subuh. Lalu mereka dan semua orang mulai sibuk untuk sarapan, dan menyiapkan diri untuk tampil sebaik mungkin di pesta pernikahan Tio dan Riana.
Dan pagi itu juga Edgar mengatakan pada Tio dan Ayuni, bahwa dia akan menikahi Aninda.
__ADS_1
"Edgar serius?" Tanya Tio.
"Ya, Saya akan menikahi Aninda." Ulangnya menggunakan bahasa Indonesia.
"Nikahi Aninda hari ini juga." Ucap Ayuni yang membuat Tio, Aninda dan Juga Edgar terdiam.
"Buk!" Aninda mendekati Ayuni.
"Nikahi Aninda hari ini juga di sini. Tepat sebelum pesta dimulai." Ayuni menegaskan sekali lagi.
Edgar terdiam. Dia sangat ingin menikahi Aninda sekarang juga. Tapi, dia tidak tahu harus melakukan apa. Dia belum pernah sekalipun melihat seorang muslim menikah. Meski sudah mualaf, Edgar hanya fokus mempelajari sholat dan membaca qur'an, belum sampai pada tahap untuk menikah.
"Buk, keluarga Ed juga masih di Filipina. Kenapa harus hari ini, Ed juga masih harus banyak belajar." Aninda mencoba membuat ibunya mengerti keadaan Edgar.
"Jika tidak mau menikahi Aninda hari ini juga, maka jangan pernah bermimpi untuk menikahi Aninda." Ayuni mengaskan sekali lagi.
Lalu dia hendak berbalik arah untuk meninggalkan ruang tempat Tio dimake up.
"Baik. Saya akan menikahi Aninda hari ini juga." Ucap Edgar terbata bata karena harus berbahasa Indonesia.
Tadinya, Edgar masih berpikir mengartikan ucapan Ayuni. Karena Ayuni berucap bahasa Indonesia, sementara Edgar tidak banyak mengerti bahasa Indonesia. Karena itulah dia terdiam cukup lama.
Mendengar jawaban Edgar, membuat Ayuni berbalik dan tersenyum menatap pada Edgar.
__ADS_1