
Aninda langsung di boyong ke kediaman keluarga besar Edgar, dimana kedua orangtuanya tinggal. Dan Aninda disambut hangat oleh semua orang.
"Aninda…" Sambut wanita separuh baya yang merupakan Mama dari Edgar.
Dia memeluk hangat tubuh Aninda dan juga memberikan ciuman hangat dikening Aninda. Kemudian, bergantian saudara saudara lainnya untuk memeluk dan bersalaman dengan Aninda.
Sementara semua orang sibuk menyambut Tio dan Aninda, jauh di sudut sana, terlihat sepasang mata yang pemiliknya bersembunyi di balik tembok pembatas dinding kamar dan ruang tengah. Dia adalah Liezel, putri kecil Edgar.
Dia hanya diam, matanya terlihat berbinar dan berkaca kaca sekaligus. Dia yang sudah lama ingin bertemu langsung dengan Aninda pun, malah merasa tidak percaya, bahwa saat ini wanita yang menurutnya adalah ibunya itu, kini ada di hadapannya.
"Aninda, look…" Tunjuk Edgar kearah si kecil.
Senyum merekah di wajah Aninda saat melihat putri kecil yag bersembunyi itu. Lalu, dengan langkah perlahan Aninda menghampiri gadis kecil itu.
"Hai, I am Aninda. Your name?" Tanya Aninda ramah.
Kini Aninda berjongkok di hadapan si kecil. Sementara yang lain terdiam dan menatap kearah Aninda dan Liezel.
"I am Liezel." Jawab Liezel ragu dan juga dengan suara yang sagat pelan.
Aninda tersenyum senang mendengar suara merdu gadis kecil itu. Kemudian, tangan Aninda meraih tangan mungil itu. Ditariknya perlahan tangan mungil itu, sehingga tubuh mungil itu ikut bergerak mendekat pada Aninda.
"Maukah kamu berteman denganku?" Tanya Aninda yang menggunakan bahasa Filipina.
Liezel langsung mengangguk dan menghambur dalam dekapan Aninda.
__ADS_1
Semua orang terpaku dan terharu menyaksikan pertemuan pertama Liezel dan Aninda.
"Can I call you Momy?" Bisik Liezel pada Aninda.
"Yes." Jawab Aninda.
Mendengar jawaban itu membuat Liezel mengeratkan lagi pelukannya.
'Andai kita benar benar bisa hidup bersama, Aninda. Liezel pasti akan sangat bahagia. Dan aku tentunya yang paling bahagia.' Gumam Edgar dalam hatinya.
Tatapannya semakin sendu menatap kearah dua gadis yang sangat dicintainya itu.
'Maafkan aku, Aninda. Rasanya sangat sulit untuk menjadi bagian dalam hidupmu. Dan, aku pun tahu, kamu juga meraskakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan.' Bisiknya dihati.
Aninda mengangguk. "You look so cute." Mencubit pipi Liezel.
Liezel tersenyum dan berakhir mencium pipi Aninda.
'Maafkan aku Liezel. Aku tidak bisa masuk dalam kehidupan kalian. Dan, aku tahu, Papamu juga tidak bisa masuk dalam kehidupanku.' Ujar Aninda dalam hati.
Setelah penyambutan selesai, Aninda dan Tio di suguhkan makanan dengan berbagai macam jenis makanan. Dan tentunya semua makanan yang terhidang adalah makanan yang berasal dari restoran halal. Mereka menyiapkan semuanya untuk menyambut kedatangan Aninda yang mereka harap akan menjadi bagian dalam keluarga besar mereka.
"Aninda, ayo makan. Ini semua makanan halal." Ucap Nenita
Sambil mendekatkan beberapa makanan kehadapan Aninda.
__ADS_1
"Terimakasih, Mama." Ucap Aninda.
Matanya tampak berkaca kaca. Dia benar benar terharu dengan sambutan hangat dari keluarga besar Jared.
"Ayo makan, Momy." Ajak Liezel.
Aninda mengangguk, lalu kemudian mulai mengambil piring dan mengambil beberapa makanan untuk dimakan.
"Kalau tidak suka rasa makanannya, tidak usah dimakan." Bisik Edgar.
"Aku suka. Rasanya mirip dengan masakan Indonesia." Jawab Aninda dengan berbisik juga.
Lalu keduanya tersenyum. Sementara semua orang sibuk dengan urusan makan mereka masing masing.
"Momy, aaa…!"
Liezel hendak menyuapkan ayam goreng kepada Aninda.
"Aaaa…" Aninda membuka mulutnya dan menerima ayam goreng pemberian Liezel.
"Wuah, enak. Liezel cobain juga, aaa…" Aninda menyuapi Liezel.
"Aaa… am, enak." Ucap Liezel senang.
Momen indah itu disaksikan banyak pasang mata. Dan mereka semua sangat bahagia.
__ADS_1