
Akhirnya mereka tiba di Jakarta, tepatnya di rumah Aninda. Ayuni yang sudah mengetahui Aninda datang bersama teman temannya dari negeri asing, sudah menanti di depan rumah.
"Aninda… Mama?" Tunjuk Edgar dari mobil, saat mobil mulai memasuki perkarangan rumah.
"Oo, Aninda Mama." Sahut Aninda.
Edgar mendadak menjadi sedikit gemetar. Dia tidak tahu harus bicara bagaimana dengan Mama Aninda, karena tidak bisa bahasa Indonesia, ataupun Inggris.
"Dek, Ed kelihatan pucat tuh. Takut dia mau sungkem sama calon mertua." Goda Tio.
Aninda tertawa melihat wajah Ed yang semakin terlihat pucat dan kakinya yang tidak berhenti bergerak. Edgar benar benar terlihat grogi.
"Ed, Mama good." Ucap Aninda memberitahukan bahwa Mamanya baik kok, jadi nggak usah takut.
"Mama good? Ok." Ucap Edgar mengulangi ucapan Aninda.
Ale tertawa terbahak bahak melihat ekspresi wajah Edgar. Hingga tawanya menular pada James, Tio, Efran dan juga Aninda. Mereka bahkan tertawa semakin terbahak bahak mengoda Edgar yang semakin tegang dan pucat.
"Edgar bobo." Teriak Efran menertawakan kakaknya itu.
Sementara yang diketawakan hanya bisa menatap penuh amarah pada mereka yang menertawakannya. Kemudian, dia merengek dan mengadu pada Aninda yang sebenarnya tadi juga ikut menertawakannya.
"Mmh, Ed sedih, ya?" Bujuk Aninda dengan memeluk Edgar.
"Oo, kinukutya nila ako."
(Iya, mereka mengejekku.) Adu Edgar pada Aninda.
Lalu Aninda menatap tajam pada Ale dan Tio, kemudian Aninda memukul mereka secara bergantian. Tapi, Ale berhasil menghindar dari pukulan Aninda, sehingga membuat Aninda kesal.
"Ed, lihat Ale mengejekku." Rengek Aninda mengadu pada Edgar.
Dengan segera Edgar meraih kerah baju bagian belakang Ale, lalu meminta Aninda untuk memukul Ale.
__ADS_1
"Stop..." Teriak Ale sambil tertawa merasa geli, karena Aninda tidak mukulnya malah menggelitik perutnya.
"Help me… help me…" Teriak Ale.
Aninda terus menggelitik Ale, sedangkan Edgar malah mengusak rambut Ale hingga terlihat berantakan. Dan Ale terus tertawa terbahak bahak, karena perlakuan kedua manusia yang suka dijahilinya.
Saat mereka asik bertikai, mobil pun akhirnya parkir tepat di depan rumah Aninda. James, Efran dan Tio turun lebih dulu. Sementara Edgar, Ale dan Aninda masih saja gelud di dalam mobil tanpa henti. Bahkan suara tawa Ale terdengar oleh Ayuni dengan sangat jelas.
"Mbak…" Tio langsung memeluk erat tubuh kakaknya itu.
"Seru liburan di Bandung?" Tanya Ayuni.
"Sangat seru! Tambah seru karena ada mereka…" Tio menunjuk kearah Efran dan James yang melangkah mendekati mereka.
"Mama." Sapa Efran yang ramah sambil memberi pelukan pada Ayuni.
"Halo Mama." Sapa James yang memegang kamera untuk merekam momen itu.
"Mama, help me…" Teriak Ale.
Dia menghambur keluar dari mobil setelah berhasil melepaskan diri dari Aninda dan Edgar.
"Mama, help me." Ale bersembunyi di belakang Ayuni.
Pada saat itu juga, Edgar turun dari mobil. Dia pun langsung menyapa Ayuni denga sopan.
"Mama, I am Edgar." Memperkenalkan diri.
Ayuni mengangguk, dia juga tersenyum senang bisa langsung menatap wajah Edgar yang biasanya hanya dilihat melalui handphone Ainda.
"Halo Edgar." Sapa Mama dengan mata berkaca kaca.
Dia terharu, karena bisa melihat Edgar dengan nyata.
__ADS_1
"Huwag kang umiyak, Mama."
(Jangan menangis, Mama.) Ucap Edgar yang langsung memeluk Mama.
Perasaan khawatir dan rasa takut yang tadi membuat Edgar cemas, hilang seketika saat merasakan hangatnya pelukan seorang ibu.
Aninda melangkah mendekati Mamanya yang masih memeluk Edgar. Tapi, saat melihat wajah Aninda, Ayuni langsung melepas pelukan itu.
"Ajak Edgar dan teman temannya masuk, dek. Mama sudah menyiapkan banyak makanan." Ucapnya pada Aninda saat Aninda mencium punggung tagannya dan pipinya.
"Iya, Ma."
Aninda pun meminta Tio mengatakan pada Efran, Ale dan James untuk segera masuk ke dalam rumah. Sedangkan Aninda melangkah masuk bersama Edgar dan Mama.
"Mama, Aninda go Filipina." Ucap Edgar pada Ayuni.
"No." Jawab Ayuni sambil terus melangkah masuk.
"Edgar, Aninda go Filipina?" Tanya Edgar kemudian.
Ayuni pun mengangguk setuju. "Tapi, tidak boleh lama lama. Edgar harus segera membawa Aninda kembali ke Indonesia." Sambung Ayuni.
Mata Edgar membola, dia tidak paham apa yang dikatakan Ayuni. Dia menatap Aninda, berharap Aninda menjelaskan padanya.
"Mama not ok. No, go Filipina." Aninda menjelaskan sebisanya saja.
"Mama not ok?" Tanya Edgar langsung pada Ayuni.
Ayuni yang tidak mau pusing, karena Edgar terus meminta untuk membawa Aninda ke Filipina pun akhirnya membernarkan kebohongan Aninda.
"Mmh, Mama not ok." Ujarnya.
Edgar kecewa. Tapi, meski begitu dia tetap menggandeng tangan Mama bersamaan dengan Aninda. Dan mereka melanglah memasuki rumah.
__ADS_1