
"Ed, ada undangan pernikahanan dari Tio untuk kita." Ucap Ale.
"Tio akan menikah?" Tanya Edgar.
"Iya. Dia sangat berharap kita datang. Dia memberikan undangan sekaligus dengan tiket pesawat untuk penerbangan kita ke Indonesia." Jelas Ale.
"Kapan acaranya?"
"Dua hari lagi. Dan dia berharap kita bisa terbang ke Indonesia besok pagi."
"Pergilah kalian. Sampaikan ucapan selamat dariku untuk Tio." Jawab Edgar.
"Kamu tidak ingin ikut?"
Edgar menggeleng.
"Mungkin kamu akan bertemu Aninda, jika kamu ikut."
"Untuk apa?"
"Ya, siapa tahu kalian berjodoh?" Ucap Ale ragu.
"Aninda mungkin saat ini sudah bahagia dan sudah memiliki pasangan yang terbaik untuknya. Aku tidak mau, kedatanganku nanti akan membuat Aninda merasa tidak nyaman. Terlebih aku tidak mungkin pergi tanpa Liezel. Kamu tahu, betapa Liezel merindukan Aninda. Bahkan, sampai saat ini Liezel masih sering bermimpi melihat Aninda. Aku tidak mau memberikan perasaan tidak nyaman untuk Aninda dengan melihat aku dan Liezel lagi setelah sekian lama." Jawabnya.
"Baiklah. Mungkin hanya Aku dan James yang akan menghadiri pesta Tio." Ujar Ale.
Dua hari kemudian.
INDONESIA
Hari ini adalah hari bahagia untuk Tio. Sebentar lagi dia akan mengucapkan akad nikah.
"Dek, mas benar benar deg degan." Tio terlihat sangat khawatir.
"Seperti baru pertama kali saja. Padahal sebelumnya juga sudah pernah, kan!" Ledek Aninda.
__ADS_1
"Aissh, bicara sama adek percuma. Ujung ujungnya diledekin lagi." Celotehnya kesal.
Aninda hanya tersenyum. Dia mengatakan kata kata itu hanya untuk membuat Tio merasa lebih baik dan tidak khawatir lagi. Karena sebenarnya, dia sendiripun juga merasakan khawatir dan cemas yang sama dengan Tio.
Acara akadpun akhirnya dimulai. Tio didampingi langsung oleh Ayuni sebagai kakaknya. Tio sudah duduk berhadapan dengan calon mertuanya. Sementara pengantin wanita masih berada di kamarnya bersama Aninda dan juga teman temannya.
Aninda dan Riana, mempelai memejamkan mata saat mendengar Tio mengucapkan akad. Tangan mereka saling bertautan erat.
"Bagaimana para saksi?"
"Sah."
"Sah."
"Alhamdulillah."
Doa pun dilantunkan.
Sementara Aninda dan Riana saling berpelukan. Mereka merasa lega dan bahagia.
"Saatnya pengantin wanita menghampiri pengantin pria." Goda Aninda dan juga teman teman Riana.
"Aku kesana, dulu. Sepertinya ada tamu yang datang dari jauh." Bisik Aninda pada salah satu teman Riana.
"Iya. Bawa mereka segera ke kamar mereka, biarkan mereka beristirahat.." Ucap Riana saat mendengar bisik bisik mereka.
"Ok." Jawab Aninda sambil tersenyum.
Perlahan dia menghampiri tamu tamu itu. Langkahnya semakin terasa berat, saat melihat wajah yang sangat tidak asing itu. Tapi, dia mencoba tetap tersenyum dan seakan terlihat baik baik saja.
"Aninda." Panggil Ale dan James.
"Ale, James." Sapa Aninda. Dia hanya menundukkan sedikit kepalanya pertanda menyambut kedatangan mereka.
Ale yang tadinya mau menjabat tangan Aninda pun langsung mengurungkannya. Dan Ale sudah tahu tentang itu jauh sebelum berencana untuk datang ke Indonesia.
__ADS_1
"Kalian baru sampai?" Tanya Aninda menggunakan bahasa Filipina dengan sangat lancar.
"Iya. Dan kita langsung menuju kesini. Makanya bawa banyak barang." Jawab Ale menjelaskan.
"Sebenarnya, mas Tio juga sudah menyiapkan kamar untuk beristirahat. Tapi, hanya ada satu kamar tersisa." Jelas Aninda.
"Tidak apa. Satu kamar saja dulu, nanti setelah acara selesai, kami akan memesan kamar lainnya." Jawab Ale.
Dia sedikit melirik pada Efran, Reyna, dan Edgar. Sedangkan Aninda mencoba bicara pada James dengan menggunakan bahasa Inggris.
"Mari ikut saya." Ajak Aninda.
Mereka pun mengikuti langkah Aninda menuju lantai atas. Sedangkan Aula berada di lantai bawah.
Tempat pesta Tio dan Riana di Aula hotel bintang lima. Kamar pengantin dan Aula berada di lantai lima. Sementara kamar untuk tamu yang datang dari luar kota, propinsi dan juga luar negeri ada di lantai enam. Dan kamar yang tersisa tinggal satu, karena Tio mengira yang datang hanya Ale dan James. Ternyata mereka semua datang hari ini.
Pintu lift terbuka. Mereka tiba di lantai enam. Aninda membawa mereka ke kamar yang disediakan untuk tamu undangan.
"Ini kamarnya." Aninda membukakan pintu kamar.
"Salamat, Aninda." Ucap Ale dan James.
Aninda hanya tersenyum tipis. Lalu mempersilahkan mereka untuk istirahat sejenak.
"Reyna…"
Aninda memanggilnya dengan ragu. Dan Reyna menoleh juga dengan ragu.
"Ikutlah denganku." Ajak Aninda.
Dengan langkah ragu, Reyna pun mengekor di belakang Aninda.
"Ini kamarku. Jika tidak keberatan, kita bisa berbagi kamar untuk sementara." Ucap Aninda lagi dengan bahasa Filipina yang terus membuat Reyna kagum.
Dia tidak berpikir Aninda mempelajari bahasa Negaranya untuk bisa menyambut kedatangan mereka. Reyna berharap, Aninda masih menyimpan rasa untuk kakaknya.
__ADS_1
"Salamat, Aninda. And sorry." Ucap Reyna.
"Istirahatlah dulu. Nanti aku akan kembali lagi." Ucap Aninda tersenyum.