
Edgar memberitahukan pada Reyna dan Efran bahwa hari ini dia akan menikahi Aninda. Dia meminta mereka menghubungi kedua orangtua mereka. Dan benar saja, semua orang menyetujui pernikahan Edgar dan Aninda.
Disaat Riana, Tio dan Aninda sedang dihias, Edgar kini sedang menjabat tangan penghulu. Dia diajarkan dan dibimbing dengan baik oleh pak penghulu. Edgar mengucapkan akad dengan menggunakan bahasa melayu, karena ternyata Edgar lebih bisa melapalkan bahasa melayu dari pada bahasa Indonesia.
Keluarga dari Filipina menyaksikan moment bahagia itu melalui panggilan Video. Dan setelah akad selesai mereka akan langsung bertolak ke Indonesia.
"Bagaimana saksi?" Tanya pak Penghulu.
"Sah."
"Sah."
"Alhamdulillah."
Doapun dilantunkan. Ale, Efran, Reyna dan James merasa sangat bahagia. Setelah usai doa dilantunkan mereka memeluk Edgar dan memberikan ucapan selamat.
"Selamat datang Edgar." Ucap Ayuni.
Dia menyentuh wajah Edgar dengan penuh kasih. Lalu memeluknya sambil menangis. Saat itulah, Tio dan Riana memasuki Aula pesta. Lalu, dibelakang mereka ada Aninda yang memakai gaun putih dan terlihat amat sangat cantik.
Ayuni memapah Edgar untuk mendekati Aninda.
"Ibu serahkan Aninda pada nak Edgar. Jagalah dia, sayangi dia dan buatlah dia bahagia didunia hingga nanti sampai ke akhirat." Ucap Ayuni.
Air matanya menetes. Dia tidak peduli, Edgar mengerti atau tidak apa yang diucapkannya. Yang terpenting saat ini dia sudah menyampaikan apa yang ingin disampaikannya pada menanntunya itu.
Edgar yang juga sudah berpakaian senada dengan Aninda pun akhirnya ikut duduk di pelaminan bersama Tio dan Riana. WO sudah menempatkan kursi pelaminan tambahan untuk Aninda dan Edgar. Sehingga mereka menikah di hari yang berbeda, tapi mengadakan pesta di hari yang sama.
Sungguh kebahagiaan yang tiada tara. Tamu yang datang pada awalnya adalah tamu Tio dan Riana. Kemudian diikuti oleh tamu dari Aninda. Ya, pernikahan dadakan Aninda disiarkan langsung melalui akun tiktoknya dan mengundang siapa saja yang ingin datang.
Soal makanan, Aninda dan Edgar menyerahkan pada Reyna dan Ale. Mereka mengurus semua itu dengan bantuan WO dari Tio dan Riana.
Aninda dan Edgar duduk dipelaminan dengan tangan yang terus bergandengan tanpa ada yang mau melepasnya meski hanya sebentar saja.
"Semuanya terasa seperti mimpi, Ed." Ucap Aninda.
"Ini nyata sayang. Kita sudah menjadi suami istri. Dan kita bebas mau melakukan apapun, karena kamu adalah milikku dan aku adalah milikmu." Bisik Edgar yang membuat Aninda merona.
"Lihatlah, betapa bahagianya mereka." Rutuk Reyna sambil menikmati makanan.
__ADS_1
"Sebentar lagi kita juga akan menikah, sayangku. Jadi tidak perlu cemburu pada mereka." Ucap Ale menghibur kekasihnya itu.
Efran dan James merasa ingin muntah melihat Ale dan Reyna saling bermesraan. Sementara mereka tidak punya pasangan disisi mereka.
Acara terus berlanjut hingga malam hari. Hanya istirahat untuk berganti pakaian dan juga sholat. Kini sudah pukul delapan malam. Tamu dari Tio dan Riana sudah datang semua dan pesta mereka sudah usai. Begitu juga dengan tamu Aninda dan Edgar. Mereka hanya tinggal menunggu kedatangan keluarga besar Jared.
Dan benar saja, mereka tiba di akhir acara. Nenita dan Buwan langsung memeluk erat Edgar dan Aninda. Mereka menangis haru dan mereka mendoakan yang terbaik untuk pasangan baru itu. Tidak lupa mereka juga memberi ucapan selamat pada Tio dan Riana.
Ayuni, Nenita dan Buwan akhirnya bisa berjumpa dan berbincang dengan bantuan James sebagai penerjemah bahasa.
Sementara itu, gadis kecil yang bernama Liezel, sudah berada dalam dekapan Momy tercintanya.
"I miss you, momy." Ucapnya.
Liezel tidak mau melepaskan pelukannya dari Aninda, begitu juga dengan Aninda. Kini dia sudah menjadi seorang ibu untuk gadis kecil itu. Aninda berharap bisa menjaga, menyayangi dan mengasihi gadis kecil itu seperti putrinya sendiri.
Skip…
Setelah acara berakhir, dan setelah berbincang hangat antara keluarga, barulah kini Edgar dan Aninda bisa beristirahat di kamar mereka sendiri. Dan inilah saatnya malam pertama untuk dua pasangan pengantin tersebut.
"Aninda, apakah kita akan langsung tidur?" Tanya Edgar yang sedang membersihkan wajahnya dari sisa sisa make up.
Aninda tidak bisa memberi jawaban untuk pertanyaan suaminya itu.
Aninda menghela napas lega. Dia tersenyum malu malu saat mendapati dirinya memikirkan hal lain, sementara Edgar hanya bertanya.
"Iya kita sholat hajat dulu. Tunggu sebentar Aninda sedang berganti pakaian." Teriak Aninda dari dalam kamar mandi.
"Iya sayangku."
Hati Aninda terasa berbunga bunga saat dipanggil sayang oleh Edgar.
Setelah selesai berganti pakaian dan membersihkan wajah, Edgar dan Aninda pun melaksanakan sholat hajat berjamaah.
"Mmh, kita sudah selesai sholat, apakah boleh Ed mencium kening Aninda?" Tanya Edgar.
"Ternyata Ed sudah sangat berpengalaman." Ucap Aninda.
"Berpengalaman tentang apa?" Edgar tidak mengerti.
__ADS_1
"Ya, seperti sholat hajat terlebih dahulu, lalu memberikan ciuman dikening." Tuturnya sambil terus menundukkan kepala.
Edgar tersenyum. Perlahan dia berangsur mendekat pada Aninda. Lalu, tanpa aba aba lagi Edgar langsung menarik wajah Aninda dan menempelkan bibirnya di kening wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu.
Mata Aninda membola. Dia terkejut mendapat ciuman tiba tiba dari Edgar.
"Sekarang aku suamimu, kamu istriku. Aku akan selalu berusaha membuat kamu merasa bahagia dan nyaman berada disampingku." Ucap Edgar.
Lalu dia meraih tubuh Aninda masuk dalam pelukannya. Sedangkan si empunya badan hanya bisa pasrah menerima perlakuan manis dari suaminya.
"Mari kita tidur sambil berpelukan dan…"
"Dan apa?" Teriak Aninda.
Dia melepaskan diri dari pelukan Edgar. Aninda bahkan melangkah menjauh dari suaminya. Dia merasa sangat malu dan juga khawatir.
"Kenapa? Apa Ed mengatakan hal yang tidak seharusnya?"
Edgar ikut berdiri dan berusaha mendekati Aninda.
"Ed, sebenarnya… Aninda malu. Aninda takut." Ungkapnya tanpa menoleh pada Edgar.
Edgar tersenyum. 'Seharusnya aku tidak bertanya. Aku tahu sekarang, Aninda malu untuk memberi jawaban dari pertanyaanku.'
Dengan percaya diri Edgar melepas pecinya, meletakan diatas nakas. Lalu dia memeluk Aninda dari belakang. Dan dengan bantuan tangannya yang panjang, Edgar pun langsung mematiknn lampu.
"Apa terjadi pemadaman listrik?" Teriak Aninda khawatir.
"Tidak sayang. Ed yang membuat lampunya berhenti menyala." Jelasnya.
"Kenapa?" Aninda bergerak dalam pelukan Edgar.
"Karena dia membuat sayang malu. Jadi sekarang kita tidur."
Edgar menggendong tubuh Aninda dan membaringkannya diatas tempat tidur. Tidak lupa Edgar juga melepas mukena yang dipakai Aninda, sehingga hanya meninggalkan piyama milik Aninda.
"Ed tidak bisa melihat rambut Aninda dengan jelas. Tapi, Ed tetap bahagia, karena menjadi satu satunya laki laki yang bisa membelai rambut Aninda." Ucapnya.
Lalu, Edgar pun membelai rambut Aninda yang panjang. Belaian berlanjut hingga larut dan sampailah mereka ke syurga dunia yang amat sangat indah dan menggelora.
__ADS_1
Kebahagian pasangan itu sungguh tidak ternilai dengan apapun. Dan kini mereka telah sampai pada penyatuan hati, jiwa dan raga. Mereka mengikat janji setia dan tidak akan terpisah kecuali berisah karena kematian.
THE END