Ketika Aninda Jatuh Cinta

Ketika Aninda Jatuh Cinta
Episode 26


__ADS_3

Aninda menceritakan pada Tio dan Mamanya, tentang keadaan Edgar yang sudah pernah menikah dan memiliki anak.


"Terus, kalau si Edgar sudah punya anak kenapa memangnya?" Ujar Mama sambil membersihkan potongan daging ayam.


"Nggak apa apa sih, Ma. Cuma, kalau adek ternyata benaran berjodoh sama Edgar, gimana?" Ungkap Aninda ragu ragu.


"Iya bagus itu. Dia pria yang tegas dan juga penyayang. Soal statusnya tidak usah dipikirkan. Syaratnya ya cuma satu, dia harus islam dulu, baru bisa menikahi adek." Tegas Ayuni mengingatkan lagi pada putrinya itu, kalau mereka berbeda keyakinan dengan Edgar.


"Kapan lagi dek, dapat kesempatan bersanding dengan duda keren. Mas malah senang, ternyata Edgar sati server sama mas. Bisa banget kita bikin grup duren." Ucap Tio kesenangan.


"Mas mah bukan duda keren, tapi duren busuk." Ledeknya bercanda.


"Ampun dah tu mulut, bau banget. Kumur dulu kek, baru ngomong." Balas Tio yang merasa kesal dengan candaan Aninda.


"Kalian ini kalau bertemu, pasti bawaannya berantem mulu. Coba akur kek sesekali. Udah sana pergi dari dapurku. Berisik tau nggak." Maki Ayuni geram dengan kelakuan mereka.


"Aninda duluan yang mulai, mbak." Adu Tio.


"Enak aja. Mas Tio duluan yang sok kegantengan. Wweekkk…" Balas Aninda yang akhirnya berlari menuju ruang depan.


Tio pun mengejarnya dengan penuh emosi. "Tak sumpahin adek kecantol duda keren anak satu." Ucap Tio.


Aninda terus berlari lari mengitari ruang tamu, dan Tio terus mengejarnya sambil melemparkan bantal, botol, sandal dan apa saja yang ditemukannya pada Aninda. Tapi, tidak satupun lemparannya mengenai Aninda. Dia dapat menghindar dengan baik. Maklum, Aninda pemegang sabuk hitam di dunia persilatan.


"Tunggu…!" Teriak Aninda yang akhirnya menghentikan Tio.


"Apa? Mau apa, hah?" Dia terus melangkah perlahan semakin dekat pada Aninda.


"Edgar mau ke Indonesia awal tahun baru." Ucapnya.

__ADS_1


"Jangan berbohong! Mas kagak akan ketipu lagi sama adek." Semakin mendekat.


"Benaran." Ujarnya.


Sebentar Aninda menyentuh layar Hp nya, lalu memperlihatkan pada Tio yang sudah sangat dekat dengannya.


Mata Tio melotot membaca pesan DM dari Edgar di hp Aninda. Karena tidak percaya, dia pun akhirnya merampas hp itu dari tangan Aninda dan membaca pesan itu dengan teliti sambil melihat terjemahan bahasa Indonesianya.


"Benaran ini, dek?" Bertanya lagi.


"Iya, mas. Edgar benaran mau ke sini. Tadinya dia bilang mereka mau liburan ke Bali. Tapi, adek bilang kita mau ke Bandung. Nah Edgar sama timnya juga setuju untuj ikut ke Bandung bareng kita." Tutur Aninda kesenangan.


"Wah, luar biasa. Jadi kagak sabar pengen ketemu mereka, dek." Ucap Tio.


"Adek juga dong. Kagak sabar pengen ketemu Edgar secara langsung. Uuhhh…" Dia duduk di atas sofa, dengan kaki yang diayunkan karena merasa senang dan tidak sabar untuk menunggu kedatangan Edgar ke Indonesia.


🍁🍁🍁


"Ehem… lagi bahagia, nih!" Seru Reyna yang tiba tiba nongol di kamar Edgar.


Oh iya, Edgar saat ini sudah pindah ke istananya sendiri ya. Sudah hampir satu bulan Edgar menempati rumah barunya ini. Tapi, Reyna tidak sering datang ke sini. Dia hanya mampir sesekali saja. Reyna lebih nyaman tetap tinggal dengan kedua orangtuanya. Berbeda dengan Efran yang memang selalu tinggal di rumah ini bersama Edgar dan juga tim rich people.


"Hei Reyna. Ada apa?" Tanya Edgra yang langsung mengenggam tangan Reyna dan mengajaknya duduk di sebelahnya.


"Hanya ingin memastikan Ed baik baik saja." Menyenderkan kepalanya dibahu Edgar.


"Tentu Ed baik baik saja. Ed hanya tidak sabar ingin segera berjumpa Aninda." Ungkapnya sambil menatap foto dirinya dan Aninda yang diedit oleh fans dan itu di bingkai oleh Edgar dengan rapi dan dipajang di dinding kamarnya.


"Ed secinta itu sama Aninda?" Kali ini Reyna meraih foto Aninda yang dibingkai lebih kecil.

__ADS_1


"Rasanya seumur hidup, baru kali ini Ed merasa secinta ini pada perempuan. Belum pernah sebelumnya Ed merasakan seperti ini." Ungkapnya.


Reyna hanya tersenyum menanggapi ucapan Ed. Sementara matanya tetap fokus menatap wajah Aninda dalam foto itu.


"Aku hanya takut Ed akan mengalami patah hati yang lebih dalam lagi, karena Ed sangat mencintai Aninda terlalu dalam." Ujarnya agak berbisik.


"Kenapa begitu?" Tanya Edgar.


Sebentar Reyna meletakkan kembali foto Aninda. Lalu dia menatap dalam mata Edgar yang menatapnya dengan tatapan sendu.


"Aninda tidak akan bisa menikah dengan Ed, karena Tuhan Ed dan Tuhan Aninda berbeda. Aku punya teman seorang islam. Dia mengatakan, dalam islam melarang menikah dengan seseorang yang tidak memeluk islam." Jelas Reyna.


Mendengar penjelasan itu sungguh membuat hati Edgar terenyuh dan terasa pilu. Tapi, dia mencoba tetap tersenyum.


"Jika kami tidak bisa menikah, setidaknya kami akan membuat moment kebahagiaan yang banyak. Sehingga saat kami benar benar akan memutuskan untuk berpisah, semua kenangan indah itu akan menemani kami disaat saat perpisahan itu terjadi." Jawab Edgar penuh keyakinan.


Mendengar jawaban itu membuat Reyna semakin yakin, betapa kakaknya itu sangat mencintai gadis dari Negara asing itu.


"Sungguh Aninda adalah gadis dari Negeri lain yang sangat special. Dia mampu membuat Ed mencintainya. Sementara, begitu banyak gadis cantik di Negara ini. Tapi, mereka tidak mampu membuat jantung Ed bergetar seperti saat bersama Aninda." Reyna memuji Aninda.


"Dia sungguh sangat berbeda dan special, Reyna. Ed sangat mencintainya." Ucapnya yang akhinya merebahkan kepalanya dibahu sang adik.


"Ed…" Panggil Reyna pelan.


"Mmhh…"


"Aku akan menjaga Liezel selama Ed pergi bersama Aninda." Ujarnya.


"Ed akan membawa Liezel." Ucapnya yang mulai memejamkan mata.

__ADS_1


"Tinggalkan Liezel kali ini, Ed. Perjalanan kali ini akan berbeda dengan perjalanan yang biasa Ed kakukan. Nikmatilah dulu kebersamaan Ed dengan Aninda. Hanya kalian berdua saja, Ed." Reyna menyarankan.


Edgar menegakkan kepalanya agar bisa menatap wajah Reyna. "Terimakasih, Reyna." Ucapnya yang akhirnya memberi pelukan hangat pada adik kesayangannya itu.


__ADS_2