
Dan di kamar ini hanya tinggal ada Alex, kak Dimas, dan aku.
" Fik, tolong lah kamu cerita sama aku. Kamu jangan bikin aku khawatir terus " pinta Alex.
Tapi aku hanya diam.
" Lex kamu keluar dulu sebentar, aku mau ngomong sama Fika dulu berdua! " Pinta kak Dimas.
Alex pun keluar dari kamar.
" Dek, sebenernya apa yang lagi kamu pikirin? Coba sini cerita sama kakak. Kamu jangan nyimpen sendiri karena kamu punya aku, kakak mu " kata kak Dimas lembut.
" Emm sewaktu aku koma, sebenernya aku ketemu sama ayah dan ibu " kata ku.
Kak Dimas kaget mendengar perkataan Fika.
Kak Dimas pun langsung mikir yang aneh-aneh.
" Terus apa yang ibu sama ayah bilang? " Tanya kak Dimas.
" Ayah sama ibu bilang kalo di sini banyak yang sayang sama Fika, banyak yang peduli sama Fika. Padahal tadi nya Fika udah mutusin bakal di sana sama ayah dan ibu aja " jawab ku.
" Kamu mikir apa sih dek. Kok kamu bilang nya kayak gitu. Kamu mau ninggalin kakak, kakek, sama Alex? " Tanya kak Dimas kaget.
" Ya bukan kayak gitu kak, tapi jujur aku capek kak. Aku capek selalu tersakiti " jawab ku.
" Tapi kamu gk bakal ninggalin kakak sendiri di dunia ini kan Fik? " Tanya kak Dimas lagi.
" Ya tadi nya apapun resiko nya aku gk bakal berubah pikirin. Aku bakal tetep tinggal di sana sama ayah dan ibu " jawab ku.
" Fika?! " Kata kak Dimas kaget.
" Tapi ayah bilang di sana bukan tempat buat aku. Tadi nya aku gk peduli ayah mau ngomong apa karena aku udah bener-bener gk mau hidup di dunia ini lagi, aku mau di sana sama ayah dan ibu aja pokoknya. Sampe ibu bilang kalo di sini itu banyak yang nungguin Fika bangun, di sini banyak yang sayang sama Fika dan peduli sama Fika. Akhirnya Fika menyerah dan Fika memutuskan untuk tetap hidup di dunia ini tapi Fika emang tinggal di sana sebentar " jelas ku panjang lebar.
" Sebentar?! Itu lama Fik, kamu gk sebentar koma nya. Kamu tuh bikin semua yang ada di sini itu khawatir!!! " bentak kak Dimas.
" Iya aku tau kak, tapi aku bener-bener butuh waktu untuk istirahat dari semua ini. Dan di sana adalah tempat yang tepat untuk ku beristirahat sejenak dari semuanya " jawab ku.
" Kamu egois Fik, kamu gk bisa seenak nya kayak gitu. Kamu tau gk kakak itu khawatir banget sama kamu!!! " bentak kak Dimas lagi.
" Kakak?! Aku kira kakak bakal ngerti alasan aku ngelakuin ini. Tapi ternyata aku salah, malah kakak bisa-bisanya bentak aku?! Aku benci sama kakak!!! " Teriak ku sambil lari keluar kamar.
" Fika?! Kamu mau kemana? " Teriak Alex yang ada di depan pintu kamar.
" Kak, Fika kenapa lari gitu? " Tanya Alex.
" Udah nanti aja aku jelasin, sekarang kita kejar Fika dulu " suruh kak Dimas.
Di sisi lain Fika berlari sekuat tenaga, tapi tanpa sadar dia berlari ke arah jalan raya.
Tiba - tiba suara klakson mobil berbunyi sangat keras.
__ADS_1
Membuat Fika tersontak berhenti berlari.
Kak Dimas yang melihat nya langsung menarik tangan Fika dan memeluk nya.
" Bodoh!!! Kenapa malah diem aja " bentak kak Dimas.
Fika langsung mendorong kak Dimas dan berlari ke arah Alex.
" Lex, aku takut " kata ku sambil bersembunyi di belakang Alex.
" Fika, kakak belom selesai ngomong " kata kak Dimas.
Alex yang merasakan getaran dari tangan
Fika langsung memeluk nya.
" Udah kak, jangan bentak Fika lagi " bela Alex.
" Aku gk bentak dia Lex " kata kak Dimas.
" Udah udah, mending sekarang kita pulang ke rumah dulu. Malu di liatin orang " ajak Alex.
Kak Dimas, Alex, dan aku pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah aku langsung lari masuk ke kamar.
" FIKA " teriak kak Dimas.
" Aku takut dia kenapa-kenapa Lex " kata kak Dimas.
" Fika gk bakal kenapa-kenapa kak " jawab Alex.
" Tapi dia keliatan marah banget, kamu tau kan Fika kalo udah marah kayak gimana " kata kak Dimas.
" Iya aku tau. Maka nya sekarang kakak mending pulang dulu, biar aku yang tenangin Fika " pinta Alex.
Kak Dimas pun menuruti perkataan Alex.
Setelah kak Dimas pulang, Alex pun menghampiri Fika.
Tok...tok... tok
Alex mengetuk pintu kamar.
Tapi tak ada jawaban dari Fika.
" Sayang. Aku masuk ya " kata Alex sambil membuka pintu kamar.
Alex pun masuk ke kamar.
Saat pintu terbuka terlihat Fika yang sedang melamun memandangi langit dari jendela.
__ADS_1
Alex langsung menghampirinya dan memeluk nya dari belakang.
" Kamu kenapa? Coba sini cerita sama aku " kata Alex.
Tapi Fika tak menjawab nya.
" Huftt yaudah dehh kalo kamu gk mau cerita, gapapa " kata Alex sambil mengelus kepala Fika.
Tiba-tiba Fika membalikkan badan nya dan langsung memeluk Alex.
" Lex, aku kecewa banget sama kakak. Aku gk ngerti kenapa kakak tiba-tiba bentak aku " kata ku sambil menangis.
" Aduhh udah cup cup cup, jangan nangis. Coba cerita sama aku pelan-pelan ya " kata
Alex berusaha menenangkan Fika.
Aku pun menceritakan segala keluh kesah yang aku rasakan.
" Fika, kak Dimas kayak gitu karena dia sayang sama kamu " kata Alex.
" Kalo dia sayang sama aku, dia gk mungkin bentak aku Lex " bantah ku.
" Kak Dimas gk sengaja bentak kamu sayang, dia cuma terlalu khawatir sama kamu " jawab Alex.
" Tapi kan bisa di bilang baik-baik. Kamu tau kan aku orang nya gk suka di bentak, apalagi sama orang yang paling aku sayang " kata ku.
" Iya aku tau. Mungkin emang salah kak Dimas juga dia ngebentak kamu, tapi dia ngelakuin itu gk sengaja Fik " kata Alex.
" Tapi tetep aja di..." belum selesai Fika berbicara, Alex tiba-tiba mencium Fika.
" Sstttt...beri kak Dimas kesempatan buat ngejelasin semua nya oke " kata Alex.
Fika hanya mengangguk kan kepala nya. Dia begitu malu saat Alex mencium nya.
Alex yang melihat wajah Fika memerah langsung bertanya.
" Muka kamu kok merah? Kamu sakit? " Tanya Alex khawatir.
" A...a...aku gapapa " jawab ku terbata-bata.
Alex yang bingung dengan sikap Fika, tiba-tiba mengerti kenapa Fika kayak gitu.
Alex mendekatkan wajah nya ke wajah Fika.
" Ohh jadi kamu malu gara-gara aku cium tadi? " Tanya Alex sambil kan senyum nakal nya.
" A...a...apa sih, aku gk malu. Aku cu..cuma kaget aja " jawab ku sambil memalingkan wajah.
Alex kembali mencium Fika, tapi kali ini dia mencium pipi Fika.
" Hehehe lucu nya tunangan ku " kata Alex sambil terkekeh.
__ADS_1