Ketua Gangster Ku

Ketua Gangster Ku
Berusaha


__ADS_3

" Aku harus berpikir " kata ku dalam hati.


Saat aku melihat ada jendela, aku pun mendapatkan sebuah ide.


Aku mengambil benda yang bisa memecahkan kaca jendela itu.


Prakkk...


Kaca jendela pun akhirnya pecah.


" Fika, apa yang kamu lakukan di dalam? " Tanya Alex khawatir karena mendengar suara pecahan kaca.


" Alex, sekarang kamu dan yang lain keluar dari gedung ini dan pergi ke samping gedung ini. Di situ kamu bakal ngeliat jendela yang pecah dan dari situ lahh aku akan lompat keluar " jelas ku.


" Tapi itu bahaya Fik " kata Alex.


" Lex, please. Percaya sama aku kali ini, lagian kita udah gk punya banyak waktu " kata ku.


" Baiklah aku akan menuruti perkataan mu " kata Alex.


Alex dan yang lain nya keluar dari gedung itu dan mencari jendela yang kaca nya pecah.


" Sekarang aku harus cari anak itu" kata ku.


Aku mencari anak itu dan betapa terkejutnya aku kalo ternyata anak yang di maksud ibu itu adalah Vivi, sahabatku.


" Ini bukan waktu nya buat kaget, aku harus cepet bangunin Vivi " kata ku.


Aku berusaha membangunkan Vivi dan untungnya Vivi segera bangun.


" Fika?! " kata Vivi kaget.


" Iya ini aku " kata ku.


" Kok kamu bisa ada di sini? " Tanya Vivi.


" Udah sekarang gk ada waktu buat jelasin itu, yang penting sekarang kita harus cepet keluar dari sini karena di sini udah dipasang bom " kata ku.


" Apa bom?! " Kata Vivi kaget.


" Iyaa dan bom itu sebentar lagi akan meledak, maka dari itu kita harus secepatnya keluar dari sini " jelas ku.


" Tapi gimana cara nya kita keluar? " Tanya Vivi.


" Kita loncat dari jendela itu dan nanti di bawah udah ada orang yang bakal nangkep kita " jelas ku.


" Yaudah kalo kayak gitu mending kita cepetan keluar dari sini Fik " kata Vivi.


Aku dan Vivi menuju ke jendela yang aku pecahkan tadi.


Tapi tiba-tiba aku mendengar suara tangisan anak kecil.


Aku pun berhenti.


" Kenapa Fik? Ayo cepet " kata Vivi.


" Tunggu deh Vi, aku denger suara tangisan anak kecil tadi " kata ku.


" Suara tangisan? Halusinasi kamu doank kali " kata Vivi.


" Gk mungkin, orang tadi aku denger jelas banget " kata ku.

__ADS_1


Saat aku mau mencari sumber suara tangisan itu, Vivi menarik tangan ku.


" Fik, itu cuma halusinasi kamu doank kali. Ayo fi kita udah gk punya banyak waktu di sini " kata Vivi sambil menarik tangan ku.


Aku menepis tangan Vivi dan membuka pintu yang ada di dekat bom itu.


Dan saat aku membuka pintu itu, aku sangat kaget melihat ada banyak anak kecil yang sedang menangis.


" Fik udah ayo gk usah peduliin mereka, ayo cepet kita keluar " pinta Vivi.


" Tega ya kamu! Kamu keluar sendiri aja sana " kata ku kesal.


" Tapi Fik, kamu gimana? " Tanya Vivi.


" Aku masih harus disini. Aku harus matiin bom ini dulu supaya anak-anak ini selamat " jawab ku.


Aku pun teriak dari atas.


" Alex, aku mau turun nihh. Tangkep aku ya " teriak ku.


" Udah tuhh Vi, kamu lompat aja nanti Alex bakal nangkep kamu kok " kata ku.


" Oke Fik, aku duluan ya. Kamu cepetan turun juga, mereka bakal khawatir sama kamu " kata Vivi.


Vivi pun lompat dari jendela.


" Maaf Lex, aku harus bohong sama kamu. Kalo aku gk kayak gini, kamu pasti gk bakal mau nangkep Vivi " kata ku.


Aku pun kembali ke dalam dan berusaha mematikan bom itu. Sementara itu anak-anak kecil itu masih pada nangis.


" Aku takut " kata seorang anak kecil.


" Tenang ya dek, kakak bakal usahain biar kalian semua keluar dengan selamat dari sini " kata ku berusaha menenangkan anak kecil itu.


Alex bersiap menangkap Fika.


Dan saat ada seseorang yang jatuh, Alex langsung menangkap nya.


" Fika, aku khawatir banget sama kamu " kata Alex sambil memeluk orang itu.


" Emm Alex, itu bukan Fika " kata kak Dimas.


Alex langsung menengok ke arah wanita yang dia gendong itu.


" Vivi?! " Kata Alex kaget.


Alex melempar Vivi dari gendongan nya.


" Awww sakit " rintih Vivi.


" Fika mana? " Tanya Alex.


" Fika masih di atas " jawab Vivi.


" Apa?! Masih di atas? " Tanya Alex kaget.


" Iyaa " jawab Vivi.


" Ngapain dia masih di atas? " Tanya Alex.


Vivi yang tau sifat Alex agak takut menjawab nya, karena dia tau pasti Alex akan memarahi dan memaki nya.

__ADS_1


" Jawab!!! " Bentak Alex.


" Fika lagi berusaha matiin bom nya karena di atas sana masih banyak anak kecil " jawab Vivi.


" Trus kenapa lu bisa turun duluan?!!! " Tanya Alex yang mulai kesal.


" Karena a...aku ta..takut, jadi a..ku mi...minta


turun duluan " jawab Vivi terbata-bata karena takut.


Alex yang mendengar jawaban itu langsung memukul dinding yang ada di dekat nya.


" Sial, dasar cewe gk tau diri lu!!! " Bentak Alex.


Vivi hanya diam ketakutan.


" Lu tau gk Fika bahaya'in diri nya cuma buat nyelamatin lu!!! Tapi lu malah ninggalin dia ?! Gk punya hati lu!!! " Bentak Alex.


Kak Dimas yang merasa kasian kepada Vivi, berusaha menenangkan Alex.


" Udah Lex, percuma juga marah-marah " kata kak Dimas.


" Tapi cewe kayak gini tuhh harus di bentak dulu baru jalan otak dan hati nya!!! " Teriak Alex.


" Tapi kamu marah-marah in Vivi juga gk bakal ngubah keadaan " kata kak Dimas.


" FIKA, KALO KAMU GK TURUN SEKARANG AKU BAKAL NAIK KE ATAS " teriak Alex.


Fika yang mendengar itu langsung menghubungi asisten Alex.


" Halo Doni " kata Fika.


" Halo nona Fika " kata Doni.


" Don, kamu tolong tahan Alex biar dia gk naik ke atas " pinta Fika.


" Saya gk bisa tahan tuan Alex, nona. Kalo saya berani tahan tuan Alex, bisa-bisa saya di bunuh. Apalagi sekarang tuan Alex dalam suasana hati yang buruk " kata Doni.


" Duhh, kalo kayak gitu kamu kasih handphone nya ke Alex " suruh Fika.


" Baik nona " jawab Doni.


Doni menyerahkan handphone ke Alex.


" Alex, aku mohon kamu jangan naik ke atas " pinta ku.


" Fika?! Fika kamu turun sekarang!!! " Bentak Alex.


" Lex please dengerin aku dulu. Di sini masih banyak korban yang di culik, aku gk bisa tinggalin mereka gitu aja apalagi ini anak kecil " kata ku.


" Aku gk peduli, mau itu anak kecil atau anak bayi. Keselamatan kamu paling penting Fik " kata Alex.


" Kamu sama tega nya kayak Vivi, Lex. Aku gk nyangka kamu bakal ngomong kayak gitu " kata ku kaget dengan omongan Alex.


" Bukan gitu maksud aku Fik. Maksud aku tuhh..." Alex berhenti berbicara karena bingung harus gimana dia menjelaskan nya agar Fika mau menuruti perkataan nya.


" Lex, percaya sama aku. Aku bakal keluar dari gedung ini dengan selamat bersama anak-anak ini " kata ku memohon.


Alex hanya diam tak menjawab, karena dia udah gk tau harus ngomong apalagi sama gadis nakal nya ini.


Fika pun mematikan telepon nya.

__ADS_1


" Aku harap kau menepati omongan mu Fika " kata Alex dalam hati.


__ADS_2