
Azzam berjalan menurungi tanggabmenuju pintu utama untuk pergi memenuhi keinginan sang istri yang tiba-tiba ingin makan rujak yang biasa ada dipinggiran jalan.
Saat melewati ruang tengah terlihat ummi Salma uang yang sedang duduk sambil mengotak ati ponselnya, Azzam lalu berhenti tepat didepan sang ummi.
"Ummi,aku titip istriku!" kata Azzam yang juga membuat ummi salma merasa heran.
"Memangnya kamu mau kemana pake istri dititipkan segala?" tanya Ummi Salma.
"Azzam mau keluar ummi, tiba-tiba istriku mau makan rujak yang biasa orang jual dipinggir jalan.
"Azzam pamit ya ummi, tolong jaga khumairah ku!"
Belum sempat Ummi Salma bertanya,Azzam sudah meraih tangannya lalu menciumnya kemudian segera berjalan meninggalkan sang ibu.
Entah apa yang dirasakan oleh ummi salma tapi saat menatap punggung sang anak dirinya merasa ada sesuatu tapi tidak tau itu apa.
"Tunggu tuan!" kata Siti yang tiba-tiba muncul didepan pintu.
"Tuan jangan pergi,jangan mengendarai mobil!" kata Siti memperingati Azzam namun tidak dipedulikan.
"Tidak,tidak,,,,,!"
"Rencanaku tidak seperti ini."
"khumairah,,,, ini semu gara-gara kamu!" kata Siti dengan paniknya.
Azzam mengendarai mobil dengan perasaan mengantuk yang semakin lama semakin sulit untuk ditahannya, sudah 15 menit Azzam mengendarai mobil dengan kantuk yang semakin dirasakannya.
Untuk menghalau kantuknya Azzam sering menutup matanya kemudian membukanya lagi.
"Ada apa dengan mataku, kenapa rasanya sangat mengantuk!" kata Azzam dengan merem mele. dan mencoba untuk tetap fokus dalam menyetir namun tiba-tiba suara klakson mobil mengagetkannya dan membanting setir hingga menabrak sesuatu, tanpa bisa dihindari Azzam mengalami kecelakaan.
Antara sadar dan tidak sadar Azzam merasakan rembesan air dari kepalanya juga sesuatu yang perih pada lengannya.
"khumairah,,, sayang,,,!" Lirihnya dengan pandangan yang sudah semakin kabur.
***************
pov khumairah,,,,,,,,
Setelah kepergian mas Azzam untuk membelikan ku rujak yang tiba-tiba sangat ku inginkan,aku tertidur beberapa saat.
Setelah terbangun aku melihat jam kecil yag ada dimeja samping tempat tidur yang sudah menunjukkan pukul 11:30, itu artinya mas Azzam pergi sudah hampir satu jam.
"Mas Azzam kemana?"
"sudah cukup lama kepergiannya!"
__ADS_1
"seandainya dia mampir di suatu tempat kenapa tidak mengabari supaya tidak bikin hawatir!"
"Tok tok,,,!"
"Suara ketukan pintu membuat ku berhenti berpikir sesuatu yang semoga tidak terjadi!"
"siapa? tanyaku memastikan siapa diluar.
"Nak, ini ummi sayang!" iata ummi salma dengan suara seraknya.
Aku kemudian melangkah kearah pintu untuk membukanya,saat pintu terbuka aku kaget melihat mata ummi yang terlihat sembab seketika pikiran ku tertuju kepada mas Azzam.
"Ummi,ada apa?"
"Mas Azzam mana ummi?" tanyaku dengan suara bergetar.
"Ada nak,mas mu ada dan sedang menunggumu!" kata ummi semakin membuatku heran ditambah dengan keberadaan bunda dan Kanaya semakin membuatku yakin ada sesuatu yang terjadi.
"Nak kamu yang sabar ya, harus kuat ingat ada calon anak kalian yang juga harus kamu jaga!" kata bunda yang sekarang memelukku.
"Ayo, kita temui mas mu di rumah sakit!"
"Deg,,,,,!"
Keyakinanku semakin besar sesuatu telah terjadi kepada mas Azzam,kakiku serasa tidak bisa menahan beban tubuhku untungnya Kanaya dan bunda sigap menangkap tubuhku yang hampir luruh.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit tak sepatah katapun yang keluar dari mulut ini, kami diam dengan pikiran masing-masing.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit akhirnya kami sampai dirumah sakit tempat suami ku dirawat, dengan petunjuk dari perawat akhirnya kami sampai diruang ICU dan kulihat ayah ada Abi sedang duduk disana.
"Yang sabar nak,mas mu pasti akan berjuang didalam sana!" kata ayah.
Kanaya lalu membantuku untuk duduk dikursi, sungguh rasanya aku tidak akan kuat menerima semua ini.
"Ini salahku, seandainya aku tidak meminta mas Azzam untuk membelikanku rujak ini semua tidak akan terjadi!" kataku sambil terisak.
"Tidak nak,jangan menyalahkan diri sendiri ini semua sudah takdir kalaupun Azzam tidak mengalami kecelakaan dengan cara seperti ini mungkin akan ada musibah yang lain untuknya." kata ummi Salma menenangkan khumairah.
"Do'akan mas mu ya!"
"Pasti ummi,past,,,,,,!"
Setelah merasa cukup tenangbaku berusaha berdiri kemudian berjalan menuju kaca, kini dapat kulihat didalam sana lelakiku, suami, imam dan calon ayah dari anakku sedang terbaring tak berdaya dengan beberapa alat medis yang menempel pada tubuhnya, kepalanya diperban begitupun lengan dan bahunya yang menggunakan alat penyangga untuk cideranya ditambah dengan alat bantu oksigen yang cukup memberiku gambaran betapa tersiksanya suamiku didalam sana.
Air mataku luruh dengan sendirinya, ya, aku menangis dalam diam dibalik kaca kemudian menaruh tanganku seolah aku sedang membelai kepalanya sama seperti disaat suamiku tengah berbaring di atas pangkuan ku.
"Mas,,, berjuang lah untuk kami, sedikitpun jangan coba-coba berani untuk menyerah!" bisikku dalam hati!"
__ADS_1
**********
Dua hari telah berlalu namun mas Azzam belum juga terbangun dari tidurnya, selama itu pula aku melewati hari dengan perasaan yang sulit kukatakan,takut dan hawatir menjadi satu.
Aku hanya bisa menemaninya disiang hari karena ummi dan keluarga yang lain melarangku untuk bermalam disana mengingat aku yang sedang hamil, setiap saat Kanaya selalu siap untuk menemani ku untuk berkunjung kerumah sakit.
seperti hari ini, seharian aku menemani suamiku diruang ICU dengan setia,kugenggam tangannya kemudian menaruhnya diatas perutku dan berkata,,
"Mas,, bangunlah dan sapa anakmu sepertinya dia juga merindukan ayahnya!"
Dapat kurasakan pergerakan anak kami saat itu!
"lihat lah mas, karna kamu tak kunjung menyapanya maka dialah yang menyapamu!" kataku dengan suara serak menahan tangis.
"mas,kenapa kamu diam saja? tolong berikan sedikit saja pergerakanmu sebagai tanda kamu akan segera bangun!" isakku sambil mencium keningnya.
seharian ini aku tidak bosan mengajaknya bercerita dan sesekali kuletakkan tangannya diatas perutku, berharap mas Azzam akan segera terbangun namun nihil.
Tak terasa siang pun telah berganti malam, kehembuskan nafas dengan perlahan tidak tega rasanya kembali terpisah dengannya namun keadaan mengharuskan itu terjadi.
"Kak,ayo kita pulang!" kata Kanaya yang baru saja masuk diruangan itu.
Aku hanya mengangguk kemudian berdiri, segera ku cium kening dan pipi mas Azzam dan tak lupa memberi kecupan singkat dibibirnya, meski tidak mungkin namun besar harapanku dirinya bisa merasakan itu.
Tidak lama setelah itu ummi datang untuk menggantikan ku menjaga mas Azzam seperti malam sebelumnya.
"pulang lah nak!" kata ummi sambil memelukku.
Aku mengangguk kemudian mencium punggung tangan beliau lalu berpamitan.
Setelah itu aku dan Kanaya keluar dari ruangan mas Azzam, langkah kakiku terasa berat untuk meninggalkan tempat itu.
"Ya Allah,,,!"
"Berapa lama lagi aku harus menunggu?" lirihku dalam hati sambil terus melangkah menyusuri lorong rumah sakit.
"kakak yang sabar ya,kak Azzam pasti akan segera bangun." kata Kanaya sambil menuntun ku menuju parkiran.
"Iya dek, terimakasih kasih dan maaf sudah merepotkan mu!"
"Kakak bicara apa sih?" tanya Kanaya merasa tidak suka atas ucapan khumairah.
"kita kan satu keluarga, sudah seharusnya seperti ini jadi tidak ada yang merepotkan,ok!"
Khumairah tersenyum menanggapi perkataan sang adik, keduanya terus melangkah hingga sampai ke parkiran dan disana sudah ada mang Asep yang menunggu mereka.
π Bersambung π
__ADS_1
Terimakasih kepada para readers yang sudah mampir dan mendukung karyaku iniπ
Tanpa kalian apalah karyaku iniπ€π