
Korban sepertinya mengantuk saat mengemudi,.kami sudah meminta pihak rumah sakit untuk memeriksanya dan hasilnya tidak ditemukan alkohol ataupun narkoba dalam tubuhnya,kata salah satu polisi yang menangani kasus mas Azzam.
Aku menghubungkan semua kepingan kejadian yang menimpaku dan mas Azzam,apa mungkin semua itu ada hubungannya dengan apa yang dikatakan oleh siti?"
Deg,,,,!
"Astaghfirullah,,,,!" lirihku saat menyadari semuanya.
Tiba-tiba kurasakan ada air yang merembes keluar dan mengalir melalui kakiku,aku meringis merasakan sakit diperut ku.
"khumairah,,,!"
"mairah,,!"
"nak,,!"
Sayup-sayup kudengar suara hawatir dari ummi,bunda dan dokter Fadi, setelah itu aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap mempertahankan kesadaran ku.
"astaghfirullah,,, ya Allah,,,,!"
"Aku harus bisa demi anak dan juga suamiku!" kataku sambil mensugesti diri sendiri untuk bertahan.
Setelah beberapa menit aku sudah bisa menguasai kesadaranku kembali, perlahan dengan dibantu oleh ummi dan Bunda aku kemudian duduk dikursi roda yang sudah disiapkan oleh dokter Fadil, setelah itu mereka segera membawaku kerumah sakit Pertiwi.
"Mas, berjuanglah untuk segera sadar!" pintaku dalam hati kepada lelakiku yang masih betah dalam tidurnya.
ππππππππ
Aku tengah berbaring di ranjang rumah sakit sambil menikmati sakitnya proses pembukaan jalan lahir,sudah hampir dua jam aku menikmati proses untuk menjadi wanita seutuhnya setelah menjadi seorang istri,ummi dan bunda selalu setia menemani ku.
"Istighfar nak." kata ummi menyemangati ku saat meringis menahan sakit.
"Bunda usap-usap ya nak!" kata bunda berusaha mengurangi rasa sakit yang kurasakan.
"Iya bunda!" jawabku berusaha menenangkan keduanya.
Kulihat raut wajah hawatir dari dua wanita tersayang ku, sungguh usapan lembut dari tangan Bunda dan perhatian yang diberikan oleh ummi sedikit bisa mengurangi rasa sakit yang kurasakan.
Pintu ruanganku terbuka dan masuklah dokter kandungan yang akan menanganiku melahirkan nanti dan berkata,,,,
"Kita cek dulu ya Bu!"
"iya dok!" jawabku.
"pembukaannya sudah masuk jalan tiga, biasanya akan cepat kalau sudah begini!" kata dokter menjelaskan.
"sambil menunggu,saya periksa pasien lain dulu."
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban, terlalu sakit untuk berbicara saat kontraksi yang sebentar-sebentar datang lagi dan rasanya sungguh sulit untuk dijabarkan disaat seperti merasa ada sesuatu yang ingin keluar namun harus menahannya,bunda pamit untuk keluar membelikan minuman isotonik untuk penambah tenaga katanya saat mengejan nanti.
Sedih rasanya saat berpikir seharusnya disaat seperti ini aku didampingi oleh sang suami.
"mas sakit,,,!" lirihku saat kontraksi kembali kurasakan.
Saat menikmati rasa sakit yang kembali kurasakan karena kontraksi aku mendengar seorang ibu muda disebelah ranjang ku yang juga akan melahirkan berkata,,,
"mas sakit sekali rasanya Tita tidak kuat lagi menahannya!"
"sabar sayang,kamu yang kuat dan pasti bisa!"
__ADS_1
"pikirkan bayi kita yang sebentar lagi akan berada di antara kita!"
Aku terharu mendengar percakapan sepasang suami istri yang juga sedang menanti kehadiran anak mereka, jujur aku merasa iri karena merasa tidak beruntung seperti ibu muda itu yang bisa didampingi oleh suaminya, namun sesaat aku tersadar bahwa dia memang beruntung tapi tidak sekuat aku.
Setelah itu aku mendengar ibu diseblahku sudah mulai mengejan yang diselingi dengan suara teriakan dan tangisan dan tak berselang lama setelah itu terdengar lah suara bayi.
"Alhamdulillah sayang, anak kita sudah lahir wajahnya cantik seperti kamu." kata suaminya dengan haru dan akupun ikut tersenyum mendengarnya.
"sssst huffft,,,,,!" desis menahan sakit kemudian membuang nafas perlahan.
Saat pintu terbuka masuklah lah bunda bersama Kanaya sambil membawa minuman isotonik dan cemilan.
Setelah itu terdengar suara dering ponselnya milik Kanaya dan diapun segera menerima panggilan itu, kulihat dia melirikku sambil tersenyum dan berkata,,
"kak,ada yang mau bicara!"
Aku mengernyitkan dahi seoalah bertanya siapa kemudian menerima ponsel Kanaya yag diarahkannya kepadaku.
"Sayang,,,,!"
Deg,,,,,
Suara itu,,,,,?
Segera aku melihat layar ponsel dan seketika aku menangis setelah melihat dengan jelas wajah seseorang orang ya g sangat kucintai karena Allah,wajah ya g sangat kurindukan beberapa hari ini, senyumnya masih sama meski wajahnya masih terlihat lemah dan pucat.
"m,,,,mass, hiks!" Ucapku dengan sambil terisak.
"sayang, kamu sangat cantik!" katanya dengan suara lemahnya.
"hu uuu,,, itulah mengapa mas memilihku kan?" kataku dengan tawa yang bercampur tangis.
"Adduuuh!" keluhku disaat kontraksi kurasakan kembali.
"Sayang,,, kamu kenapa?" tanya mas Azzam dengan nada hawatir.
Aku tersenyum menanggapi pertanyaannya lalu berkata,,
"dedeknya sudah tidak sabar untuk keluar!"
"oooh, itu karena dia sudah tidak sabar untuk melihat papanya yang ganteng ini!"
"dan juga menyebalkan saat bikin hawatir." kataku melanjutkan perkataannya.
"ha ha haaaaa,,,awww!" kulihat masku tertawa sambil menahan sakit.
"mas,,,kenapa?"
"tidak apa-apa sayang!"
"ssst aww!" giliran aku yang meringis menahan sakit.
"sayang,,,,sakit?"
"tidak mas, rasanya sungguh nikmat luar biasa!" jawabku.
"sayang,kamu harus kuat demi mas dan anak kita!"
hening,,,, tapi sambungan video call masih tersambung kulihat dokter datang menghampiri ku dan berkata,,,
__ADS_1
"diperiksa dulu ya Bu!"
"iya dok!" jawab ku sambil menahan sakit.
"pembukaannya sudah lengkap Bu dan sudah waktunya untuk menyambut kelahiran dedek bayi!"
Dibalik layar dapat kulihat wajah gugup dari mas Azzam,aku tersenyum untuk membuatnya merasa tenang.kudengar suara hembusan nafas dari mas Azzam diseberang sana.
Atas permintaan mas Azzam panggilan video call tidak terputus agar dia bisa menyaksikan proses persalinan ku.
Perhatikan arahan dari saya ya Bu,jangan mengejan sebelum saya perintahkan dan ikuti dorongan dalam perut,ok!" kata dokter menjelaskan dan aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
"ok,tarik nafas Bu!"
"engggh hu huhu,,,,!"
"ya tari lagi dan dorong!"
"enggghhhhhh!"
"ok,, sedikit lagi Bu kepalanya sudah kelihatan!"
"enggghhhhhh,,,,,,"dan dapat kurasakan sang dokter menarik keluar sang dedek dan Langsung terdengar suara tangisnya.
"oeeeek,,,oeeek!"
"Alhamdulillah,,,!" lirihku dengan Suara lemah.
"sayang,,,, Alhamdulillah!" kudengar suara mas Azzam saat Kanaya mendekatkan ponselnya,aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya.
Dokter kembali berusaha untuk mengeluarkan ari-ari dari perutku kemudian melanjutkan tindakan lainnya.
Karena terpisah oleh jarak,ruang dan waktu akhirnya mas Azzam hanya bisa mengazani anak kami melalui ponsel.
Dan setelah itu dokter lalu menganjurkan untuk aku segera menyusui sang dedek dengan di bantu oleh ummi dan bunda.
Sementara Kanaya memegang ponsel yang masih tersambung video call dengan mas Azzam.
"sayang,,,!" terdengar suara di balik layar.
"hmmm,,,iya mas!" jawabku yang masih fokus kepada bayiku.
"Kok aku tidak dikasih liat sih yank?" kata mas Azzam dengan nada manja.
"udah lah Azzam kamu istirahat saja dulu!" kata ummi yang menjawabnya.
"tapi ummi,aku kan mau liat anakku!" katanya dengan suara merajuk.
"tadi kan sudah liat,nanti aja lagi!"
"ummi,tapi aku mau liat anakku minum ASI!" kata mas Azzam semakin menjadi.
"aduh Azzam kamu bisa diam tidak? ini anakmu saja bisa anteng!" kata ummi Salma mulai merasa jengkel.
"ya iyalah lagi anteng,orang sidedek lagi nyerobot jatah papanya!" kata mas Azzam yang sontak membuat orang yang berada diruanganku maupun diruangnnya menjadi tertawa atas kekonyolannya.
"astaghfirullah,, suamiku setelah bangun dari tidur panjangnya kenapa sifatnya jadi berubah?" kataku dalam hati tapi aku sungguh merasa bahagia.
π Bersambung π
__ADS_1
Terus beri dukungan semampu kalian readersππ