
Happy Reading ....
Sedan warna biru yang kutumpangi menepi di depan lobi sebuah gedung, Aku yang sudah rapi dengan kebaya plus riasan di wajah, juga Umi yang memakai kebaya senada, turun dari kendaraan. "Den, kalo mau pulang dulu, pulang aja, takut kelamaan nunggu, nanti ke sini lagi sekitar habis dzuhur," jelasku pada supir bernama Deden, yang baru saja mengantarkanku.
Deden membalas dengan senyum dan tawanya, yaaa begitulah dia, setiap mau berucap pasti lebih dulu membuka mulutnya untuk tertawa, kadang membuat aku ilfeell saat melihatnya. "Nungguin aja deh, seru lihat acaranya." katanya, yang kemudian berlalu mencari tempat parkir untuk mobil yang dia bawa.
Umi sengaja meminta tolong tetanggaku untuk mengantar kami ke acara perpisahanku, dan Deden adalah tetanggaku yang kebetulan masih berstatus pelajar SMA, dengan iming-iming beberapa lembar uang, dan bensin yang akan Umi isikan pada mobil, Deden mau mengantar dan bahkan menunggui kami.
Saat baru saja mau memasuki gedung, Aku dan Umi berpapasan dengan Icha, dia adalah teman satu sekolahku, namun Aku tidak terlalu akrab dengannya, karena kami belum pernah menjadi teman satu kelas.
"Eeeh Icha, sama siapa?" sapa Umi pada Icha yang membuat aku terbingung.
"Emang Umi kenal?" selidikku setengah berbisik.
"Itu loh, anaknya Tante Mirna, masih sodara kita Dis, yang rumahnya di Ciherang situ," jelas Umi.
Obrolan pun terjadi antara mereka, yang ternyata saling mengenal karena Umi beberapa kali pernah ke rumah Icha, sedangkan Aku, hanya menjadi pendengar yang setia, sambil diperkenalkan sebagai saudara.
"Mi, ayo! acara udah mau mulai," ajakku pada Umi, yang masih betah mengobrol dengan Icha.
Begitu memasuki bagian dalam gedung, Aku melihat sahabatku Rury yang sekarang berperan sebagai ratu, karena nilainya paling tinggi di antara teman satu sekolahan. Tapi aku enggan menyapanya, karena sudah beberapa hari ke belakang dia mendiamkan aku.
Tanpa aku sangka sahabatku itu berlari menghampiriku, lalu mencubit kedua pipi tembem milikku yang sudah full dengan riasan.
"Dis! ya ampuuuun kamu mirip ibu Tien!" pekiknya, mengembang senyum dan tawa yang baru pertama kali melihatku dalam wajah berbalut makeup.
Layaknya ABG kebanyakan, kami berpelukan, dan berjingkrak, melompat lompat tanpa peduli dengan kain yang sedang kami gunakan.
"Udah gak marah?" tanyaku sedikit ragu.
"Ngga lah, ngapain juga gue marah, gue sadar kalo loe juga pinter, jadi ya wajar kalo nilai bahasa Inggris loe lebih tinggi dari gue." terangnya.
Lega rasanya diri ini, pasalnya ... beberapa hari sebelum pengumuman kelulusan dan acara perpisahan ini, kita sudah dikasih bocoran nilai hasil evaluasi akhir, dan nilai bahasa inggris Aku lebih tinggi dari Rury. Aku mendapat nilai yang hampir sempurna, dan Rury sendiri satu nilai di bawahku. Dan itulah yang membuatnya tiba-tiba marah dan mendiamkanku.
Rury memang anak yang pandai, cita-citanya sebagai guru, membuat dia banyak berlatih dalam semua mata pelajaran, terutama pada mata pelajaran biologi.
Acara hampir dimulai setelah melar beberapa saat. Aku mencari Umi yang sudah menempati tempat duduk yang telah disiapkan panitia, setelah saling lambai tangan dengan Rury yang harus mengisi acara.
Setelah acara selesai, semua teman-teman berhambur pada sobatnya masing-masing. Berfoto bersama untuk kenang-kenangan, yang mungkin saja setelah ini mereka takkan bertemu kembali, walaupun pada kenyataannya banyak dari mereka masuk ke sekolahan yang sama.
__ADS_1
*****
"Dis, mana berkas sekolah kamu? sini biar Aak yang daftarin." ucap Kakak lelakiku.
"Nanti aja Ak, biar Gadis daftar sendiri. Gadis mau masuk ke Penerbangan."
"Ngga ada penerbangan-penerbangan, kamu masuk Aliyah aja, mana sini."
"Tapi Ak, aku pengen jadi pilot."
"Kamu gak denger wali kelas kamu kemaren ngomong apa waktu pengambilan nilai?"
"Denger siih, tapi ...."
"Udah, ngga pake tapi! mana cepetan, keburu siang nanti tutup pendaftarannya." ucap tegas Andra yang tak lain adalah Kakak tiriku.
Dengan berat hati aku memberikan semua berkas-berkas yang Kak Andra minta, meski sudah ada foto copy ijazah yang sudah dilegalisir, Kak Andra tetap Meminta ijazah asli, dengan alasan takut ditanyakan. Dan aku pun memberikan semua yang dimintanya.
Hari hampir malam, tapi Kak Andra belum juga terlihat pulang. Aku masih menunggunya karena ingin memastikan apakah aku masuk diterima atau tidak, karena sekolah yang Kak Andra datangi adalah Aliyah swasta yang cukup difavoritkan.
Menunggu itu memang membosankan, Aku yang sudah merasa lelah akhirnya memutuskan untuk tidur setelah menunggu Kak Andra yang tak kunjung datang.
***
"Dis, maafin Aak ya," ucap Kak Andra, saat menghampiriku yang sedang duduk menonton televisi.
Aku menoleh tak mengerti, maaf untuk apa pikirku, kalau masalah tidak bisa memilih sekolah, ya ... Aku sadar kalau aku tidak membiayai diriku sendiri, jadi maaf untuk apa?.
"Kenapa?" singkatku yang kemudian tetap fokus pada layar televisi.
"Ijazah kamu ilang."
"Kok bisa!" pekikku tak percaya. Dan langsung membalik badan pada Kak Andra.
Kemudian Kak Andra menceritakan kronologi kejadiannya, dari saat pendaftaran yang sedang istirahat, hingga harus menunggu, dan tertidur saat menunggu di mushola sekolahan itu, hingga pulang ke rumah nenek, dan terlupa meninggalkan berkas di mushola saat menunggu jam istirahat guru. Karena tidak sabar Kak Andra memutuskan pulang tanpa melakukan pendaftaran di sana.
Sedih rasanya, tapi entah mengapa hatiku tidak berani menyalahkan Kak Andra, Aku tahu dia sedikit tempramental, dan suka berbuat seenaknya. Aku tidak ingin mencari masalah, jadi ... Aku memilih untuk mengikhlaskan.
Di dalam kamar, Aku menangis tanpa terdengar. Samar-samar Aku mendengar percakapan Kak Andra dengan Abah, yang menceritakan hal serupa. Aku dengar Abah sedikit membentak Kak Andra karena kelalaiannya. Tapi Aku sudah tidak ingin lagi mengingat itu, dan seperti biasa, bila aku sedang marah atau sedih, maka Aku akan menangis mengunci diri di dalam kamar hingga tertidur.
__ADS_1
Ketukan samar Aku dengar, hingga berubah menjadi gedoran yang begitu jelas. Aku beringsut dari tempat tidur, lalu kemudian membuka pintu melihat siapa yang menggedor daun pintu.
Dengan mata yang masih sembab, Aku membuka pintu dengan perlahan.
"Udah sore, Kebiasaan! Mau tidur sampe pagi hah?" ucap Abah, yang ternyata ada di depan kamarku.
Aku membiarkan pertanyaan yang sepertinya memang tak butuh jawaban.
Dengan berjalan gontai, Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi, dan mencuci muka untuk lebih menyegarkan wajahku.
"Besok ijazah'nya dicari lagi sama Andra!" seru Abah dari ruang tamu.
Dan lagi-lagi Aku masih diam, tak menjawab tak menyahut apalagi menanggapi.
*****
"Teh, Gadis ikut kerja deh, bisa nggak?" ucapku pada Kakak perempuanku menjelang tidur.
Aku memang tidur satu kamar dengan Kakak perempuanku, setiap malam sebelum tidur, biasanya kami memang sering bercanda, dan saling melontar ledekan yang unfaedah, tapi itu menyenangkan dan membahagiakan malam kami.
"Kenapa? Bukannya kamu mau jadi pilot becak?" ledeknya sambil terus menertawakan.
"Serius Teh, ijazah Gadis ilang sama Kak Andra, __"
Belum juga selesai kalimat yang coba Kusampaikan, Kak Masitah sudah memotongnya dengan rentetan pertanyaan.
"Kok bisa, gimana kejadiannya, kapan? Bener-bener ya tuh orang!" Sepertinya Kak Masitah sangat marah hanya dengan mendengar kalimat itu saja.
Akhirnya Aku menceritakan semua kejadian, tanpa melebihkan dan mengurangi, anehnya sudah tak ada lagi air mata yang bisa keluar dari manik mataku. Mungkin sudah habis terkuras tadi siang.
"Terus rencana kamu selanjutnya gimana Dis?"
"Gadis mau ikut kerja aja ma Ateh, bisa kan teh?" pintaku.
"Bisa aja sih, tapi beneran gak apa-apa, cita-cita kamu?" Ada raut kekecewaan yang kulihat saat Kakak perempuanku satu-satunya ini berucap.
"Gak apa-apa, kan masih bisa pinjem becak mang Roni buat jadi pilot," Kutambahkan tawa berbalut senyum dalam candaanku kali ini. Karena Aku tahu Kakakku yang satu ini sedang merasa kasihan padaku.
Kak Masitah memukulku dengan guling sebagai protesnya, dan aku melakukan hal serupa hingga kami lelah, dan tertidur lelap.
__ADS_1
*****