Kisah Gadis Biasa

Kisah Gadis Biasa
Sehari Bersama Ardi #part 2


__ADS_3

Kami tidak berhenti di terminal, Ardi menyetop angkot di Jembatan merah, dimana banyak juga yang berhenti di tempat itu, bila ingin melanjutkan berjalan ataupun mencari angkot dengan jurusan lain dengan lebih cepat, biasanya orang-orang akan lebih memilih turun di sini.


Berjalan menyusuri trotoar, lalu menyeberang. Aku terus mengikuti arah langkah Ardi. Sudah dua jalan kami seberangi, dan akhirnya Aku memutuskan bertanya kemana tujuan Ardi sebenarnya.


"Di. Sebenernya kita mau ke mana?"


"Loe cape ya?" Ardi malah mengajukan tanya, karena tanyaku.


"Nggak, cuma ... ya pengen tau aja, kita mau ke mana."


"Kita ke Jalan Pengadilan dulu, lewat taman topi. Gapapa kan?" jawabnya.


"Ya gapapa, ayo!" ajakku untuk melanjutkan langkah.


Langkah pasti itu kami tempuh setelah Aku tahu ke mana tujuan Ardi, melewati para pedagang di pinggir-pinggir trotoar, masjid Agung yang berdiri kokoh di tengah pasar, dan toko-toko yang berjejer rapi, dengan para pelayan yang setia menawarkan barang dagangan mereka pada setiap yang lewat.


kini, kami sudah sampai di Jalan Pengadilan. Tapi Ardi masih saja berjalan, belum menunjukkan akan ke mana Ia singgah. Sampai di depan sebuah toko elektronik, Ia kemudian berbelok memasuki parkirannya.


"Sini dulu sebentar ya, ada alat yang harus Gue pesen," ajaknya sambil kemudian terus melangkah memasuki toko itu.


Aku hanya bisa mengikuti, mengekorinya dari belakang. sampai penghuni toko tersebut menyapa pada Ardi, sepertinya mereka sudah saling mengenal.


"Eh, Di. Kemana aja loe? gaya Loe, pake bawa cewek segala," sapa penghuni toko itu dengan logat orang chines agak cadel-cadel gitu.


Bila dilihat dari wajahnya yang oriental, dan warna kulitnya, sepertinya dia memang seorang Koko-koko.


"Ada aja, Gue sibuk kerja. Owya Gue butuh ini nih," Ardi mengeluarka sesuatu dari kantong celananya.


Dia kemudian langsung menyerahkan benda kecil yang entah apa aku tidak tahu, pada koko-koko itu.


Setelah si Koko memperhatikan benda kecil yang Ardi berikan, dia kemudian berkata, "Nanti Gue kabarin kalo barangnya udah ada."


Si Koko kemudian beralih menoleh padaku, dan menyapaku. "Ceweknya ya?"


Aku tersenyum kecil mendengar pertanyaannya, dan menjawab dengan sopan, "Temen kerja Koh,"

__ADS_1


Selesai dari toko elektronik itu, Ardi masih mengajak aku berjalan lagi, menyusuri Jalan pengadilan, melewati toko-toko dan gedung bertingkat di sisi-sisinya. Saat kami sampai di depan gedung sebuah sekolahan favorit non muslim di daerah itu, Ardi berkata "Loe pantesnya sekolah di sini Dis,"


"RP?" tanyaku.


"Iya!" tegasnya.


"Orang gila Loe! ya kaaali Gue sekolah di sini,"


"Pantes Dis, liat aja. mata Loe sipit, kulit Loe putih, pipi Loe juga cabi-cabi gimana gitu, kek mereka."


"Ngaco!" Hanya kata itu yang keluar saat Ardi menjelaskan definisinya.


Kami berdua saling melempar tawa di sepanjang jalan itu, dengan Ardi yang keukeuh mengatakan kepantasanku bersekolah di sekolahan itu, dan Aku yang keukeuh menolak disamakan dengan orang keturunan.


"Loe kan pinter Dis, Gue yakin Loe bisa masuk situ kalo Loe mau," Ardi masih saja berceloteh dengan candaannya.


"Makin stress Loe!"


"Serius, Dis."


"Gue muslim Di," Dengan mimik wajah seperti bersedih Aku berkata.


"Au ah gelap." Aku menyerah untuk berdebat lagi, bukan hanya karena tidak mampu menjawab. Tapi juga karena kaki mulai merasakan letih akibat berjalan terus.


Saat Aku hendak berjalan menuju zebra cross Ardi menarik pergelangan tanganku. "Mau ke mana?" tanyanya.


"Nyebrang lagi kan?" tanyaku menjawab pertanyaannya.


"Sotoy!" ledeknya.


Aku mengikuti Ardi yang berdiam berdiri di trotoar itu, lalu tak lama kemudian, Ardi memberhentikan sebuah angkutan umum yang melintas. Aku hanya bisa mengikutinya, saat Dia menyuruhku masuk ke angkot tersebut.


Setelah angkot melaju, Aku membuka lagi percakapan dengan Ardi, dengan menanyakan tujuan selanjutnya.


"Kita mau kemana lagi?"

__ADS_1


"Nanti kita istirahat di taman Sempur," jawabnya.


"Laaah ngapain naik angkot? kan tinggal jalan aja ke Jalak Harupat," protesku.


"Gue tau Loe cape ... lagian Gue juga masih ada perlu ke Jambu Dua, baru kita lanjut ke Jalan Padjajaran." terangnya panjang lebar.


"Oh," Hanya itu kata yang meluncur dari bibirku.


Angkot yang kami tumpangi kini sudah berhenti di depan sebuah gedung Mall yang berlogo gambar dua buah jambu di atas gedungnya. Bangunan dengan cat warna pink ini, biasanya memang sering dijadikan tempat nongkrong anak-anak muda. Ada area foodcourt di lantai bawah, dan elektronik serta super market di lantai atas. Di mall ini biasanya orang yang ingin menjual elektronik bekas pakai mereka akan menjual di lantai dasar, sedangkan untuk membeli barang baru, mereka akan lebih memilih untuk mencari di lantai atas.


Ardi terus melangkahkan kakinya membelah parkiran depan gedung, satu persatu anak tangga kami naiki, dan begitu sampai, di situ kami akan disambut oleh beberapa SPG atau SPB dari berbagai produk elektronik terutama yang berhubungan dengan gawai.


Ardi mengajakku berbelok ke arah kanan dari ujung tangga, setelah itu, Dia langsung duduk di depan sebuah counter Handphone. Begitu pelayan counter melihatnya, Ardi langsung dihampiri, dari gaya mereka bersalaman, sepertinya mereka saling kenal, Dan ternyata benar saja, pelayan toko itu adalah temannya.


Setelah memperkenalkanku pada pelayan toko itu, Ardi berceloteh, "Loe kalo mo beli HP sini aja, itu temen Gue, dia pemilik counter ini."


Aku hanya memberikan senyuman lebar, yang rasanya menarik semua pipiku membentuk bulatan, hingga membuat mata sipitku seperti terpejam.


Tidak lama, temannya Ardi itu kembali, Dia memberikan sebuah handphone yang Aku hafal itu milik Ardi. "Thanks ya sob," ucap Ardi kemudian pamit.


"Bae-bae Loe bawa anak orang," ledek temannya sambil terkekeh, sekilas temannya itu juga melirik dan memberi senyuman padaku, yang hanya aku balas dengan sedikit senyum dan anggukan kecil.


Kami melanjutkan perjalanan kami, dan setelah keluar dari gedung, Ardi menyempatkan diri membeli minuman ringan untuk kami. Ia sodorkan botol minuman yang terlihat menggoda dengan bulir-bulir embun di luarnya itu. Dan dengan senang hati Aku menerimanya.


"Kita naik Bus, yuk!" ajaknya sebelum kami melintasi jalan raya dengan garis-garis putih hitam itu, di depan sebuah lampu merah.


"Boleh," jawabku.


Tidak butuh waktu lama, sebuah bus dengan tulisan kopaja akhirnya berhenti dihadapan kami yang sedang berdiri di halte bus tanpa diminta. setelah memberi kesempatan penumpang di dalam untuk turun, kami naik bergantian.


Aku memilih berdiri menemani Ardi, karena hanya ada satu bangku kosong di sana. Akan tetapi, Ardi memaksaku untuk duduk, dan menempati satu bangku kosong tersebut.


Akhirnya Aku menurutinya, dan itu juga adalah kesempatan untukku menenggak minuman yang sedari tadi aku genggam.


"Nih! dulu Gue sekolah di sini," Ucapan Ardi yang tiba-tiba, membuat Aku sedikit kaget dan hampir menumpahkan minuman yang sedang Aku tenggak.

__ADS_1


"Eh sorry, Gue gak liat Loe lagi minum," sesalnya, menyadari keadaanku.


"Gapapa, ooh jadi Loe sekolah di situ," Aku menanggapi ucapannya sambil ekor mataku terfokus pada salah satu gedung sekolah menengah atas yang cukup familiar di telingaku. Ardi kemudian menjawab dengan anggukan.


__ADS_2