Kisah Gadis Biasa

Kisah Gadis Biasa
Kenyataan Pahit Rahma


__ADS_3

Happy Reading


Rahma menarikku ke arah toilet, sesaat setelah aku selesai dengan kegiatan percobaan. Dia masuk, lalu menyuruhku untuk masuk juga ke toilet yang sama.


Setelah aku masuk, Rahma mengunci pintu toilet dengan kasar. Lalu tanpa aku duga, dia membuka kancing baju yang sedang dia pakai.


“Loe liat Zie!” Setengah menangis Rahma menunjukkan area dadanya, yang ternyata penuh dengan kiss mark.


Aku menutup mulutku mendapati kenyataan ini. Merasa tak percaya dengan apa yang sedang aku lihat.


“Loe diem aja? Nggak ngelawan? Nggak nolak?” tanyaku sambil memegangi bahunya.


“Awalnya gue juga nolak! Tapi gue juga gak bisa teriak Zie, gue malu kalo sampe ada yang tau,” lirihnya, tampak menyesal.


Aku mengusap kasar wajahku mendapati kenyataan yang terpampang di hadapan. "Kenapa Ma? Kenapa? kenapa loe bisa kek gini sih!" ucapku penuh penekanan. Antara menahan teriakan dan amarah yang tiba-tiba saja menggelora dan bergumuruh dalam dada.


Rahma mulai menangis, tapi dengan suara yang ditahan. Aku memeluknya dan meminta maaf, aku takut kata-kataku menyakitinya. Aku takut tadi khilaf menjaga perasaannya.


Hidungnya mulai memerah karena terus-terusan digesek oleh tangan, untuk membersihkan cairan bening dari lubang hidung itu, begitu pun dengan matanya. Memerah karena menahan tangis yang tak terbendung.


"Dia ngancem gue, Zie." Perlahan Rahma mulai bisa menstabilkan perasaannya.


"Maksud loe?" Tanda tanya besar begitu saja muncul, saat aku mendengar kata ancaman yang Rahma lontarkan.


"Awalnya ... gue ditarik masuk ke toilet ini sama dia. Mulut gue di bekap! Dia mengisyaratkan gue buat diem, setelah dia lepas tangannya dari mulut gue ... gue bentak dia! bahkan hampir gue tampar. Tapi dia itu cowok! tenaga gue gak bisa ngimbangin kekuatannya." Rahma menjeda ceritanya untuk mengusap cairan dari hidungnya yang kembali merangsek keluar.


"Tangan gue dua-duanya dia cekal ke atas, mulut gue dia bungkam pake mulutnya. Gue kelelahan untuk berontak. Hingga cuma bisa pasrah nerima perlakuan dia. Kalo gue teriak, loe tau dia 'kan? mulutnya pintar memutar balik fakta! Gue takut, malah gue yang dituding yang bukan-bukan." lanjutnya.


"Lalu kenapa berlanjut sampai sekarang? loe jatuh cinta sama dia dengan semua sentuhannya?" tanyaku mengungkap kebingungan.


"Najis!! gue kalo sampe suka sama dia," sarkasnya penuh emosi.


"Lalu?"

__ADS_1


Tanpa menjawab pertanyaan, Rahma langsung mengeluarkan ponselnya. Membuka galeri video pada handphone-nya tersebut. Kemudian menyerahkan padaku untuk kulihat.


Betapa terkejutnya aku, ternyata adegan mesum itu direkam oleh si bajingan Anda, dan inilah yang dia jadikan senjata untuk memaksa Rahma melayani kebejatannya.


"Anj**g!!" teriakku, penuh penekanan. Tapi tetap aku tahan, agar tak ada yang mendengar.


Di video itu, terlihat dengan jelas wajah Rahma, sedangkan si bajingan Anda tidak begitu jelas terlihat, karena sudut pengambilan yang begitu pas. Aku yakin video ini sudah dia edit, bila melihat dari adegan ke adegan.


Kukembalikan ponsel Rahma dengan kasar ke tangannya. Lalu mulai mengatur napas untuk menstabilkan emosiku.


"Kenapa loe gak cerita sama gue Ma?" Aku memeluknya sambil bertanya.


Rahma hanya menangis, tanpa bisa menjawab apa yang kutanyakan. Air mataku pun tak kuasa untuk kubendung.


"Kasih gue waktu untuk cari jalan keluarnya, kita hadapi ini bareng-bareng, ya." hiburku.


Rahma dan aku hanya mengangguk dengan derai air mata mengirungi, dan berdoa dalam hati, semoga Tuhan mau memberi kami jalan untuk keluar dari jerat si bajingan Anda.


"Cuci muka loe dech! jelek banget tau," ledekku untuk sedikit menghiburnya.


Aku memberi dia senyum, kemudian keluar dari toilet dengan hati-hati. Memastikan tidak ada yang melihatku berduaan dengan Rahma di dalam. Bisa berabe kalo ada yang lihat, pasti akan muncul gosip-gosip yang tak sedap.


Untungnya divisi penggorengan memang sedang sepi order, jadi ... sebagian pekerjanya dialihbantukan ke divisi lain. Sehingga tinggal tersisa Rahma dan satu operator penggorengan di sana. Si operator pun sedang membantu melansir barang ke lantai atas.


"Pulang bareng ya, Ma. Gue gak lama kok, percobaan kayaknya cuma ini aja. Gue usahain bikin laporan secepat mungkin," Rahma mengangguk, menanggapi omonganku. Masih ada raut kesedihan di wajahnya.


Aku mengerti, pasti sulit menjadi dia saat ini. Di satu sisi dia pasti tidak ingin dikeluarkan dari perusahaan gara-gara rumor perselingkuhannya. Bila video itu tersebar. Di sisi lain, hati nuraninya menolak karena norma yang masih dia pegang.


Aku meninggalkan Rahma dengan penuh rasa was-was, karena dia kini sendirian. Tapi penjelasannya yang mengatakan si bajingan Anda tidak akan kembali setelah tadi berhasil memaksa dia kembali, membuat aku sedikit lega. Meski tak menghilangkan kekhawatiranku.


Sambil berjalan, aku terus berpikir bagaimana cara untuk menyelesaikan masalah ini. Otakku seakan mati, tak bisa berpikir. Karena masih sangat terselimuti oleh amarah yang berkumpul di dada dan kepala.


Aku yang sudah duduk di ruanganku, masih dengan pikiran yang melayang entah kemana. Sampai-sampai, saat bu Lia memanggil dengan mengetuk-ketuk kaca jendela itu, aku tidak mendengarnya.

__ADS_1


"Dek! kok bengong?" Bu Lia yang kini ada di depanku, membuat aku sedikit terperanjat.


Aku sampai tidak menyadari kedatangan bu Lia ke ruangan. Karena pikiranku masih berkelana untuk mencari cara, membebaskan Rahma dari si bajingan Anda.


"Eh, Bu. Maaf ... aduuuh Ibu udah lama di sini?"


"Baru kok. Tadi aku panggil-panggil kamu diem aja, kalo terus-terus di ketuk, bisa pecah tu kaca," celoteh bu Lia.


"Bisa aja si Ibu. Owya ... ini hasil percobaan tadi, kalo menurut aku sih nggak cocok. Tapi Ibu ajuin aja dulu, siapa tau selera boss beda 'kan?" Aku mencoba untuk bersikap biasa saja.


"Oke! Makasih ya Dek, catatan kemaren?"


"O iya! ini Bu. Hampir lupa, maaf ya," Aku mengambil catatan dari laci mejaku, dan menyerahkannya pada bu Lia.


"No problem, thanks ya Dek," Bu lia segera meninggalkan ruanganku setelah mendapatkan tujuannya.


Sedangkan aku, kembali berkutat dengan pikiran ruwet yang berhasil mengacak-acak emosiku hari ini.


bersambung dulu ya ... 😊


Hey hey hey ... ada yang mau ikut giveaway?


kuy kuy kuy .... caranya gampang banget.


tinggal komentar di tiap Bab Novel Sang Pewaris karya Kak Yoemi.


Ada total 5 buku yang bisa didapet.


2buku untuk 2 voter tertinggi (masing² 1 ya)


3buku untuk 3 komen paling kece (masing² 1)


Tunggu apa lagi ... kuy disambangi ceritanya.

__ADS_1



__ADS_2