Kisah Gadis Biasa

Kisah Gadis Biasa
Gusti Merajuk


__ADS_3

Happy Reading


"Bagaimana rasa makanannya?" tanya Rama, yang tiba-tiba muncul di hadapan kami.


"Enak bangeeet," ucapku yang bebarengan dengan jawaban Gusti, yang mengatakan "Biasa aja!"


Aku memukul ringan bahu Gusti, karena bersikap kurang sopan menurutku.


"Apa sih Dis!? Gue kan cuma jujur, buat gue ini biasa aja," ceplosnya.


"Gak apa-apa Dis, selera orang kan emang beda-beda. Justru, itu bikin gue lebih semangat memperbaiki kualitas rasa di warung gue ini." Rama sungguh sabar menghadapi kejutekan Gusti yang menurutku tak beralasan.


"Sorry ya, gue juga baru kenal sama ni orang," ucapku dengan menangkupkan kedua tangan di depan dada. Diiringi sungging senyum tentunya.


"Its oke! o iya, ada yang mau dipesan lagi?" Rama menawarkan.


"Gue cukup, enggak tau tuh kalau dia." Aku menunjuk Gusti dengan mataku.


"Gue juga udah! Yuk!" Gusti merapikan dirinya untuk segera bangkit.


Rama mencoba menawarkan beberapa minuman andalan di tempatnya. Tapi, karena aku memang sudah merasa kenyang aku menolak semua yang ditawarkan. Apalagi Gusti, dia sama sekali tidak menunjukkan ketertarikannya pada apa yang Rama tawarkan.


"Lain kali gue balik lagi ke sini, gue bawa temen-temen gue yang lain, janji!" Aku menepuk pundak Rama dan berniat menuju kasir untuk membayar apa yang tadi telah kami pesan.


"Kunjungan pertama buat loe semua gratis!" ujar Rama. Yang membuat aku seketika membalik badan.


"Eh! gak bisa gitu, mana boleh?" elakku.


"Ya boleh aja, ini kan tempat gue, tenang aja Dis. Gue gakkan bangkrut cuma gara-gara gratisin makanan tadi. Anggap aja jatah promo, loe mau ajak temen-temen loe ke sini kan?" kata Rama, dengan entengnya.


"Serius ini?" tanyaku meyakinkan. Yang dijawab anggukan berbalut senyum oleh Rama.


"Thanks banget loh!" Aku menjabat tangannya untuk pamit.


"Gue yang makasih, thanks dah mau mampir. Jangan kapok!" Rama menarik sedikit badanku hingga mendekat. Dan, mengucapkan 'Jangan kapok' dengan sedikit berbisik.


Akhirnya aku berpamitan dan tak lupa kuberikan jempol untuk bisikannya barusan. Pikirku, mana mungkin aku kapok. Makanannya enak, tempatnya nyaman, dan pelayanannya juga ramah.

__ADS_1


Aku mendekati Gusti yang sedari tadi menunggu dengan wajah kesal sepertinya. Garis-garis kekesalan itu tergambar jelas dari mukanya yang kulihat saat ini.


"Bye Ram!" Aku sempatkan untuk melambai tangan pada Rama.


"Yuk Gus!" ajakku pada Gusti.


"Gas, gus, gas, gus, emang gue permen sugus?" gumamnya yang masih dapat kudengar.


"Dih! Kok nyolot...? Terus gue harus manggil apa? Ti!?" Aku melirik jengah dengan sikapnya.


Di dalam mobil, aku tidak banyak bicara. Aku takut menyinggung perasaan Gusti. Yang sepertinya mood dia sedang tidak baik.


Tapi saat di pertigaan lampu merah, Gusti tidak membelokkan arah laju mobilnya. Ia malah lurus menuju kota kembali.


"Loe mau bawa gue ke mana?"


"Cari tempat ngopi!"


"Tadi kan loe ditawari di tempat Rama."


"Males banget gue ngopi di sana! Pasti rasanya gak enak!"


"Pokoknya loe masih punya hutang!"


"Hutang apalagi? Kan barusan udah gue ajak makan," elakku.


"Eits! Gak bisa, yang barusan kan digratisin sama si Ram ... Rambu!"


"Tapi kan itu juga karena gue yang beli! Makanya digratisin. Kalo loe yang beli sendiri, pasti bayar 'kan?" belaku lagi.


"Pokoknya loe masih punya hutang, titik!"


Aku menghidu napas panjang dan mengembusnya dengan kasar. Apa sih maunya orang ini? pikirku. Tapi, aku juga tidak bisa berbuat banyak. Rasanya ... seperti menghadapi anak kecil yang sedang merajuk. Sungguh menjajal kesabaran.


Cukup lama Gusti membawaku menyusuri jalanan aspal di kota Bogor. Kota dengan julukan Kota Sejuta Angkot selain Kota Hujan ini, sudah biasa bila jalanannya macet. Apalagi oleh angkot-angkot yang kadang berhenti sembarangan.


"Mau ke mana sih sebenarnya?" tanyaku jengah.

__ADS_1


"Gak tau ...."


"Astaga Gustiiiii! Aku pikir kamu ... aah!" Aku dibuat frustrasi oleh jawabannya.


"Ya udah, kamu yang tentuin dech. Kan kamu yang mau traktir."


"Ck! Ini tuh udah siang loh Gus. Kamu sadar gak sih? Dari tadi kita macet-macetan dan loe bilang gak tau mau ke mana, o my God ...." Aku menepuk keningku dengan kelakuannya.


"Sorry ...." katany kemudian.


"Oke! Loe pengen ngopi kan? Setelah lampu merah ini, loe belok kiri nanti ikutin aja jalannya. kita ke Surabi Teras aja."


"O iya! Kenapa gak kepikiran ya?"


"Lama-lama loe kayak si Tisna TOP tau gak? hahaha ...." Aku meledeknya dengan tawa yang cukup puas.


"Bukan gitu ... di daerah sini, 'kan banyak banget kafe. Jadi ... agak bingung nentuin mau ke mana."


Akhirnya kami sampai di tempat yang kami tuju. Gerbang besar berwarna orange menjadi ciri khas dari tempat ini. Ya, dulu kafe ini bernama The Orange entah mengapa mereka mengubahnya menjadi Surabi Teras.


Di tempat ini, menurutku bukan makanannya yang membuat aku ingin kembali berkunjung. Akan tetapi, lebih ke suasananya. Sepeda-sepeda antik yang terpajang, live music yang enak didengar, juga suasana taman bermain yang ramah anak, dan tentu saja gazebo-gazebo yang bebas bisa kita pilih saat ingin bersantai dengan sahabat-sahabat bahkan keluarga. Banyak pula spot foto yang instagramable di sana. Area rooftop pun tak kalah menarik untuk dijadikan pilihan tempat nongkrong yang asik bagi kaum muda mudi sepertiku.


Pelayan cantik dengan rok pendek di atas lutut itu, mendekati kami yang sudah duduk di tempat yang kami pilih. Dia mulai menyapa dan menyodorkan menu yang terlihat seperti kartu undangan berwarna hitam. Warna yang serasi dengan seragam yang digunakannya.


Senyum ramah dari paras yang cantik itu, membuat aku betah memandangnya lama-lama. Apalagi cowok-cowok, mungkin lebih dari perasaan nyaman bila menemukan yang bening-bening seperti ini, pikirku.


Setelah selesai memesan, aku sempatkan bertanya pada Gusti. Mengapa sikapnya menyebalkan saat tadi bersama Rama. momen menunggu pesanan pun aku jadikan kesempatan untuk mengetahui mengapa sikapnya demikian.


Mengejutkan. Karena dia berpikir, Rama adalah mantan kekasihku yang mencoba untuk kembali dekat. Dia mengira seperti itu karena, begitu lembutnya Rama memperlakukanku. Dan, begitu baiknya Rama padaku.


Kini, Gusti malah balik bertanya. Tentang siapa Rama, hubunganku dengannya, sejauh apa aku mengenalnya, dan sedekat apa aku dengannya dulu.


"OMG Gusti, Rama itu ...."


💞💞💕💕💞


Hai-hai kesayangan. Maaaaaf banget baru bisa up. Up kali pertama di awal tahun 2022.

__ADS_1


love u all 😘❤


__ADS_2