
Happy reading ....
Ternyata kedekatan Kak Masitah dengan kepala bagiannya, membuat tak butuh waktu lama untukku bisa diterima di pabrik tempat Kak Masitah bekerja.
Malam berikutnya, Kak Masitah memberi kabar, supaya Aku ikut hari senin nanti untuk langsung bekerja. Dan Aku meyakinkan diri untuk benar-benar siap untuk bekerja.
******
Senin yang dinanti akhirnya tiba, hatiku sedikit berdebar, saat pertama kali memasuki gerbang tinggi pabrik yang akan menjadi tempatku bekerja nanti.
Karena aku adalah anak baru, maka Aku harus menunggu bersama yang lain yang juga baru masuk hari itu.
Pos satpam menjadi tempat kami berdiam sebelum kami antri menunggu panggilan untuk diwawancara oleh HRD, sebelum akhirnya nanti benar-benar masuk ruang produksi untuk mulai bekerja.
Satu persatu dari kami dipanggil untuk menghadap ke ruang HRD, dan tibalah giliranku. Di sana Aku ditanyai segala hal, dan menyangkut umur serta KTP yang belum kumiliki. Aku jawab semuanya dengan jujur, dan juga alasanku ingin bekerja di usia dini.
Setelah sesi wawancara selesai, Aku diantar ke ruang produksi, lalu diberitahu apa-apa saja tugas yang harus kukerjakan.
Dari beberapa anak baru yang datang hari ini, dibagi menjadi beberapa kelompok. Dan aku ditempatkan di bagian bumbu-bumbu.
Beberapa senior mengajakku berkenalan, dan saat aku menyebutkan nama Kak Masitah, mereka terlihat begitu ramah, dan ada yang berkata, "Oooh ini adiknya Teh Boni," selorohnya.
"Iya," anggukku dengan senyuman.
Mereka sangat ramah padaku, begitu baik menerima dan mengajarkanku. Hatiku bersyukur, karena hidupku tak perlu seperti drama sinetron-sinetron, yang biasanya menemukan tokoh antagonis diawal tempat bekerja.
Rasa lelah Aku nikmati, dan berbagai bau-bauan yang menyengat pun Aku coba nikmati.
******
Seminggu, dua minggu hari-hariku berjalan seperti di eskalator yang berlawanan, lama! Ya, terasa sangat lamban waktu yang kulalui, dan sering kali aku mengeluh, padahal bila dibanding Kak Masitah, yang sudah bekerja dalam shift malam dan siang, mungkin aku lebih beruntung.
Aku sering kali mengeluh pada Umi, bahwa bekerja itu cape, melelahkan dan membosankan. Mungkin karena memang masaku seharusnya masih mengejar pendidikan di bangku sekolah. Tapi Aku melewatkannya dengan bekerja.
Suatu hari, Kak Masitah mendengar aku mengeluh kembali, saat Aku bercerita pada Umi betapa membosankannya bekerja. Entah karena mood nya sedang tidak baik, atau karena apa Aku pun tak mengerti, Kak Masitah memarahiku, dan menyarankanku untuk berhenti, bila bekerja hanya menjadikanku seorang pengeluh katanya.
Sejak saat itu, Aku berhenti mengeluh dan berusaha menerima takdir, dan menjalani apa yang sudah Aku pilih.
__ADS_1
Rasa syukurku bertambah, saat suatu waktu, aku berkenalan dengan anak shift malam bernama novi, tubuhnya bongsor untuk anak seusianya, sampai-sampai Aku berpikir dia lebih tua dari Aku.
Setelah berkenalan dan berbincang banyak, aku mengetahui bahwa dia ternyata masih sekolah di bangku SMP. Karena itu, dia hanya bekerja pada shift malam. Dan pulang pagi untuk segera pergi sekolah.
Kekagumanku muncul, pada manusia-manusia yang mau berjuang demi cita-cita, dan Aku memilih menjalani takdirku dengan menerimanya secara lapang dada, setidaknya, Aku sudah pernah merasakan lulus sekolah dari tingkat pertama.
*****
Hari-hari berikutnya, Aku benar-benar menjalani pekerjaanku dengan suka cita, tak ada lagi lelah, dan keluh kesah yang kurasakan. Bahkan Aku senantiasa bernyanyi sepanjang waktu sambil menjalani hari-hari kerjaku.
Hingga Aku memiliki teman dekat, dan orang-orang yang sayang padaku pun bertambah di tempat Aku bekerja kini.
Sebagai anak baru, beberapa pekerjaan lain sudah pernah Aku rasakan, dipindah dari satu divisi ke divisi lain, membuat pengalamanku bertambah, dan juga teman-temanku pun bertambah. Hingga akhirnya aku ditempatkan pada divisi penggorengan, dimana kebanyakan dari pekerjanya adalah laki-laki.
Karena Aku pernah ditempatkan pula di sini, saat menghadapi kompor dan penggorengan-penggorengan raksasa, sudah tidak membuat aku kaget atau canggung, bahkan Aku terkesan menyukainya, karena Aku memang suka tantangan.
Jiwa kepoku, membuat aku mudah memahami bagaimana semua mesin-mesin raksasa ini bekerja. Dan dalam waktu sekejap Aku bahkan bisa mengoperasikannya.
Walaupun tugasku bukan di penggorengan-penggorengan raksasa itu, tapi Aku kerap kali menggantikan operator yang sedang istirahat saat kami mengejar target produksi yang lumayan banyak.
Tapi karena kepandaianku mengoperasikan penggorengan-penggorengan raksasa itu, kepala seksi yang bertugas di divisiku, kadang mempercayakan penggorengan tak bertuan padaku, untuk membantu mencapai target produksi.
Pekerja-pekerja di sini cukup menawan bila mungkin aku melihatnya dari sisi wanitaku, tapi karena mereka tahu aku masih muda dan sangat polos, mereka semua menganggap aku adik kecil mereka.
Suatu hari, Aku menangkap pembicaraan seseorang tentang salah satu pekerja paling menarik mungkin untuk mereka, Kak Aris aku menyebutnya, Mereka membicarakan betapa playboynya Kak Aris. Sampai-sampai wanita manapun bisa dia pacari.
Dan dengan polosnya, Aku menanyakan perihal itu pada Kak Aris.
"Kak, emang bener Kakak playboy?"
"Siapa yang bilang?"
"Aku tadi denger kata orang-orang Kakak playboy."
"Kakak itu bukan playboy, cuma gak tegaan! Mereka ... cewek-cewek yang pada pengen Kakak pacarin, tau kalo Kakak udah punya pacar," Kak Aris berhenti bicara untuk menenggak segelas air yang baru saja dia tuang ke dalam gelasnya.
"Tapi mereka tetep maksa, terus Kakak harus gimana? Kan kasian kalo mereka sampe nangis-nangis." Lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Iiiih itu mah namanya playboy Kak! Masa semua cewek yang pengen jadi pacar dipacarin?"
"Laaah salah Kakak di mana? Kan mereka yang pengen."
"Kan bisa nolak Kak!"
"Dibilangin, Kakak itu gak tegaan," dengan senyum nakalnya Kak Aris menjawab sambil mengacak-acak rambutku yang rapi terkuncir.
Kucebikkan bibirku ke arah wajahnya, dan berlalu meninggalkan Kak Aris yang masih menampung air di sebuah teko.
Saat aku kembali ke tempat kerjaku, aku lihat teman-teman yang lain sedang asyik dan heboh entah membicarakan siapa. Saat ini kami memang baru masuk, senin pertama biasanya belum ada pekerjaan yang bisa kami lakukan, sampai penggorengan raksasa itu beroperasi.
"Zie, udah liat anak baru belum? Ganteng banget tau, mirip vokalis band terkenal itu," Seorang sahabat dekatku bertanya penuh antusias.
"Belum," ucapku datar.
"O iya, kenapa sih manggil gue Zie mulu? Kan nama gue Gadis," protesku padanya, yang selalu memanggil aku dengan sebutan Zie.
"Loe mirip ma temen gue si Zie." jawab Rahma sambil berlalu meninggalkanku.
Panggilan Zie dari sahabatku ini menular pada yang lain, meski saat aku berkenalan dengan mereka nama Gadis yang kusebut, tetap saja nama Zie yang keluar saat mereka memanggilku.
Anak baru yang tadi dibicarakan, ternyata ditempatkan satu divisi dengan kami. Namanya Ardi, orangnya tinggi kurus, dan lumayan laaah. Entah kenapa belum ada laki-laki yang aku anggap berwajah luar biasa, semuanya bagiku ternilai rata-rata. Dan tak disangka pula aku begitu mudah berteman dan akrab dengannya. Bahkan dia tak segan memperlihatkan kekonyolannya padaku.
Saat shift malam, tak jarang di jam-jam dini hari, juniornya berdiri tegak. Dan karena dia kerap menggunakan celana gombrang, membuat tegaknya si junior benar-benar terlihat.
Dan konyolnya, Ardi kerap kali menggodaku saat juniornya itu berdiri, dengan santainya dia jinjing katok celananya, dan berlari mengejarku sambil berteriak-teriak.
"Zie, ini gimana Zie ...?"
Kelakuan konyol Ardi kerap membuat aku lari tunggang langgang, dan membuat semua tertawa melihat aku yang ketakutan. Dan tak jarang pula Ardi mendapat pukulan dari emak-emak pejuang rupiah yang sudah seperti orang tua sendiri bagi kami.
Yaaah itulah canda tua ....
Aku yang masih di bawah umur harus berjuang dan bergaul dengan mereka yang memang lebih dulu menjadi pejuang rupiah untuk keluarganya. Tapi Aku kali ini menjalaninya dengan ikhlas, hingga semua terlalui dengan begitu menyenangkan.
Aku menyaksikan Ardi dari pertama kali datang, menjadi idola hingga berpacaran dan putus lagi putus lagi, Pertemanan kami, aku rasa sempurna.
__ADS_1