Kisah Gadis Biasa

Kisah Gadis Biasa
Kabar Dari Aji


__ADS_3

"Aji ... Vietnam?" gumamku dalam hati.


Aku tertegun sejenak membaca nama si pengirim surat, dan dari mana surat itu berasal. Sampai-sampai, Mbak Sri meneriaki aku yang seakan terhipnotis membaca sampul dari amplop itu.


"Wooyyy!! Dari siapa?" sentak Mbak Sri membuyarkan lamunanku.


"Eh! Anu, itu apa? dari temen Mbak," jawabku terbata.


"Temen apa temen?" selidiknya.


"Temen Mbak, dulu kerja di pabrik lama, tapi dia gak ikut pindah ke sini. Soalnya, dia di bawa ke Vietnam sama pemilik pabrik yang lama," terangku.


"O ...." Hanya itu yang Mbak Sri ucapkan.


"Masih ada lagi Mbak selain ini?" tanyaku.


"Gak ada, cuma surat itu doank yang aku terima," Mbak Sri ternyata salah paham dengan tanyaku.


"Maksudku, Mbak ada perintah atau kepentingan lain gak selain surat ini?" Aku menjelaskan maksud dari tanyaku.


"O ... nggak! kamu bisa lanjutkan kerjaan kamu dek," Mbak Sri mempersilakan aku untuk kembali ke ruangan Bu Lia.


Sebelum kembali ke ruangan Bu Lia, aku taruh dulu amplop berwarna biru itu ke dalam laci meja kerjaku. Aku berniat membacanya nanti saat jam istirahat. Sebenarnya hati ini merasa penasaran dan sangat ingin sekali membaca isi surat itu, saat ini juga. Akan tetapi, aku sadar ini adalah waktunya untuk bekerja. Oleh karena itu, aku menundanya hingga waktu istirahat tiba.


"Udah selesai teh? disuruh apa?" Melati memberondongku dengan pertanyaan.


"Udah, ngga disuruh apa-apa kok. Cuma ...." Aku memotong ucapanku dan tak melanjutkannya. Aku pikir, aku tidak perlu menjelaskan apa pun pada Melati.


"Cuma apa teh?" Melati sepertinya penasaran dengan lanjutan dari kata-kataku.


"Cuma kangen si Mbak sama aku," Aku berkelakar untuk menyudahi pertanyaan Melati.


"Idiiih si teteh! PDOD," ledeknya padaku.


"PD dooong," sambil memiringkan kepalaku aku menggoda Melati dengan senyum termanis.


"Emang teteh ngerti PDOD apaan?" Melati mencibir kata, sepertinya ... dia menganggap aku tidak tahu apa arti PDOD.


"Ngertilaaaaah, percaya diri over dossis kan?" jawabku, dengan penuh percaya diri.


"Eeeeh pinter!" kata Melati.


"Kalau gak pinter, bukan Gadis namanya." Aku sedikit berkelakar, penuh percaya diri.


Kami tertawa dengan candaan receh itu, lalu kembali melanjutkan pembahasan tentang percobaan. Melati anak yang cukup pintar, karena tidak butuh waktu lama, saat aku menguji ingatannya untuk membedakan masing-masing bahan yang sudah aku jelaskan, dengan cepat dia bisa menjawab dan membedakannya meski dalam bentuk yang serupa.

__ADS_1


Jam istirahat pun telah tiba, aku menemani kembali Melati untuk istirahat bersama. Setelah selesai makan, Melati bertanya padaku, matanya tertuju pada amplop berwarna biru yang kupegang bersama handphone,


"Itu surat?" Aku mengangguk mengiyakan.


"Surat dari siapa buat siapa?" tanyanya lagi lebih mendetail.


"Dari temen, buat aku. Tadi Mbak Sri yang kasih, katanya dari resepsionis," Aku jelaskan apa adanya.


"Cie teteh, katanya gak punya pacar, kok surat-suratan?" Melati menggodaku.


"Pacar dari Hongkong! kan aku bilang dari temen," Aku menjelaskan ulang perkataanku.


"Temen mana ada yang surat-suratan? Hari gini? kalau bukan pacar ... berarti calon pacar nih!" Melati masih saja menggodaku.


"Apaan sih? Mushola yuk! udah kan makannya?" Aku mengajak Melati ke Mushola untuk beristirahat di sana.


"Ke dalem?" tanyanya.


"Ke depan, deket ruang locker."


"Emang ada mushola di luar? kemaren kok gak dikasih tau!" Melati bertanya, karena memang aku belum menunjukkan padanya mushola luar itu.


"Ada! Tapi kan gak ada hubungannya sama kerjaan kamu, makanya gak aku tunjukkin," terangku. "Ayo!" Aku kemudian bangkit dan mengajaknya ke tempat yang kusebut.


"Ini teh?" tanya Melati yang kujawab dengan angguk kecil dan senyuman.


"Iya! soalnya emang jarang yang ke sini. Aku sering istirahat di sini, bisa tiduran, sepi lagi!" jelasku.


"Kalo ke sini tiduran doank?" tanya Melati kembali.


"Ya enggak laaaah, habis shalat baru aku tiduran. O iya kamu kalau mau shalat pake mukenaku aja, itu! Aku taruh di sana." Aku menunjuk lemari kecil yang ada di sudut ruang.


"Aku lagi cuti teh, lagi gak shalat!" katanya.


"Ya udah, kalau mau tidur, tidur aja. Nanti aku bangunin," ucapku sambil menyodorkan kain yang sudah terlipat untuk dijadikan bantalan.


"Teteh?"


"Aku gak ngantuk, udah tidur aja."


Melati pun mencari posisi untuk menyamankan tubuhnya. Sedangkan aku, aku mulai membuka amplop berwarna biru itu.


^^^^^^Dear Gadis ....^^^^^^


Assalamualaikum ....

__ADS_1


Aku harap surat ini sampai padamu, karena aku tidak tahu lagi harus bagaimana cara menghubungimu, Dis ... boleh aku tetap memanggilmu Cina? aku suka, saat aku menyebutmu dengan sebutan itu.


Cina! kamu apa kabar? boleh gak aku kangen? beberapa tahun di sini tetap saja aku sering inget kamu, apalagi saat aku melihat mata orang-orang di sini, sipit! kayak kamu, tapi ... mereka tidak secantik kamu. Gadis-gadis di sini memang sipit-sipit, tapi entah mengapa cuma sipitnya kamu yang selalu terbayang di pelupuk mataku.


Cina ... aku merindukan kamu, melihat kamu tersenyum dengan lesung pipitmu, dan mendengar suara indahmu. Kamu masih suka bekerja sambil nyanyi-nyanyi?


Maafkan perasaanku, aku tidak bisa membendungnya lagi. Aku mencintaimu saat pertama kali aku melihatmu, aku mencintaimu saat pertama kali kulihat senyummu, aku mencintaimu saat pertama kali kudengar senandung suara merdumu. Sampai-sampai, aku tidak tahu sejak kapan aku benar-benar jatuh cinta padamu.


Hari ini aku beranikan diri mengirim coretan hatiku padamu. Aku meminta alamat perusahaan lama yang sudah pindah pada bossku, semoga surat ini benar-benar sampai padamu yang kutuju dan tidak kembali padaku karena kamu sudah tak di sana lagi.


Cina ... sekarang pasti kamu sudah lebih dewasa, aku membayangkan dirimu lebih cantik dari sebelum kita berpisah.


O iya, aku juga mau minta maaf, karena saat aku mengundurkan diri dan berpamitan, aku tidak mencarimu atau menunggumu, aku diburu waktu ketika itu. Karena hari itu juga, aku harus berangkat ke bandara menuju Vietnam.


Vietnam, kini menjadi tempatku mencari nafkah. Seandainya kamu bersedia ... maukah menemaniku di sini? aku menunggu jawabanmu. Tidak perlu mengirim surat untuk membalas surat ini. Aku akan berikan nomer handphoneku agar bisa kamu hubungi.


Cina ... aku berharap secepatnya kamu bisa menghubungiku dan memberi jawaban atas resahku selama beberapa tahun terakhir ini.


Aku mencintaimu, dan berharap sama atas rasamu. Aku ingin memilikimu dan hidup bersama selamanya denganmu.


Cina ... I Love U


I Love U so much ...


Cuma itu yang ingin kusampaikan dalam coretan ini, aku mencintaimu dengan sepenuh rasaku. Dan, berharap kau juga memiliki rasa yang sama pada diri yang merindu ini.


ini nomer handphone yang bisa kamu hubungi untuk tetap bisa berkomunikasi denganku, seandainya kamu mau menyimpannya dalam daftar kontak di handphonemu. Sebenarnya ... itu lebih jadi harapanku saat ini.


segera hubungi aku ya ... di sini +8475947881


Wassalamualaikum


^^^Aku yang merindumu^^^


^^^"Aji"^^^


Entah mengapa, ada bulir bening yang menyembul di sudut mataku. Aji yang selama ini tidak pernah kutahu bagaimana kabarnya, tiba-tiba memberi kabar dengan ungkapan rasa cinta yang dia pendam.


Aku tidak tahu harus bagaimana saat ini. Kulipat kembali kertas yang baru saja kubaca, dan kumasukan pada amplop berwarna biru itu.


Segera aku bangkit dan melangkah masuk ke dalam toilet. Aku harus menenangkan diri dengan doa, untuk bisa mencerna semua isi surat itu. Jujur aku bahagia, tapi ... aku kira cinta tidak akan semudah itu.


πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Oke! kiraΒ² bagaimana kelanjutan hubungan mereka ya? kita lihat aja di next episode.

__ADS_1


Masih rasa terima kasih dariku untuk yang masih setia dengan like komen dan votenya di cerita receh ini.


Love u all 😘❀


__ADS_2