Kisah Gadis Biasa

Kisah Gadis Biasa
Anak Baru


__ADS_3

Happy Reading


Alarm berbunyi nyaring, membuat tidur pulasku terusik. Pukul 10.20 tampil di layar jam alarm berbentuk kodok itu. Artinya aku baru tidur selama dua jam lebih sedikit, mulut ini masih menguap dan mata rasanya sulit untuk dibuka. Tapi tetap harus kupaksa! Karena sebentar lagi, aku harus masuk untuk kembali bekerja.


Garukan di kepala menandakan aku masih sangat malas untuk beranjak. Meski begitu, aku tetap berjalan menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri. Guyuran rintik air dari sower membuat tubuhku sedikit menggigil, segera kuselesaikan acara mandiku dengan cepat.


Setelah aku selesai memakai baju, aku melangkah ke luar kamar untuk menuju dapur. Mengintip ada apa di meja makan Alexa, yang bisa mengganjal perutku yang mulai keroncongan.


Setangkup roti dengan pasta coklat, sedang aku lahap dengan cepat. Aku tahu waktuku tidak banyak, oleh karena itu seminimal mungkin aku menggunakan peralatan makan. susu cair dalam lemari pendingin pun sengaja kuambil kotak yang ukuran kecil. Hingga tak memerlukan gelas untuk meminumnya.


Sambil menyeruput susu rasa coklat di tanganku, aku bergegas keluar dari rumah. Membuka gerbang dan kemudian menyalakan motor matic milik Alexa. Tak lupa menutup kembali gerbang dan menguncinya.


Meski jarak rumah Alexa dengan pabrik bisa ditempuh dengan cepat. Namun, aku memilih melajukan kendaraan dengan kecepatan yang lumayan. Sepuluh menit waktu tersisa saat aku mulai berangkat dari rumah Alexa. Saat aku sampai, masih ada waktu tujuh menit, dari waktu seharusnya.


Teet ... suara mesin time card berbunyi, saat aku memasukan kartu id-ku. Kemudian aku langsung melangkah masuk, aku memilih berjalan di belakang mesin-mesin packing yang berderet rapi di sisian. Karena tak ingin menjadi pusat perhatian, aku melangkah sedikit cepat. Guna menghindari pandangan para karyawan lain, yang sedang bekerja.


Ketika sampai di ruangan, aku langsung menuju ruang KaBag untuk memastikan apa yang harus aku lakukan? sampai-sampai harus masuk di jam kerja yang tak normal.


Tok ... tok ... tok ....


pintu yang bagian atasnya berbahan kaca itu aku ketuk dengan pelan.


Mbak Sri aku memanggilnya, KaBag-ku itu menoleh padaku, lalu melambaikan tangannya mempersilakan aku untuk masuk.


"Siang Mbak ...." sapaku. Aku langsung duduk di kursi yang berada tepat depan meja kerjanya.


"Masih ngantuk?" tanyanya.


"Lumayan Mbak, banget!" Aku menjawab tanyanya dengan diiringi kekehan ringan.


"Kamu tau gak kenapa disuruh masuk jam segini?"


"Ya nggak tau Mbak! orang belum dikasih tau kok."


"Kamu langsung aja ke ruangan Bu Lia. Dia yang minta izin buat minjem kamu," Tanpa menghentikan tangannya yang sibuk mengisi form kertas di mejanya, Mbak Sri berucap.


"Mau ngapain sih Mbak?" tanyaku penuh selidik.

__ADS_1


"Ya tanya aja nanti sendiri," katanya. Kemudian berucap kembali, "O iya Dek! nanti kalau keluar, panggilin Ami ya?"


Aku mengangkat jempolku sebelum akhirnya keluar meninggalkan ruangan Mbak Sri. Puncuk dicinta ulam pun tiba. Saat aku hendak ke luar membuka pintu untuk, Ami datang dengan membawa sampel untuk dicek.


Sebelum melanjutkan mendatangi bu Lia, aku sempatkan untuk menyampaikan pesan Mbak, Sri kepala bagianku.


"Mi, dipanggil si Mbak tuh ke ruangan," cetusku.


"Ngapain teh?" tanyanya penuh selidik.


"Nggak tau, coba aja sana. Nggak bilang soalnya, aku cuma dimintai tolong buat manggil doang," jelasku.


"O ... oke! makasih ya teh," Ami kemudian masuk ke ruangan, dan bersamaan dengan itu, aku juga masuk ke ruang bu Lia.


Aku langsung menerobos masuk tanpa meminta izin lagi sebelumnya. Karena bu Lia sudah melihatku, dan sepertinya memanggilku dengan bahasa tubuhnya. Yang sangat aku mengerti.


"Duduk dek," pinta bu Lia saat aku telah masuk ke dalam ruangannya.


"Mel! sini Mel," teriak bu Lia kemudian.


Lalu muncul seorang gadis cantik, dari ruang praktik bu Lia yang terdapat di belakang tempat kerjanya. Dia tersenyum padaku dan aku balas dengan senyum ramah yang sama.


"Melati," Gadis itu memperkenalkan dirinya padaku. Mengulurkan tangan, yang segera kusambut dan kujabat.


"Gadis," ucapku dengan iringan senyum.


"Ibu emang mau ke mana? kok aku yang ajarin?" Aku tanyakan keingintahuanku, tanpa basa-basi dan ragu.


"Big boss ngajak aku ke Jepang buat cari referensi produk," jawab bu Lia.


"Berapa hari Bu? terus aku sampai kapan ngajarinnya? Risa gimana? masa aku tinggal sendiri, aku masuk jam berapa ini tiap harinya?" rentetan pertanyaan lalu keluar begitu saja dari mulutku.


"Banyak amat nanyanya?" Bu Lia sambil mengeluarkan sesuatu, dari lacinya.


"Sampe bingung harus jawab yang mana dulu," imbuhnya kemudian.


Aku cuma nyengir dengan tanggapan bu Lia. Sedangkan gadis yang tadi memperkenalkan diri sebagai Melati, masih setia berdiri di samping meja yang berada di depanku ini.

__ADS_1


"Duduk Dek," tawarku pada Melati. Sambil menyerak kursi kosong di sebelahku.


"Dak dek dak dek, sok tua kamu!" sarkas bu Lia padaku.


"Melati ini dua tahun lebih tua dari kamu, dia baru lulus s1 tahun ini." jelas bu Lia menambahkan.


"Eh! masa? maaf ya Mbak, habis mukanya imut banget, masih kek anak-anak," Aku menahan rasa malu karena salah menilai usianya.


"Nggak apa-apa kok," Melati mulai duduk bersebelahan denganku.


"Terus aku panggilnya apa?" imbuhnya, ia menoleh padaku.


"Gadis aja Mbak," jawabku.


"Jangan panggil Mbak, Mel aja."


"Emang gak papa?" tanyaku, memastikan permintaannya.


"Gapapa, kalau yang lain manggilnya apa sama kamu?"


"Yang lain sih manggilnya teteh, panggil Gadis aja Mbak, eh! Mel maksudku."


"Aku panggil teteh juga boleh ya? lebih enak kayaknya." Gadis manis ini sambil membenarkan posisi hijabnya, meminta izin memanggil teteh seperti yang lain.


"Kalian mau ngobrol terus?" tanya bu Lia tiba-tiba.


Aku dan Melati tersenyum, lalu tertawa menghadap bu Lia.


"Kan Ibu belum kasih tau aku, aku harus ngajarin apa ke Melati?" protesku pada bu Lia.


"Ya udah, sini denger! kamu ajak keliling dulu Melati ke semua ruang di pabrik ini, kamu tunjukin semua pokoknya, biar nanti gak nanya-nanya lagi ruang ini di mana ruang itu di mana." perintah bu Lia padaku terdengar sangat jelas.


"Ya udah, ayok!" ajakku.


"Topi! jangan lupa topi," Bu Lia mengingatkan kami. Aku meraba kepalaku yang sudah rapi dengan rambut yang aku masukkan ke dalam topi kerja. Sedangkan Melati, hanya menggunakan hijabnya di kepala.


Kami berdua saling toleh dan tersenyum,

__ADS_1


"Tunggu ya," kata Melati. Dia kemudian melangkah ke ruang praktik bu Lia. Sepertinya, dia meninggalkan topinya di sana.


__ADS_2