Kisah Gadis Biasa

Kisah Gadis Biasa
Mengatur Strategi


__ADS_3

Waktu kerja sudah berakhir, aku yang telah berjanji untuk pulang bersama Rahma. Buru-buru mengemas semua barang pribadi yang aku taruh di dalam laci, setelah sebelumnya menjelaskan mesin-mesin mana saja, yang butuh perhatian khusus pada Kak Hany sedangkan Risa menjelaskan semua yang perlu diperhatikan pada Ami. Karena hasilnya yang kurang bagus.


Setelah melewati gerbang, aku melihat Rahma yang masih berdiri di tepi jalan, nampaknya Anda berusaha mengajaknya untuk pulang bersama menggunakan motor yang dia bawa.


"Hai, Ma. gak lama kan nunggunya?" sapaku pada Rahma.


Aku masih mencoba bersikap biasa saja di depan Anda. Agar dia tidak curiga, kalau sebenarnya aku sudah mengetahui kelakuan bejatnya.


"Mau pada ke mana?" tanya Anda padaku.


"Mau pulang bareng laaah. Udah lama gak makan pempek di jembatan merah," jelasku.


"Yuk! Ma." Aku menarik tangan Rahma, saat tiba-tiba sebuah angkot berhenti di depan kami.


"Duluan ya A," pamitku pada Anda yang masih terdiam di atas motornya.


Saat kita sudah duduk di dalam angkot, dan angkot itu mulai melaju. Aku langsung menanyai Rahma.


"Ngapain dia?"


"Ngajak pulang bareng,"


"Huhft! Ck! gue lagi cari cara, loe sabar ya, Ma."


Rahma hanya mengangguk kecil menanggapi omonganku.


Di dalam angkutan umum itu, kami tidak banyak bercakap. Karena takut ada yang mendengar dan akhirnya curiga. Kami sadar di dalam angkot ini, selain ada kami. Juga ada pegawai lain yang mungkin saja kenal dengan kami. Atau dengan Anda.


Setelah sampai terminal, aku benar-benar mengajak Rahma untuk mampir di jembatan merah. Memasuki kedai lontong yang cukup terkenal di sana. Aku pesan dua porsi doclang setelah sebelumnya bertanya pada Rahma. Apa yang dia inginkan.


Lontong dengan siraman saus kacang, kecap dan juga taburan bawang goreng di atasnya, berhasil membuat selera makanku tergugah dengan aromanya. Ditambah toping kerupuk yang pasti membuat makanan makin meriah dengan suara kriuk-kriuknya.


Di situlah aku mulai membahas secara hati-hati, rencanaku untuk membantu Rahma. Kami sepakat, dan berdoa bersama. Agar Tuhan mau membantu kami melancarkan rencana yang akan aku mulai susun dari sekarang.


Setelah selesai, kami berjalan sedikit ke depan Mall kecil di samping tempat makan tadi. Untuk menunggu angkot lain, yang akan membawa kami ke tujuan berikutnya.


Sebuah angkot berhenti di hadapan kami. Namun, hanya tersedia dua tempat duduk di sana, itu pun hanya di bangku kecil tambahan yang menghadap ke belakang. Tapi karena waktu sudah mulai malam, aku mengajak Rahma untuk tetap menaikinya.

__ADS_1


Aku duduk di bangku kecil tambahan itu, dan Rahma duduk di bangku panjang yang pas menghadap ke pintu. Aku perhatikan, sepertinya Rahma mengenal salah satu penumpang yang berada di barisan bangku di seberangnya. Karena mereka tampak saling melempar senyum.


Benar saja dugaanku, meski mereka tidak saling sapa. Mereka sepertinya saling mengenal. Karena saat gadis cantik dengan tubuh yang sangat ideal, berseragam pramugari itu turun, dia berpamitan pada Rahma.


"Duluan ya," katanya. Yang membuat aku ikut mendongakkan kepala, dan ikut melempar senyum.


"Siapa?" tanyaku pada Rahma setelah angkot mulai melaju kembali.


"Itu yang namanya Zie. Nama aslinya Zia apaaaa gitu gue lupa! Tapi panggilannya Zie," jelas Rahma padaku.


Sontak aku langsung membelalakan mata. Pasalnya Rahma menyamakan aku dengan gadis yang sangat cantik. Bahkan tubuhnya yang ideal dan tinggi itu, sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan aku yang hanya punya tinggi standar indonesia.


"Itu mah cakep banget, Ma. loe gila kali ya? masa nyamain gue sama dia, hahaha ...." Aku tertawa terbahak, tanpa peduli dengan penumpang yang lain. Namun segera berhenti tertawa saat sadar semua mata tertuju padaku.


"Loe sih!" Aku menyenggol bahu Rahma dengan bahuku.


"Loe yang rese, nyalahin gue!" belanya.


Akhirnya kami cekikikan berdua dengan tetap mulut ditahan oleh tangan.


"Dulu, waktu dia belum jadi pramugari, mirip banget tau sama loe. Cabi-cabinya, putih-putihnya, rambut coklat panjangnya juga." Sekali lagi Rahma mencoba menjelaskan.


"Kiri-kiri Bang!" Rahma memberhentikan angkot yang kami tumpangi.


"Turun Loe! mau ikut ke rumah gue emang?" usirnya padaku.


Hampir saja aku terlewat dengan pemberhentian tujuanku, saking sibuk menahan tawa, yang sempat tercipta di dalam angkot barusan.


"Iya-iya, gue turun." Sambil menyerahkan selembar uang ke pangkuan Rahma, aku berlalu dan turun.


"Ini apaan?" teriak Rahma.


"Sekalian! Nanti loe yang bayar," jawabku.


"Pak! Belakang ya," ujarku pada Pak Sopir.


Baru dua langkah aku melangkahkan kaki memasuki gerbang komplek. Seseorang memanggilku. "Dis!" dengarku.

__ADS_1


Aku lalu menoleh pada arah suara. Setelah mendapati siapa yang memanggil aku lalu menyapanya. "Hey,"


Sudah beberapa hari ini, teman dari sepupuku ini memang selalu ada di sini. Sepertinya dia tahu jadwal kepulanganku, dan seperti biasa. Dia akan menemaniku berjalan hingga sampai rumah.


"Malem amat?" tanyanya, setelah kami berjalan beberapa saat.


"Oh iya ... itu tadi aku makan dulu sama temen."


"Cowok?"


"Hah? Maksudnya?"


"Temen kamu, cowok apa cewek?"


"Ooh cewek laaah."


"Emang kamu belum punya cowok? Kok jalannya sama cewek?"


"Enakkan jalan sama cewek, seru! Bisa sambil ngegosip. hahaha ..." Aku mengiringi jawabanku dengan tawa renyah.


"Ow iya, boleh nanya gak?" imbuhku.


Andi hanya mengangguk kecil menjawab tanyaku.


"Loe dari mana? Kok tiap malem ada di sini? udah gitu rajin banget lagi, mau nganterin aku pulang tiap hari."


"Gue sengaja nungguin loe," jawabnya. Yang membuat aku menghentikan langkah.


"Maksudnya?"


"Ya nungguin loe! biar bisa nganter loe pulang, and jalan bareng loe."


Aku menghidu napas dengan dalam, dan mengeluarkannya perlahan. Ingin rasanya aku berkata, 'Jangan deketin gue! gue gak punya rasa sama loe' tapi gak berani GR juga kalo apa yang Andi lakuin itu karena dia sedang berusaha PDKT denganku.


Akhirnya hanya kata 'Oh' yang keluar dari mulut ini. Akan tetapi, perjalanan kali ini terasa canggung. Karena aku mulai menebak-nebak maksud Andi. Yang setiap hari menunggu dan mengantarku pulang ke rumah.


💞💞💞

__ADS_1


Tanks untuk semua yang setia dengan like n komennya. Terima kasih banyak untuk dukungannya juga.


Terima kasih ❤


__ADS_2