
Di dalam kamar berukuran empat kali tiga ini, Aku merebahkan tubuh memandang langit-langit kamar dengan pikiran yang entah kemana. Sedangkan Kimmi masih sibuk dengan handphone di tangannya.
"Mikirin apa sih Loe?" Tiba-tiba saja Kimmi membuyar lamunanku.
"Nggak kok, gak mikirin apa-apa," kilahku.
"Gue Tau Loe! jadi gak usah bohong," imbuhnya kembali.
"Gue lagi bingung," ucapku, saat Kimmi merebah tubuhnya disampingku.
"Kenapa?"
"Kok Rahma bisa dijemput, Anda. ya...?" heranku.
"Apa aja bisa terjadi, makanya jan terlalu polos," Kimmmi memiringkan tubuhnya, hingga menghadapku.
"Owya gimana kabar Megha?" tanyanya kemudian, yang tiba-tiba saja membelokkan obrolan.
"Baik," jawabku.
"Bukan itu, maksud gue. Dia jadi loe masukin ke Pabrik?"
"Ooh ... jadilah, kan dia yang minta tolong buat masukin lamaran."
"Dia ngelamar bagian apa sih?"
"ADM, ya kaaali gue masukin dia jadi harian? gak tegalah gue!"
Kimmi lalu bangkit, berjalan menuju lemari pakaian yang berada di pojok sebelah kanan.
__ADS_1
"Gue pake baju loe ya?" pintanya.
"Iya cari aja sendiri," ucapku.
"Owya gue ke luar dulu ya ... mo bantuin nyokap beresin rumah. Loe di sini aja, kalo butuh apa-apa cari gue di belakang," imbuhku sebelum meninggalkannya keluar.
Kimmi hanya mengangkat jempolnya tanpa menoleh padaku, tangan kirinya masih sibuk mencari pakaian untuk tidur. Dan aku pun berlalu untuk membantu umi membersihkan semua bekas acara ulang tahun sederhanaku tadi.
*****
"Duh! kesiangan kan?" Aku mengeluh pada diri sendiri, saat terbangun dan mendapati jam telah menunjukkan pukul lima lewat.
"Kim bangun! udah siang tau ...!" Aku mengguncang tubuh Kimmi yang berada di sampingku.
"Hemm ...." Hanya suara itu yang keluar dari mulutnya dengan mata yang masih terpejam.
"Bangun Kim banguuuun!!" Sekali lagi aku mengguncang tubuhnya.
"Udah siang Kim! gue mandi duluan ya?"
"Mandi bareng aja, katanya kesiangan,"
"Dih! Ogah gue mandi bareng loe, mending gue mandi di luar."
"Gak usah di luar, mandi bareng gue aja di sini,"
"Nggak ... nggak ...makasih gue mandi di dapur aja."
"Loe mau masak di dapur?"
__ADS_1
"Maksudnya kamar mandi yang di dapur *****!, udah ah, mandinya jan lama-lama, inget ini bukan di rumah loe atau kostan yang jarak ke pabrik cuma lima menit nyampe." cerocosku sambil berlalu.
Setelah drama kesiangan bersama Kimmi yang masih santai saja menanggapi keterlambatan ini, akhirnya kami sampai juga di tempat kerja.
Baru saja aku sampai di depan ruanganku, handphone-ku berbunyi, dan ternyata panggilan itu dari Megha. Dia menanyakan perihal pakaian yang harus dipakai dan jam berapa tes untuk masuk kerja dimulai. Setelah aku jelaskan semuanya, aku menutup telepon dan mulai merapikan kebutuhan untuk kerja hari ini.
Aku memang beruntung, jenjang karirku berjalan begitu cepat dan mulus. Saat ini aku punya ruangan sendiri untuk bekerja. Dan itu semua dimulai ketika Mbak, Liz. Memanggilku untuk ikut tes organoleptik, dan dari 10 orang yang dites, hanya aku satu-satunya yang berhasil lulus.
Hampir satu tahun aku menunggu partner untuk pekerjaan baruku nanti. Namun, Mbak Liz belum juga bisa mendapatkan orang yang bisa lulus di tes yang sama denganku. Hingga akhirnya Mbak Liz memutuskan untuk mengambil pekerja senior di sana, tanpa tes dan lain-lain. Karena dia memang sudah pernah ikut tes tapi tidak berhasil lulus karena nilainya masih di bawah rata-rata.
Namanya Kak Hany, badannya yang tambun dan agak pendek, membuat gerakannya sedikit lambat. Meski begitu, dia terkenal sangat galak dan jutek. Hingga pekerja-pekerja harian di sana, banyak sekali yang menurut karena takut. Kak Hany ini yang akhirnya Mbak Liz pilih untuk menjadi partner kerjaku di divisi Quality.
Karena Kak Hany baru saja di masukan dalam tim, aku mendapat tugas untuk mengajari Kak Hany, dan menjelaskan Jobdesk yang telah disusun oleh Mbak Liz. Aku diberi waktu satu minggu untuk mempersiapkan, agar Kak Hany bisa dilepas tanpa pengawasanku dan Mbak Liz.
Ternyata Kak Hany lumayan cepat dalam menanggapi semua yang aku ajarkan. Hingga waktu satu minggu yang diberikan Mbak Liz, bisa aku pergunakan secara maksimal.
Setelah Kak Hany bisa melakukakan semua yang aku ajarkan, seminggu kemudian Mbak, Liz. Berencana memberi kami tim, dengan membuka lowongan kerja agar aku dan Kak Hany bisa segera bekerja secara shift.
Aku dan Kak Hany diberi masing-masing satu anak lulusan SMA sederajat, untuk bisa kami latih. Yang kemudian akan menjadi partner kerja kami.
Tak butuh waktu lama untuk membuat Mbak Liz memercayakan pekerjaan baru ini padaku, dan pada Kak Hany. Kami diberi wewenang penuh untuk memutuskan segala hal yang berhubungan dengan kualitas produk, saat kami bekerja pada shift malam tanpa pengawasannya.
Semua berjalan lancar tanpa hambatan, hingga suatu hari, Mbak Liz. Memutuskan untuk merubah Formasi tim. Anak didik Kak Hany, Ami. ditukar posisinya dengan anak didikku, Oci.
Butuh waktu untuk meyakinkan Oci agar mau berpindah formasi. Dia sudah terlanjur nyaman menjadi partnerku, dan sepertinya enggan untuk berpindah.
Dua minggu kami lalui pergantian partner itu, aku dan Ami tidak pernah ada masalah, dan nampaknya dia juga senang dipasangkan denganku. Meski keherananku tak pernah terjawab, saat aku beberapa kali memergoki Ami bergumam 'Memang beda' entahlah apa yang beda, aku tak tahu. karena setiap bertanya pada Ami apa yang berbeda? dia tidak pernah menjawab dan hanya melempar senyum juga tawa dan kata 'nggak ....', meski penasaran, aku berhenti bertanya karena pasti akan mendapat jawaban yang sama.
Sebulan sudah formasi tim berubah, dan semua berjalan lancar. Tepat hari ini pula, Mbak liz mengajak semua tim ingredien scalling dan Quality Qontrol untuk makan di luar. Kami harus berpisah dengan Mbak Liz, karena beliau harus pindah ke Amerika, Hawwai tepatnya. untuk mengikuti suami tercinta. kesedihan dan haru biru, tercipta di Restoran itu. Pasalnya, Mbak Liz adalah pemimpin yang sangat baik bagi kami, dan kami sangat menyayanginya.
__ADS_1
Tidak terasa, sebulan sudah pasca perpisahan dengan Mbak Liz berlalu. Lagi-lagi kabar mengejutkan menfhampiri. Kali ini, datang dari Oci. Mantan partnerku yang kini menjadi partner Kak Hany. Oci memutuskan untuk resind dari perusahaan. Karena permintaannya untuk pindah shift agar bisa satu tim bersamaku kembali, ditolak oleh kepala bagian kami yang baru.
Berhentinya Oci, membuat aku harus kembali mengajar anak baru untuk aku didik, dan mesti tak mau. Ami dikembalikan berpartner dengan Kak Hany lagi. Sedangkan aku, diberi anak baru yang harus aku ajari lagi dari awal.