Kisah Gadis Biasa

Kisah Gadis Biasa
Hari Pertama Pindah Shift


__ADS_3

Happy Reading ....


"Selamat pagi," gumamku, sambil membuka selimut yang menutup rapat semua tubuh, dari kaki hingga kepala.


Aku masih meninggalkan bekas ngantuk, dengan menguap beberapa saat setelah bangun dari tidur. Dengan malas, aku beranjak dari kasur untuk melaksanakan ritual pagiku.


Sebagai manusia yang diberi berkah hidup, sudah selayaknya aku berterima kasih pada Sang Maha dengan ibadah dan doa, ya ... itulah ritual pagiku sebelum fajar bersinar.


...*******...


Teeet .... Suara mesin time card berbunyi saat aku menempel id card pada alat pemindai itu. Aku sengaja datang lebih awal hari ini, untuk memastikan Risa. Menangani semua pekerjaan dengan benar tadi malam.


"Belum selesai Dek?" sapaku, pada Risa yang tengah sibuk mengisi laporan.


"Eh! teh, kok udah dateng?" Risa malah balik bertanya padaku. Saat ia melihat aku tiba-tiba membuka pintu dan menyapanya.


"Kamu butuh bantuan?" Aku pun balik bertanya tanpa menjawab tanyanya.


"Nggak teh, dikit lagi kok. Habis ini mau lihat mesin nomor 7, dari semalem hasilnya jelek," katanya, tanpa menghentikan kegiatan menulis laporan.


"O ... ya udah biar teteh aja yang lihat," Aku menawarkan diri, dan tanpa menunggu jawabannya langsung ke luar untuk menuju mesin yang di maksud.


Ketika aku sampai di sana, ternyata operatornya adalah karyawan baru sepertinya. Karena aku baru melihatnya hari ini. Aku kemudian membantunya menyetting mesin, dengan bantuan operator senior lain yang mendampingi dia.


"Anak baru ya?" tanyaku pada Abdul.


Ya Abdul, dia adalah operator mesin yang sering menemaniku untuk percobaan. Saat ini, karena mesinnya sedang off dia ditugaskan membantu anak baru itu.


"Bay, mau kenalan katanya tuh!" Tiba-tiba saja Abdul berkata seperti itu pada si karyawan baru.


Dan, tanpa pikir panjang, dia menyodorkan tangannya sambil memperkenalkan diri.


"Bayu. Bayu Amarta," ucapnya.


Aku tidak langsung menerima uluran tangan itu, malah menepuk keras bahu Abdul hingga ia terhuyung, "Pe'a!" hardikku pada Abdul.


Abdul pura-pura kesakitan oleh pukulanku, aku bisa melihatnya dari ekspresi air muka yang dia tunjukkan.


"Zie!" ucap Abdul menyatukan tanganku dengan tangan bayu yang masih tersulur.


"Gadis," ucapku dengan sedikit senyum.


"Zie? atau Gadis ini yang benar?" herannya, Bayu menatapku dan Abdul bergantian.


"Zie!" pekik Abdul

__ADS_1


"Gadis," ucapku, di waktu bersamaan dengan Abdul.


Aku dan Abdul tertawa di depan Bayu yang masih terheran-heran.


"Ha ... ha ... ha ... what ever laaah. Sama aja kok, Zie ya Gadis. Gadis ya Zie," terangku padanya, sambil berlalu meninggalkan.


Aku kembali ke ruangan, dan saat itu pula, kulihat Ami sedang berkeliling dengan Risa. ketika kami berpapasan, Risa menanyakan perihal mesin nomor 7 yang baru saja aku kunjungi. Aku acungkan jempol, tanda semua telah teratasi.


"Keliling dulu ya teh," pamit Risa. Dia mengajak Ami melanjutkan langkahnya.


"lanjut," ucapku, mempersilakan mereka berdua melanjutkan langkah.


Aku pun kembali melanjutkan langkah pada tujuanku ke ruangan. Di ruangan, aku sekilas membuka handphone dari dalam laci. Aku melakukannya, karena menghindari kecemburuan sosial yang bisa terjadi. Selepas peristiwa penyitaan handphone yang aku lakukan malam itu, ternyata berimbas juga pada semua karyawan. Dan hanya segelintir karyawan saja yang diizinkan membawa alat komunikasi pintar itu ke ruang produksi.


Setelah melihat tidak ada pesan atau panggilan yang butuh balasan, aku masukan kembali handphone-ku ke dalam laci meja kerja.


"Teh, kata Risa. Itu ada sampel minyak yang belum dites. Katanya sih tadinya mau ganti produk, makanya belum dites. Tapi gak jadi, minta tolong di kerjain. Mau sama aku aku sama teteh?" Ami memberiku pesan dari Risa.


"Risa langsung pulang?" tanyaku, tanpa beranjak dari kursi di belakang meja ini.


"Iya," singkat Ami.


"Ya udah biar aku yang kerjain, tolong keluarin NaOH sama dietil eter yang di bawah ya, sekalian aquadesnya. Aku mau bikin larutan dulu, kayaknya Risa belum cek karena yang di botol ternyata udah habis," Aku memberi intruksi pada Ami.


"Iya teh, tadi juga dia bilang gitu. Tinggal yang ada di buret doank katanya," Ami menambahkan pesan Risa yang tertinggal.


"Nggak ah teh! aku mau ngecek aja." Ami yang telah mengeluarkan semua yang aku minta dari almari di meja pengecekan itu, langsung ke luar dari ruangan untuk segera melakukan pengecekan, meninggalkanku sendiri di ruangan.


Kemudian, aku melanjutkan pekerjaanku berkutat dengan bahan-bahan kimia yang sudah berada di atas meja. Tidak butuh waktu lama untukku mengerjakan itu, karena memang sudah terbiasa dan hapal rumus-rumus yang harus diterapkan.


Setelahnya, aku menyempatkan membantu Ami untuk melakukan pengecekan standarisasi. Meskipun aku diminta tukar shift untuk mengajari Melati. Akan tetapi, bagiku pekerjaan mengecek quality itu adalah pekerjaan utama yang tidak boleh aku lewatkan.


Saat ini, sudah pukul sembilan kurang lima belas menit, Melati sudah sampai di ruangan bu Lia. Aku membiarkannya dulu untuk bersiap-siap, dan memilih melanjutkan pekerjaanku.


"Teh, hari ini Bu Lia kan berangkat ke jepang, tadi pagi dia ada pesan. Katanya aku disuruh belajar untuk percobaan produk aja mulai sekarang." Melati yang tiba-tiba masuk ruanganku berceloteh.


"O gitu, ya udah. Tapi tunggu aku selesain ini dulu ya? kasian Ami kalau nggak aku bantu," Aku memintanya menunggu.


"Kak Hany emang ke mana?" selidiknya.


"Kak Hany kan tuker sama aku, nanti malam dia sama Risa. Jadi mulai hari ini dia masuk shift malam," terangku.


"O iya! lupa," ucap Melati, yang kini telah duduk di depan meja kerjaku. "Mbak Sri belum datang?" imbuhnya, menanyakan keberadaan Mbak Sri. Karena melihat ruangannya masih kosong.


"Belum ke mari sih! tapi nggak tau udah dateng apa belum? soalnya kadang si Mbak suka cuap-cuap di kantor dulu," Aku menjelaskan kebiasaan kepala bagianku itu. Pada Melati.

__ADS_1


Melati mengangguk-angguk kecil. Mungkin dia mengerti apa yang kumaksud, dengan sabar dia menungguku menyelesaikan pekerjaan. Setelah selesai, aku mulai merapikan meja dari botol-botol berisi bahan kimia yang tadi aku gunakan, dan belum sempat aku taruh kembali ke tempatnya.


"Teteh lulusan IPB juga ya?" tanyanya tiba-tiba, saat aku sedang merapikan semua.


"Ha ... ha .. ha ... boro-boro IPB, kuliah aja nggak!" Aku tertawa menjawab pertanyaannya.


"O ... aku tau ni! pasti teteh lulusan SMAKBO kan?" Dengan percaya diri, Melati menebak dari mana aku lulus sekolah.


Kali ini, aku tidak tertawa seperti tadi. Aku tersenyum ke arahnya, ketika hendak duduk. "Aku itu, cuma lulusan SMP," jelasku.


"Hallaaaah gak mungkin ... pasti teteh bohong!"


"Hust! enak aja, aku itu ... gak suka bohong! karena gak suka dibohongi,"


"Tapi teh, kerjaan teteh yang kaya gitu itu, minimal anak-anak lulusan IPA lah yang ngerti. Jadi aku gak bisa dibohongi," Melati masih keukeuh dengan tebakannya.


"Ya ... dari pada berdebat, suka-suka kamu laaah. Yang penting aku udah jujur," aku menyerah untuk menjelaskan, karena akan menyita waktu. Aku lebih memilih melanjutkan memberi pelajaran berikutnya pada Melati.


Kini, kami sudah berada di ruangan Bu Lia. Aku sudah mulai mengajari Melati agar nantinya bisa melakukan percobaan sendiri. Saat sedang menjelaskan, tiba-tiba telephone di ruangan Bu Lia berdering.


"Biar aku aja teh," Melati segera menuju meja kerja Bu Lia untuk mengangkat telepon yang belum berhenti berdering. Sedangkan aku, memilih untuk merapikan bahan apa yang akan segera aku jelaskan.


"Teh, disuruh ke ruangan Mbak Sri tuh!" titahnya setelah menerima panggilan telepon.


"Sekarang?" selidikku.


"Iya!" singkatnya.


"Aku tinggal bentar gapapa ya?"


"Gapapa, santai aja, aku tunggu kok."


Aku tersenyum dan meninggalkan Melati sendiri di ruangan itu. Segera melangkah menuju ruangan Mbak Sri, agar tahu untuk apa aku dipanggil.


"Kenapa Mbak?" Aku langsung masuk dan bertanya.


"Ini ni! tadi resepsionis nitip ke aku, katanya ada surat buat anak produksi, kalau dari nama penerimanya cuma kamu kan yang namanya Gadis?" Mbak Sri menyerahkan amplop surat padaku.


Dari nama penerima yang aku baca, sepertinya ini memang untukku. Dan, betapa terkejutnya aku saat melihat nama pengirim yang tertulis di belakang amplop.


💞💞💞💞


kira-kira, Gadis dapat surat dari siapa ya? Hmm nantikan next episode ya .... 😊


terima kasih untuk like vote komen, dan kesedian semuanya.

__ADS_1


love you all ❤


__ADS_2