Kisah Gadis Biasa

Kisah Gadis Biasa
Menyelidiki Rahma


__ADS_3

Handphoneku berbunyi dan bergetar, yang membuat aku terbangun dari tidur siang. Setelah itu aku membuka mata dan Mematikan alarm dari asal suaranya. Tepat pukul 13.50 terpampang jelas di layar.


Kemudian aku berjalan menuju toilet untuk membasuh muka, setelah itu segera berjalan menuju Pos time card, untuk kembali masuk ke dalam pabrik.


Tujuan utama aku kini melangkah, adalah ruanganku. Setelah sampai di sana, aku mendapati Risa yang sedang duduk menunggu hasil dari kadar air yang tengah dia cek.


Oh iya, Risa adalah anak baru yang berhasil aku latih untuk menggantikan posisi Oci. Basic-nya sebagai anak harian, membuat dia telah mengenal aku jauh sebelum masuk tim quality. Aku memang dikenal ramah oleh semua kalangan karyawan. baik harian, borongan, maupun staf. Hingga tak terlalu sulit untuk bisa mengakrabkan diri denganku.


“Teh, di cari Bu Lia,” sambutnya, saat aku baru saja membuka pintu ruangan.


“Dibilangin gak kalo lagi istirahat?” tanyaku.


“Udah!” Angguknya menjawab pertanyaan yang kulontar.


“Kata Bu Lia, kalo dah masuk suruh ke ruangan.” imbuhnya.


“Mana? Orangnya juga gak ada,” Aku melongok, ke arah ruangan bu Lia. Yang hanya dibatasi oleh kaca bening dari ruanganku.


“Katanya sih tadi ke kantor dulu.”


“O ... ya udah, nanti aja lah! Kalo Bu Lia udah ada di ruangan.” Kataku. Lalu aku lanjutkan berpesan pada Risa. “Kalo penting banget, susulin aja ya dek. Aku mau ngecek dulu.”


Aku ambil stopwatch yang tergeletak di atas meja. Kusampirkan talinya pada bahuku dengan melintang, lalu bergegas menuju tempat produksi.


Satu persatu mesin-mesin yang sedang berproduksi itu aku cek. Dari kuantitas perjam hingga setingan mesin yang digunakan oleh operatornya masing-masing.


Biasanya aku mengecek 2 sampai 3 mesin secara bersamaan. Tapi karena takut tiba-tiba dicari bu Lia, kali ini aku hanya mengambil 2 sampel mesin dahulu.


Setelah mendapat 1 menit produk yang dihasilkan dari 2 mesin tersebut. Aku langsung membawanya ke ruangan.


Kutimbangi satu persatu hasil dari dua mesin tadi. Lalu kupindahkan catatan setingan mesin yang sempat kucatat di secarik kertas. Sambil memasukan data-data hasil pengecekan. Yang kulakukan dengan bantuan sigmat dan juga pengukur kadar air, serta timbangan digital.


Saat hendak memasukan sampel mesin ke-dua ke dalam mesin pengukur kadar air, terdengar ketukan di jendela kaca yang membatasi ruanganku dengan ruangan bu Lia. Ternyata bu Lia baru saja kembali dari kantor. Dengan isyarat tangan ia memanggilku untuk segera ke ruangannya.


Bibirku bergerak dengan mengatakan ‘bentar’ tanpa mengeluarkan suara. Tapi, aku tahu bu Lia mengerti. Setelah menutup mesin berbentuk kotak itu, aku meninggalkannya dan bergegas menuju ruang sebelah, yaitu ruang bu Lia.


Tok ... tok ... tok ... kaca bening itu kuketuk sebelum memasuki ruangan. Lambaian tangan bu Lia, mengisyaratkan aku untuk segera masuk, dan aku pun membuka pintu untuk memasuki ruang tersebut.


“Kenapa Bu?” tanyaku setelah aku berada di ruangan bu Lia.

__ADS_1


“Duduk dulu Dis,” teriaknya dari balik dinding, yang menyekat ruang kerjanya dengan ruang yang biasa digunakan untuk praktik.


Aku pun segera duduk mengikuti perintahnya. Sementara bu Lia. Sepertinya sedang membasuh tangan di wastafel yang ada di sana.


Bu Lia muncul dari ruang sebelah, lalu duduk tepat depan meja di hadapanku. “Kamu baru istirahat?” tanyanya, mengawali perbincangan.


“Iya, tadi nanggung tinggal dikit lagi soalnya yang belum dicek.”


“Gini loh Dek, percobaan kita yang kemarin itu. Tadi disetujui, dan aku mau minta resepnya. Soalnya catatan kemarin yang kamu kasih, aku lupa taronya.”


“O ... itu. Kirain ada apa? Nanti aku catetin, masih ada kok di ruangan aku, Bu.”


“Sekalian Dek, ini. Tolong buatin ini pake resep yang kemaren ya,” Bu Lia. Menyerahkan catatan di secarik kertas. Kemudian aku lihat sekilas dan memahami isinya.


"Oke! tapi nanti ya Bu, selesai cek satu putaran."


"Iya, gapapa."


"Udah ya Bu, aku lanjutin kerjaanku dulu." pamitku, sebelum keluar dari ruangan.


Bu Lia juga beranjak bangkit dari kursinya, dan mengacungkan jempol sebelum melangkah ke ruang praktiknya kembali.


Aku siapkan semua bahan-bahan yang kuperlukan. Menimbang dengan teliti, satu persatu bahan-bahan yang sudah kuambil. Ya ... aku harus teliti! karena digit timbangannya dalam skala yang sangat kecil. Kisaran di bawah satu gram beratnya, untuk tiap bahan yang ditimbang. Setiap percobaan dilakukan dalam skala yang sangat kecil, untuk meminimalisir kerugian dalam kegagalan.


Semua telah siap dan ... sesuatu dalam otakku mulai bekerja untuk bisa sekali mendayung, dua pulau kulampaui. Segera kulangkahkan kaki ini menuju divisi penggorengan, dimana Rahma bekerja seperti biasa.


Setelah sampai, aku langsung memanggil Rahma untuk membantuku


"Ma! ini molen gak dipake 'kan?" tanyaku.


"Nggak! mau ngapain? percobaan?" rentetan pertanyaan Rahma lontar untuk tahu apa maksud pertanyaanku.


"Ho'oh bantuin donk! gue mau nyiapin bahan-bahannya dulu," pintaku padanya.


Rahma langsung meninggalkan pekerjaannya dan melakukan apa yang aku minta. Tanpa basa-basi dan juga tanpa banyak tanya.


"Udah tuh! Percobaan apa sih?" Sesaat setelah ia mempersiapkan apa yang kuminta, Rahma mendekatiku dan mulai bertanya.


"Ini! Bu Lia minta rasa yang kek kemaren aku bikin buat chocho crispy itu. Kalo menurut aku sih gak bakal cocok, tapi ya udahlah. Aku ikutin dulu."

__ADS_1


"O ...," Rahma lalu bergegas ingin meninggalkanku setelah itu.


"Eh! mau ke mana? bantuin gue dulu di sini,"


"Biasanya juga sendiri loe!"


"Ini susah kalo sendiri Ma, soalnya dikit banget, molennya harus dipegangin! nanti loe pegangin molennya aja ya."


"Ya udah buruan!"


Rahma mengikuti instruksiku untuk memegangi gagang molen yang bisa dinaik turunkan. Lalu ... sambil mengerjakan percobaan itu. Aku mulai bertanya padanya, tentang hubungannya dengan Anda yang masih sangat membuatku penasaran.


"Ma! boleh nanya?"


"Nanya apa sih Zie? Nanya mah nanya aja, ngapain pake izin segala."


"Tapi loe jangan marah ya,"


"Napa sih ni anak!" Rahma mulai tidak sabar sepertinya, untuk tahu apa yang ingin kuketahui.


"Emang bener loe sama Anda ...." Aku menggantung kataku, karena ada sedikit ragu yang menggelayut di kalbu.


"Bener apa? kalo nanya jangan setengah-setengah!"


"M ... itu! gue denger loe ada maen sama Anda, maaf! gue gak bermaksud_"


"Santai aja Zie! gue tau loe peduli sama gue. Tapi ... gue juga gak tau kenapa gue gak pernah bisa nolak dia kalo dia mulai nyentu gue."


"Nyentuuuuuh gimana maksudnya? loe gak ngapa-ngapain 'kan Ma?"


"Maksud loe ngapa-ngapain di sini apa? soalnya ... ya jelas gue ngapa-ngapain. Tapi kalo untuk yang satu itu, loe boleh percaya sama gue. Gue gak sampai kek gitu!"


"Alhamdulillah ...." lirihku, saat mengerti apa yang dia maksud.


"Beresin dulu percobaan loe! biar gue tunjukin sesuatu."


Aku merasa, ada hal yang aku lewatkan antara Rahma dan Anda, mungkin aku kurang perhatian dengan sahabat pertamu di tempat kerja ini.


Aku akhirnya menyelesaikan percobaanku, untuk mengetaui apa yang ingin Rahma tunjukan.

__ADS_1


__ADS_2