Kisah Gadis Biasa

Kisah Gadis Biasa
Pulang Larut


__ADS_3

Happy Reading


Aku dan Melati lalu meluncur untuk berkeliling, ruang pertama yang aku tunjukkan, adalah ruang QC dimana ruang depannya adalah ruanganku dan ruang dalam adalah ruangan Mbak Sri kepala bagianku. Aku juga memperkenalkan Melati pada Mbak Sri sebagai asisten baru bu Lia.


Dari ruangan Mbak Sri, ada pintu yang menyambung ke ruang ingredien scalling yaitu tempat untuk menimbang bumbu-bumbu. Baik bumbu dasar maupun bumbu lapisan. Tak lupa, aku juga memperkenalkan Melati pada para penghuninya.


Setelah itu aku menunjukkan ruang, kepala bagian produksi. Karena ruangannya tampak kosong, aku hanya menunjukkan saja dan tak serta membawanya masuk ke ruang itu.


Setelah itu, satu persatu tempat aku tunjukkan. Hingga ke basment yaitu divisi penggorengan. Juga ke gudang barang jadi yang terletak di sebelahnya.


"Nah, selesai ya Mel. Sudah aku tunjukin semua," ucapku sambil menaiki tangga yang berada di luar gedung melewati hamparan taman.


Melati yang mengekor di belakangku masih terus mengikuti. Setelah sampai di ujung tangga, tiba-tiba saja terdengar bunyi dari perutku. Yang sukses membuat Melati menatap pada wajahku dengan sedikit tawa.


"Laper teh?" katanya.


Aku mengangguk malu-malu,


"Iya, tadi baru makan roti doang sama minum susu."


"Ya udah istirahat bareng yuk! udah masuk waktu istirahat juga kan?" Sambil menelisik jam yang melingkar di tangannya. Melati mengajakku untuk segera istirahat.


"Tapi kan aku baru masuk jam sepuluh Mel, belum waktunya istirahat," jawabku dengan lemas.


"Loh! emang gitu ya? kalau gitu ke ruangan dulu yuk!" ajaknya.


Aku mengangguk dan kemudian beriringan kembali masuk ke area pabrik melalui pintu samping, yang berhadapan dengan taman dan parkiran kantor.


waktu memang sudah menunjukkan pukul dua belas siang lewat saat ini, artinya sudah banyak juga karyawan yang keluar untuk istirahat makan. Sengaja kuajak Melati masuk lewat pintu ini, sambil menunjukkan pula keberadaan kantin yang belum aku perlihatkan.


"kalau mau istirahat, itu kantinnya." tunjukku pada tempat yang mulai ramai didatangi karyawan.


Melati menengok dan memperhatikan tempat yang aku tunjuk. "Semua istirahat di sana ya?" tanyanya kemudian.


"Ya iya semua, anak-anak kantor juga ke sana."


"Kalau Bu Lia?"


"Kalau bawa bekal, dia makan di ruangan atau di kantor janjian bareng yang lain biasanya. Kalau gak bawa bekal ya sama, ke kantin juga."


"O gitu."


"Heu'eum."


Percakapan yang terjadi sepanjang perjalanan menuju ruang bu Lia pun akhirnya berakhir. Saat kami sampai di depan pintu ruangan itu.


"Makan Dis," tawar bu Lia.


Saat kami sampai, bu Lia memang sedang memakan bekal yang dia bawa sepertinya.


"Ngiring raos Bu," jawabku.


"Eh! teteh tiasa nyarios sunda?" timpal Melati padaku.


"Tiasa atuh, pan orang bogor asli. Sunda pisan pokokna," Aku menyahuti lagi omongan Melati dengan bahasa daerahku itu.

__ADS_1


"Abdi ge pan sunda teteh, si Mama asli bandung. Ngan ngalih ka Bogor ngiring si Papa," jawabnya lagi.


"Kalian ngomong apa sih? ngomongin aku ya!" Bu Lia yang sedang asik dengan makan siangnya pun ikut menimpali kami dengan logat Bataknya.


Aku dan Melati akhirnya tertawa dan menghentikan perbincangan Sundanes kami.


"O iya kamu mau istirahat jam berapa Dis?" tanya bu Lia.


"Emang aku pulang jam berapa Bu hari ini?" Aku malah balik bertanya menjawab tanya bu Lia.


"Terserah kamu, kalau aku sih gak masalah kamu mau pulang jam berapa pun. Mau jam 6 boleh, jam 7 juga boleh," jelas bu Lia.


"Ya udah kalau gitu, aku tanya si Mbak dulu dech," ucapku segera melangkah meninggalkan ruangan bu Lia.


Setelah itu, aku menengok ke ruang Mbak Sri, kepala bagianku itu. Tapi, di sana tak nampak batang hidungnya. Jadi, kuputuskan membantu Kak Hany mengecek produk sambil menunggu.


Saat aku tengah menunggu hasil yang keluar dari mesin pengecek, Melati mengetuk kaca jendela yang memisah ruangan kami.


"Istirahat yuk!" ajaknya.


"Nanti Mel! nunggu Mbak Sri," ucapku agak keras, agar terdengar olehnya.


Melati mengangguk, lalu kembali ke ruang praktik bu Lia yang ada di bagian dalam ruangan itu.


Bu Lia tiba-tiba membuka ruanganku, dia tidak masuk. Hanya sampai pintu dan berkata sebelum menutupnya kembali.


"Dek! Istirahat aja dulu, kasian Melati. Dia belum ada teman, kayaknya juga gak bawa bekal."


"Oh, ya udah Bu. Aku istirahat sekarang kalo gitu,"


Aku kemudian meninggalkan catatan untuk Kak Hany. Memberitahu mesin-mesin mana saja yang sudah aku cek, dan menandai hasilnya.


"Mel! istirahat yuk!" Aku membuka pintu ruangan bu Lia dan langsung mengajak Melati untuk istirahat.


"Sekarang?" tanyanya meyakinkan.


Aku mengangguk dan masih menunggu di pintu yang masih terbuka.


"Bentar ya teh, aku cuci tangan dulu," pintanya.


Setelah itu kami keluar beriringan, sambil bercakap-cakap. Sesampainya di kantin, aku langsung mengajak Melati untuk memesan makanan dan minuman yang akan jadi santapan.


Setelah memesan, kami mencari tempat untuk menunggu pesanan datang. Kebetulan, ada satu meja kosong yang bisa di isi empat orang kulihat. Aku pun segera mengajak Melati untuk duduk di sana.


Sepiring nasi dengan sepotong ayam goreng dan capcay kini terhidang di hadapan. Sedangkan Melati, dia memilih sepiring nasi dengan ikan goreng dan semangkuk sup. Untuk minumnya, kami berdua sama-sama memilih minuman es jeruk segar.


Kami makan dengan santai, aku menjawab setiap pertanyaan Melati dengan serius. Tapi, kadang aku juga menjawabnya dengan guyonan. Hingga tak jarang kami tertawa bersama karena lelucon yang aku buat.


"Teh, kita pulang bareng aja, kita satu arah 'kan?" ajaknya padaku, saat kami telah selesai makan.


"Aku gak tau pulang jam berapa ...," jawabku.


"Ini dua shift kan? bukannya teteh bilang, kalau dua shift itu berarti pulang jam tujuh ya?"


"Iya kalau normal, tadi kan aku masuk jam sepuluh."

__ADS_1


"Terus kalau masuk jam sepuluh, pulangnya jam berapa?"


"Makanya itu, aku belum tahu. Harus nanya dulu ke Mbak Sri. Kamu nine to five kan?"


"Iya! tapi, kalau teh Gadis pulang jam tujuh, aku tungguin kok, sambil aku belajar yang lain juga ke teteh." terangnya.


"Gak usah Mel, bisa jadi aku balik jam sepuluh."


"Hah! jam sepuluh? yang bener aja ...."


"Ya bisa jadi Mel, soalnya Risa juga belum bisa aku lepas sendiri," ujarku.


"Aku ... aku!" Tiba-tiba saja Alexa duduk dengan membawa makanannya ke meja kami.


"Iiih dasar!" Aku mencebik pada Alexa.


"O iya Mel, kenalin ini Alexa. Dia sahabat aku," Aku memperkenalkan Alexa pada Melati.


"Teh Alexa udah lama juga kerja di sini?" tanya Melati setelah mereka saling berkenalan.


"Iiih geli tau dipanggil teteh, ha ha ha ...." Alexa bergidik dengan panggilan yang disematkan Melati.


"Gue baru setahun di sini, sama Zie aja masih muda gue, gue muka doang yang boros, panggil Lexa aja, atau Alex juga boleh, terserah, asal jan panggil teteh, rasanya gimana gitu ..." celoteh Alexa pada Melati.


"Zie?" heran Melati dengan nama yang baru saja Alexa sebut.


"Ini nih, siapa emang namanya?" Alexa menunjukku dengan mata bulatnya.


"Itu teh Gadis," jawab Melati dengan polosnya.


"Iya, tapi kita biasa manggil dia dengan Zie! yang manggil Gadis itu, cuma staf-staf yang gak kenal deket ma dia, kalau kita sih hampir semua manggil Zie. Bahkan, bisa jadi kamu kalau nanyain nama Gadis sama anak-anak harian dan borongan, mereka gakkan kenal. ha ha ha ...." panjang lebar Alexa memperkenalkan nama panggilanku itu pada Melati.


"Iya teh?" Melati bertanya padaku untuk meyakinkan.


"Iya ... mereka emang jarang kenal Gadis, hampir semua taunya ya Zie," jawabku mengiyakan.


"Zie! kunci motor gue mana?" tanya Alexa.


"Ada di ruangan gue, ntar kalo mau balik ke ruangan gue aja dulu," jawabku.


"Kok teteh gitu sih? sama aku ngomongnya aku kamu, sama Alexa loe gue," protes Melati padaku.


"Terus kamu maunya gimana? aku tuh, cuma jaga kesopanan aja. satu, kamu lebih tua dari aku, tapi gak mau dipanggil Mbak. Kedua, kamu juga punya posisi lebih tinggi kan? jadi ya ... kayaknya wajar kalau aku lebih sopan," jelasku padanya tanpa ragu.


"Biasa aja teh, kalau mau loe gue juga gak masalah kok. Aku gak keberatan," ujar Melati.


Alexa yang masih asik dengan makan siangnya tidak memberi tanggapan apa-apa dengan hal yang sedang kami bahas. Mungkin menurutnya gak penting, atau ... entahlah, dia memang seperti itu. Kadang sering kali cu'ek dengan sekitarnya.


Aku menoleh pada jam dinding yang ada di kantin,


"Masuk yuk!" ajakku pada Melati.


"Teh Alexa?" tanya Melati. Yang spontan membuat Alexa tersedak, karena panggilan teh yang masih disematkan Melati.


"Gue aman, gue aman. Santai aja neng, gakkan ada yang berani nyulik gue," kelakar Alexa pada Melati.

__ADS_1


Melati dan aku cengengesan menanggapi lelucon Alexa. Setelah itu, kami berdua meninggalkan Alexa yang masih menikmati makan siangnya, untuk kembali masuk dan bekerja.


__ADS_2