
Happy Reading ....
"Loe duluan," ucapku mempersilakan.
"Loe aja."
"Udah gapapa loe aja," ucapku lagi.
"Loe aja."
"Ya udah gue gak jadi, gue udah lupa mau ngomong apa," Lama-lama aku hilang mood untuk meneruskan apa yang ingin kukatakan.
"Ini rumah loe masih lurus 'kan dari sini?"
"Hmm," jawabku.
"Terus?"
"Ya enggak terus-terus, perumahan setelah lampu merah di depan belok kiri. Atau berhenti di situ juga gak apa-apa, gue bisa jalan kok ke dalamnya."
"Oke!" singkat Gusti.
Aku pikir, oke yang dia katakan adalah oke untuk menurunkanku di gerbang perumahan. Ternyata dia berbelok dan masuk, setelah sekilas menyapa satpam penjaga, mobil berjalan pelan dan Gusti mulai bertanya kembali. "Ini masih lurus atau belok di depan?"
"Lurus aja, nanti mentok belok kanan, setelah rumah ketiga kanan lagi," jelasku.
Tampaknya Gusti mengerti penjelasan yang aku berikan, karena setelah itu, dia berhenti bertanya dan berjalan menuju arah yang benar.
"Makasih ya," ucapku setelah mobil sampai di belokan sebelum rumahku.
"Rumahnya yang mana?" tanya Gusti.
"Itu!" Aku menunjuk pada arah rumahku berada.
"Yang tingkat itu?"
"Bukan ... itu loh depannya. Yang pager coklat bukan yang hitam," terangku lagi menjelaskan dengan rinci tentang letak rumahku.
"Ooh, ini." Gusti menghentikan mobilnya tepat di depan rumah.
"Makasih ya sekali lagi, ini kuenya mau ditaruh mana?"
"Gue gak disuruh mampir?"
"Sorry ... jam segini di rumah gak ada siapa-siapa. Jadi gue gak bisa ngajak loe mampir. gapapa kan?"
"O gitu, ya udah kalau gitu. Gue langsung balik nih ceritanya?"
"Ya iya! BTW ini mau taruh mana?" Sekali lagi aku meminta kejelasan.
"Ya ditaruh di dalam rumah loe lah, gue beli itu buat orang rumah loe, kok." Perkataan Gusti ini membuatku sedikit mengerutkan dahi.
"Ini gak bakal jadi hutang lagi kan?" sindirku.
"Astaga Dis! Harus berapa kali gue ngomong maaf? Gue tu cuma becanda."
"Iya, iya! BTW thanks ya." Aku lempar senyum sebelum keluar dari mobilnya.
__ADS_1
Sebelum menutup pintu mobil, aku sempatkan untuk memberitahu Gusti agar tidak perlu memutar arah. Menunjukan jalan ke mana dia harus lurus dan berbelok.
Gusti memintaku untuk masuk terlebih dahulu. Tapi, aku justru menunggunya untuk jalan lebih dulu. Gusti pun menuruti dan berlalu, Setelah mobilnya tak nampak karena sudah berbelok, aku langsung masuk ke dalam rumah. Mengambil kunci yang selalu disimpan di pot bunga yang tergantung di teras.
Setelah merapikan pemberian Gusti ke dalam kulkas, aku langsung masuk kamar dan merebahkan diri di atas kasur. Kubuka gawai berniat untuk menghubungi Barakh. Tapi, baru saja aku hendak mencari kontaknya, panggilan telepon dari Barakh terlihat tampil di layar.
"Halo, assalamualaikum. Baru juga mau gue telpon, kenapa?" sahutku pada suara di seberang yang berkata 'Halo'.
"Gue udah di rumah, baru nyampe." jawabku lagi.
"Hah! Apa? Ya udah gue langsung ke sana, sekarang." Setelah itu, aku langsung menutup sambungan telepon dan bergegas meninggalkan rumah.
...¤¤¤¤...
Suara derap langkahku seperti sedang diburu oleh sesuatu. Koridor Rumah Sakit yang sepi, membuat suara langkahku kian mendominasi. Sedikit berlari, aku menuju ruang yang sudah kutahu dimana adanya.
"Permisi," ucapku sambil mengetuk pintu sebuah ruangan.
"Masuk!" Terdengar suara dari dalam yang mempersilakan aku.
Aku langsung membuka pintu dan masuk, kemudian sedikit membungkukkan badan, tanda hormatku pada sosok dokter yang sedang duduk di depan mejanya itu.
"Duduk, Dis."
"Abah gimana dok?"
"Abah kamu baik-baik saja, tidak usah khawatir."
"huhh!! syukurlah," Aku melepas napas lega mendengar ucapan dokter di hadapanku.
"Abahmu itu cuma kangen sama dokter yang keren ini," celetuknya saat aku masih bersyukur dengan tengadah doa.
"Dokter ini bisa aja," Aku tersenyum menanggapi candaannya yang begitu narsis.
"Ngomong-ngomong, abah tidak perlu menginap, 'kan dok?" imbuhku ingin memperjelas keadaan.
"Tidak perlu, bisa langsung pulang kok."
"Alhamdulillah, tapi ... sekarang abahnya di mana?"
"Tadi dia bersikeras untuk ikut dengan adikmu, katanya mau langsung pulang setelah menebus obat."
"O, begitu? Kalau gitu, aku langsung nyusul mereka ya dok, terima kasih banyak. Tidak ada masalah serius yang harus dibahas 'kan?"
"Ada." Ucapan dokter Agung membuat aku mendudukan kembali tubuhku di kursi itu.
"Serius dok?" Aku bertanya dengan takut.
"Sangat serius!" Jawaban ini membuat aku semakin takut untuk mengetahui hal apa sebenarnya yang tengah menimpa abah.
Aku memejamkan mata sejenak, mencoba untuk menguatkan diri menerima berita seburuk apa pun saat ini, yang akan sampai pada telingaku.
"Katakan dok ...." Aku masih berharap kabar yang akan aku dapat tak seburuk pikiran yang berkecamuk di otakku.
"Sebenarnya ... saya ingin mengatakan ... kapan kamu mau berkenalan dengan putra saya?"
"Astaga dok, aku pikir hal serius beneran." Sedikit jengkel aku dibuatnya. Karena dibuat berpikir yang tidak-tidak untuk kondisi abah.
__ADS_1
Tapi aku juga merasa lega, sangat lega. Karena ini artinya, kondisi abah benar-benar baik-baik saja.
"Aku pamit ya dok," Sambil mencium punggung tangan dokter Agung, lalu setelah itu bergegas untuk menyusul Abah dan Barakh yang kuyakin masih berada di apotek Rumah Sakit ini.
"Dis! Putraku itu ganteng, mirip Papanya." Dokter Agung yang berdiri di pintu, berteriak ke arahku yang sudah berjalan meninggalkan ruangannya.
Aku hanya menoleh dan tersenyum dengan mengedipkan mata, sambil mengacungkan dua jempolku. Aku pun sempat melihat Dokter Agung menggeleng kepala dengan senyumannya sebelum ia kembali masuk ke ruangan itu.
Terlihat Barakh tengah duduk bersama Abah, aku langsung menghampirinya, "Belum?" tanyaku.
"Belum! Tadi penuh banget, Abah sih, pake acara nolak segala waktu Dokter Agung bilang tunggu di ruangannya aja," ucap Barakh sedikit kesal sepertinya.
"Ck! Gak boleh gitu, Abah itu gak enak kalau harus nerima kebaikan Dokter Agung terus. Iya kan Bah?" nasihatku pada Barakh.
"Iya ... Abah takut tidak bisa membalas semua kebaikannya." Abah memberikan alasannya.
Tak lama, nama abah terdengar pada sebuah pengeras suara. Aku pun langsung menyuruh Barakh untuk berdiri dan menghampiri petugas apotek.
Barakh langsung mengikuti apa yang kuperintahkan. Ia kemudian langsung berjalan menuju petugas yang sudah siap dengan semua obat-obat di tangannya.
"Bentar ya Bah," Aku meminta izin pada abah untuk menyusul Barakh, takut-takut dia butuh uang lebih untuk menebus obat.
"Berapa? Loe megang duit gak?" tanyaku pada Barakh di depan petugas itu.
"Bayar sama Ateh aja semua ya?" Barakh sedikit meringis, dari situ aku tahu pasti uangnya tidak cukup.
"Berapa Mas?" tanyaku pada petugas apotek.
Setelah selesai, aku dan Barakh langsung menghampiri abah. Sementara Barakh memapah abah, aku sibuk dengan gawaiku untuk memesan taksi online.
Sesampainya di lobi Rumah Sakit, aku menyuruh abah untuk menunggu pada kursi yang telah disediakan.
"Bentar ya Bah, taksinya udah di depan kok," ucapku.
Aku tidak bisa duduk manis menunggu seperti abah dan Barakh. Sesekali mengecek gawai melihat posisi driver yang aku pesan. Sesekali pula, aku berjalan ke arah depan dengan menengoki beberapa kendaraan yang datang. Berharap itu taksi yang kupesan.
Tak lama berselang, taksi online yang kupesan akhirnya sampai, aku bisa melihat dari nomor kendaraan yang terpampang. Setelah melambaikan tangan pada supirny, ia merespon dengan segera menghampiriku.
"Mbak Gadis?" tanya si sopir.
"Iya, Pak. Sebentar ya," pintaku.
Aku segera menghampiri abah dan Barakh, mengajak mereka segera untuk menuju mobil. Kemudian segera menaiki kendaraan tersebut.
Sebelum mobil yang kami tumpangi melaju meninggalkan gerbang rumah sakit, aku merasa seperti melihat mobil milik Gusti. Tapi, untuk apa dia berada di Rumah Sakit kecil macam ini? Aku pun berpikir mungkin hanya mobil yang sama dan serupa warna. Mana mungkin anak seorang pemilik beberapa Rumah Sakit besar seperti dia, ke Rumah Sakit seperti ini.
Pikiran tentang Gusti pun akhirnya aku hempas dari otakku. seiring berjalannya kendaraan yang aku tumpangi.
❤❤❤❤
Oke kesayangan² sampai sini dulù ya, maaf baru up 🙏
semoga aja masih ada yg nunggu. 😁
jan lupa komen n likenya ya, biar aku tau, kalian ada untukku.
😆😆😄 pede banget ya, 😁 maaf 🙏
__ADS_1