
Happy Reading ....
Aku membuka mata dengan perlahan, merasakan kepala yang masih agak berat rasanya. perlahan tapi pasti, netra ini terbuka sempurna.
"Di mana ini?" gumamku dengan lirih.
Ada seseorang yang sedang menelungkupkan wajahnya di atas nakas samping tempat yang aku tiduri. Aku ingin membangunkanya, tapi ragu untuk melakukannya.
Maju mundur tanganku hendak menyentuh punggung itu. Tiba-tiba, tubuh itu menggeliat dan perlahan bangun dari telungkupnya.
"Mas ... Mas_ Mas Ojol kan?" Saat aku melihatnya, aku merasa mengenali wajah itu. Ya! itu driver ojek on line.
Perlahan-lahan aku mengingat semua kejadian, lalu dengan panik kuperiksa seluruh tubuhku. Pakaian yang masih lengkap, membuat aku sedikit lega. Hanya saja, ada selang infus yang terpasang di lenganku.
"Mbak sudah sadar?" tanyanya, kemudian dengan sigap ia sepertinya meraih tombol untuk memanggil petugas tenaga kesehatan.
Aku hanya mengangguk, kepalaku terasa masih sangat berat.
"Minum dulu Mbak," katanya, sambil menyodorkan sebotol air mineral lengkap dengan sedotan.
Aku menerimanya dan mereguk air mineral dalam botol yang disodorkan.
"Terima kasih ya Mas, tapi ...."
"Mbak jangan khawatir, kita sudah aman." Sepertinya dia mengerti kebingunganku.
"Bagaimana aku bisa berada di sini? siapayang nolongin kita?" Aku harus bertanya untuk menuntaskan rasa penasaranku.
"Saat Mbak pingsan dan orang itu sedang mencoba membawa Mbak, kebetulan saya sadar. Sepertinya saya juga sempat pingsan gara-gara pukulan lelaki itu. Saya pukul dari belakang dengan keras kepalanya pakai helm yang saya gunakan, terus dia pingsan. Tanpa pikir panjang, saya telepon polisi dan minta ambulan untuk membawa Mbak ke Rumah Sakit ini."
"Ini Rumah Sakit?" Aku memotong ceritanya, karena aku pikir driver Ojol ini hanya membawaku ke klinik.
"Iya Mbak," jawabnya. Bersamaan dengan itu, seorang suster datang. Sepertinya hendak memeriksa keadaanku.
"Permisi ya Mas, saya periksa dulu pacarnya," ucap si suster dengan ramah.
Aku terperangah mendengar suster menganggap aku sebagai kekasih si Mas Ojol. Meski sudah berusaha mengelak, tapi suster malah mengira aku malu-malu mengakuinya. Jadi, aku memilih diam dari pada menjelaskan yang mungkin tetap tidak akan dipercayai.
Si driver ojol yang masih belum aku ingat namanya ini pun menyingkir dan bangkit dari duduknya. Dia bergeser agak menjauh dari tempat aku berbaring saat ini.
"Alhamdulillah, semua baik. Kondisi Mbak juga sudah stabil," ucap suster berhijab biru itu padaku, setelah selesai memeriksa keadaan tubuhku.
"Saya sudah bisa pulang kan Sus?" tanyaku.
"Kalau pulang, sepertinya baru besok Mbak. Mbak masih harus istirahat. Mungkin sampai infusan ini habis dulu ya, Mbak ...." dengan senyum ramah, suster itu memberitahuku.
"Saya tinggal dulu ya Mas, kalau ada apa-apa tinggal tekan tombolnya seperti tadi," jelas suster sebelum pergi meninggalkan ruangan.
"Iya Sus, terima kasih." Si driver Ojol ini terlihat menganggukan kepalanya.
"Mbak, istirahat saja. Biar saya tunggu di luar," katanya, selepas suster itu pergi.
"Ini jam berapa ya? handphone saya ...." Aku mengedar pandang mencari tasku yang mungkin saja terdapat benda pintar milikku di dalamnya. Karena saat itu, aku memang menaruhnya sembarang karena untuk meladeni ancaman Andi.
"Oh iya! ini," Si driver Ojol ini kemudian mengambil tas yang sepertinya dia simpan di laci nakas samping tempat tidurku.
"Maaf, Mas, saya lupa nama Mas?" Sambil memeriksa handphone yang baru saja aku keluarkan dari dalam tasku, aku bertanya.
__ADS_1
"Gusti!" Dia mengulurkan tangannya untuk kujabat.
Aku mengerutkan dahi mendengar namanya, lalu dengan sigap aku buka aplikasi ojek on line yang aku pakai untuk order.
"Di sini namanya Indra," protesku padanya, yang tak sesuai dengan fakta yang kudapat.
"Mbak lihat foto profilnya, terus bandingin. Sama enggak?"
"Beda sih! Tapi semalam kenapa Mas bilang iya?"
"Karena itu memang aplikasi punya teman saya yang namanya Indra, kalau saya bilang bukan. Nanti Mbak gak percaya kalau saya driver yang Mbak tunggu."
"Maksudnya gimana sih Mas?"
"Saya memang suka iseng bantu Indra teman saya itu, untuk anterin penumpangnya. Kalau saya sendiri memang bukan tukang ojek sebenarnya Mbak."
"O gitu? Terus orderan saya sudah selesai, kok bisa?"
"Semalam, sebelum saya telepon polisi dan minta ambulan. Saya telepon Indra dulu untuk nyusul ke tempat kejadian. Saya bilang, kalau bisa bawa keluarga Mbak ke sini setelah menyelesaikan orderan. Tapi katanya dia gak tau tempat keluarga Mbak, dan karena sudah malam, enggak ada juga orang yang bisa ditanya."
"O iya! Saya memang cuma kasih titik pas gang aja, enggak sampai rumah. Terus sekarang saya harus nunggu sampai besok gitu buat bisa pulang?"
"Tadi Mbak dengar sendiri kan apa kata susternya? Kenapa Mbak?" Gusti bertanya saat melihatku meringis menahan sakit di kepala yang terasa sangat berat.
"Enggak apa-apa, sepertinya saya memang butuh istirahat."
"Ya sudah kalau begitu, Mbak istirahat. Biar saya keluar dan menunggu di depan ruangan."
Aku tersenyum dan mengangguk, sebelum Gusti membuka pintu aku memanggilnya dan berkata, "Mas! Terima kasih ya,"
Sebelum aku istirahatkan tubuhku yang terasa ngilu, aku sempatkan untuk chat Barakh. Mengabarkan padanya bahwa aku tidak pulang malam ini. Saat Barakh bertanya apakah aku bersama Alexa, aku mengiyakan. Aku tak ingin membuat orang rumah khawatir.
Kemudian aku beralih pada kontak Alexa, dan mengabarkan bahwa kemungkinan besok tidak bisa masuk kerja. Aku meminta Alexa membuatkan surat izin untuk diberikan pada kepala bagianku.
Setelah semua kurasa selesai, aku mulai merebah dan memejamkan mata. Berdoa dan berharap esok akan baik-baik saja, setelah semua kejadian ini.
...●●●●...
Pagi ini aku bangun, masih di ruang perawatan. Gusti benar-benar menungguiku di luar ruangan, baik sekali orang itu. Padahal kenal pun tidak. Tapi, dia dengan sabar dia mau menungguiku yang bukan siapa-siapa.
Aku merasa tubuhku sehat-sehat saja. Oleh karena itu, aku mencabut jarum infus yang menempel di tanganku. Kemudian beranjak dari tempat tidur untuk menuju kamar kecil.
Setelah selesai, dan ke luar dari kamar kecil. Aku melihat Gusti sudah duduk di samping tempat tidurku.
"Maaf ya, saya tadi ikut suster yang mengantarkan sarapan pagi," Gusti menjelaskan tanpa diminta.
"Gak apa-apa kok."
"Kenapa infusnya sudah dicabut? tadi suster sempat bertanya. Lalu, saya bilang saja mungkin kesulitan bawa-bawa ke kamar kecil."
"Saya gak apa-apa, tubuh saya sehat kok. Jadi gak perlu diinfus segala."
"Yakin?" tanya Gusti, yang kujawab dengan anggukan.
Kurapikan tasku dan hendak ke luar untuk mengurus administrasi. Setelah merapikan diri, aku bersiap untuk keluar. Tapi, Gusti memintaku menghabiskan sarapan yang sudah disediakan.
"Gak usah! Saya bukan orang sakit, lebih baik makanan itu tetap rapi tanpa disentuh. Agar tidak terbuang," ucapku menolaknya.
__ADS_1
"Sekarang Mbak mau ke mana?" Gusti yang mengekori langkahku bertanya, sebelum aku membuka pintu.
"Administrasi, lah!"
"Setelah itu?"
"Ya pulang Mas, mau ke mana lagi emang?" Aku dibuat sedikit jengkel oleh pertanyaan-pertanyaannya.
"Administrasinya sudah saya urus. Dan, Mbak gak bisa langsung pulang. Karena harus mengisi laporan tentang kejadian semalam."
"Maksudnya?" Aku tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Gusti.
"Semalam saya belum sempat bilang, kalau kita harus ke kantor polisi untuk isi laporan."
"Ck! Huhft!" Aku menutup bagian atas wajahku, lalu meremasnya hingga menjepit hidung di antara kedua mataku. "Jadi ribet 'kan!" keluhku.
"Tapi itu kan memang masuk kejahatan Mbak," ucap Gusti.
"Iya, tapi bukan itu maksud saya. Aah! Sudahlah," Aku langsung membuka pintu dan keluar.
Langkahku tetap menuju meja suster penjaga, untuk menyelesaikan administrasi.
"Maaf, Mbak. Dokter belum memeriksa kan? Jadi Mbak belum boleh pulang," ucap petugas administrasi ber-name tage Yuni itu.
"Saya itu gak apa-apa Sus, saya sehat. Lagi pula, hari ini saya harus ke kantor polisi. Suster mau gantiin saya ke kantor polisi?" Ada sedikit penekanan dari ucapanku pada suster itu.
Gusti menarikku, yang masih berdebat dengan suster itu. Tarikannya pada lenganku, membuat aku harus mengikuti langkahnya. Kemudian dia menyuruhku duduk dengan paksa untuk menunggunya.
Aku melihat dia berbicara dengan suster itu, tapi entah apa yang mereka bicarakan. Jarak aku berada dengan meja administrasi tak memungkinkan aku untuk bisa mendengar pembicaraan mereka.
Lalu, aku melihat Gusti berjalan kembali menghampiriku. Dan, dengan santainya dia berkata bahwa semua sudah selesai.
"Maksudnya?" Aku bertanya, karena masih heran. Segampang itu dia bilang selesai?
"Ya ... kita bisa ke kantor polisi sekarang."
"Serius?" Aku masih bertanya lagi.
"Iya ... ayok!" Gusti mengajakku pergi meninggalkan Rumah Sakit.
Gusti terus melangkah menuju parkiran. Dia sempat memintaku menunggu saja di lobi Rumah Sakit. Tapi, aku bersikukuh ikut berjalan menuju parkiran.
Ada keheranan dalam benakku, kenapa langkahnya tidak menuju parkiran motor? Bukankah semalam dia membawa motor?
Aku tertegun melihatnya mendekati sebuah mobil yang bisa dikatakan cukup mewah. Bukan cukup mewah, tapi memang mobil mewah. Dari fisiknya, aku tahu ini adalah BMW seri 5 sport edition.
Aku bisa mengenali tipe mobil ini, karena belum lama, aku pernah melihat pameran mobil-mobil mewah di mall. Aku sering mengunjungi pameran, hanya untuk cuci mata dan memotivasi hidup untuk sekedar berangan memilikinya.
Siapa sebenarnya Gusti? Apa benar ini kendaraannya? Atau hanya pinjaman seperti dia meminjam aplikasi temannya hanya untuk membantu membawa penumpang? Atau dia seorang sopir pribadi? Atau siapa? Tiba-tiba saja sekelumit pertanyaan menderaku tentang siapa sebenarnya Gusti.
💞💞💞💞💞
Sampai sini dulu ya readers kesayangan ....
semoga kalian sehat selalu.
Untuk yang berulang tahun di bulan Desember, aku ucapkan selamat ulang tahun. Panjang umur murah rezeki dan selalu dalam lindungan Tuhan yang maha pengasih dan penyayang. Sukses dan bahagia selalu untuk kalian, 😘🤗
__ADS_1