Kisah Gadis Biasa

Kisah Gadis Biasa
Melancarkan Rencana


__ADS_3

Happy Reading


Hari senin.


Malam ini, hari senin malam selasa. Hari pertama, aku memulai shift malam. Tadinya aku berencana menggunakan kepercayaan kepala bagianku untuk membuat sebuah trik. Akan tetapi, mengingat tak ingin ada kekacauan di depan. Akhirnya aku mengganti rencana.


Aku mulai membuka aplikasi warna hijau, untuk mengetik chat pada kepala bagianku.


["Mbak, orderan kan lagi banyak-banyaknya. Tapi produksi kayanya masih biasa aja. Apa mungkin karena karyawan kebanyakan main Hp ya Mbak?"]


["Kenapa emang Dek? Bisa jadi sih!"] balasan chat dari kepala bagianku.


["Gimana kalo kita adain razia? jadi ... malam ini kita sita dulu semua karyawan yang membawa Hp ke ruang produksi."] usulku di chat itu.


["Bisa-bisa Dek, coba kamu razia aja."]


["Ya gak bisa gitu dong Mbak, mereka kan punya kepala bagian. Kalau nanti KaBagnya minta tolong sama Aku, baru Aku bantu. Mbak aja yang telpon KaBag gimana?"]


["Ya udah nanti aku telpon,"]


Chat pun berakhir, dan dalam hati aku bersorak 'Yes' semoga saja cara ini bisa benar-benar berhasil.


Saat aku melintasi ruang KaBag produksi, Koh Lee. Aku biasa memanggilnya, melambai tangan mengisyaratkan aku untuk mendekatinya. Aku pun segera masuk, meski aku sudah tahu apa tujuan Koh Lee. Tapi aku berpura-pura saja tak tahu apa-apa.


"Kenapa Koh?" tanyaku, setelah aku masuk ke ruangannya.


"Bantuin gue ya. Loe razia semua operator, yang kedapetan bawa Hp, loe langsung sita aja," terangnya padaku, dengan suara yang agak cadel khas orang keturunan.


"Sambil ngecek ya Koh, soalnya Aku baru mau mulai ngecek."

__ADS_1


"Ya udah sesuka loe lah, yang penting kelar gak ampe satu jam dari sekarang," jelasnya lagi.


"Oke Koh!" Aku langsung berlalu dari hadapannya, tapi saat aku mulai membuka pintu. Koh Lee memanggilku kembali, dia memberiku sebuah kardus bekas air mineral untuk wadah Hp-hp yang nanti berhasil terjaring razia.


Aku mengambilnya dengan senang hati. Kemudian sambil melakukan pengecekan, aku menanyai satu persatu operator keberadaan Hp mereka. Lalu menyuruh memasukkannya ke dalam kardus yang aku bawa.


Beberapa dari mereka nampak keberatan, bahkan beberapakali pula, aku adu mulut dengan mereka yang tidak mau menyerahkan Hp-nya. Tapi, dengan nama KaBag mereka yang aku jadikan tameng. Aku berhasil juga membuat semua operator menyerahkan HP mereka, termasuk Anda.


Sambil membawa hasil tes yang ada di plastik, aku menyerahkan kardus berisi puluhan Hp pada Koh Lee. Lalu dengan rencanaku, aku mulai memprovokasi Koh Lee agar menyimpan semua HP itu di ruanganku.


"Koh! ini mau taruh sini? ngeri ilang Koh, soalnya yang masuk ke sini kan siapa aja. Operator juga kadang bolak-balik buat ambil spare part, kalo ilang Koh Lee mau ganti?"


"Cuki*** loe! ogah banget gue ganti barang ilang!" sarkasnya padaku.


"Woles Koh, ada ruangan aku kok yang gak bebas dimasuki siapa aja," usulku padanya.


"Udah, udah! Loe bawa sono, lagian Emak loe juga yang nyuruh gue tadi," jelasnya padaku. Yang membuat hatiku sedikit tergelitik, karena padahal itu adalah ideku.


Aku mengangkut kembali kardus berisi puluhan Hp itu, beserta hasil tesku. Menuju ruangan tempat aku bekerja. Dengan hati yang senang tentunya.


Aku telah menandai Hp milik Anda dengan penglihatan mataku. Karena itu, aku tidak perlu repot untuk memilah dan memilih yang mana Hp miliknya. Segera aku memisahkannya dari puluhan Hp yang lain. Kumasukan segera pada laci meja kerjaku. Sedangkan yang lain, aku masukkan ke ruangan KaBag'ku. Karena aku memang dipercaya untuk memiliki kunci cadangannya.


Setelah aku selesai dengan satu putaran pengecekan, biasanya aku akan mengunjungi operator-operator yang mesinnya bermasalah. Menemani mereka, bahkan sampai membantu untuk mengatur settingan mesin, sampai bisa menghasilkan hasil yang standar quality.


Tapi malam ini, aku hanya memberitahu mereka masalahnya dan meninggalkan mereka untuk memperbaiki sendiri. Karena aku akan sibuk mengotak-atik Hp milik Anda tentunya. Lagipula sebenarnya, aku memang tidak punya kewajiban membantu mereka. Hanya saja aku senang bisa membantu mereka selama ini. Dan karena kemampuanku itu pula, banyak operator yang lebih nurut padaku ketimbang dengan yang lain. Karena menurut mereka, aku tidak hanya bisa menuntut, tapi juga membantu bahkan memberi solusi saat mereka sedang buntu dan sudah maksimal tapi tetap tidak berhasil.


Untuk menghindari kecurigaan, aku sengaja masuk ke ruangan KaBag-ku yang lampunya selalu aku matikan bila ruangan itu tidak aku gunakan. Lalu mencari tempat yang sekiranya tidak akan menimbulkan kecurigaan. Yaitu tempat yang tidak bisa dilihat dari luar.


Saat aku menghidupkan Hp milik Anda, cacian dan makian keluar begitu saja dari mulutku. Karena Hp tersebut tidak diberi Pin sama sekali. Seharusnya aku bersyukur karena tak perlu repot-repot memecahkan pin seandainya Hp itu dikunci. Tapi yang aku takutkan, adalah bila Hp itu dibuka oleh teman-temannya yang lain. Sedangkan di Hp tersebut aku yakin pasti ada rekaman yang aku cari.

__ADS_1


Benar saja! ternyata bukan hanya satu, sepertinya Anda merekam setiap kali dia memaksa Rahma untuk memenuhi hasratnya.


Dua video aku bagikan pada nomerku. Setelah itu aku menghapus jejaknya setelah kudownload, lalu aku hapus semua video tentang Rahma. Baik dari galeri maupun dari jejak-jejak pengiriman dan memori eksternal serta internal. Sampai semua benar-benar bersih.


Meskipun aku hanya seorang lulusan menengah pertama, tapi untuk masalah teknologi, aku masih bisa mengikuti perkembangan jaman. Bahkan ada orang-orang yang predikat pendidikannya lebih tinggi, tapi tidak mengerti dan bahkan terkesan tertinggal dalam masalah teknologi.


Malam ini aku bisa bernapas lega. Karena Rahma bisa terbebas dari cengkraman si durjana Anda. Dan akan aku pastikan, dia tidak akan lagi bisa mengganggu Rahma. Dengan semua rencana tambahan yang telah aku susun.


Menurut cerita Rahma, setiap kerja shift malam dia akan selalu datang setelah jam-jam istirahat. Oleh karena itu, aku meminta Risa menggantikan posisiku agar aku bisa berada di divisi penggorengan di waktu yang tepat seperti yang Rahma infokan.


Ketika aku sedang duduk di dekat meja yang biasa dipakai untuk membuat laporan anak-anak divisi ini. Tiba-tiba benar saja, Anda turun dari tangga, aku menoleh sekilas ke arahnya. Lalu melanjutkan berbincang dengan Rahma. Setelah itu, aku mengisi laporan yang sengaja kubawa dari ruanganku.


"Ngapain?" Anda menowel bahuku, hingga terdorong sedikit tubuh ini.


"Ck! Apaan sih?" jengahku padanya. Aku mengabaikan pertanyaan Anda, dan memilih untuk tetap fokus pada laporanku.


"Ngapain di sini?" tanyanya lagi, yang masih berdiri di samping meja.


"Nungguin maling!" singkatku.


Anda tampak kebingungan dengan jawabanku. Kemudian aku berdiri dan pura-pura memerintahkan Rahma membawa troli untuk membantuku.


Anda mulai mendekati Rahma yang sedang berjalan mendorong troli seperti yang aku perintahkan. Aku mendengarnya bertanya pada Rahma "Penggorengannya gak jalan?"


"Nggak! orderannya udah beres," jawab Rahma, masih dengan air muka yang biasa.


"Zie buruan! ini mau dibawa ke mana?" teriak Rahma dari dalam lift yang belum dia jalankan.


"Oke wait!" teriakku sambil tergesa-gesa menyusul Rahma.

__ADS_1


Setelah berada di dalam lift, aku dan Rahma tertawa dan saling tos karena berhasil meninggalkan si Anda penuh dalam keheranan. Kebingungan Anda sangat terlihat jelas dari raut mukanya. Di sana juga tergambar kekesalan yang membuat kami malah merasa lebih senang lagi.


💞💞💕💞


__ADS_2