
Happy Reading .....
Kami kini telah sampai, umi pun sudah berada di rumah saat tadi di perjalanan aku sempatkan untuk bertanya lewat sambungan telepon.
Setelah mengantar abah beristirahat di kamarnya, aku kembali ke ruang keluarga. Duduk mengambil remot TV dan menyalakannya.
"Ambilin minum dong!" pintaku pada Barakh.
"Aer dingin?" tanyanya.
Aku mengangguk dengan senyuman dan berkata, "Maaciew adeku cayang,"
Mendengar ucapan manjaku, Barakh memanyunkan bibirnya dengan sedikit mencibir.
"Teh! Ini kue siapa?" teriaknya saat ia membuka pintu lemari pendingin.
"Makan aja, itu kan ada tiga. Yang dua nanti buat Abah sama Umi,"
"Asiiiik kue mevvah neeh," sambil menyodorkan segelas air dingin, Barakh membawa toples berisi dessert pemberian Gusti tadi.
"Ateh udah makan dessert-nya? Itu cuma tiga loh di kulkas."
"Udah makan aja."
"Oke ...,"
Barakh tampak begitu menikmati tiap suapan yang masuk ke mulutnya, hingga membuat julidku meronta. "Biasa aja dong makannya," cibirku.
"Ennakk!! Baaanget Teeeh." Entah dibuat-buat, atau memang dia begitu menikmati rasa dari dessert itu. Hingga ekspresi wajahnya begitu membuat orang yang melihat mungkin akan merasa ngiler menelan ludah.
"Lebbaaay!"
"Serius, Teh! Nih, aaaaa ...." Barakh menyodorkan sesendok ke depan mulutku.
"Ayo cobain," katanya lagi, Karena aku belum membuka mulutku.
Akhirnya aku membuka mulut dan menerima suapan dari Barakh. Bersamaan dengan itu, umi keluar dari kamar. Kemudian duduk bersama kami.
"Makan apa sih? Kok kayak yang enak banget, pake acara disuapin segala," Umi bertanya.
"Itu, Mi. Tadi temenku beliin dessert," jelasku.
"Yang di dalam kulkas?" tanya umi.
"Iya! Aku ambilin buat Umi ya?" Aku bergegas bangun untuk mengambil dessert yang berada di dalam lemari pendingin.
"Umi mau rasa apa?" tanyaku sedikit berteriak.
"Apa aja boleh,"
"Oks! Umi cobain yang ini aja, pasti ketagihan."
"Jangan sampe dong Dis, nanti kalau Umi ketagihan uang kamu abis buat beli kek gini doang."
"Hahaha, Umi bisa aja. Nih! cobain Mi," Kusuapkan sesendok ke mulut umi.
"Ini apa sih? Kok, creamy-creamy gini rasanya," tanya umi setelah satu sendok suapan masuk ke mulutnya.
__ADS_1
"Enak, Mi?"
"Enak, lembut, manisnya pas, dan gak bikin enek," komentar umi, untuk apa yang baru saja masuk memenuhi lidahnya.
Aku suapkan lagi sesendok ke mulut umi, kemudian menyerahkan toples yang masih penuh itu ke tangan umi sebelum kemudian berkata, "Umi makan sendiri ya, aku mau istirahat dulu. Jangan lupa nanti abah ditawari, maklum udah aki-aki, biasanya suka sensi!"
Aku bercandai umi dengan cara menggodanya, diakhiri dengan gelak tawa yang kutinggal sebelum aku masuk ke kamarku.
"Teh! Besok jadi beli motor?" tanya Barakh sebelum aku memasuki kamar.
"Entar aja dech, Abah kan lagi sakit ... takutnya masih butuh apa-apa nanti."
"Yaaah! Gagal deh punya motor baru," keluh Barakh.
"Ya enggak gagal juga, cuma ditunda aja, sampai Ateh yakin kalau kondisi Abah aman."
Umi tiba-tiba saja menaruh makanannya dan mendekatiku. "Terima kasih ya sayang ... Umi gak tau gimana jadinya kalau kamu gak ada." sedikit haru menyelimuti keadaan umi saat ini sepertinya.
"Apa sih, Mi? Ini kan memang kewajiban aku," Aku membalas pelukan umi yang terasa begitu dalam memeluk jantungku.
kami berdua sama-sama menghidu napas panjang dan melepasnya bersamaan. Aku tersenyum pada umi lalu meminta izin untuk melanjutkan niatku masuk ke kamar.
...♧♧♧♧♧...
Pagi ini, aku sudah nongkrong di depan televisi untuk melihat kartun kesukaanku. Doraemaon! Ya, kartun Jepang yang tak lekang oleh waktu ini tetap menjadi favorit hingga kini, sejak aku masih kecil.
Masih dengan piyama yang melekat, sambil memeluk bantal di atas sofa, aku menikmati acara. Sesekali tertawa terbahak. Tapi, tak jarang pula aku ikut menangis saat ada adegan yang menyayat hatiku. Entah itu karena haru, atau pun sedih dengan alur cerita yang disuguhkan.
"Zieeeeeeee!!!" Tiba-tiba saja suara mengagetkan terdengar dibarengi pintu yang terbuka lebar.
Aku terperanjat dan spontan menoleh kaget, "Monyong! Kaget gila ...!" hardikku pada kedua kunyuk yang tiba-tiba muncul itu.
"Malleeesss!" jawabku, dengan pandangan yang telah kembali pada layar kaca.
"Gapapa, gak mandi juga wangi, kok!" Alexa yang dengan santainya mencium sebelah pipiku.
Aku spontan bergidik sambil mengelap bekas ciumannya. Yang membuat Alexa semakin gila mencandaiku.
"Aaah ... tayangnya aaakuuuu," Alexa memelukku dengan mesra. sambil menyandarkan kepalanya di ceruk leherku.
"Monyong! Jan bikin gue takut dech," ucapku menyingkirkan tangannya yang masih melingkar.
"Ha, ha, ha, ha, ... gue normal tenang aja. Tapi kalo belum ada juga yang mau macarin gue ... gapapa ya," Alexa mengedipkan matanya dengan genit ke arahku.
"Umi! Anak monyet kumat!" teriakku.
umi yang sedang berada di dalam kamar mengurusi abah, tiba-tiba keluar mendengar teriakanku. "Ssssttt ... jangan berisik," Pelan kata-kata itu terucap dari umi, sambil menaruh telunjuknya di depan bibir.
"O, iya! Bokap lagi sakit ... kamar yuk!" ajakku.
"Assalamualaikum, Umi ...." sapa dua kunyuk itu pada umi, dan mengabaikan ajakanku.
Mereka segera menghampiri umi yang masih berdiri di depan pintu kamar.
"Abah sakit apa Um?" tanya Alexa, sambil mencium punggung telapak tangan umi.
"Kok, Zie gak ngomong apa-apa Mi," ujar Kimmy dengan kesal. Sambil melakukan hal sama yang dilakukan Alexa.
__ADS_1
"Gak apa-apa, kok. Kata dokter cuma kelelahan." Umi menjelaskan dengan penuh kelembutan.
"Kunyuk! Kenapa gak ngomong kalau Abah sakit?" Kimmy melebarkan matanya menatapku.
"Sssttt ... jangan berisik. Kamar yuk!" ajakku.
"Um, Abah lagi istirahat ya? Kalau gitu, kita ke kamar Zie dulu ya," Alexa meminta izin pada umi.
"Iya, Abah lagi istirahat. Kalian di kamar Gadis aja ya," jawab umi mempersilakan.
Aku yang masih asik dengan tontonan kartun di depan televisi, tiba-tiba saja digeret paksa ke dalam kamar oleh kedua sahabat tak berakhlak ini.
Dengan tanpa ampun, rentetan tanya mereka lontarkan perihal abah. kenapa begini, kenapa begitu, kapan, kok bisa, dan lain-lain. Aku, hanya bisa mendengarkan dengan pasrah ocehan keduanya. Setelah mereka puas, akhirnya mereka berhenti juga mengeluarkan kalimat-kalimat yang belum satu pun aku jawab.
"Udah, ngomelnya?" tanyaku pada keduanya.
"Explain!" Dengan kompak, keduanya berkata setengah berteriak.
"Oke ... listen to me carefully," Akhirnya aku menjelaskan semua kejadian yang aku alami dengan detail. Panjang kali lebar, kali tinggi juga mungkin.
kejadian bersama Andi, Gusti, hingga Abah yang tiba-tiba dilarikan ke klinik. Tak ada satu pun yang aku sembunyikan dari mereka. Hingga keduanya bertanya tentang rencana membeli motor hari ini.
"Gue takut, Abah belum aman. Meskipun dokter bilang cuma kelelahan, tapi ... gue kan harus jaga-jaga. Jadi ... beli motornya nanti-nanti aja ya?" jelasku kemudian.
"Ya gapapa, loe kan masih bisa pake motor gue kalo ada kepentingan yang harus pake motor," jawab Alexa sambil memelukku.
"Btw, Gusti ganteng gak? terus itu si Andi, Andi itu. bilangin, kalo berani adu minum sama gue! Berani-beraninya dia gangguan sohib gue." celetuk Kimmy.
"Kunyuk! Dasssaaarr play girl susah ya, gak boleh denger cowok tajir dikit, bawaannya pen embat aja, ha ha ha ha ....." hardikku.
"Daripada loe gak mau kan ... mending gue cobain," jawab Kimmy, yang membuat kami tertawa dengan prinsip-prinsip gokilnya.
"Loe suka gak sama Gusti?" Alexa menyenggolkan bahunya pada bahuku.
"Apa sih?!" Aku melirik tajam padanya.
"Cie ... jan jangan loe suka ya? Terus Aji patah hati donk kalau loe suka sama tuan tajir." ledeknya lagi.
"Aji siapa?" tanya Kimmy yang belum sempat tahu tentang ceritanya.
"Enggak! Enggak keduanya," jawabku sambil berdiri untuk mengambilkan mereka minum.
"Eeeeh mau lari ke mana loe? Jelasin dulu!" Kimmy menarik lenganku yang hendak keluar dari kamar.
"Gue ambil minum dulu buat kalian,"
"Jelasin gak!" pinta Kimmy kembali.
"Iya, iya, iya! Ih, gue ambil minum doang bentar." Aku terus berusaha keluar dari kamar. Yang akhirnya bisa juga lepas dari paksaan Kimmy.
Setelah keluar, aku membuka kembali pintu kamar dan berkata, "Tanya Alexa aja, dia tahu kok." Lalu berlari segera menuju dapur.
"Kok gue?!" teriak Alexa dari dalam kamar.
Entah apa yang akan ditanyakan Kimmy pada Alexa, yang penting saat ini aku terbebas dari introgasinya.
Bila berkenan silakan like dan komen, semoga masih bisa meneruskan ceritanya.
__ADS_1
Terima kasih 😊❤❤❤