Kisah Gadis Biasa

Kisah Gadis Biasa
Ulang Tahun


__ADS_3

Hari berganti, bulan, dan tahun tak terasa kini Aku sudah menjadi seorang gadis dewasa, tepat bulan ini Aku berulang tahun yang ke 20. Semua teman-teman kerjaku datang ke rumah selepas pulang kerja. Sekadar untuk mencicipi kue dan masakan yang sudah umi siapkan.


Ada black forrest yang sudah dihias dengan cantik, juga soto ayam andalan umi yang selalu jadi favorit saat semua teman-teman dan sahabatku ikut merayakan ulang tahunku setiap tahun. Umi biasa menghidangkan soto itu dengan lontong, juga kerupuk melinjo yang biasa disebut emping, dengan tambahan sambal hijau yang segar, dan perasan jeruk limau.


Semua tampak menikmati acara sederhana ini, beberapa kali kami mengambil gambar dengan berselfie menggunakan kamera handphone dan beberapa kali pula aku mengambil gambar teman-temanku secara candid dengan kamera yang Aku pegang. Aku memang sangat menyukai kamera, hingga sudah beberapa kamera Aku miliki dari hasil kerjaku, dari kamera manual yang jadul, kamera instan, hingga kamera digital, bahkan Aku kadang menabung hanya untuk bisa membeli kamera yang berhasil menarik hatiku. Semua kamera-kamera itu, bertengger cantik di rak dinding yang menempel di kamarku.


Kembali pada perayaan ulang tahunku, semua tampak asik menikmati hidangan, sambil bercuap-cuap dengan yang lainnya, ada yang hanya ngobrol berdua saja, ada yang ramai-ramai berkelakar sambil tertawa-tawa, dan ada juga yang asik main play station di dalam kamarku. Hampir semua kegiatan mereka Aku abadikan lewat jepretan di kamera yang Aku pegang.


Aku tersenyum bahagia menyaksikan semua happy malam ini, sesekali Aku lihat hasil-hasil jepretanku lewat layar di kamera, dan menunjukkannya pada yang lain, kadang kami dibuat tertawa terbahak saat mendapati hasil jepret yang terlihat lucu, dan kadang ada juga yang tidak terima, karena temanku yang terekam di gambar itu, menurutnya tidak tampak cantik dan memintaku untuk menghapusnya. Tentu saja Aku tidak mengindahkan permintaan itu, karena bagiku ... momen-momen seperti ini sulit didapat. Jadi tidak mungkin Aku menghapusnya hanya karena rengekan mereka.


Semua kini telah pulang, hanya tersisa Rahma dan Kimmi di rumah.


"Kim! Loe balik bareng siapa?" tanya Rahma, pada Kimmi di depanku.


"Gue nginep, gapapa kan Zie?" jawab Kimmi.


"Ya gapapa, lagian rumah Loe jauh, gak mungkin juga Gue biarin Loe balik," ucapku padanya.


"Loe, Ma? nginep juga kan?" imbuhku pada Rahma.

__ADS_1


"Nggak ... Gue balik, ini lagi nunggu telpon jemputan Gue!" ujarnya.


Aku dan Kimmi hanya ber 'oh' ria mendengar tuturan Rahma.


Tak lama, terdengar melodi panggilan dari ponsel milik Rahma, yang segera dia angkat dan jawab. Terdengar dia bertanya di mana si penelpon di sebrang sana kini berada, dan setelah itu Rahma mengiyakan lalu menutup panggilan di ponselnya.


"Gue balik ya!" pamitnya pada Aku dan Kimmi.


"Siapa yang jemput Loe?" tanyaku sebelum menjawab pamitannya.


"Ada ... pokonya aman," jawabnya, tanpa menjelaskan siapa yang menjemputnya.


"Yang jemput siapa sih Zie?" bisik Kimmi bertanya padaku, sambil melepas kepergian Rahma di depan pintu.


"Entah!" Aku mengedikkan bahu, tanda tidak tahu orang yang dimaksud oleh Kimmi.


"Kita lihat yuk! kok Gue curiga ya," ajak kimmi, menarik lenganku pelan keluar dari rumah.


Aku yang terseret tubuhnya, terpaksa mengikuti kemana Kimmi melangkah meski dengan rasa malas mendera. Aku yang tak pernah kepo dengan urusan orang lain, merasa enggak penting untuk tahu siapa yang menjemput, setelah Rahma berkata aman. Bagiku itu cukup dan Aku percaya. Tapi ternyata tidak dengan Kimmi. Rasa penasarannya menuntun kami untuk tahu siapa orang yang menjemputnya.

__ADS_1


Sungguh hal yang mengejutkan, ketika kami melihat siapa laki-laki yang kini tengah duduk di atas motor, di pinggir jalan yang Rahma hampiri. Kami bisa melihatnya dengan jelas, karena posisinya yang ada di sebrang jalan tepat menghadap ke arah depan.


Aku dan Kimmi yang mengendap-endap di antara bangunan rumah di sekitar jalan itu, memerhatikan dengan penuh rasa tak percaya.


"Itu kan Anda!" ucapku setengah berbisik pada Kimmi.


"Gue bilang juga apa? Gue curiga sama tu anak!" tegas Kimmi, dengan suara yang dipelankan.


"Sejak kapan?" tanyaku.


"Apanya?" tanya Kimmi heran.


"Kecurigaan Loe sama Rahma," jelasku.


"Oooh ... sejak, sejak ... lumayan lah ... beberapa minggu yang lalu," jawabnya sedikit terbata.


Aku merasa ada sesuatu juga yang dia sembunyikan, gadis yang baru berusia sembilan belas tahun ini, seperti ingin menunjukan sesuatu padaku, tapi juga seperti menyembunyikan sesuatu yang lain.


"Udah yu ah! balik lagi ke rumah," ajak Kimmi, padaku.

__ADS_1


Aku tak menjawab ajakannya dengan kata-kata, tapi langsung melangkah menuju rumahku, dengan langkah yang sedikit lesu. Malam ini, pikiranku sedikit terganggu dengan fakta yang baru saja aku lihat. Pasalnya, Anda adalah seorang laki-laki beristri, bahkan telah memiliki dua orang anak. Dia memang teman kerja kami juga, dan karena usianya yang sudah matang, sering Aku menganggapnya sebagai Kakak sendiri. Tapi dengan apa yang Aku lihat malam ini ... Aku benar-benar tak habis pikir.


__ADS_2